
Dari kejauhan tampak sebuah mobil melaju cepat ke arah rumah ini. Tampak seorang lelaki keluar dari mobil.
“Sepertinya saya pernah melihat lelaki itu. Kayak pak Ayyas. Hadeh, rasa bersalah ke pak Ayyas ngefek banget ya ke pikiranku.”
Sementara di dalam para tetangga mulai berpamitan untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Tak lama setelahnya, ibu Nisa menghampiri anak-anaknya. Mengajak mereka untuk makan malam bersama.
Mereka memasuki rumah, lalu mengambil makanan yang telah disiapkan di atas meja.
Sehabis makan, Nisa ikut membantu mencuci piring yang baru saja digunakan. Setelah itu, ia bergabung di ruang tamu.
Di tengah-tengah perbincangan, datang sosok yang tak asing bagi Nisa menghampiri mereka.
“Lah ini si Bear kok ada di sini? Jangan-jangan tadi nggak ke sekolah karena dia mau nikah.” Lagi-lagi Nisa bermonolog dalam hati.
Ibu pak Ayyas memperkenalkan pak Ayyas kepada ibu Nisa dan keluarganya.
Nisa dan pak Ayyas terpaksa turut memperkenalkan diri, seolah-olah mereka tak saling kenal satu sama lain.
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Nisa meminta izin untuk ke kamar duluan. Ibu dan ayahnya mengiyakan. Sementara mereka masih ingin berbincang-bincang di situ.
Nisa bergegas ke kamar. Ruang tidur yang disediakan untuk keluarganya tersebut ternyata bersebelahan dengan kamar pak Ayyas.
Di kamar yang terbuat dari tembok itu, Nisa terkesima mendengar lantunan ayat Al-Qur’an yang bersumber dari kamar sebelah.
“Ini kan suara si Bear. Maa syaa Allah, merdu juga ternyata suaranya,” ucapnya dengan intonasi yang dikecilkan.
Ia takut suaranya membangunkan Aisyah dan Wahdah yang sudah terlelap sejak tadi. Perlahan Nisa mulai mengantuk. Ia lalu ikut tidur bersama adik-adiknya.
Keesokan harinya, datang sebuah keluarga yang tak Nisa kenali. Ada perempuan yang sangat cantik turut bersama mereka.
__ADS_1
“Ini pasti calon istrinya si Bear. Ma Syaa Allah, cantiknya. Beruntung juga ya si Bear ini.” Nisa membatin kagum.
Tiba-tiba saja ia kebelet pipis. Ia terpaksa harus ke toilet, di saat yang lain sedang berkenalan dengan keluarga yang baru datang itu.
Ia segera ke toilet kamar. Saat keluar, ia melihat pak Ayyas tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
Tampak pak Ayyas akan memasuki kamar, tapi dihentikan oleh teguran Nisa.
Pak Ayyas jadi menatap Nisa dengan tatapan penuh kebingungan. “Bukannya ini anak benci sama saya ya? Kenapa sekarang malah menyapa saya?” Ia membatin.
“Ada apa Nisa?” tanyanya kemudian pada Nisa yang semakin mendekat.
“Anu, Pak. Ini kan habis lebaran. Kebetulan saya ketemu bapak di sini, jadi saya mau minta maaf. Maaf yah kalau saya ada salah ke Bapak,” ucap Nisa tulus.
“Oh, begitu ya. Saya juga minta maaf kalau selama ini saya pernah menyakiti hati kamu.”
"Iya, Pak." Perasaan Nisa kini menjadi lega setelah meminta maaf.
“Silakan Pak! Saya juga mau ke bawah bantu-bantu."
Malam semakin larut, para tamu berpamitan. Kecuali keluarga perempuan yang cantik tadi dan keluarga Nisa. Semuanya masih duduk bersama, bercerita panjang lebar. Nisa hanya diam disitu, tapi tetap serius menyimak pembicaraan mereka.
Nisa sebenarnya merasa iri pada perempuan itu. Ia terlihat sangat mudah akrab dengan orang lain. Sangat berbeda dengannya yang tak tahu cara mengakrabkan diri sama sekali.
Bahkan dengan melihat muka Nisa saja, orang-orang sudah pasti menjudge dia jutek. Padahal aslinya, Nisa mah paling bar-bar kalau ngumpul sama sahabatnya.
Nisa mulai memutar otak mencari cara untuk menghindari mereka.
“Ma, Nisa ke kamar dulu ya. Kasihan Wahdah dan Aisyah, nggak ada yang jagain.”
“Ya sudah kita ke kamar sekarang. Mama sama papa juga mau ngomong sesuatu ke kamu,” jawab ibu Nisa.
“Ibu sama bapak mau ngomong apa sih?” tanya Nisa sembari menutup pintu kamar.
__ADS_1
“Kamu tahu kan nak kalau Ayyas akan menikah besok?” tanya ibu Nisa.
“Tau Ma, terus kenapa?” Nisa bingung.
“Kamu tahu calon istrinya siapa?”
“Nggak Ma, soalnya di sekolah nggak ada info sama sekali kalau pak Ayyas mau nikah. Nisa saja tahunya baru kemarin. Tapi kayaknya dengan perempuan yang cantik tadi kan?”
"Pak Ayyas? Maksudnya si Ayyas itu guru kamu di sekolah?"
"Iya Ma, pak Ayyas itu guru Agama Nisa di sekolah. Nisa kadang telat pulang itu karena bantuin dia meriksa tugas."
"Kenapa tidak bilang dari kemarin?"
Nisa tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan ibunya itu. "Tadi katanya Ayah mau ngomong. Mau ngomong apa Yah?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Begini Nak, ayah sebenarnya terkena kanker hati. Ayah takut kalau ayah sudah tidak ada nanti, tidak akan ada yang menggantikan posisi ayah untuk menjaga kamu. Makanya, ayah dan pak Subroto sepakat untuk menikahkan kamu dengan si Ayyas,” ucap ayah Nisa dibarengi tangis yang tak bisa dibendungnya lagi.
Sementara di kamar sebelah, pak Ayyas juga tak kalah kagetnya.
Mana mungkin dia menikahi Nisa. Sedangkan selama ini dia tidak mencintai Nisa sama sekali. Bahkan di matanya Nisa hanya seorang murid cengeng. Ditambah lagi ia takut kalau ketahuan pihak sekolah, ia bisa dipecat dan Nisa bisa diberhentikan dari sekolah.
“Kata Mama, Yuyun yang bakal nikah. Kenapa jadi Ayyas Ma?”
“Itu cuman akal-akalan mama. Kalau mama bilang kamu yang nikah, kamu pasti sudah kabur duluan kembali ke rumah. Salah kamu juga, umur sudah 33 tapi belum menikah juga. Mama tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menikah besok! Bisa malu kita sama tetangga kalau pernikahannya dibatalkan,” ucap ibu pak Ayyas dengan tegas.
Malam itu Nisa dan Pak Ayyas gelisah. Mereka tak bisa tidur karena memikirkan pernikahan besok.
Paginya.
Tibalah hari pernikahan pak Ayyas dan Nisa. Pernikahan itu sengaja dilakukan di rumah nenek pak Ayyas supaya tidak ada pihak sekolah yang mengetahui pernikahan mereka. Dengan begitu, Nisa masih bisa bersekolah dan pak Ayyas masih bisa lanjut mengajar.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1