
“Tidak akan ada perceraian. Kamu tidak akan kuliah Nisa. Tidak akan kubiarkan kamu berada jauh dari saya.” Pak Ayyas membatin. Ia mulai possessive pada Nisa.
Agar tidak ketahuan sedang menguping pembicaraan Juliana dan Nisa, Pak Ayyas tidak langsung menegur mereka.
“Kalian berdua kenapa masih tinggal di sini? Itu shalat dhuha sudah mau dimulai,” tanya Pak Ayyas setelah menunggu beberapa menit.
“Eh. Ada Pak Ayyas,” ucap Juliana kaget. “Saya simpan tas dulu pak,” balas Nisa cepat.
“Ya sudah, simpan tasmu cepat. Segera Nisa memasuki kelas, menyimpan tasnya, lalu berjalan cepat ke mushallah.
"Kalau kamu?” tanya Pak Ayyas pada Juliana yang masih tak bergegas dari duduknya.
“Saya lagi menstruasi pak,” balas Juliana santai.
Pak Ayyas tidak berkata apa-apa lagi. Ia kembali melanjutkan berkeliling sekolah untuk merazia siswa yang tidak ke mushallah.
Setiap hari Jumat ia tidak ikut shalat dhuha berjama’ah di mushallah. Sebagai guru Agama ia diamanahi oleh kepala sekolah untuk berkeliling sekolah merazia siswa yang berkeliaran.
Waktu shalat dhuha yang panjang, mulai dari terbitnya matahari hingga pukul 11 siang itu membuatnya ridha menerima amanah dari kepala sekolah. Karena ia tetap bisa melaksanakan shalat dhuha sendiri setelahnya.
Setelah shalat dhuha, siswa kembali ke kelas masing-masing untuk belajar. Seperti beberapa teman kelasnya yang lain, Nisa duduk diam menunggu guru datang.
Tiba-tiba gawainya bergetar. Ia mulai panas dingin tatkala mendapati notif chat dari kontak bernama mamaku sayang.
“Ini pasti urgent. Ibu kan hanya menghubungi di jam sekolah kalau ada yang benar-benar urgent,” batin Nisa.
__ADS_1
“Assalamu ‘alaykum nak”
“Ibu sekarang ada di rumah sakit umum menemani ayah kamu”
“Penyakit ayahmu kambuh nak”
“Pulang sekolah nanti kamu langsung ke sini ya!”
Nisa segera membalas pesan ibunya. “Iya ma, pulang sekolah Nisa pasti langsung ke sana.”
Perasaan Nisa menjadi tidak karuan. Pikirannya hanya berfokus pada ayahnya yang dirawat di rumah sakit.
Bell pulang berbunyi, Nisa cepat-cepat mengambil tasnya. Bergegas menemui Pak Anwar di kantor untuk minta izin tidak ikut belajar kelompok.
“Assalamu ‘alaykum ma,” ucap Nisa di ruang rawat ayahnya. Segera ia menyalami ibunya.
“Wa’alaykumsalam warahmatullah nak,” jawab ibu Nisa lemas. Terlihat jelas rona kesedihan di wajahnya.
“Bagaimana kondisi papa, ma?” tanya Nisa khawatir.
“Papamu sudah agak mendingan nak.” Meski begitu, kekhawatiran akan kondisi suaminya masih tetap menghantui ibu Nisa.
Ayah Nisa yang menyadari kedatangan anak dan menantunya berusaha duduk. “Papa mau bicara sama Ayyas. Tolong kalian semua keluar,” titahnya.
Tanpa berlama-lama mereka semua keluar. Membiarkan menantu dan mertua itu duduk berdua saja di ruangan.
__ADS_1
“Ayyas, saya menjodohkan Nisa denganmu karena saya yakin kamu lelaki yang baik. Tolong jaga anak saya baik-baik ya. Jangan biarkan dia terluka.”
Suaranya parau, ia berusaha menahan air matanya. Meski begitu, matanya yang berkaca-kaca tak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya saat ini.
“Berjanjilah nak! Berjanjilah kamu tidak akan melukai hati anak saya! Berjanjilah kamu akan menemaninya hingga di usia senja. Berjanjilah untuk menjaganya dengan sebaik-baiknya!”
“In Syaa Allah saya berjanji untuk melakukan semua yang bapak amanahkan.”
Pak Ayyas bergetar hebat saat mengucapkan janji itu. Memegang amanah bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Setelah selesai berbicara, Pak Ayyas memanggil yang lain untuk masuk kembali.
Sementara Pak Ayyas bergegas ke mushallah rumah sakit untuk melaksanakan shalat asar.
“Ayyas itu lelaki yang baik. Kamu sangat bersyukur memiliki suami seperti dia. Kamu memang masih muda nak. Tapi tetap ingat ya, kamu sudah menikah. Kamu itu istrinya Ayyas. Jadi berusahalah terus bersikap dewasa. Selau jadi istri yang patuh pada suami.”
“Iya, pa. Nisa akan bersikap dewasa. Papa tenang saja. Tak usah mengkhawatirkan itu semua. Yang terpenting sekarang itu kesembuhan papa. ”
Senyum simpul menghiasi wajah Nisa. Senyum yang ia munculkan hanya untuk terlihat tegar di mata ayahnya.
Hatinya berkecamuk hebat. Sama sekali tidak terima jika ayahnya mengatakan Pak Ayyas adalah laki-laki yang baik.
Ia menjadi semakin bimbang, ayahnya memintanya untuk bersikap dewasa. Bersikap patuh pada suami. Sementara niatnya saat ini adalah membuat Pak Ayyas tergila-gila padanya, lalu bercerai.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭
__ADS_1