My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Peringkat Sepuluh Besar


__ADS_3

Segera, Ridwan mengeluarkan uang dua puluh ribu.


“Ini,” ujarnya sembari menyodorkan alat pembayaran tersebut kepada Nisa.


Nisa mengambil uang itu lalu membayar pensilnya. Karena terburu-buru, Nisa sampai lupa mengucapkan terima kasih pada Ridwan sebelum kembali ke kelas.


Beruntung, meski agak terlambat, Nisa menjawab semua soal try out.


Setelah try out selesai, siswa langsung pulang ke rumah. Siang ini, Nisa pulang ke rumah.


Sebenarnya perempuan geulis itu enggan ketemu pak Ayyas. Tapi kalau dia pulang ke rumah orang tuanya, ia pasti akan dicurigai. Alhasil, ia tetap harus kembali ke kediaman dimana ia dan pak Ayyas tinggal.


Sejak menaiki angkot hingga tiba di rumah, ia diam saja. Meski sedang marah, ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri di rumah. Mulai dari memasak, membersihkan, hingga menyiapkan pakaian untuk sang suami.


Nisa tahu, pernikahan mereka hanyalah sebatas pernikahan di atas kertas. Pernikahan yang sejak awal memang sama sekali tak diinginkan pak Ayyas.


Hanya satu hal yang ia tahu saat ini, ia harus tampak baik-baik saja dengan pernikahannya. Ia dan pak Ayyas hanya harus tinggal bersama, demi tak mengecewakan orang tua masing-masing.


Seperti biasa, pak Ayyas selalu tidur duluan. Sementara malam ini, Nisa tidur agak larut lantaran ia ingin melanjutkan novelnya yang berjudul Aku (Bukan) Wanita Murahan. Setelah mengantuk, ia mematikan notebook nya lalu tidur.


Di pagi hari, sebelum ke sekolah, Nisa teringat akan hutangnya ke Ridwan. Ia lalu membuka celengan yang disimpannya sejak beberapa bulan yang lalu.


Awalnya ia menabung untuk membeli mic condenser bm 8000, stand, soundcard v8, dan splitter. Semua alat itu rencananya akan digunakan untuk membuat video dakwah. Tapi kini ia harus membuka celengan itu untuk membayar utangnya ke Ridwan. Sisanya akan ia gunakan untuk ongkos angkot ke depannya.

__ADS_1


Pak Ayyas yang melihatnya langsung menegur. “Kenapa dibuka? Kamu mau beli apa?” tanyanya seolah peduli.


“Mau bayar hutang,” jawab Nisa.


“Hutang apa? Kenapa tidak minta ke saya?”


“Hutang beli pensil kemarin. Tidak usah, saya masih punya uang.” Nisa sudah bertekad, sebisa mungkin ia tidak akan bergantung pada pak Ayyas dalam hal apa pun.


“Ya sudah, cepat kamu bereskan! Saya tunggu di mobil.”


“Duluan saja, Pak! Saya mau ke toilet dulu,” tolak Nisa dengan halus.


“Okay, ke toilet saja dulu! Nanti kalau sudah selesai kamu langsung ke mobil,” ucap pak Ayyas yang tak mengerti maksud istrinya yang sesungguhnya.


“Kamu kenapa sih? Ada masalah?” Pak Ayyas mulai sadar diri setelah beberapa kali menerima penolakan.


“Nggak apa-apa, Pak. Lagi pengen naik angkot aja,” elak Nisa sembari melangkah ke toilet.


“Percuma juga kalau maksa dia ikut. Terserah lah kalau dia mau naik angkot.” Pak Ayyas pun melajukan mobilnya ke sekolah.


Setelah ke toilet, Nisa juga langsung ke sekolah.


Di sekolah.

__ADS_1


“Terkhusus untuk siswa kelas tiga, hasil try out sudah keluar. Nilainya ditempel di mading, kalian silakan lihat sendiri! Cukup sekian, assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuhu,” tutur pak Muhlis saat mengakhiri pidatonya.


“Wa‘alaykum salam warahmatullahi wabarakatuhu,” jawab siswa serentak.


Siswa kelas tiga segera merapat ke depan kantor, diperhatikannya nilai try out di mading.


Hasilnya: Nisa si jutek, dengan kecerdasan di atas rata-rata berhasil menempati posisi pertama.


Disusul Dinda si tomboy dari kelas XII IPA 2, kecerdasannya hampir setara dengan Nisa.


Juliana si aktif nan cerdas, fans garis keras pak Ayyas.


Imel, sang introvert yang juga ambisius seperti Nisa.


Rosdiana, siswa cerdas dari kelas XII IPA 3.


Rey, si musisi. Firman, si pemalas tapi jenius.


Andrey, siswa non muslim yang cerdas.


Ridwan, siswa terpandai di jurusan IPS. Saleha, siswa yang paling disenangi karena kesabarannya dalam membantu siswa lain.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2