
Saat malam tiba, Nisa dan Pak Ayyas terpaksa harus balik ke rumah. Ada tugas sekolah yang belum Nisa kerjakan. Pak Ayyas juga belum membaca kembali materi yang akan ia ajarkan ke siswanya besok.
“Saat ini pikiran Nisa pasti kacau. Emosinya sedang tidak stabil. Ini saat yang tepat untuk menjauhkan dia dari Kak Ayyas,” ucap Bu Susan di kostnya.
Ia kembali menyusun ide licik untuk menjauhkan Nisa dari Pak Ayyas. “Kak bagaimana hasil testpacknya?” tanya Bu Susan pada Kak Helma melalui aplikasi chat WA.
“Alhamdulillah, kakak hamil dek. Kakak sudah periksa ke bidan. Katanya usia kandungan kakak sudah 2 bulan,” balas Kak Helma. Ia juga mengirimkan foto hasil tetspacknya ke Bu Susan.
“Wah, selamat ya kak! Ikut senang dengarnya.”
Bu Susan lalu mengirimkan foto hasil testpack Kak Helma tadi ke Nisa. “Sudah 2 bulan,” ketiknya.
Nisa yang baru saja melaksanakan shalat isya membuka gawainya. Ungkapan-ungkapan berbelasungkawa atas kepergian ayahnya membanjiri chat WAnya. Nisa membalas chat-chat tersebut seadanya.
Ada juga chat dari Bu Susan. Nisa kemudian membacanya dalam hati. Betapa terkejutnya ia membaca isi chat tersebut.
__ADS_1
“Apa maksud dari semua ini? Bu Susan hamil? Tapi hamil anak siapa? Bu Susan kan belum menikah,” batinnya.
“Maaf Nisa saya salah kirim. Tadinya chat ini mau saya kirim ke Kak Ayyas. Malah nyasar ke kamu. Maaf ya,” ketik Bu Susan.
“Salah kirim? Pesan ini seharusnya dikirim ke Bear? Berarti selama ini mereka berbuat yang tidak-tidak di belakangku, astaghfirullah. Tidak mungkin, mereka berdua kan paham agama. Tidak mungkin mereka melakukan perbuatan sebejat ini,” batinnya lagi.
Ia berusaha untuk berpikir sepositif mungkin. Logikanya berkata tidak. Tapi hatinya berkata iya. Perasaan Nisa serasa diaduk-aduk. Itu membuatnya menangis sejadi-jadinya.
Ia merasa sangat terpukul atas kepergian ayahnya. Dan kali ini, ia kembali disuguhkan perasaan pedih karena ulah Bu Susan dan Pak Ayyas.
Janjinya pada ayahnya kini tak bisa lagi ia penuhi. Janji untuk patuh pada suaminya kandas begitu saja. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan pada suami yang jelas-jelas telah mengkhianatinya.
“Kenapa pak? Kenapa bapak begitu tega pada saya? Kalau bapak ingin pisah, setidaknya pisah dengan cara baik-baik. Tidak seperti ini pak!” ucap Nisa kesal bercampur tangis.
“Apa maksud kamu Nisa?” Pak Ayyas benar-benar bingung dengan kata-kata Nisa. “Tanyakan saja pada perempuan yang paling bapak cintai itu!”
__ADS_1
“Siapa yang bilang saya mau pisah? Saya tidak pernah mentalak kamu sekali pun,” lanjut Pak Ayyas.
“Tidak perlu sok bijak lagi di hadapan saya pak! Saya sudah tahu semua kebenarannya. Saya tidak menyangka, bapak dan Bu Susan semenjijikkan ini. Seharusnya bapak dan Bu Susan dirajam, diarak keliling kota.”
“Maksud kamu apa saya harus dirajam? Kamu menuduh saya berzina? Jaga ucapan kamu Nisa! Saya tidak pernah menyentuh Susan sama sekali. Kamu seharusnya tabayyun dulu sebelum menuduh orang lain berbuat yang tidak-tidak. Ingat, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.”
Di tengah pertengkaran itu, Aisyah tiba-tiba menelpon Nisa. Dengan berlinang air mata, Nisa mengangkat telpon adiknya.
“Kamu kenapa dek?” tanya Nisa sembari menahan tangisnya. “Kak, mama pingsan kak.”
“Astaghfirullah, kok bisa dek?” tanya Nisa lagi. “Aisyah juga tidak tahu kak.” Aisyah tampak begitu panik. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Segera Pak Ayyas mengantar Nisa ke rumah ibunya. Mereka kemudian membawa ibu Nisa yang pingsan ke rumah sakit.
“Bagaimana kondisi ibu saya dokter?” tanya Nisa khawatir.
__ADS_1
“Adek tidak usah cemas. Ibu adek ini hanya kelelahan, makanya ia jatuh pingsan. Rata-rata pasien seperti ini biasanya dipicu oleh stress berat dan dehidrasi. Maka dari itu, usahakan ibunya tetap terhidrasi. Banyak-banyak mengonsumsi vitamin B, vitamin D, magnesium, dan potassium. Contoh makanannya itu seperti daging, pisang, bayam, air kelapa, jamur, telur, dan ikan. Jangan lupa juga untuk menghindari makanan olahan! Ini saya kasih suplemen supaya imun ibunya tetap terjaga.”
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭