My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 52


__ADS_3

Sudah sepekan Nisa dan Pak Ayyas tinggal terpisah. Absennya Nisa di rumah membuat Pak Ayyas merasa sepi. Ia sudah terlanjur terbiasa melakukan banyak hal bersama Nisa.


Selama tinggal dengan Nisa hidupnya begitu nyaman. Makanan disiapkan, pakaian siap pakai, rumah selalu bersih. Dan sekarang hidupnya menjadi berantakan tanpa Nisa di rumah.


“Apa yang harus saya lakukan sekarang? Bagaimana caranya menjelaskan ke Nisa kalau dia hanya salah paham? Nisa kan keras kepala, susah sekali diberi tahu. Tidak mungkin juga saya bilang ke dia kalau hidup saya berantakan tanpanya. Tapi saya sangat membutuhkannya. Ya Allah saya benar-benar merindukan Nisa. Tapi dia sudah terlanjur benci ke saya.”


Dengan perasaan bersedih Pak Ayyas melangkahkan kaki ke mesjid untuk shalat magrib. Seperti biasa, pulang dari mesjid ia akan membaca surah Al-Kahfi di malam Jumat.


Dibacanya surah ke delapan belas dalam Al-Qur’an itu. (Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”


Ia terus mengulang-ulang membaca ayat ke sepuluh itu. Berharap agar Allah memudahkannya untuk meyakinkan Nisa untuk percaya padanya.


Adzan berkumandang, Pak Ayyas menyimpan Al-Qur’annya lalu ke mesjid untuk shalat isya. Sepulangnya dari mesjid ia ke dapur untuk merebus mie instan.


“Makan, makan sendiri. Minum, minum sendiri. Pakai baju sendiri. Tidur pun sendiri. Gini amat yak rasanya jadi Caca Handika yang dulu. Bedanya dia memang duda. Sedangkan saya punya istri tapi seperti duda. Huftttt,” keluh Pak Ayyas.


Dilahapnya mie instan yang masih panas di hadapannya saat ini.


“Nisa, Nisa, kamu tega sekali pada suamimu yang tampan ini.”


Entah sudah ke berapa kali ia mengeluh. Setelah selesai menyantap mienya, Pak Ayyas kembali ke kamar untuk tidur.


“Biasanya jam segini Nisa masih asyik chatan sama temannya. Ada apa sih dengan pikiranku ini? Memikirkan Nisa terus dari tadi.”


Ia menutup pintu kamar. Berjalan ke garasi. Lalu melajukan mobilnya ke rumah Nisa.

__ADS_1


“Assalamu ‘alaykum,” ucap Pak Ayyas setelah mengetuk pintu rumah Nisa beberapa kali.


“Ini kan suaranya si Bear. Ngapain dia ke sini malam-malam?” batin Nisa.


“Ada orang tuh, bukain pintu!” perintah Nisa pada Aisyah.


“Biar Wahdah saja kak. Itu kan suara om Ayyas,” ucap Wahdah begitu bahagia.


“Ooomm.” Wahdah langsung memeluk Pak Ayyas.


“Apa kabar anak sholihah?” tanya Pak Ayyas ramah.


“Baik om. Wahdah kangen banget sama om. Om jarang ke rumah,” keluh Wahdah.


“Akhir-akhir ini om sibuk sayang,” balas Pak Ayyas sembari berjalan bersama Wahdah ke ruang keluarga.


“Iya bu,” ucap Pak Ayyas lalu duduk di samping mertuanya.


“Nisa, buatkan minum untuk suamimu nak.”


Nisa segera ke dapur, membuatkan Pak Ayyas secangkir kopi hangat.


“Diminum pak!” ucap Nisa menyodorkan kopi dengan wajah datar.


Sudah sepekan berlalu, tapi Nisa tetap saja bersikap cuek pada Pak Ayyas. Di matanya, Pak Ayyas tidak lebih dari seorang bajingan brengsek.

__ADS_1


“Terima kasih ya sayang,” goda Pak Ayyas.


“Sayang, sayang. Sayang pala lu peyang,” kutuk Nisa dalam hati.


“Sama-sama pak.” Sebisa mungkin ia kembangkan senyum di pipinya.


“Mau nginap?” tanya Bu Arni.


“Tidak bu. Saya ke sini untuk jemput Nisa. Di rumah banyak tugas soalnya. Saya kewalahan memeriksanya sendiri bu. Biasanya dibantu Nisa.”


“Saya tidak bisa bantu bapak. Saya harus bantu Aisyah dan Wahdah mengerjakan PR Agamanya,” tolak Nisa.


“Biar mama yang bantu adikmu mengerjakan PRnya. Kamu bantu suamimu memeriksa tugas.”


“Iya ma,” sahut Nisa terpaksa. Dengan senang hati Pak Ayyas pamit ke mertuanya.


“Om, Wahdah nginap di rumah om lagi ya.”


“Kamu harus kerjakan PR Agama. Pak Ayyas dan Kak Nisa mau periksa tugas. Kamu mengganggu mereka kalau ikut,” larang Bu Arni.


Wahdah memanyunkan bibir mendengar larangan ibunya.


“Dasar anak lelaki. Maunya A bilangnya B,” batin Bu Arni setelah menantunya itu pulang.


Ia tersenyum lebar karena tingkah Pak Ayyas barusan. Bu Arni tahu persis kalau menantunya itu sebenarnya rindu pada istrinya tapi malu mengatakannya.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2