
Pak Ayyas akhirnya diam setelah ditegur kak Rahman. Nisa lalu membuka baju pak Ayyas, menggosok-gosokkan lapisan dalam kulit pisang di tangannya ke punggung suaminya itu.
Setelahnya, Nisa beralih menggulung celana panjang pak Ayyas.
“Hati-hati ya bukanya! Jangan sampai auroraku kelihatan.” Dalam kondisi seperti itu, pak Ayyas masih sempat-sempatnya memparodikan gaya Kekey.
“Tenang saja Pak, celana Bapak saya gulung sampai di bawah lutut saja kok.”
Nisa sudah tahu kalau batasan aurat laki-laki adalah antara pusar sampai lututnya. Alhamdulillah, celana yang pak Ayyas kenakan adalah celana yang menutupi pusar.
Yuyun dan ak Ayyas bersepupu satu kali. Mereka sudah seperti saudara kandung. Tapi tetap saja pak Ayyas tak boleh menampakkan auratnya di hadapan Yuyun, karena dalam agama Islam, sepupu satu kali tidak terhitung sebagai mahram.
“Ternyata benar ya kalau kulit pisang bisa meredakan gatal. Alhamdulillah, udah agak mendingan ini gatalnya.”
“Bilang apa Pak?” tanya Nisa seperti sedang mendikte anak kecil.
“Terima kasih istriku sayang.”
“Hadeh ini si Bear merayunya benar-benar tidak melihat sikon. Lagi ngumpul gini juga, alay beut dah. Bukannya so sweet malah bikin malu. Untung cinta,” batin Nisa.
“Gatalnya sudah hilang. Bersihkan bekas kulit pisangnya! Saya mau pakai baju lagi.”
Pak Ayyas menyerahkan tisu basah ke Nisa. Nisa langsung mengerjakan perintah dari ak Ayyas. Setelah selesai, pak Ayyas memakai kembali bajunya.
“Bakar jagung yuk!” ajak kak Yuyun.
“Ide bagus, kebetulan malam ini bulan purnama. Ayyas kan suka melihat bulan,” sahut nenek.
Nenek hanya mengatakan bulan, tapi Nisa merasa sangat risih. Semenjak menikah, tiap kali ia mendengar kata bulan, pikirannya pasti selalu tertuju pada bu Susan.
Tiba-tiba saja gawai Nisa bergetar. Dengan perasaan yang tidak bersemangat, ia memeriksa pesan masuknya. Ternyata itu pesan dari pak Ayyas.
“Biarkan Susan menjadi bulan dan kamu menjadi aurora. Aurora yang jauh lebih indah dari bulan. I love you so much my wife.”
Nisa menatap ke depan, di tempat pak Ayyas duduk. Didapatinya pendamping hidupnya itu melemparkan senyum yang begitu manis ke arahnya.
Sesi tatap-tatapan antara Nisa dan pak Ayyas ternyata disaksikan oleh kak Rahman. “Foto-foto yuk!” sarannya.
__ADS_1
“Ide bagus sayang,” balas kak Yuyun.
Mereka lalu berkumpul untuk mengambil pose. Nenek juga tak mau ketinggalan. Meski sudah tua, ia tak kalah eksis dibandingkan cucu-cucunya.
Mereka mengambil banyak foto menggunakan gawai pak Ayyas.
“Yuyun sama nenek pindah dulu. Saya mau foto Nisa sama Ayyas.” Kak Rahman berusaha menyatukan pasangan yang malu-malu kucing itu.
“Kenapa kalian sekaku itu sih? Yang mesra dong fotonya! Malu-malu, seperti pengantin baru saja. Ayyas, suapi Nisa jagung supaya fotonya bagus.”
“Siap!”
Nisa dan pak Ayyas pun mengambil pose sesuai dengan perintah kak Rahman.
“Ini, coba lihat hasilnya! Bagus kan?” Kak Rahman mengembalikan gawai pak Ayyas.
“Iya, bagus banget.”
“Gerimis,” ucap kak Yuyun sembari menengadahkan tangannya.
“Ayo Nek kita naik ke rumah! Nenek bisa sakit kalau kehujanan.”
Hujan dan malam, perpaduan yang indah bagi mereka yang terlelap. Hingga suara alarm gawai pak Ayyas membangunkan mereka.
Mereka lalu shalat subuh secara berjama’ah dan membaca Al-Qur’an setelahnya. Tak terasa sudah pagi saja. Pak Ayyas mengajak Nisa turun.
“Mau kemana Pak?” tanya Nisa penasaran.
“Ke parit.”
“Mau ngapain di parit?”
“Saya mau ajar kamu berenang.”
Dengan senang hati Nisa mengikuti pak Ayyas.
“Karena kamu belum tau cara berenang sama sekali, sekarang kamu belajar mengambang dulu.”
__ADS_1
“Saya tidak tau caranya Pak,” curhat Nisa.
“Tengkurap dulu, kaki sama lengan kamu buka lebar-lebar.”
Nisa mencoba melakukan arahan pak Ayyas. Hanya beberapa detik, ia kembali berdiri.
“Jangan takut sayang, paritnya kan tidak dalam. Kamu tidak akan tenggelam di sini. Ayo coba lagi! Yang rileks, jangan panik! Kalau kamu panik, susah belajarnya.”
Nisa kembali berlatih. Kali ini ia melakukannya dengan rileks.
“Lumayanlah untuk pemula. Sampai sini dulu belajarnya. Lain kali baru belajar lagi.”
Pak Ayyas dan Nisa kembali ke rumah kebun. Berhubung mereka tidak membawa baju ganti, jadi mereka berjemur terlebih dahulu sebelum masuk ke mobil.
Setelah itu, mereka kembali ke rumah nenek.
Sesampainya di rumah, Nisa langsung mandi. Berpakaian, lalu ke dapur untuk membantu Kak Yuyun menyiapkan sarapan.
“Kakak beruntung sekali punya suami seperti kak Rahman. Kak Rahman sayang sekali sama Kakak,” puji Nisa.
“Dia seperti itu karena saya selalu memahami kondisinya juga, Nisa.”
“Memahami kondisi? Kondisi apa Kak?” tanya Nisa teramat penasaran.
“Pahami karakternya bagaimana, kebiasaannya apa saja, dan yang paling penting itu kondisi dia di dalam kamar seperti apa. Selama kita memahami tiga kondisi ini, maka In Syaa Allah suami akan terus sayang sama kita.”
“Wah, terima kasih ya Kak atas ilmunya. Sangat bermanfaat.”
“Sama-sama sayang. Kamu pasti berpikir kalau Ayyas tidak seromantis kak Rahman kan?”
“Iya Kak,” keluh Nisa.
“Karakter Ayyas memang seperti itu Nisa, orangnya otoriter. Kamu turuti saja setiap permintaannya, selama itu baik dan tidak merugikan kamu. Kalian memang menikah karena dijodohkan, bukan atas dasar suka sama suka. Tapi saya yakin kalau Ayyas itu sangat mencintai kamu.”
“Masa sih kak?” Nisa tidak yakin dengan ucapan kak Yuyun barusan.
“Iya Nisa. Dia mengajari kamu berenang. Kalau dia tidak cinta sama kamu, dia tidak akan bersusah payah mengajari kamu berenang. Intinya gini, laki-laki kalau tidak suka sama perempuan mereka pasti akan bodo amat. Kabar baiknya adalah . . . Pak Ayyas tidak bodo amat ke kamu.”
__ADS_1
“Hayo, kalian lagi bahas apa?” tanya kak Rahman tiba-tiba.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak