My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Bukan Astrophilia Sejati


__ADS_3

Pak Ayyas mulai tak tahan dengan sikap diam Nisa. Saat melihat ke luar jendela, otaknya seketika bekerja.


“Nisa, ke balkon yuk! Malam ini indah sekali. Lagi bulan purnama soalnya,” ajaknya.


Nisa yang memang butuh untuk memanjakan pikirannya langsung mengiyakan. Bersama-sama mereka melangkahkan kaki ke atas.


“Aku paling suka melihat bulan purnama. Adem sekali saat memandanginya,” tutur pak Ayyas dengan pandangan yang sedari tadi fokus ke langit.


“Bulan itu seperti bu Susan dalam hidup Bapak,” celoteh Nisa.


“Maksudnya?” Pak Ayyas seakan menuntut jawaban secepatnya.


“Iya, bulan itu seperti bu Susan buat Bapak. Cahayanya yang teduh di malam hari, seperti kemunculan bu Susan yang mampu memberikan ketentraman di hati Bapak. Bulan muncul di malam hari, saat dimana semua orang beristirahat dari penatnya aktivitas di siang hari. Persis seperti kemunculan bu Susan di pikiran bapak. Dengan mengingat senyumnya saja, Bapak akan merasa semua lelah telah terobati.”


“Kau benar. Kalau Susan seperti bulan, aku sendiri seperti apa?”

__ADS_1


“Bapak itu seperti bintang."


“Jelaskan seperti Susan tadi!”


“Bintang itu setia seperti Bapak. Cahayanya tak pernah lelah berbinar, meski seringkali terampas oleh bias sang rembulan. Seperti Bapak yang saat itu tahu kalau bu Susan tidak mencintai Bapak karena dia punya pacar, tapi Bapak tetap setia menunggunya putus dari lelaki yang tidak baik seperti mantan pacarnya itu." Nisa menarik nafas sebentar.


"Bintang tak selalu menemani malam, bukan berarti dia tak ada. Dia ada di sana, setia menemani langit. Seperti Bapak yang berpisah jarak dari bu Susan tapi cinta Bapak hanya untuknya. Bapak bahkan tidak ingin menikah karena menunggu bu Susan siap untuk menikah. Menunggunya hingga dia benar-benar bisa melupakan masa lalunya,” lanjutnya bijak.


“Kamu sendiri, Ridwan seperti apa di hidupmu?” tanya pak Ayyas lagi.


“Wah...hebat. Kamu astrophilia sejati Sa.”


“Nggak kok Pak. Sejak saya tahu kalau Bapak seorang astrophilia, saya jadi lebih ke denrophile sih. Saya hanya kurang sreg menyukai sesuatu yang banyak disukai orang lain." Nisa tersenyum tipis.


“Apa yang kamu sukai dari pohon?”

__ADS_1


“Ada banyak alasan, yang paling utama seperti bapak. Saya merasa damai saat melihat pohon. Selain itu, filosofi pohon juga membuat saya jatuh hati.”


“Saya juga mau tahu dong filosofi pohon.”


“Akar pohon itu kuat, karena akar lah pohon tidak tumbang saat diterpa badai. Begitu pula dengan akidah kita. Harus kuat, agar tak menyimpang dari syariat Islam saat dihantam masalah. Pohon juga menghasilkan buah, yang mengenyangkan setiap orang dan hewan yang memakannya. Seperti kita yang harus berilmu, agar bisa menebar manfaat ke yang lain seperti pohon."


“Saya sudah mengantuk Pak. Belum mau tidur?”


“Tunggu dulu Sa! Jika saya seperti bintang, Susan seperti bulan, Ridwan seperti pelangi, lalu kamu seperti apa?”


“Kalau menurut saya, saya itu seperti matahari. Dia tidak muncul di malam hari, sama seperti pelangi. Mereka berdua tidak sefrekuensi dengan bulan dan bintang. Matahari sendiri melambangkan cinta yang tulus. Tak peduli akan cacian, dia akan tetap memancarkan sinarnya dengan tulus. Seakan tak peduli akan perasaannya sendiri, dia tetap bersinar meski terluka." Tersenyum kecut.


"Tapi ada saatnya dia akan mengalah dan mundur ketika perasaannya tak dihargai. Fenomena ini biasa orang sebut sunset, matahari yang terbenam saat senja. Itulah kenapa banyak orang yang menyukai senja. Tanpa mereka sadari, senja sebenarnya merupakan cerminan suasana hati mereka. Berada di posisi dilema, antara ingin move on tapi masih sangat mencinta.” Nisa pun berlalu meninggalkan pak Ayyas yang masih terpaku dengan kata-katanya.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2