
Pikirannya yang kacau menyebabkan buku prediksi Ujian Nasional di hadapannya terbuka lebar tanpa dipelajari. Ia malah beralih membuka YouTube untuk menonton ceramah singkat ustadz-ustadz luar biasa di Indonesia.
Awalnya, ia begitu fokus menonton ceramah dakwah tersebut. Lama-kelamaan gawainya ia letakkan. Ia memutuskan untuk mendengarkan ceramah sambil berlatih mengerjakan soal-soal prediksi UN yang sempat dianggurin tadi.
Ia terus mengerjakan soal-soal itu hingga larut malam, dengan harapan bisa melupakan masalah tadi siang. Mengerjakan prediksi soal UN di saat hujan turun akhirnya berhasil membuatnya ketiduran. Kepalanya kini berada tepat di atas buku.
Hujan yang tadinya hanya gerimis, kini menjadi semakin lebat. Membuat Pak Ayyas kebelet karena kedinginan. Ia ke toilet untuk buang air kecil. Wudhu, lalu melakukan shalat tahajud setelahnya.
“Sudah pukul satu lewat. Tapi Nisa belum tidur juga. Apa dia masih belajar?”
Segera Pak Ayyas menuntaskan rasa penasarannya dengan menyusul Nisa di ruang keluarga.
“Ya ampun, anak ini. Bukannya tidur di kamar, malah ketiduran di sini.” Pak Ayyas membatin.
Pak Ayyas mematikan data seluler Nisa. Kemudian, mengangkat kepala Nisa sedikit untuk menutup bukunya. Ia lalu menggendong Nisa masuk ke kamar.
“Kasihan sekali, masih SMA sudah harus fokus mengurus banyak hal. Jadi istri, anak, dan juga siswa secara bersamaan.” Pak Ayyas membatin sembari mengecup dahi istrinya.
Ia kembali tidur, hingga suara radio dari mesjid membangunkannya. Segera ia ke mesjid untuk untuk melaksanakan shalat subuh.
Nisa kemudian terbangun saat mendengar suara adzan begitu merdu. Yang tak lain dikumandangkan oleh suaminya sendiri.
“Perasaan tadi malam saya tidurnya di ruang keluarga. Kenapa sekarang saya ada di kamar ya? Ini pasti ulah si Bear. Sok care, sok sweet, tapi di belakang selingkuh juga. Basi’,” ujar Nisa.
“Astaghfirullah, sakit sekali.”
Pak Ayyas meringis kesakitan ketika kakinya tertusuk sesuatu di perjalanan pulang.
Ia segera memeriksa benda apa yang menusuk kakinya itu. Ternyata ada paku tajam yang menembus sandalnya, sampai melukai kakinya.
Pak Ayyas lalu mencabut paku itu. Setelah berhasil, ia kembali ke rumah dengan tertatih-tatih.
__ADS_1
Ia memasuki ke kamar untuk menyimpan sajadahnya terlebih dahulu sebelum ke kamar mandi untuk mencuci kakinya. Nisa begitu kaget melihat suaminya masuk ke kamar dengan darah di kakinya.
“Astaghfirullah. Kaki bapak kenapa bisa berdarah gini?” tanya Nisa begitu khawatir.
“Tertusuk paku,” ucap Pak Ayyas sembari berjalan untuk menyimpan sajadahnya.
“Jangan banyak bergerak pak! Sekarang bapak duduk saja dulu. Biar saya yang simpan sajadahnya."
Setelah menyimpan sajadah, Nisa mengambil kain untuk menekan luka Pak Ayyas. Setelah beberapa menit, ia menyuruh Pak Ayyas ke kamar mandi untuk mencuci lukanya. Mencuci luka dengan air mengalir adalah langkah yang tepat karena bisa meminimalisir bahaya infeksi dari luka.
Setelah itu Nisa meminta Pak Ayyas untuk kembali duduk di ranjang. Nisa mengeringkan kaki Pak Ayyas dengan handuk. Setelah itu meneteskan betadine ke lukanya, kemudian memerbannya.
“Sudah selesai, terima kasih Nisa. Pulang sekolah nanti temani saya ke dokter ya. Periksa lukanya, sekalian beli obat pencegah tetanus.”
Nisa mengangguk setuju. Ia sebenarnya benci dekat-dekat dengan Pak Ayyas lagi. Tapi situasi kali ini tidak memungkinkannya untuk menghindarinya.
“Saya ke dapur dulu pak, mau bantu Aisyah buat adonan siomay goreng.”
“Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Engkau telah memberikan hamba seorang istri yang begitu berkarismatik. Responnya begitu tinggi di saat hamba dalam masalah,” batinnya.
Di perjalanan menuju sekolah, Nisa mampir dulu di warung Bu Kayla untuk menitipkan siomay goreng buatannya. Ia akan mengambil hasilnya setelah pulang sekolah nanti.
Pak kepala sekolah menjadi pembina apel pagi ini. Kepala sekolah sebenarnya jarang menjadi pembina apel. Hari ini ia yang menjadi pembina apel karena sedang Hari Guru.
Pak kepala sekolah mengamanatkan siswa untuk membuat status tentang hal positif dari guru yang mengajar di sekolah sebagai bentuk penghormatan kepada guru di Hari Guru ini. Kepala sekolah juga meminta siswa untuk menandai dua guru favoritnya di postingan IG.
Tak lupa juga, kepala sekolah mengamanatkan kepada setiap wali kelas untuk memantau anak walinya agar semuanya bisa turut serta menyukseskan aksi solidaritas ini.
Pak kepala sekolah memberikan pesan yang menohok pada para guru. “Sejatinya, guru yang sukses bukanlah guru yang gajinya besar. Bukan pula yang memiliki banyak prestasi. Tetapi guru yang sukses adalah guru yang mampu membentuk murid memiliki pribadi yang berakhlak, berkarakter, dan berperilaku yang baik.”
Setelah itu, ia mengucapkan salam untuk mengakhiri amanatnya. Pak Syamsul Ali sebagai wali kelas Nisa, langsung mengirimkan pesan ke grup kelas.
__ADS_1
“Tolong kalian lakukan arahan kepala sekolah tadi. Setelah melakukannya, kirim hasil screenshotnya ke grup ini. Yang tidak mengindahkan, tanggung sendiri akibatnya.”
Siswa kelas XII MIPA 1 langsung membuat postingan di IG. Tak terkecuali Nisa.
“Ibu adalah guru yang baik, cantik, dan juga sangat perhatian. Ibu adalah guru yang luar biasa.” Nisa menandai Bu Susan.
“Bapak adalah guru yang sangat bijaksana. Saya belajar banyak dari bapak,” ketik Nisa. Ia lalu menandai Pak Ayyas.
Nisa sengaja menandai Pak Ayyas dan Bu Susan, bukan karena benar-benar mengidolakan mereka. Tapi sebagai bentuk sarkasme.
Setelah itu, ia mengirimkan hasil screenshotnya ke grup. Juliana tertawa terbahak-bahak melihat hasil screenshot Nisa di grup.
Sementara di lain sisi, Pak Ayyas dan Bu Susan merasa tidak enak hati karena postingan Nisa. Memberikan kode melalui sosmed memang bukan sikap yang baik. Tapi Nisa merasa, kalau ia memang belajar banyak dari Pak Ayyas dan Bu Susan. Baginya, karena mereka berdualah ia bisa menjadi perempuan yang lebih sabar dan juga lebih dewasa dalam bersikap.
“Ya ampun Nisa. Berani sekali kamu,” ketik Juliana. Segera ia mengirimkan chat itu ke Nisa.
Nisa dan Juliana lalu bertatap-tatapan. Otak yang sefrekuensi membuat mereka tertawa bersamaan. Nisa lalu menghampiri Juliana di bangkunya.
“Eh Jul. Mamamu awet muda gitu resepnya apa sih?” tanya Nisa serius. “Mama rajin sikat gigi Sa.”
“Saya serius Juliana Wati bin Wati. Jangan bercanda terus,” ucap Nisa kesal.
“Hello, saya juga serius Nisa. Dengan rajin menyikat gigi, otomatis gigi akan menjadi bersih. Kalau gigi bersih, gigi tidak akan mudah keropos. Sekarang gue tanya, kelihatan tuaan mana orang yang ompong atau orang yang giginya masih bagus?”
“Tergantung usianya lah Jul. Ompong sekalipun kalau orangnya masih muda ya tetap aja akan kelihatan lebih muda dari orang tua yang giginya utuh.”
“Kenapa sampai di situ sih pembahasannya? Maskud gue tu yang seumuran Sa, gimana sih.” Juliana menepuk jidatnya.
“Ha ha sorry Jul. Kamu juga sih nggak jelasin dari awal, wuu. Pantas saja di dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah mengatakan: Andaikan aku tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan menyuruh mereka bersiwak (menyikat gigi) setiap kali berwudhu. Ma Syaa Allah sekali ajaran Rasulullah pada ummatnya.”
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1