My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 57


__ADS_3

Setelah menikmati makanan dan minumannya, mereka ke kasir untuk membayarnya.


“Mbak, bungkus piscoknya tiga porsi ya!” ucap Pak Ayyas.


“Serakus itu yah Bu Susan. Tiga porsi? Itu perut apa pabrik?” batin Nisa.


Segera Pak Ayyas membayar semua pesanannya. Lalu melajukan mobil untuk pulang.


“Kenapa terus pak? Ini piscoknya nggak disinggahin?” tanya Nisa pada Pak Ayyas setelah mereka melewati lorong masuk kost Bu Susan.


“Ini kubeli untuk mertuaku dan adik-adik iparku,” jawab Pak Ayyas sambil tersenyum menatap Nisa.


“Nggak usah sok sweet pak. Bapak tuh udah tua,” ledek Nisa.


“Oh ya? Saya baru 33 loh. Karena menurut kamu saya sudah tua. Jadi, kita harus cepat-cepat punya anak. Supaya di hari tua nanti ada yang mengurus kita,” ucap Pak Ayyas sengaja untuk menakut-nakuti Nisa.


“Stop pasang wajah mesum seperti itu pak! Mengerikan tau. Ribet banget sih, kalau mau punya anak ya tunggu saja Bu Susan lahiran. Apa perlu saya bantu cari nama yang Islami untuk anak bapak nanti?” tanya Nisa menantang.


“Kamu cemburu kan?” tanya Pak Ayyas sembari tersenyum ke arah Nisa.


“Ihhhh. KePDan,” elak Nisa.


“Tidak perlu cemburu. Istriku kan kamu. Jadi kamu yang akan melahirkan anak-anakku,” ucap Pak Ayyas dengan mimik yang serius.


“Saya mau minta tolong boleh pak?” tanya Nisa berusaha untuk mencairkan suasana yang awkward ini.


“Minta tolong apa?”


“Kata Bu Suryana, pengambilan nilai Seni Budaya nanti dengan cara tampil dance. Saya sama Juliana keberatan untuk itu. Tapi takut bilang ke Bu Suryana. Bu Suryana pasti murka kalau kami menolak untuk tampil dance. Bantuin bilang ke Bu Suryana dong,” curhat Nisa.


“Saya bisa bantu, tapi dengan syarat.” Pak Ayyas menggantung ucapannya.


“Apa syaratnya?” tanya Nisa sedikit ketakutan.


Jangan sampai Pak Ayyas mengajukan syarat yang tidak-tidak. Soalnya beberapa hari ini, otaknya seperti tidak bekerja dengan maksimal.

__ADS_1


“Kamu harus kembali ke rumah. Tinggal dengan saya. Kalau mau keluar rumah harus minta izin. Boleh ke rumah ibu, tapi saya yang antar.”


“Kurang ajar banget ini si Bear. Tapi kalau kutolak, harus siap tampil dance depan umum. I can’t imagine that,” batin Nisa menjerit.


“Ya sudah, tapi besok saja ya pak. Saya sudah janji ke Wahdah untuk membacakannya dongeng malam ini.”


“Ya, malam ini kita tidur di rumahmu. Tapi besok langsung pulang ke rumah kita,” balas Pak Ayyas.


“Kita? Bapak mau nginap juga?” tanya Nisa kesal.


“Iya, mau bagaimana lagi. Adik ipar dan mertuaku sangat menyayangiku. Mereka pasti tidak akan membiarkanku pulang malam tanpa istriku,” goda Pak Ayyas.


“Rasanya ingin kucubit ginjalnya beruang mesum ini,” batin Nisa.


“Pak, kayaknya bapak sakit deh. Bapak sebaiknya ke psikiater untuk periksa kondisi mental bapak,” ucap Nisa blak-blakan.


“Saya hanya akan ke psikiater kalau psikiaternya kamu. Mentalku jadi tidak stabil kan karena kamu.”


“Stop pak! Saya eneg dengan ucapan-ucapan bapak,” ucap Nisa emosi.


“Kalau si Bear begini terus. Bisa-bisa aku ikutan gila mendengar ucapannya,” keluh Nisa dalam hati.


Seperti biasa, Pak Ayyas akan selalu disambut hangat oleh keluarga Nisa.


“Om Ayyas datang,” ucap Wahdah lalu berlari memeluk Pak Ayyas.


“Makan piscok mau?” tanya Pak Ayyas ramah.


“Mau,” balas Wahdah malu-malu.


Pak Ayyas lalu membukakan piscok yang dibawa dan mulai menyuapi Wahdah.


“Apaan sih pak. Wahdah itu sudah besar. Sudah bisa makan sendiri. Nggak perlu disuap-suap kayak balita gitu,” ucap Nisa dengan intonasi meninggi.


“Ya sudah, kalau Wahdah nggak boleh disuapi. Sini, biar kamu saja yang saya suapi.”

__ADS_1


“Nggak lucu,” ucap Nisa kemudian berlalu meninggalkan Pak Ayyas.


Ucapan-ucapan Pak Ayyas semakin lama semakin membuatnya muak saja.


Beberapa menit setelahnya, ibu Nisa menghampiri Pak Ayyas, Wahdah, dan Aisyah di ruang keluarga.


“Eh ada nak Ayyas. Nisa mana nak?” tanya Bu Arni yang tak melihat keberadaan Nisa.


“Ke kamar duluan bu.”


“Ya sudah, kalian lanjutkan makannya. Mama ke kamar dulu ya. Udah ngantuk,” pamit Bu Arni.


“Iya bu, silakan.”


Aisyah ikut ke kamar bersama ibunya. Setelah kenyang memakan piscok, Wahdah dan Pak Ayyas juga memasuki kamar.


Di dalam sudah ada Nisa dengan buku dongeng Cinderella di tangannya. Wahdah menaiki ranjang dan langsung berbaring di samping kakaknya.


“Sini! Biar saya saja yang bacakan Wahdah cerita,” ucap Pak Ayyas sembari merebut buku dongeng dari Nisa.


Pak Ayyas justru meletakkan buku dongengnya. Ia mulai menceritakan tentang kisah Raja Abrahah yang gagal meruntuhkan ka’bah . Mendengar itu Nisa kembali membatin. “Sholeh sih, tapi gendeng.”


“Buka grup pak! Istrimu lagi ngidam rujak tuh. Pengen makan rujak katanya. Buruan pak cariin di luar. Entar anakmu ileran lagi kalau ibunya nggak kesampaian makan rujak.”


Pak Ayyas benar-benar muak dengan tuduhan-tuduhan Nisa. Baginya ini waktu yang tepat untuk memberi tahu semuanya ke Nisa. Tatkala mood Nisa mulai baikan. Ia mulai membuka gawai nya dan memperlihatkan isi chatnya dengan Bu Susan.


“Tak perlu minta maaf, sudah saya maafkan. Mau baca semua chat Susan juga boleh.”


Setelah berkata seperti itu Pak Ayyas langsung tidur.


“Jadi, Bu Susan ternyata tidak hamil. Yang hamil itu perempuan yang bernama Kak Helma. Tidak ada chat mesra juga di sini. Astaghfirullah, selama ini saya suudzan ke Bear. Tapi ini tidak mengubah apa-apa sih. Bu Susan tidak hamil, tapi tetap saja cintanya si Bear hanya untuk Bu Susan. Dia bersikap baik ke saya hanya karena amanah papa. Dan demi menghibur saya dia sampai rela merayu yang aneh-aneh seperti tadi. Asli capek sih, jadi istri tapi suami cintanya ke perempuan lain. Setelah tampil dance nanti, saya tidak bakal berurusan dengan si Bear lagi. Cerai, kuliah di UPI, dan menikah dengan lelaki yang benar-benar mencintai saya. Si Bear tidak akan terbebani lagi dengan pernikahan ini. Setelah resmi bercerai nanti, dia juga akan menikah dan hidup bahagia dengan Bu Susan. Dengan begini, tidak akan ada lagi yang terluka karena perjodohan ini.” Lagi-lagi Nisa bermonolog dalam hati.


Karena sudah mengantuk, Nisa meletakkan gawainya dan gawai Pak Ayyas. Lalu tertidur dengan nyenyak.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2