
“Ayo makan malam!” ajak ibu pak Ayyas.
“Nanti saja ma. Kami sedang memeriksa tugas ini. Mama sama papa makan duluan saja ya,” ucap pak Ayyas yang tengah sibuk memeriksa tugas dibantu oleh bu Susan dan Nisa.
“Padahal mama masak ikan bandeng kesukaan kamu.”
“Nanti saja mamaku sayang. Mau dimakan sekarang atau dimakan nanti, rasa masakan mama tetap yang paling enak seantero jagad raya.”
“Ya sudah, mama sama papa makan duluan yah. Papamu sudah lapar sekali. Tadi siang dia tidak sempat makan karena terlalu sibuk mengurus kenaikan pangkatnya.”
Setelah berkata seperti itu, bu Tiara langsung ke dapur. Menghampiri suaminya yang sedari tadi memang sudah menunggu untuk dijamu di ruang makan. Sambal pedas di atas meja makin membuatnya ingin cepat-cepat makan.
__ADS_1
Selang beberapa menit.
“Alhamdulillah papa sudah kenyang ma. Mama memang paling jago kalau urusan perut. Oh ya, papa pegel nih ma. Pijitin papa ya,” ucap pak Subroto dengan ekspresi seperti anak kecil yang sedang merengek untuk dibelikan permen.
“Ya sudah, nanti mama pijitin. Papa ke kamar dulu. Nanti mama nyusul setelah membereskan ini,” ujar bu Tiara dengan pandangan yang masih begitu fokus ke meja makan.
Memastikan dengan baik meja makannya sudah bersih atau belum. Setelah yakin mejanya sudah bersih, ia langsung ke kamar untuk memijit suaminya.
Sementara di ruang keluarga, pak Ayyas sudah selesai memeriksa tugas siswa. Bertiga, mereka melangkah ke ruang makan untuk makan malam bersama. Di hadapan Nisa, tanpa pikir panjang bu Susan langsung mengambilkan pak Ayyas makanan.
“Tersenyumlah atas perhatian bu Susan, Bear. Tersenyumlah atas pujian Bear, bu. Karena setelah ini, akan kupastikan kalian akan merasakan sakit yang sama seperti yang kalian selalu lakukan ke saya. Sudah cukup kalian meremehkan saya. Selama ini yang saya tunjukkan ke kalian hanya bunga dari kaktus. Tapi sekarang, kalian akan merasakan seperti apa rasanya ditusuk durinya juga,” batin Nisa.
__ADS_1
Meski sedang terluka parah di dalam, Nisa tetap terlihat begitu tegar di luar. Tak terlihat rona kesedihan lagi di wajahnya. Setelah berbulan-bulan ia merasa disudutkan, kini ia menjadi kebal atas perlakuan bu Susan dan Pak Ayyas padanya.
“Ayah itu paling suka makan kepala ikan. Kalau mama paling suka makan bagian tengahnya. Kalau Susan sangat suka bagian ekornya,” ucap pak Ayyas lalu melahap kepala ikan di piringnya itu.
“Mereka yang suka makan kepala ikan, terlahir dengan bakat memimpin. Sementara yang suka makan bagian tengahnya, tipe yang kurang suka mengambil resiko. Dan yang terakhir, mereka yang suka makan bagian ekornya adalah tipe yang suka cari masalah. Sudah tahu ekor ikan bandeng banyak tulangnya, masih saja difavoritkan. Tapi tak dapat dipungkiri, bagian ekor memang paling enak yah bu?” tanya Nisa pada bu Susan.
Bu Susan dan pak Ayyas menatap aneh pada Nisa karena perkataannya barusan. Baru kali ini Nisa bersikap seperti itu. Perempuan yang biasanya bersikap begitu lembut, tiba-tiba berubah menjadi sedikit kasar.
Dengan entengnya Nisa mengambil ekor ikan lalu melahapnya tanpa menghiraukan ekspresi pak Ayyas dan bu Susan karena ucapannya.
“Iya. Bagian ekor memang paling enak,” jawab bu Susan sedikit canggung.
__ADS_1
“Ini baru permulaan. Kejutan-kejutan selanjutnya akan lebih menakjubkan dari ini.” Nisa kembali membatin.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak