My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Lebih Pro Susan


__ADS_3

Di malam hari saat Nisa akan tidur, tiba-tiba ada notifikasi chat dari Pak Syamsul di grup kelas.


“Assalamu’alaykum. Besok ada lomba antar kelas. Lombanya itu membuat kerajinan tangan dari koran. Tiap kelas maksimal 3 orang perwakilan. Bapak percayakan semua pada Zulfitri yang lebih berpengalaman dalam hal ini,” ketik Pak Syamsul.


“Wa’alaykumsalam warahmatullah. Siap pak!” balas Zulfitri.


Selang beberapa menit Zulfitri mengirim chat ke grup ukhtifillah. Grup ini sudah lama terbentuk. Anggotanya hanya ada Nisa dan sahabat-sahabatnya.


“Guys siapa yang mau ikut?” Zulfitri memulai percakapan. “Aida sama Nisa aja!” Juliana menyarankan.


“Gimana? @Ukhty Nisa @Ukhty Aida.”


“Saya terserah kalian saja,” balas Nisa.


“Serius ini?” tanya Aida. “Duarius zeyyenggg,” balas Dania.


“Kamu harus ikut Aida!” desak Fina. “Dengan senang hati beb,” balas Aida.


“Kalian ada ide apa guys?” tanya Zulfitri lagi. “Kita buat tas saja Zul," balas Nisa cepat.


“Wizzz ide bagus tuh.Ok, ide Nisa kita eksekusi.”


“Saya bawa lem dan benang. Zulfitri bawa selang putih. Aida bawa koran dan gunting,” titah Nisa.


“Ok deh,” balas Zulfitri. “Siap!!” jawab Aida.


Keesokan harinya, semua peserta lomba berkumpul di aula dengan peralatan kelompoknya masing-masing. Juri dari perlombaan kali ini haruslah guru yang bukan wali kelas. Hal ini bertujuan untuk menghindari kecurangan dalam penilaian.


Tampak Pak Ayyas, Pak Muhlis, dan Bu Mariana tengah duduk di kursi juri. Kepala sekolah mulai membuka lombanya. Setelah itu, para peserta mulai sibuk membuat karyanya.


Setelah 3 jam berlalu, panitia meminta peserta untuk mengakhiri aktivitasnya.


Satu per satu karya dinilai. Ada tiga karya yang sangat mencuri perhatian para juri. Karya yang pertama, bunga dari kelas XI IPA 3. Disusul tas, karya Nisa dan sahabatnya. Juga baju dari kelas XII IPS 1.


Penjurian pun dimulai. Untuk kelas XI IPA 3. Pak Ayyas memberikan nilai 90, Pak Muhlis 90, dan Bu Mariana 80. Skor akhir yaitu 260. Untuk kelompok Nisa dan sahabatnya. Pak Ayyas memberikan nilai 90, Pak Muhlis 90, dan Bu Mariana 90. Skor akhirnya adalah 270. Juara pertama kelas XII IPS 1. Pak Ayyas memberikan nilai 97, Pak Muhlis 88, dan Bu Mariana 88. Skor akhirnya 273.


Kepala sekolah memberikan piala dan juga amplop berisikan uang ke siswa yang menang. Piala itu Zulfitri berikan ke Pak Syamsul sebagai wali kelas. Dan uangnya mereka gunakan untuk buat acara kecil-kecilan. Sudah lama mereka tidak ngumpul-ngumpul di luar jam sekolah.

__ADS_1


Karena ada lomba, hari itu siswa dipulangkan lebih awal. Guru-guru juga buat acara makan-makan di kantor. Segera Nisa dan sahabatnya ke pasar untuk beli bahan acara mereka nanti.


“Pak Ayyas curang ya. Jelas-jelas cantikan karya kelas kita,” ucap Dania.


“Saya juga heran. Baru kali ini Pak Ayyas bersikap begitu. Jujur saya kecewa melihat sikap Pak Ayyas yang seperti itu,” tambah Saleha.


“Tumben Jul kamu tidak membela idolamu,” ucap Nisa.


“Saya tahu kok penyebabnya apa,” balas Juliana. “Apa Jul?” tanya Zulftiri penasaran.


“Kemarin saya lihat Pak Ayyas memberikan sesuatu ke Bu Susan. Hanya ke Bu Susan, ke guru-guru yang lain tidak. Selama ini Bu Susan juga seringkali berada di dekat Pak Ayyas. Ibarat pepatah, dimana ada Pak Ayyas di situ ada Bu Susan. Kayak bazar waktu itu. Waktu kemah bersama juga seperti itu. Cuman Bu Susan satu-satunya guru perempuan yang seakrab itu dengan Pak Ayyas. Dan yang paling tidak logis, kejadian tadi. Pak Ayyas memberikan nilai 97 untuk kelompok Ridwan. Padahal guru yang lain cuman kasih nilai 88. Mungkin karena kelompok Ridwan adalah wali murid Bu Susan.” Juliana menjelaskan dengan perasaan sedih.


“Mata hatinya terbuka guys,” canda Fina.


“Apaan sih? Oh ya, I remember something guys. I bring this forest hair” ucap Juliana.


“Apa Jul?” tanya Fina menegaskan. “Forest hair Fina,” celetuk Nisa.


“Apaan tuh?” tanya Fina kebingungan. “Forest artinya?” tanya Nisa.


“Forest hair artinya?”


“Rambut hutan.”


“Ha ha bisa aja kamu Jul,” ucap Fina sembari menyenggol Juliana.


“Kamu beli Jul?” tanya Saleha. “Nggak. Petik sendiri dong di kebun.”


“Besok bawa lagi ya,” ucap Aida tertawa kecil.


“Sa, ngapain kamu?” tanya Dania saat melihat Nisa mengendus-endus kulit rambutan. “Ya mencium kulit rambutan ini lah.”


“Apaan sih Sa? Gaje banget tau.”


“Gaje apaan? Ini harum tau. Cuman kulit rambutan yang baunya khas gini.”


“Ada-ada aja kelakuan sahabat kita yang satu ini,” kata Zulfitri.

__ADS_1


“Beneran wangi kok guys. Cobain deh!” titah Fina.


“Ogah. Mending makan buahnya. Ya ampun ini rambutannya enak banget Jul. Manis dan gak lengket. Pokoknya besok kamu harus bawa lagi ke sekolah,” ucap Dania. “In Syaa Allah,” balas Juliana.


Setelah makan buah rambutan itu, mereka memasak bahan-bahan yang telah dibeli di pasar tadi. Karena makanannya sangat banyak, mereka membawa pulang sebagian.


“Sore begini baru pulang. Darimana saja kamu Sa?” tanya Pak Ayyas pada Nisa yang baru saja meletakkan makanan sisa acara tadi di meja makan.


“Ngumpul sama teman di rumah Saleha pak,” balas Nisa judes.


“Kamu jangan bertindak semau kamu dong Sa! Baru pulang jam segini. Kalau ada apa-apa sama kamu. Saya juga kan yang disalahkan,” protes Pak Ayyas.


“Nggak usah terlalu lebay lah pak. Toh, di sana juga perempuan semua kok. Baru juga jam 5 sore,” protes Nisa balik.


“Dasar keras kepala!”


Nisa hanya diam saat Pak Ayyas mengatainya. Ia tak menghiraukan ucapan Pak Ayyas sama sekali. Malah berjalan ke kamar untuk menyimpan tas. Lalu bergegas ke kamar mandi.


Perlahan respectnya semakin berkurang ke Pak Ayyas. Mungkin, karena lukanya yang kian menumpuk. Hingga harus ia lampiaskan agar tidak stress.


Keesokan harinya, Nisa berangkat duluan ke sekolah. Tak terasa bel pulang pun berbunyi. Seperti biasa, siswa kelas tiga belajar bersama. Sembari menunggu Pak Anwar, mereka duduk-duduk dulu di aula.


“As my promise yesterday. Bawa rambutan dong.” Juliana mengeluarkan buah rambutan dari tasnya.


“Ridwan, kamu ngapain?” tanya Nisa. “Mencium kulit rambutan.”


“Astaga. Kalian berdua kok aneh sih?” ucap Juliana menatap ke arah Nisa dan Ridwan.


“Maksud kamu apa Jul?” Ridwan kebingungan dengan kata-kata Juliana barusan.


“Nisa juga suka mencium kulit rambutan. Jangan-jangan kalian jodoh lagi.” Sahabat Nisa ikutan menggoda Ridwan dan Nisa.


“Apaan sih kalian?” ucap Nisa kesal.


“Aamiin,” balas Ridwan balik menggoda. “Aamiin dong,” balas Zulfitri.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2