
Di hari ke dua di Bandung, tubuh pak Ayyas mulai menunjukkan ketidakcocokan dengan suhu sekitar. Dinginnya kota Bandung membuatnya rentan flu. Tenggorokannya sakit dan suaranya sedikit parau.
Berbagai upaya dilakukan Nisa untuk mengobati pak Ayyas. Seperti memperbanyak merica di telur ceplok, karena khasiat merica sendiri adalah untuk meredakan flu.
Tidak hanya di makanan, tapi juga di minumannya. Yang biasanya teh, kali ini diganti dengan ramuan pengobat sakit tenggorokan. Terbuat dari campuran kayu manis, air hangat, dan madu secukupnya.
“Ini jaketnya honey. Dipakai ya! Biar flunya tidak bertambah parah.”
Nisa memberikannya ketika pak Ayyas selesai meminum ramuan tadi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
“Maaf ya sayang, jadi merepotkan gini. Baru datang sudah flu.”
“Repot? Nope, I am happy to do this for you. As you said several days ago, tugas istri adalah mengatur rumah dan mengurus keluarga. Wajar sih kalau kamu flu honey. Di Pinrang kan agak panas, sedangkan di sini dingin. Tenang saja honey, nanti juga akan beradaptasi sendiri kok. Saya, Juliana, Ridwan, bahkan kak Tonny juga sempat cerita kalau dia juga begini dulu waktu pertama kali menginjakkan kaki di kota ini.”
Nisa menampakkan senyum hangatnya, guna menyemangati pak Ayyas.
“Kamu makin dewasa saja. Saya berangkat dulu ya sayang. Maaf tidak bisa mengantar kamu ke kampus hari ini. Harus masuk pagi soalnya.”
“It is okay honey. Nanti saya berangkat bareng Juliana saja.”
Senyum hangat senantiasa menghiasi wajah Nisa. Tak ingin suaminya itu mengkhawatirkannya.
Pak Ayyas mencium kening Nisa terlebih dahulu sebelum melajukan mobilnya ke sekolah.
Nisa beberes, mandi, lalu menunggui Juliana untuk berangkat bersama ke kampus.
“Mir, apa sih rahasianya bisa disukai lelaki hebat kayak Adam?” tanya Helmiyanti.
“Jangan bersuara keras kayak Nisa dan Juliana. Bisa bikin lelaki ilfil soalnya. Lihat aja tuh si Juliana belum laku-laku sampai sekarang. Si Nisa laku juga palingan karena pelet. Mukanya B aja gitu, suaminya wow. Karena apalagi coba kalau bukan karena pelet? Biasalah orang kampung, masih identik gitu dengan yang namanya black magic.”
“Hati-hati ya kalau ngomong! Saya kasih kopi sianida tahu rasa kamu. Seenaknya nuduh Nisa pakai pelet lagi. Mendingan saya kali, belum laku tapi di jalur halal. Daripada kamu yang katanya laku tapi di jalur haram. Ya iyalah di jalur haram, mana mau kak Adam menikahi kamu. Paling juga dijadikan mainan. Lagian lelaki mana sih yang mau menikahi perempuan yang mulutnya sepedas cabe kayak kamu. Kamu itu memang cocoknya cuman jadi istri kedunya si Doddy. Jadi ibu sambungnya si Kuyang. Hi hi hi hi he he he he ha ha ha ha ho,” ledek Juliana.
“Sok-sokan ngata-ngatain saya. Bilang saja kalau kalau kamu iri dengan kecantikan saya. Dasar DUTA TERSINGGUNG.” Mirna semakin menjadi-jadi karena reaksi Juliana barusan.
“Tahan saya Sa! Tahan!”
__ADS_1
“Sudah, sudah! Jangan diambil hati Jul. Biarkan saja dia berkoar-koar. Nanti juga berhenti sendiri kok kalau sudah bosan mengata-ngatai kita.”
Nisa menarik tangan Juliana. Menyuruhnya untuk duduk agar emosinya bisa mereda.
“Ngaso yuk! Saya yang traktir.” Nisa menggandeng tangan Juliana yang masih sedikit emosi ke kantin.
“Lama banget sih makanannya Sa,” keluh Juliana.
“Bukan lama Jul. Saya pesannya memang cuman seporsi. Kita sepiring berdua saja.”
“What? Nggak salah nih?”
“Nggak dong. Mulai sekarang kita harus makan dalam porsi kecil saja. Supaya body kita bisa ideal kayak Mirna.”
“Maksud kamu diet? Nggak mau ah. Kamu saja, saya akan tetap makan sepuasnya. To me, diet itu sama dengan menyiksa diri sendiri.”
“Will Smith pernah berkata, self-love adalah ketika kita mengatakan tidak pada keinginan kita karena kita tahu keinginan kita itu tidak baik untuk diri kita. Benar juga sih statement Will Smith ini. Kalau kita makan sepuasnya tanpa dibatasi, banyak dampak negatif yang akan timbul Jul. Kelebihan berat badan misalnya, hormon yang terganggu, bikin ngantuk juga.”
“Tapi diet kan susah Sa.”
“Well, kalau gitu mulai sekarang saya mau diet juga.”
“Alhamdulillah kalau gitu,” ucap Nisa sembari merangkul tangan Juliana.
Mereka kembali ke kelas setelah menghabiskan makanannya. Mereka juga pulang bersama setelah kuliah siang ini selesai.
“Beli buah lagi honey? Di kulkas kan masih banyak,” protes Nisa.
“Bukan saya yang beli sayang. Ini pemberian dari siswa di sekolah. Kelihatannya siswa ini memang anak orang berada. Mungkin juga dia memang royal ke semua guru. Dia pasti malu kalau saya menolak pemberiannya. Makanya saya ambil saja. Lumayanlah untuk stock nyemil beberapa hari ke depan ha ha.”
“Siswanya cewek atau cowok honey?”
“Cewek, kalau tidak salah ingat namanya Iren.”
“Si Iren itu cantik nggak?” tanya Nisa lagi. Ia mulai cemas ketika mengetahui bahwa siswa yang memberikan buah ke suaminya adalah cewek.
__ADS_1
“Iya, cantik. Cie yang menginterogasi, cemburu ya? Kamu tenang saja sayang, I will not cheat you.”
Pak Ayyas menyimpan buah tadi. Kemudian ke tempat tidur, memeluk Nisa yang tengah berbaring sambil membaca buku.
“Ha ha ha. Kamu pakai make up ya?” tanya pak Ayyas yang baru saja pulang dari shalat isya di mesjid.
“Kenapa ketawa? Jelek ya? Saya bela-belain belajar make up to make you happy. Biar bisa cantik kayak perempuan di luaran sana yang sering melempar perhatian ke kamu,” ucap Nisa dengan nada lirih.
“Cantik, cantik banget malah. Tiap hari gini ya, saya suka. Tapi yang tipis-tipis saja, lipstickmu ini ketebalan sayang.” Pak Ayyas kembali merangkul istrinya.
“Alhamdulillah kalau suka.”
Nisa terus membaca buku hingga ketiduran. Setelah resmi menjadi istri pak Ayyas, ia jadi suka membaca buku. Ini karena pak Ayyas yang suka membaca buku selalu meminta Nisa untuk membaca buku yang telah ia selesaikan.
Nisa tiba-tiba terbangun karena pak Ayyas yang banyak gerak di tempat tidur. Ia melirik gawainya, ternyata sudah pukul sebelas. Tapi pak Ayyas belum tidur juga.
“Kenapa belum tidur honey? Ini kan sudah larut malam.”
“Saya tidak bisa tidur sayang. Belakang saya gatal sekali. Mungkin kejatuhan ulat bulu tadi di sekolah. Sedang banyak ulat bulu di pohon sekolah.”
“Musim hujan memang banyak ulat bulu yang berkembang biak di pohon. Mungkin karena pemangsa ulat bulu berteduh ketika hujan.”
Nisa menyimpan buku tadi, kemudian bergegas mengambil timun di kulkas. Timun itu ia parut, lalu meletakkannya di punggung pak Ayyas yang memerah karena bekas garukan.
Beruntung di kost baru Nisa ada kulkas. Meski berukuran kecil, setidaknya kulkas itu sangat berguna untuk menyimpan makanan agar tidak membusuk.
“Kenapa menangis honey? Terlalu gatal ya? Nanti akan sembuh kok.”
“Saya menangis bukan karena gatal. Tapi karena tersentuh dengan perhatian kamu ke saya. Maaf yah sayang, saya selalu merepotkan kamu. Padahal niat saya ke Bandung untuk memudahkan urusan kamu. Malah saya yang mempersulit.”
“Hush, jangan ngomong gitu honey. Ini minum jusnya.”
Nisa sengaja memberikan jus alpukat ke pak Ayyas agar suaminya itu tidak insomnia berkepanjangan. Benar saja, pak Ayyas yang tadinya gelisah akhirnya terlelap juga setelah meminum jus alpukat buatan Nisa.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1