My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 78


__ADS_3

“Yaelah rempong banget deh kalian. Kalau mau awet muda, minum Fito Green aja. Beli di saya,” sela Fina.


“Pahit gak?” tanya Nisa serius.


“Nggak lah, terbuat dari ekstrak buah apel say.”


“Fixed, saya mau beli Fin.”


Fina lalu mengambil Fito Green di tasnya dan langsung memberikannya pada Nisa.


Nisa membayarnya, lalu menyimpan Fito Green itu di tasnya untuk diminum nanti malam.


“Laris manis nih ye jualan calon pengantin,” ledek Juliana.


“Calon pengantin? Maksud kamu Fina?” tanya Nisa penasaran.


“Yup, Fina tuh belajar bisnis sejak dini karena tamat sekolah nanti dia mau nikah sama Kak Rafa. Nggak mau kuliah katanya. Mau fokus berumah tangga gitu Sa.” Juliana menjelaskan panjang lebar.


“Ya ampun, kalian tuh mulai nggak asyik tau. Hal penting gini baru bilang sekarang.”


“Kita yang nggak asyik atau kamu yang terlalu sibuk? Jadi gini ya Nisa, Fina bahas ini waktu kamu nggak ke sekolah karena izin. Sorry ya, saya nggak cerita karena lupa.”


“Guys, pak Anwar datang.” Saleha menegur sahabat-sahabatnya.


Mereka yang tadinya berkerumun, kembali ke bangkunya masing-masing. Hardiansyah sebagai ketua kelas langsung menyiapkan kelas sebelum mulai belajar.


“Kalian mandi tidak kalau ke sekolah?” tanya pak Anwar.


“Iya dong Pak,” jawab Ulfa PD.


“Serius? Jalanan basah dong. Kalian sebagai siswa itu, jangan mandi ke sekolah. Itu tindakan yang salah, yang benar itu kalian mandi dulu baru ke sekolah. Supaya jalanan tidak basah dan kalian juga tidak malu dilihat orang sedang mandi di jalan.”


Pak Anwar melontarkan candaan.


Setelah mencerna beberapa detik, siswa lalu tertawa karena guyonan pak Anwar barusan.


Seperti biasa, guru yang luar biasa itu selalu memulai pelajaran dengan memberikan contoh yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Sehingga pelajaran Fisika yang tadinya terasa sulit, menjadi mudah untuk dipahami.


Sementara pak Ayyas, ia mengajar di kelas Syam.

__ADS_1


Akhir-akhir ini Nisa begitu sibuk, hingga tak sempat untuk membantu pak Ayyas memeriksa tugas. Karena kondisi inilah pak Ayyas meminta siswa untuk memeriksa ulangan dari siswa di kelas yang berbeda.


Saat ini, pak Ayyas membagikan ulangan kelas XII MIPA 1 ke teman kelas Syam untuk diperiksa.


Syam yang membantu pak Ayyas membagikan ulangan itu, dengan sengaja menyimpan ulangan Nisa untuk ia periksa.


Pak Ayyas lalu memberikan arahan ke siswa tentang cara memeriksanya. Ia juga mengarahkan mereka untuk menuliskan nama pemeriksa di lembar ulangan yang diperiksanya.


Syam dengan sengaja menulis namanya di samping nama Nisa. Ia juga membuat bentuk love di antara namanya dan nama Nisa. Lalu mengembalikannya ke pak Ayyas.


“Bocah labil, bisa-bisanya dia membuat bentuk love begini. Aku kalah sama bocah? Tidak akan. Kamu boleh perhatian dan cinta sama Nisa, Syam. Tapi itu semua percuma. Karena Nisa adalah istriku,” ucap pak Ayyas dalam hati.


Sepulang sekolah, Nisa menemani pak Ayyas ke dokter. Sang dokter memberikan obat anti tetanus. Pak Ayyas juga membeli habbatussauda.


Setelah ke dokter, mereka singgah di rumah bu Kayla untuk mengambil wadah dan juga hasil siomay goreng. Tak lupa, Nisa memberikan beberapa ribu untuk bu Kayla karena telah melariskan jualannya.


Sesampainya di rumah, Nisa langsung memberikan hasil jualan tadi ke ibunya. Kemudian ke kamar, diikuti pak Ayyas yang melangkah dengan pelan.


“Habbatussauda ini kasih ke mama, kamu juga minum ya! Menurut dr Zaidul, habbatussauda mengandung pregnenolone. Master of hormone yang dapat membantu keseimbangan hormon di dalam tubuh. Kalau hormon seimbang, daya tahan tubuh juga seimbang untuk menghadapi segala jenis infeksi.”


Nisa hanya mengangguk, tidak berkata apa-apa.


Setelah makan siang bersama, Nisa menemani Aisyah dan Wahdah belajar sembari melipat pakaian.


Pak Ayyas melihat Nisa begitu sibuk. Ia berinisiatif untuk membantunya melipat pakaian.


Biasanya Nisa akan bahagia, bahkan berterima kasih. Tapi kali ini, ekspresinya tetap datar.


Pak Ayyas merasa semakin canggung atas sikap Nisa padanya. Untung saja ada Wahdah yang selalu mendekat padanya.


“Om Ayyas, ajari Wahdah menggambar bunga.” Wahdah menyerahkan buku gambar dan pensil ke pak Ayyas.


“Ya ampun, anak cantikku ini. Kukunya panjang sekali. Potong kuku dulu yah sebelum belajar gambar.”


Nisa langsung berdiri, mengambil potong kuku. Lalu memberikannya ke pak Ayyas.


Pak Ayyas mulai memotong kuku Wahdah dengan begitu hati-hati agar potong kukunya tidak mengenai kulit Wahdah. Seperti yang disunnahkan Nabi, ia memotong dimulai dari kuku jari telunjuk kanan Wahdah.


“Please jangan begini Pak! Kalau memang cinta sama bu Susan, jangan terlalu baik ke keluarga saya. Cukup saya yang bapak PHP terus,” jerit Nisa dalam hati.

__ADS_1


Setelah memotong kuku Wahdah, pak Ayyas langsung mengajarinya cara menggambar bunga. Terlihat, Wahdah begitu senang dengan kehadiran pak Ayyas di rumah. Hingga tak terasa sudah malam saja.


Nisa memainkan gawainya sambil berbaring di kamar.


Ternyata tadi siang, Syam memotret ulangan Nisa yang diperiksanya. Mengunggahnya di WA dengan menambahkan caption Senangnya bisa periksa ulangan murid tercerdas di sekolah.


Nisa tertawa melihat postingan itu. Ia tak habis pikir, Syam yang kata orang begitu dingin bisa bertingkah seperti itu.


Juliana merasa sangat senang melihat story Syam. Ia bahkan sengaja menggunakan story Syam untuk memanas-manasi pak Ayyas.


Story Syam ia screenshot , lalu merepostnya dengan menambahkan caption Bad boy bucin.


“Siapa suruh bapak suka nyakitin Nisa. Mending Nisa sama Syam lah, daripada sama bapak yang bisanya cuman bikin Nisa sedih terus. Selamat makan hati melihat story ini pak, ha ha.” Ia ketawa jahat ketika memposting story itu.


Bukannya cemburu, pak Ayyas malah tertawa melihat story Juliana.


“Anak labil ini. Dia pasti berpikir saya akan cemburu. Untuk apa saya cemburu? Wong Nisa adalah istriku. Coba saja Nisa tidak sekolah, kupastikan tidak akan ada celah bagi Syam dan Ridwan untuk mendekatinya. Alasan satu-satunya anak ini belum hamil, hanya karena ia masih bersekolah. Coba tidak, pasti sudah mengandung anak pertamaku.” Pak Ayyas membatin menatap Nisa, membuat Nisa bergidik karena tatapan mesumnya itu.


Pak Ayyas tertawa lepas melihat ekspresi ketakutan Nisa. Setelah puas menakut-nakuti sang istri, ia menyimpan gawainya sebelum tidur.


Yang cemburu malah Ridwan. Ia sedikit geram melihat story Juliana.


“Kirain sainganku cuman pak Ayyas. Ternyata Syam juga, si bad boy yang digemari kaum perempuan karena sikap cool dan ketampanannya. Tapi it is okay sih, Syam kan bukan tipe Nisa. Mana mau Nisa sama lelaki gak bener kayak si Syam itu,” ucap Ridwan sedikit berbangga diri.


Pak Ayyas sudah tidur duluan. Sementara Nisa, ia meminum Fito Green terlebih dahulu sebelum ikut tidur.


Keesokan harinya...


Pak Ayyas mengajar di kelas Ridwan. Seperti sebelumnya, ulangan teman kelas Syam akan diperiksa oleh teman kelas Ridwan. Dan kebetulan sekali, ulangan Syam diperiksa oleh Ridwan.


Ridwan tiba-tiba galau saat mendapati jawaban ulangan Syam ternyata benar semua. Selama ini ia salah dalam menilai Syam.


Syam si lelaki yang gak bener, yang tadinya bukan siapa-siapa di matanya kini mulai menempati posisi saingan baginya.


Ridwan mengembalikan ulangan Syam dengan lesu.


Di saat yang sama, pak Ayyas tersenyum geli melihat wajah murung muridnya itu. “Entah saya harus sedih atau ngakak melihat tingkah anak-anak ini. Mereka sedang bersaing mendapatkan Nisa. Bersaing mendapatkan istriku,” batinnya.


Pak Ayyas tidak tahu kalau Syam dan Ridwan sebenarnya sudah lama tahu kalau Nisa dan dirinya adalah pasangan suami istri.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2