My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 51


__ADS_3

Setelah menebus suplemennya di kasir, Nisa kembali ke ruangan tempat ibunya berbaring. Alhamdulillah, ibunya sudah siuman.


Ibu Nisa bersikukuh untuk dipulangkan saja. Ia merasa tidak perlu dirawat di rumah sakit. Karena tak ingin dirawat di rumah sakit, dokter memintanya untuk segera meminum suplemennya setelah tiba di rumah nanti. Ibu Nisa mengangguk paham atas perintah bu dokter.


Sebelum mengantar ibunya pulang, Nisa mampir dulu di rumah untuk mengambil buku pelajaran dan seragam sekolahnya. Nisa memutuskan untuk nginap di rumah ibunya setelah kejadian barusan.


Pak Ayyas keheranan melihat Nisa keluar dari rumah dengan membawa koper besar. Ia ingin bertanya, tapi juga terburu-buru harus cepat-cepat mengantar mertuanya pulang.


Sesampainya di rumah, Pak Ayyas mengangkatkan koper Nisa. Sedangkan Nisa, ia memapah ibunya memasuki rumah.


“Mama makan dulu ya, nanti langsung minum suplemen juga. Kata dokter, mama harus rajin minum suplemen ini. Supaya daya tahan tubuh mama kembali normal,” bujuk Nisa.


Ibunya menurut saja, melahap suapan demi suapan dari Nisa. Makanannya kini sudah habis dilahap. Segera Nisa mengambil suplemen dari dokter. Kemudian menyerahkan suplemen itu ke ibunya untuk diminum.


Selang beberapa menit, ibu Nisa tertidur. Nisa kembali ke kamarnya, diikuti langkah Pak Ayyas. Nisa terus saja mendiamkan Pak Ayyas.

__ADS_1


“Kenapa bawa koper segala?” tanya Pak Ayyas setelah sampai di kamar. “Saya mau nginap beberapa malam di sini. Kondisi mama belum begitu sehat. Aisyah dan Wahdah belum bisa merawat mama dengan baik.”


“Kenapa kamu tidak menyiapkan pakaian saya juga?” Nisa menatap aneh ke arah Pak Ayyas.


“Saya kan suami kamu. Saya juga sudah berjanji ke ayah akan menjaga kamu dengan baik. Jadi, mulai sekarang kamu harus nurut sama saya. Semua saya lakukan demi kebaikan kamu juga.”


“Finansial saya memang sangat terpenuhi selama saya tinggal dengan bapak. Tapi batin saya selalu tersiksa pak. Ayah sudah meninggal. Jadi, mulai sekarang sebaiknya kita pisah saja. Ini kan yang bapak inginkan dari dulu? Bapak sangat ingin bercerai, terus nikah sama Bu Susan. Tapi bapak tidak berani untuk mentalak saya duluan. Bapak takut disalahkan jika menceraikan saya. Muhammad Ayyas, tolong talak saya sekarang juga!” ucap Nisa tegas namun sedikit berbisik.


“Kamu pikir hanya kamu yang tersiksa dengan kepergian ayah kamu. Saya juga Nisa, dia mertua saya. Kamu jangan bercanda dengan kata talak! Kamu terlalu lelah, ucapanmu ngawur gitu.”


Pak Ayyas tidak berkata apa-apa. Ia berlalu meninggalkan Nisa. Sesampainya di rumah ia langsung menghubungi Bu Susan.


“Ada apa kak nelpon malam-malam?” tanya Bu Susan. “Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang telah kamu lakukan ke Nisa? Sampai dia marah-marah dan menuduh saya yang tidak-tidak.”


“Tadi saya salah kirim foto testpack Kak Helma ke nomor Nisa. Kakak juga sudah lihat sendiri kan hasil testpack Kak Helma yang saya kirim ke kakak tadi. Cuma itu, tidak ada yang lain.”

__ADS_1


“Kamu jelaskan kalau itu hasil testpack Kak Helma?” tanya Pak Ayyas menyelidiki. “Tidak kak, ngapain? Orang cuman salah kirim kok,” balas Bu Susan sewot.


“Astaghfirullah. Kamu keterlaluan sekali Susan. Pantas saja Nisa marah. Dia pasti salah paham. Dia pikir saya menghamili kamu,” ucap Pak Ayyas emosi.


“Bagus dong kalau dia marah. Kakak tinggal ceraikan saja dia. Terus kita nikah. Kakak sendiri kan yang bilang kalau kakak hanya cinta sama saya. Kakak bilang kakak tidak tahu harus berbuat apa. Ini cara kita bisa bersatu kak.”


“Saya tidak menyangka kamu sejahat ini Susan. Kamu sendiri kan tahu Nisa baru saja kehilangan ayahnya. Kamu benar-benar berubah sekarang. Bukan Susan yang kukenal dulu.”


“Jahat? Saya begini karena kamu kak. Dan sekarang kakak bilang saya jahat. Siapa sebenarnya yang jahat? Kakak bilang kakak tidak cinta sama Nisa. Tapi sampai sekarang kakak tidak menceraikannya. Kakak bilang cuma cinta ke saya. Tapi sampai sekarang kakak tidak menikahi saya.” Terdengar suara Bu Susan sedang menangis sesenggukan.


“Kamu kan tahu sendiri dek saya sudah menikah.”


“Kenapa kalau kakak sudah menikah? Kalau kakak tidak bisa menceraikan Nisa karena takut mengecewakan ibu. Kakak bisa jadikan saya istri kedua. Saya siap dipoligami kak.”


“Kamu tidak mengerti Susan,” ucap Pak Ayyas lalu memutuskan panggilannya.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2