
Keesokan harinya, pak Ayyas meminum obat flu yang dibelinya kemarin sore. Dengan tujuan bisa lebih fresh saat mengajar di sekolah nanti.
Sayangnya efek samping dari obat flu ini bekerja. Bukannya merasa fresh, pak Ayyas malah merasa pusing. Walhasil, ia memutuskan untuk tidak ke sekolah hari ini.
Pak Ayyas mengirimkan chat ke guru agama yang lain untuk menggantikannya mengajar hari ini karena kondisinya yang sedang tidak enak badan.
Menyadari pak Ayyas tidak datang ke sekolah karena sakit, Iren mengajak teman gengnya untuk menjenguk pak Ayyas.
Mereka belum tahu alamat pak Ayyas dimana. Jadi Iren menanyakan langsung alamat pak Ayyas via WhatsApp, tapi tidak dibalas karena sedang offline. Iren langsung mengubungi pak Ayyas via panggilan telepon.
Iren memulai pembicaraan dengan meminta izin untuk menjenguknya. Pak Ayyas mengiyakan hanya jika Nisa mengizinkan.
Meski sedikit tak suka dengan kehadiran Iren, Nisa tetap legowo mengiyakan. Bagaimanapun pak Ayyas tetaplah seorang kepala keluarga yang memang seharusnya dihargai oleh istrinya. Salah satunya dengan cara tidak seenaknya saja melarang siswanya untuk menjenguknya.
Pak Ayyas langsung share location ke Iren. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, Iren and the gengs sudah ada di depan kost Nisa.
Nisa langsung membukakan pintu untuknya. Iren dan keempat temannya ia persilakan masuk. Mereka tidak berlama-lama, karena kondisi pak Ayyas yang tidak memungkinkan untuk berinteraksi lama.
Beruntung efek samping obatnya hanya berlangsung beberapa jam. Jadi pak Ayyas sudah bisa ke sekolah besok.
Pekan berikutnya, kepala sekolah di tempat pak Ayyas mengajar jatuh sakit. Pak Ayyas mengajak Nisa turut serta untuk menjenguknya.
Bukan hanya mereka berdua, tapi juga beberapa guru dan siswa. Banyak yang datang menjenguk karena kepala sekolah dirawatnya di rumah saja.
__ADS_1
“Itu si Iren dan teman-temannya bukannya rajin menjenguk guru yang sakit ya? Masa’ iya guru baru dikunjungi sementara kepala sekolah tidak. Mencurigakan sekali,” batin Nisa.
***
“BBmu turun Sa. Bagi tips menurunkan BB ala kamu dong!”
“Masa sih turun? Padahal cuman rutin minum air putih. Minum ramuan dari kombinasi madu dan jahe juga.”
“Penampilan kamu juga makin lama makin stylish Sa. Semenjak pak Ayyas ikut ke Bandung kamu juga semakin glowing saja. Cie cieee, uhuy.”
“Menjaga penampilan agar selalu menarik dan merawat tubuh itu sangat penting Jul. Terutama bagi perempuan yang sudah menikah. Supaya suami tidak bosan melihat istrinya. Semacam tidak memberi peluang bagi pelakor untuk merusak keharmonisan rumah tangga gitu.”
“Oh gitu toh. Akhir-akhir ini kamu juga sering main game dan nonton stand up. Makin sejahtera aja neng.”
“Hey, is something wrong? Tell me! Jangan dipendam sendiri. Siapa tahu saya bisa kasih solusi.”
“Ada siswa cantik di sekolah baru pak Ayyas. Namanya Iren, adeknya Mirna. Waktu pak Ayyas sakit dia bela-belain datang ke kost menjenguk. Tapi waktu kepala sekolah yang sakit, dia tidak menjenguknya. Aneh kan Jul?”
“Tidak ada yang aneh dengan si Iren itu Sa. Pikiranmu itu yang aneh. Wajar dong dia tidak menjenguk, kepala sekolah loh ini. Pasti takutlah siswa menjenguk.”
“Tapi banyak kok siswa yang datang menjenguknya.”
“Bibit-bibit pelakor ini mah. Siapkan pestisida terbaik untuk membasmi hingga ke akar-akarnya Sa. Jangan sampai kisah seperti dulu terulang kembali.”
__ADS_1
“I did all my best Jul. Mulai dari perawatan, diet, and so on. Kalau si Bear masih tergoda untuk selingkuh dengan perempuan lain, itu bukan ranah saya lagi.”
“Kamu benar Sa. Istri hanya bisa berusaha membuat suaminya betah dalam hubungan pernikahan. Selebihnya ya usaha suami juga untuk menahan diri agar tidak tergoda oleh perempuan lain.”
“Ada apa sih Jul? Saya perhatikan dari tadi kamu pegang perut terus? Lapar ya?”
“Bukan lapar Sa, tapi nyeri haid.”
“Saya pernah baca artikel tentang kesehatan. Katanya mengonsumsi sayuran hijau bisa mengurangi nyeri haid. Makan kangkung atau sawi saja Jul. Selain bisa meredakan nyeri haid, juga bisa menurunkan BB.”
“Great info, I will practice it later at dorm. Saya menstruasi tadi pagi, kalau kamu kapan Sa?"
“Belum menstruasi Jul.” Nisa berkata seperti itu sambil terkekeh.
“Tunggu tunggu tunggu. Belum? Biasanya kan kita menstruasinya bersamaan. Biasanya malah kamu yang duluan. Jangan-jangan kamu hamil ya sekarang?”
Nisa mengangguk pelan. Bibirnya melengkung, membentuk perahu.
“Ih gemesnya, yang diam-diam ternyata sudah hamidun. Congrats yah bestieku sayang.”
Mereka berdua kini berpelukan bak teletubbies.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1