My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Right Brain


__ADS_3

Juliana memergoki gerak-gerik Ridwan sejak tadi.


“Sa... kayaknya si Ridwan suka deh sama kamu,” terka Juliana.


“Kayaknya lu lapar deh Jul. Ngomongnya setengah sadar gitu,” elak Nisa.


“Beneran Sa. Pas dia bilang suka sama cewek yang berotak kanan, dia melirik ke kamu loh. Benar kan Saleha?” tanya Juliana.


“Iya, saya juga lihat kok. Kamu sih fokus ke gawai muluk,” ucap Saleha.


“Lu emangnya cenderung otak apa Sa?” tanya Juliana. “Nggak tau juga sih,” jawab Nisa.


“Coba deh ketik di google (tes akurat saya otak kiri atau kanan),” titah Saleha.


“Sudah,” ujar Nisa sembari memperlihatkan layar gawai nya.


“Nah, sekarang kamu mulai testnya Sa!” perintah Juliana.


Nisa mulai mengikuti test itu dalam waktu beberapa menit.

__ADS_1


“Ini hasilnya,” ucap Nisa sembari memperlihatkan hasil testnya.


“57% otak kanan dan 43% otak kiri,” baca Saleha.


“Tuh kan. Kamu memang cenderung berotak kanan Sa,” Juliana meyakinkan.


“Terus kenapa kalau saya cenderung berotak kanan?” elak Nisa.


“Ridwan loh ini. Banyak yang suka sama dia. Masa kamu nggak mau sih Sa,” ucap Juliana.


“Memangnya kalau dia suka sama kamu, kamu mau sama dia?” tanya Nisa penasaran.


“Ya...nggak lah. Kan udah ada Pak Ayyas,” ucap Juliana cekikikan.


“Iya nih Juliana. Di otaknya kayaknya 97% itu isinya Pak Ayyas semua,” lagi-lagi Saleha menepuk jidatnya melihat tingkah sahabatnya itu.


Di antara semua sahabat Nisa, memang Saleha lah yang tak pernah sedetik pun curhat tentang lelaki yang disukainya.


“Kalian lagi bahas apa sih? Heboh banget kayaknya,” tanya Ridwan yang rupanya telah selesai mengajar.

__ADS_1


“Nggak kok. Ayo kita pulang! Sudah mau magrib ini,” jawab Nisa cepat.


Ia tak ingin ketahuan sedang membahas Ridwan bersama kedua sahabatnya itu.


Segera mereka ke halte untuk menunggu angkot. Tak lama menunggu, angkot pun menghampiri. Mereka menaiki angkot dan turun di rumah masing-masing.


Untung saja rumah orang tua Nisa jaraknya lebih jauh dari yang lain. Jadi yang lain tidak akan tahu kalau Nisa sebenarnya turun tepat di lorong kediamannya bersama Pak Ayyas.


Nisa memasuki rumah. Seperti biasa, ia akan mandi, memasak, lalu menyelesaikan pekerjaan rumah yang lain. Di malam hari sebelum tidur, Nisa teringat kembali akan kejadian di sekolah tadi sore. Ia mulai berselancar di google. Ia pun mengetik (ciri-ciri orang yang berotak kanan).


Dibukanya page paling atas. Scrollnya berhenti pada poin 6. Sulit mengungkapkan keinginannya dalam bentuk kata atau kalimat bahkan sulit menyusun kalimat untuk mengungkapkan perasaannya.


Nisa baru tahu kalau orang yang cenderung berotak kanan biasanya kesulitan dalam menyusun kalimat. Seketika ia merasa testnya tidak akurat, lalu kembali menyadari satu hal.


Mungkin karena kondisi otaknya yang hampir seimbang, maka hal itu tidak terlalu berpengaruh padanya. Ia tidak buruk dalam merangkai kata. Beberapa teman kelasnya justru kadang memintanya untuk mengetikkan kalimat yang akan dikirim ke guru.


Pak Ayyas, suaminya sendiri juga seringkali mendapat chat yang telah dirangkai oleh Nisa. Pak Ayyas sering merasa heran ketika membaca isi chat siswanya yang strukturnya hampir sama semua. Ia sangat penasaran dengan satu bentuk tulisan yang digunakan oleh banyak orang itu.


Ia merasa tidak asing dengan struktur chat itu. Dibukanya kembali semua chatnya dengan Nisa. Akhirnya ia tahu pemilik bentuk tulisan itu siapa.

__ADS_1


Itu adalah Nisa, istrinya sendiri. Pak Ayyas tidak menyangka perempuan frontal dan agak kasar seperti Nisa bisa berbuat baik juga ke temannya.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2