My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 70


__ADS_3

“Okay, saya akan percaya. Tapi bapak harus janji dulu,” tantang Nisa.


“Janji apa?” Pak Ayyas menaikkan dagu Nisa hingga sejajar dengan wajahnya.


Mereka kini saling bertatapan. Tapi tak lama, karena dengan cepat Nisa kembali menunduk seperti tadi. Ia tidak berani menatap mata tajam suaminya dengan posisi sedekat itu.


“Bapak harus janji untuk tidak dekat-dekat lagi dengan bu Susan.”


“Ok saya janji,” ucap Pak Ayyas sembari menghapus air mata Nisa.


“Setiap hari Ahad bendungan di sini dibuka, jadi air sungai menyusut. Warga di sini biasanya menggunakan kesempatan ini untuk mencari rezeki di sungai. Saya juga mau ke sungai cari kerang, karena nenek suka sekali memakannya. Mau ikut?” imbuhnya.


Pak Ayyas berharap Nisa akan merasa senang jika ikut ke sungai. Dan sesuai dengan asanya, Nisa mengangguk setuju dengan ajakan Pak Ayyas.


“Baiklah, silakan kamu pakai jilbab dulu! Saya tunggu di luar yah.” Pak Ayyas pun melangkah keluar.


Sementara Nisa mulai mengenakan terusan, kerudung, juga kaos kakinya. Hanya dalam hitungan menit saja, ia sudah siap untuk ke sungai. Tanpa berlama-lama, ia langsung menyusul pak Ayyas yang tengah menantinya di luar.


Bersama-sama, mereka melangkahkan kaki ke sungai.


“Ember ini untuk menyimpan kerang," tutur Nisa seraya mengangkat ember berwarna hitam. "Kalau jaring kecil ini pasti untuk menangkap ikan,” tambahnya dengan menggenggam jaring usai meletakkan ember.


“Sok tau kamu, jaring ini untuk menangkap udang.” Pak Ayyas menimpali.


“Nenek suka makan udang juga?”


“Bukan nenek, tapi kamu.”


Seketika, Nisa merasa tersentuh dengan perhatian kecil pak Ayyas. Ia kira perhatian pak Ayyas hanya sebatas ucapan. Namun sekarang, perlahan ia merasa kalau wujud cinta sang suami mulai nyata dalam tindakan.


“Kamu di sini saja ya!” ucap pak Ayyas setelah tiba di tepi sungai. Ia tidak membiarkan sang istri untuk menceburkan diri ke sungai di hadapannya.


“Saya juga mau cari kerang pak. Boleh ya?” Nisa memasang wajah memelas.


“Rempong Nisa, masa iya kamu turun ke sungai dengan gamis dan kaos kaki. Kamu duduk di sini saja.”


“Ucapan bapak seolah-olah menunjukkan kalau pakaian syar’i ini membatasi saya untuk beraktivitas.”


“Tidak seperti itu Nisa. Saya hanya tidak ingin kamu kesulitan. Kalau ternyata turun di sungai tidak memberatkan kamu, ya silakan saja! Saya tidak akan melarang.”


Usai tersenyum penuh kemenangan, Nisa bersiap untuk turun ke sungai.


"Tunggu!" Pak Ayyas menarik tangan Nisa.


"Apa lagi sih pak?" Nisa jadi sedikit kesal.


"Bukannya kamu menstruasi ya?"

__ADS_1


"Saya sudah mandi bersih tadi subuh, Pak."


Pak Ayyas akhirnya mengizinkannya untuk turun ke sungai. “Oh ya Nisa, saya ke sana cari udang. Kamu di sini saja, cari kerang yang banyak.”


“Okay Pak.”


Setelah mengumpulkan kerang satu ember penuh, Nisa naik ke daratan untuk menyimpannya. Kemudian kembali turun untuk menghampiri pak Ayyas.


Ia berjalan sembari berteriak memanggil pak Ayyas. Sayangnya, kedalaman tempat pak Ayyas mencari udang ternyata berbeda dengan tempatnya mencari kerang. Air yang dalam itu membuatnya tenggelam.


Pak Ayyas yang menyaksikan kejadian itu mengira ia sedang dikerjai. Hingga ia yang tadinya tertawa karena merasa berhasil menghindari sikap usil Nisa akhirnya menjadi sangat khawatir. Istri yang sangat dicintainya itu tak muncul lagi di permukaan.


Perasaan pak Ayyas mulai kacau. Jaring dan udang hasil tangkapannya yang sudah mulai banyak ia buang begitu saja.


Dengan cepat ia berenang ke arah Nisa tadi memanggilnya. Langsung saja ia menarik Nisa ke permukaan. Memapahnya ke daratan.


Tampak jelas Nisa sangat ketakutan.


“Maaf yah Nisa, saya tidak tahu kalau kamu ternyata tidak bisa berenang. Saya kira kamu bercanda tadi.”


Nisa hanya mengangguk lemas, tak menjawab sama sekali.


Jadilah mereka kembali ke rumah nenek dengan suasana yang awkward. Meski begitu, Nisa tetap merasa senang karena kekhawatiran pak Ayyas tadi padanya.


“Kalian langsung mandi saja! Biar saya yang bersihkan kerangnya,” ucap kak Yuyun pada Nisa dan pak Ayyas yang baru saja tiba di rumah.


“Iya,” sahut kak Yuyun dengan begitu anggun.


Setelah mandi, Nisa kembali ke dapur untuk membantu kak Yuyun masak. Sedangkan pak Ayyas memutuskan untuk ke kamar nenek.


“Nanti malam nenek mau ke kebun Yuyun.” Begitu ujar nenek pada cucu kesayangannya tersebut.


“Untuk apa, Nek? Nenek kan sedang sakit.”


“Menemani Yuyun dan suaminya menjaga kebun. Nenek rindu suasana kebun. Nenek juga sudah baikan sekarang. Nenek suntuk di rumah terus.”


“Kalau begitu Ayyas dan Nisa juga ikut.”


Setelah makan siang siap, kak Yuyun menyuruh Nisa memanggil pak Ayyas untuk makan bersama. Sekalian juga membawakan nenek makanan.


“Kenapa repot-repot membawakan nenek makanan Nak? Nenek sama suamimu baru saja mau ke ruang makan.”


“Jangan banyak gerak dulu, Nek! Nenek kan masih sakit.” Ada gurat kekhawatiran wajahnya.


“Nenek sudah sembuh sayang.”


Nisa membawa kembali makanan untuk nenek tadi ke meja makan. Nenek lebih memilih untuk makan bersama ketimbang makan sendiri di kamarnya.

__ADS_1


“Nanti bawa pisang sama teh ya. Kita ngeteh sambil makan pisang goreng di kebun,” ucap nenek pada Yuyun di ruang makan.


“Hah? Nenek mau ke kebun. Jangan nek! Nenek bisa masuk angin nanti. Nenek di rumah saja ya!”


“Kalian semua terlalu mengkhawatirkan nenek. Nenek sehat kok. Nenek bisa pakai jaket tebal supaya tidak masuk angin. Sekalian kan bawa Nisa sama Ayyas jalan-jalan ke kebun.”


“Memangnya Nisa mau?” tanya kak Yuyun ragu.


“Mau Kak. Saya suka suasana kebun kok. Angin sepoi-sepoi, pepohonan, suara jangkrik di malam hari, uhhh saya suka semuanya.”


Nisa tampak begitu antusias. Setelah makan, ia membantu kak Yuyun menyiapkan bahan makanan yang akan dibawa ke kebun. Sedangkan pak Ayyas menyiapkan jaket dan obat untuk nenek.


Jarak dari rumah nenek ke kebun lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Nenek pasti tidak akan sanggup untuk berjalan jauh.


Untung saja kondisi jalan ke kebun bisa dilalui mobil. Jadi, mereka memutuskan untuk naik mobil saja ke kebun.


Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di kebun kak Yuyun.


Dengan sigap pak Ayyas membawa bahan makanan tadi ke rumah kebun. Di rumah kebun terdapat kak Rahman yang tengah tertidur lelap. Kak Rahman memang selalu tidur siang, agar di malam hari ia tidak mengantuk saat menjaga kebunnya dari babi pemakan jagung.


Tibalah waktu malam.


Pak Ayyas dan kak Rahman tengah berjaga-jaga di kebun. Sementara di rumah-rumah, nenek menemani Nisa dan kak Yuyun menyiapkan makanan.


“Nenek sengaja membeli teh celup wangi Gunung Satria, karena Ayyas sangat suka meminumnya. Dia selalu bilang baunya seperti ubi jalar. Padahal tehnya terbuat dari perpaduan teh hitam dan perisa sintetik mawar.”


“Demi apa, bahkan teh kesukaannya saja tahunya dari nenek.” Nisa membatin sejenak.


Setelah memastikan tak ada babi yang datang mencuri jagung, pak Ayyas dan kak Rahman bergegas bergabung dengan nenek, Kak Yuyun, dan Nisa.


Teh dan pisang gorengnya sudah siap untuk dinikmati.


Tiba-tiba saja Pak Ayyas merasa badannya gatal, ia menggaruk badannya dengan keras. Dengan sigap Nisa mengambil kulit pisang matang tadi. Untung saja kak Yuyun belum membuangnya.


“Kamu mau apa?” tanya pak Ayyas pada Nisa yang sepertinya akan membuka bajunya.


“Mau buka baju Bapak.”


“Untuk apa Nisa?” Pak Ayyas kebingungan.


“Untuk menggosokkan kulit pisang ini ke badan Bapak.”


“Kamu jangan sembarangan.”


“Siapa yang sembarangan Pak? Saya pernah baca di internet kalau kulit pisang itu bisa mengurangi gatal-gatal pada kulit.”


“Turuti saja permintaan istrimu.” Kak Rahman menegur pak Ayyas sejenak, lalu kembali meminum tehnya.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2