My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 92


__ADS_3

“He he sorry guys. Takdir yang membuat saya tahu. Jadi gini, waktu itu saya ke Bone untuk menghadiri pernikahan sepupu saya. Namanya Yuyun, ternyata di pernikahan itu juga ada Nisa. Usut punya usut, Nisa datang bersama Pak Ayyas. Saya curiga dong dengan hubungan mereka. Apalagi saat tahu Nisa tidur di kamar Pak Ayyas. Saya tanyalah ke Nisa tentang hubungannya dengan Pak Ayyas. Ternyata mereka sudah menikah diam-diam tanpa sepengetahuan pihak sekolah.” Juliana menjelaskan panjang lebar.


“Pantas kamu sensi ke Bu Susan. Ternyata karena kamu sudah tahu hubungan Nisa dengan Pak Ayyas toh,” sahut Saleha.


“Yup, betul sekali. Sebagai sahabat yang baik, kita memang seharusnya membela sahabat kita kan. Garis bawahi, selama itu benar. Pelakor tak boleh dibiarkan berkeliaran dengan bebas di muka bumi ini.”


“Hush. Let bygones be bygones guys. Jangan diungkit-ungkit lagi.” Tatapan Nisa mengisyaratkan untuk berhenti membahas bu Susan lagi.


“Terus Ridwan kok bisa tahu juga tentang hubungan Nisa dan pak Ayyas?” tanya Fina cepat. Gawai yang sedari tadi tak pernah lepas dari tangannya kini ia letakkan di atas meja.


“Saya yang bilang ke dia. Alasannya . . . adalah pokoknya. Itu privasinya Ridwan yang tidak boleh saya beberkan ke kalian,” jawab Nisa.


“Kalau Syam?” tanya Zulfitri penasaran.


“Sama seperti Ridwan tadi. Privasi juga he he,” balas Nisa.


“Kalian ini perempuan. Kepo sekali ya dengan urusan orang lain. Hufttt,” keluh Syam karena namanya juga ikut diseret.


“Ternyata waktu itu dua anak ini juga sudah tahu kalau Nisa adalah istri saya. Tapi mereka tetap saja berusaha untuk mendapatkan hati Nisa. Ya ampun, definisi murid durhaka ini mah.” Pak Ayyas bermonolog dalam hati.


“Tulis sendiri yah say. Nanti oper ke Nisa! Dia juga belum pesan soalnya.” Zulfitri menyerahkan kertas order ke Saleha.


Saleha mulai menulis menu yang ia inginkan di atas kertas order kecil berukuran segi empat itu. Lalu mengopernya ke Nisa setelah ia memesan jus buah naga dan tela-tela.


“Mau makan apa pak?” tanya Nisa pada suaminya tercinta. Pulpen di tangannya sudah siap menuliskan menu makanan yang akan pak Ayyas pilih.


“Ehmmm, roti bakar saja.” Selera pak Ayyas masih tetap sama. Dari dulu hingga sekarang, ia lebih menyukai makanan yang rasanya manis. Berbeda dengan Nisa yang lebih menyukai makanan asin.


Nisa langsung menulis roti bakar pesanan Pak Ayyas, juga stick kentang untuk dirinya. Ia kembali bertanya. “Minumnya?”


“Kalau minumnya seragamkan saja dengan minumanmu.”


“Ok, kalau begitu dua porsi mango jelly milk ice.” Nisa kembali menulis.

__ADS_1


“Mangga ya. Sekarang harus hati-hati kalau beli jus buah. Jangan sampai ada campuran vegetable glycerinnya.”


“Ha ha ha. Bisa-bisanya bapak kepikiran untuk callback candaan tadi pagi.”


Pak Ayyas dan Nisa kini tertawa bersama, disaksikan oleh sahabat-sahabat Nisa yang masih pada jomblo. Menimbulkan rasa jealous tersendiri di hati mereka saat melihat kemesraan Nisa dengan pak Ayyas.


“Jiwa jombloku meronta-ronta guys,” ucap Dania. Disusul tawa mereka semua.


“Oh iya, hampir lupa guys. Ini kain untuk bahan baju seragam di weddingku nanti. Jahit sendiri ya, he he.”


Fina kini sibuk membagikan kain yang akan digunakan sahabatnya nanti di hari pernikahannya.


“Bakal so sweet banget nih Nisa dan pak Ayyas di pernikahan Fina nanti. Bajunya bisa couple-an,” ucap Aida saat melihat Fina memberikan dua bungkus kain ke Nisa.


“Makanya nyusul cepat kayak Fina. Biar bisa pakai baju couple juga sama suamimu,” ledek Ridwan.


“Sesama jomblo dilarang keras saling meledek! Ha ha ha.” Balasan menohok Dania ia bungkus cantik dengan candaan supaya tidak melukai hati Ridwan.


***


Di perjalanan pulang, gawai pak Ayyas berdering. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga berkali-kali. Sepertinya ada hal yang benar-benar urgent, membuat si penelepon menghubungi pak Ayyas tanpa henti. Nisa lalu mengambil gawai pak Ayyas untuk menjawab panggilan masuk yang entah dari siapa itu.


Nisa merasa sangat senang saat melihat layar gawai pak Ayyas. Ternyata si penelepon maju tak gentar itu adalah kak Yuyun. Kak Yuyun memulai pembicaraan dengan menginfokan ke Nisa dan pak Ayyas bahwa dia telah melahirkan anak lelaki. Setelah beberapa menit bicara, kak Yuyun mengakhiri panggilannya.


Sudah lama mereka tidak ke Bone. Terakhir kali waktu Nisa masih sekolah. Pak Ayyas merasa sangat rindu pada neneknya.


“Ke Bone yuk sayang! Sudah lama kita tidak ke sana. Kebetulan kan Yuyun juga baru saja melahirkan. Sekalian kita jenguk dia.” Pak Ayyas berinisiatif mengajak Nisa.


“Nice idea pak. Tapi beli perlengkapan bayi dulu ya untuk anaknya kak Yuyun,” saran Nisa.


“Okay sayang. Btw sampai kapan kamu akan panggil saya bapak? Ganti yang lain dong sayang! Yang lebih so sweet didengar. Kita samakan saja ya. Saya panggil kamu sayang, kamu juga panggil saya sayang. Will you?” Pak Ayyas sudah tidak sabar menunggu ucapan persetujuan keluar dari mulut Nisa.


“Yes I will but in English. Saya malu kalau bilang sayang, honey boleh kan pak?” ucap Nisa dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


“Sangat boleh. Fixed, mulai sekarang jangan panggil bapak lagi ya!”


“Siap pak. Eh, maksudnya siap honey. Maaf ya honey salah ucap lagi.” Nisa merasa bersalah.


“It is okay. Namanya juga belum terbiasa.”


Mereka singgah membeli perlengkapan bayi terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah. Mereka kemudian berangkat ke Bone setelah melaksanakan shalat dzuhur.


“Sandarkan kepalamu di sini!” Pak Ayyas menepuk pahanya.


Nisa memang sudah sangat mengantuk. Sudah beberapa kali ia menguap. Kepalanya segera ia sandarkan di paha pak Ayyas. Hanya beberapa menit setelahnya, ia sudah terlelap.


Ada kebahagiaan tersendiri bagi pak Ayyas kala melihat istrinya terlelap. Siswi yang sempat bermasalah dengannya itu kini malah menjadi istrinya. Ia teringat kembali saat pertama kali ia dan Nisa dijodohkan. Tinggal berdua di bawah atap yang sama sebagai pasangan suami istri namun tanpa cinta. Perempuan yang ia pikir akan ia ceraikan malah telah resmi menjadi miliknya sepenuhnya sejak dua hari yang lalu.


***


Pak Ayyas membangunkan Nisa, tepat di depan rumah kak Yuyun. Dengan muka bantalnya Nisa membawa perlengkapan bayi yang mereka beli ke dalam rumah. Kak Yuyun dan yang lain merasa sangat senang dengan kedatangan Nisa dan pak Ayyas.


Setelah bersalam-salaman dan mengucapkan selamat atas lahirannya, Nisa meletakkan perlengkapan bayi tadi di samping kak Yuyun.


“Kalian kenapa repot-repot segala sih bawa ginian?” protes kak Yuyun.


“Tidak repot kok kak. Kami justru merasa sangat senang kakak lahiran. Finally yang sudah jadi ibu. Alhamdulillah ya, sesuatu.”


“He he, iya alhamdulillah. Kalian kapan nyusul? Sudah setahun loh kalian menikah,” tegur kak Rahman.


“Iya kapan? Kamu kan sudah janji sama nenek kalau datang ke sini lagi istrimu sudah berbadan dua,” balas nenek menohok.


“Tenang saja nek. Sebentar lagi istriku ini akan hamil. Bibit unggulku sudah kutanam di rahimnya. Sisa tunggu panen saja ini ha ha ha.” Pak Ayyas tertawa terbahak-bahak.


“Keren sekali cucu nenek ini. Sering-sering dipupuk ya! Biar bibitnya cepat tumbuh.” Nenek tertawa girang sekali. Akhirnya penantiannya selama setahun ini mulai menunjukkan hasil.


“Siap nek.”

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2