
Setelah mengikuti apel, siswa masuk ke kelas masing-masing.
Pelajaran pertama di kelas Nisa adalah Seni Budaya. Bu Suryana, guru pengampu matpel tersebut mengarahkan siswa untuk berkumpul di Ruang Seni. Ia akan mengambil nilai mid semester.
Siswa diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dengan diiringi piano, seperti yang telah diajarkannya selama tiga pekan sebelumnya.
“Dra, giliran kamu tuh!” seru Firman pada Indra yang tengah asyik bermain game.
Langsung saja Indra maju ke depan.
“Ngapain kamu Dra?” tanya bu Suryana pada Indra yang berdiri tepat di hadapannya.
“Kata Firman sekarang giliran saya, Bu.”
“Astaga Firman, kamu ini dari dulu suka sekali menjahili teman sendiri.”
Firman tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan bu Suryana, disusul tawa teman yang lain.
“Yang saya panggil tadi itu Arman. Tapi karena kamu sudah di sini, ya sudah kamu saja duluan.”
Tak terasa semua siswa telah mengikuti mid. Bel istirahat pun berbunyi. Sebagian kembali ke kelas, dan sebagian lagi langsung ke kantin.
Waktu kini menunjukkan pukul 14:00. Semua siswa pulang, kecuali siswa kelas tiga yang harus kembali mengikuti kegiatan belajar bersama untuk persiapan Ujian Nasional.
Nisa dan Ridwan sebenarnya merasa canggung, setelah percakapan tadi subuh via WhatsApp. Hanya saja mereka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Setelah belajar bersama mereka langsung pulang ke rumah masing-masing.
“Ada apa lagi ya?” Nisa membatin tatkala melihat pak Ayyas menungguinya pulang dari sekolah.
“Kamu langsung mandi. Kita akan ke rumah nenek!” perintah pak Ayyas.
“Ngapain ke rumah nenek?”
“Yuyun mau menikah.”
“Alhamdulillah, kak Yuyun udah ketemu jodohnya. Okay saya mandi dulu,” balas Nisa lalu melangkah ke kamar.
Tiga puluh menit berlalu, Nisa sudah siap. Mereka segera berangkat ke rumah nenek pak Ayyas di Bone, tempat mereka dinikahkan dulu.
Karena berangkatnya sore, jadi mereka tiba agak larut malam. Karena kelelahan, mereka langsung ke kamar pak Ayyas untuk beristirahat.
Sementara kamar sebelah yang dulu ditempati Nisa dan keluarganya diisi oleh keluarga Pak Ayyas.
“Seperti suara Juliana. Tapi mana mungkin Juliana ada di sini.”
Nisa berusaha menepis pikirannya tentang Juliana.
Keesokan harinya, setelah bersiap-siap Nisa keluar kamar untuk berbaur dengan yang lain.
“Maa Syaa Allah. Kak Yuyun cantik sekali. Make up-nya natural tapi elegan. Walimahannya juga dipisah antara laki-laki dan perempuan. Benar-benar menghindari campur baur,” ucap Nisa dalam hati.
Karena Nisa telah menjadi bagian dari keluarga pak Ayyas, ia juga ikut bergabung bersama bridesmaids yang lain.
“Nisa, kamu di sini juga?” tanya Juliana keheranan.
__ADS_1
“Kamu di sini juga Jul?” tanya Nisa tak kalah herannya.
“Iya, Kak Yuyun itu sepupuku. Kamu sepupunya Kak Yuyun juga ya?” tanya Juliana lagi.
“Iya,” balas Nisa singkat.
“Kamu kapan datang?” untuk ketiga kalinya ia bertanya pada Nisa.
“Tadi malam Jul.” “Nginap di sini juga?”
“Iya, balas Nisa singkat.”
“Kamu tidur di kamar yang mana Sa?”
“Di sebelah kamar kamu Jul. Tadi malam saya kira itu orang lain saat mendengar suara yang mirip dengan suara kamu. Ternyata beneran kamu.”
“Loh bukannya kata ibuku itu kamar pak Ayyas ya?”
“Iya, kamar dia setiap kali ke sini. Nanti saya jelaskan ke kamu Jul,” pinta Nisa.
Dengan senyum manis Nisa dan Juliana menyambut tamu yang berdatangan. Hingga menjelang dzuhur, acara nikahan mulai sunyi.
Setelah makan siang, Nisa dan Juliana memutuskan untuk lanjut berbincang-bincang di kamar.
“Di kamar saya saja Jul,” Nisa menawarkan.
“Kalau lelaki dan perempuan berada di dalam satu kamar yang sama berarti mereka?”
“Mahram,” jawab Juliana cepat.
“Yup, betul sekali.”
“What do you mean Sa?”
“He is my husband Jul,” ucap Nisa sembari memperlihatkan cincin nikah yang melingkar erat di jari manisnya.
“Jadi selama ini kamu tahu banyak hal tentang Pak Ayyas karena dia suamimu?” Nisa hanya mengangguk.
“Pantas saja dia mengirimkan pesan ke kamu waktu itu.”
Jika biasanya Saleha yang menepuk jidat, kini Juliana ikut melakukan hal yang serupa. Ia seakan tak percaya atas semua yang baru saja Nisa katakan.
“Berarti pak Ayyas dan bu Susaaan...”
“Iya Jul,” balas Nisa tersenyum getir.
“I am sorry to hear that Sa," ucap Juliana lalu memeluk Nisa.
“Nggak apa-apa kok Jul. I’m fine.” Nisa mencoba menguatkan hati, agar terlihat baik-baik saja di depan sahabatnya itu.
“Kalau mau nangis, nangis aja Sa!” pinta Juliana.
“Tolong rahasiakan ini rapat-rapat ya Jul!” ucap Nisa lalu melepaskan pelukan Juliana.
“In Syaa Allah Sa.”
__ADS_1
“Oh yah Sa, kapan kamu akan kembali ke Pare?” tanya Juliana.
“Nanti malam Jul. Kenapa ya?”
“Naik mobil kan?” Juliana kembali bertanya.
“Yup, mau nebeng Jul?”
“Iya. Soalnya yang lain pulangnya katanya besok. Kalau pulangnya besok, saya tidak ke sekolah dong.” Juliana menjawab pertanyaan Nisa dengan sedikit malu-malu.
Setelah selesai shalat asar, mereka kembali ke Pare. Suasana terasa begitu canggung di dalam mobil.
Berbulan-bulan Nisa dan pak Ayyas menutupi pernikahannya, dan hari ini ketahuan juga oleh Juliana. Ditambah lagi Juliana ternyata memiliki hubungan keluarga dengan Pak Ayyas. Dunia serasa selebar daun kelor saja.
Gawai Nisa bergetar. Chat dari juniornya yang bernama Widya segera ia buka.
“Assalamu ‘alaykum kak.”
“Wa’alaykumsalam warahmatullah dek,” balas Nisa setelah membaca chat tersebut.
“Saya mau minta tolong boleh kak?”
“In Syaa Allah, mau minta tolong apa dek?”
“Kata teman-teman Widya, kakak akrab ya sama Kak Ridwan?”
“Tidak juga, kenapa memangnya dek?”
“Saya ada tugas wawancara keagamaan kak. Tapi saya malu bilang langsung ke Kak Ridwan. Kata teman-teman, Kak Ridwan orangnya agak tertutup.”
“Oh, Ridwan memang pemalu. Tapi orangnya terbuka kok. Nanti saya sampaikan ke Ridwan kalau kamu mau mewawancarai dia.”
“By the way, kapan mau wawancaranya?” tanya Nisa.
“Kalau bisa besok kak.”
“Baiklah, nanti saya sampaikan ya dek.”
“Syukran kak bantuannya.”
“Sama-sama dek.”
Sebenarnya Nisa enggan berurusan dengan Ridwan. Tapi ia juga tidak enakan kalau sampai menolak permintaan Widya. Nisa tidak ingin jika pak Ayyas terus-terusan salah paham terhadap hubungannya dengan Ridwan.
“Kok berhenti sih? Ini kan belum sampai rumah,” tanya Nisa keheranan.
“Kalian tunggu dulu di sini,” titah pak Ayyas.
Selang beberapa menit pak Ayyas kembali dengan dua bungkus sesuatu yang entah berisi apa. Setelah sampai di depan rumah Juliana, pak Ayyas menghentikan mobilnya.
“Jul, ini untuk kamu.” Pak Ayyas memberikan satu bungkusan tadi ke Juliana. Juliana berterima kasih, meski ia sendiri sebenarnya kebingungan isinya apa. Ia lalu melangkah ke rumahnya.
Juliana yang penasaran, langsung membuka bungkusan itu di rumah. “Pak Ayyas perhatian banget deh ke Nisa,” ucapnya dalam hati.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭
__ADS_1