
“Bapak bilang gini supaya saya mau ikut ke Bone kan? Baiklah, saya akan ikut. Bukan karena saya menurut pada bapak, tapi karena nenek.”
“Terserah kamu saja, yang penting kamu ikut. Tapi sekali lagi saya tekankan, saya serius dengan kata-kata saya barusan. Kalau kamu tidak percaya, itu urusan kamu. Yang jelasnya saya sudah mengatakan semua kebenarannya. Satu lagi, jangan harap kamu bisa kuliah. Karena saya tetap tidak akan mengizinkan kamu untuk kuliah. Sekarang cepat kamu mandi!”
Mereka lalu berangkat ke Bone setelah shalat asar. Nisa yang mengantuk tertidur di mobil. Ia baru terbangun ketika mobil berhenti.
“Sudah sampai ya?” tanya Nisa sembari mengucek matanya.
Pak Ayyas tidak menjawab pertanyaan Nisa. Ia melangkah keluar dari mobil tanpa berkata apa-apa.
“Kebiasaan sekali si Bear ini. Sesulit itukah dia menjawab pertanyaanku? Mana lapar banget lagi,” keluh Nisa.
Sementara di luar, Pak Ayyas menghampiri penjual di pinggiran jalan.
“Bu, tolong bungkus gogosnya tiga puluh ribu. Nasu lekkunya lima puluh ribu.”
“Baik, tunggu sebentar yah nak!” Penjual itu kini sibuk menyiapkan pesanan Pak Ayyas.
“Cuman Nisa yang bilang saya tua. Buktinya ibu ini panggil saya nak, bukan pak. Itu berarti di mata ibu ini saya masih muda. Yesss.” Pak Ayyas membatin kegirangan.
Setelah pesanan Pak Ayyas siap, penjual tadi memanggil Pak Ayyas. Pak Ayyas lalu mengambil bungkusannya. Tak lupa juga ia mengambil sebotol air mineral berukuran sedang terlebih dahulu sebelum ke kasir.
“Totalnya delapan puluh lima ribu kak,” ucap kasir dengan ramah.
Pak Ayyas lalu menyerahkan uang sejumlah dengan yang kasir sebutkan.
“Bahkan kasir tadi memanggil saya kak, bukan pak. Fixed, saya belum tua.”
Pak Ayyas kembali ke mobil dengan perasaan senang.
“Asli, ini si Bear benar-benar harus dibawa ke Rumah Sakit Jiwa deh. Emosinya tuh berubah-ubah dengan cepat. Tiba-tiba marah, tiba-tiba diam membisu, dan sekarang dia tiba-tiba senyum-senyum sendiri.” Nisa bermonolog dalam hati melihat Pak Ayyas datang.
“Nih gogos sama nasu lekkunya, kamu pasti lapar kan?”
Pak Ayyas menyerahkan makanannya ke Nisa. Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
“Bapak tidak makan?” tanya Nisa pada Pak Ayyas yang tengah serius menyetir mobil.
“Saya belum lapar, nanti saja saya makan di rumah nenek. Kamu makan saja duluan.”
Nisa lalu membuka bungkus gogos dan mengambil dua potong nasu lekku untuk disantap. Sebelum menyantap makanannya, dia ingin minum beberapa teguk air terlebih dahulu. Segara Nisa membuka tutup botol air mineralnya.
“Jangan diminum dulu! Saya yang minum duluan,” cegah Pak Ayyas.
Dengan perasaan sedikit kesal, Nisa memberikan air yang tengah digenggamnya itu ke Pak Ayyas.
Nisa terheran-heran melihat tingkah aneh Pak Ayyas. Ia minum dengan menempelkan bibirnya mengelilingi mulut botol. Setelah itu barulah ia menyerahkan airnya ke Nisa.
“Cari apa? Jangan harap bisa minum pakai gelas. Kamu minum saja dari bekas bibirku. It’s okay honey, secara saya ini kan suami kamu. Sekarang tinggal pilih, tidak minum sama sekali atau tetap minum dari bekas bibirku. Ha ha ha.”
Pak Ayyas merasa puas sekali karena berhasil mengerjai Nisa.
“Niat banget pak. Bapak kan bisa beli dua botol air, malah beli satu. Hadeh, nyebelin.”
Pak Ayyas hanya cengengesan mendengar omelan Nisa. Dengan perasaan kesal Nisa terpaksa meminum sisa Pak Ayyas.
Karena sudah sangat lapar, gogos dan nasu lekku ia santap dengan begitu lahapnya.
“Aduh, mau apa lagi ini si Bear?” batin Nisa.
“Kenapa diam saja?” tanya Pak Ayyas. “Mau apa lagi sih pak? Bapak tidak lihat saya sedang fokus makan?” gerutu Nisa.
“Justru karena kamu sedang makan, tolong suapi saya. Tiba-tiba saya merasa lapar.”
Nisa lalu mengambil satu gogos lagi untuk dibuka.
“Tidak perlu buka yang baru Nisa. Suapi saja saya sisa gogosmu itu. Bukannya menyuapi saya, kamu malah menghayal. Saya sudah lapar ini.”
“Nih,” ucap Nisa sembari menyuapi Pak Ayyas gogos bekas gigitannya.
“Nasu lekkunya juga dong Nisa. Jangan gogosnya saja!”
__ADS_1
“Bapak tuh yah, sudah disuapin. Bukannya berterima kasih, malah banyak protes. Wuuu.”
“Kamu makin cantik ya kalau lagi marah,” goda Pak Ayyas.
“Duh, so sweetnya suamiku ini. Bapak juga makin ganteng tau kalau lagi senyum. Tapi boong, ha ha ha.”
“He he he, LUCU. Kamu pasti mau memuji saya tapi gengsi kan?”
“Iyuhhh, besar kepala.”
Mereka terus saja beradu argumen di sepanjang perjalanan. Tiba-tiba gawai Pak Ayyas berdering.
“Nisa, coba cek siapa yang menelpon!”
“Bu Susan pak,” jawab Nisa murung. “Pegang, biar saya yang bicara!” suruh Pak Ayyas.
“Halo, assalamu ‘alaykum kak.” Bu Susan memulai pembicaraan.
“Wa’alaykumussalam warahmatullah.”
“Kakak lagi apa?” tanya Bu Susan lagi. “Saya sedang menyetir mobil ini. Ada perlu apa ya Susan?”
“Tidak ada, cuman mau menelpon kak.”
“Kalau gitu sudah dulu ya. Kasihan istri saya, tangannya bisa pegal kalau kamu kelamaan nelpon.”
“Oh iya, maaf mengganggu kak. Assalamu ‘alaykum.”
“Wa’alaykumussalam warahmatullah.”
Nisa lalu menyimpan kembali gawai Pak Ayyas.
“Sesakit inikah mencintai suami orang?” Bu Susan menangis tersedu-sedu menyadari cinta
Pak Ayyas semakin besar ke Nisa.
__ADS_1
“Biasanya si Bear bilang Nisa, kali ini dia bilang istri. Nama Bu Susan juga bukan My Moon lagi di kontaknya. Apa dia benar-benar sudah jatuh cinta ke saya? Jangan kePDan Nisa! Kontrol perasaanmu, jangan gampang baper. Kalau dia cuman bersandiwara, kamu sendiri yang akan terluka.” Nisa membatin lagi.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak