My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Negatif Kali Positif


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, mata mereka dimanjakan dengan hijaunya pepohonan di tepi-tepi gunung. Hutan-hutan yang melahirkan anak-anak pohon, sama sekali belum terjamah oleh tangan-tangan buas masyarakat sekitar. Hingga tak terasa, mereka ternyata sudah tiba di perbatasan kota Enrekang.


“Massenrempulu artinya apa ya?” tanya Pak Ayyas setelah membaca tulisan yang tertera di gapura.


“Massenrempulu itu artinya menyusur gunung,” jawab Pak Ali.


“Kalau Enrekang sendiri artinya apa pak?” tanya Pak Ayyas lagi pada mertuanya.


“Enrekang sebenarnya berasal dari kata Endeg, yang artinya naik. Nah, itulah awal mulanya sebutan Endekan,” jawab Pak Ali lagi.


“Oh..Sesuai dengan kondisi geografisnya ya,” ucap Pak Ayyas.


“Ya. Benar sekali,” balas Pak Ali.


Tak jauh dari gapura, mereka mendapati patung sapi. Kembali Pak Ayyas diliputi rasa penasaran akan patung sapi yang dibangun di tengah jalan trans tersebut.


“Mau nanya tentang itu lagi kan?” tanya Nisa sembari menunjuk patung sapi.


“He he tau aja,” balas Pak Ayyas malu-malu.


“Patung sapi itu melambangkan kota Enrekang ini punya potensi ternak sapi yang besar. Sapi yang menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat,” Nisa menjelaskan.

__ADS_1


“Kok bisa?” tanya Pak Ayyas penasaran.


“Iya pak. Susu sapi itu diolah menjadi makanan tradisional. Susu sapinya direbus sampai mendidih. Nanti bakal jadi dangke. Dangke sendiri teksturnya seperti tahu. Kalau rasanya agak mirip keju sih,” jawab Nisa.


“Ibu jadi penasaran mau makan dangke,” ucap Bu Tiara.


“Nanti kita beli ma,” balas Pak Ayyas.


“Wahdah juga mau dangke ma.”


“Nanti ya sayang. Pulang dari Kaluppini kita singgah beli dangke di sini.” Balas Bu Arni sembari menunjuk salah satu rumah warga yang menjual dangke.


Mereka terus berbincang-bincang.


“Iya. Nanti setelah Rumah Sakit baru belok kanan,” jawab Pak Ali.


Semakin memasuki pedalaman, jalanan justru semakin terjal. Nyali Pak Ayyas dibuat menciut seketika. Disuruhnya ayahnya untuk menggantikannya menyetir mobil.


“Kebiasaan nih anak,” ucap Pak Subroto.


“Habis jalanannya kayak mood Nisa sih pa. Berkelok-kelok kayak ular tangga,” balas Pak Ayyas spontan.

__ADS_1


Untung saja Nisa tidur, jadi drama antara Tom dan Jerry tidak terjadi kali itu.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di kampung Kaluppini. Orang-orang menamai kampung ini sebagai kampung adat. Masyarakat di Kaluppini memang masih sangat kental akan adat. Hingga saat ada konflik yang terjadi, penyelesaiannya pun melalui adat.


Mereka lalu memarkirkan mobil di parkiran yang dijaga oleh beberapa orang lelaki. Lalu berjalan menuju ke rumah salah satu nenek Nisa yang bermukim di Kaluppini.


Jalan yang menanjak membuat mereka agak kelelahan. Namun rasa lelah itu seketika sirna oleh sikap masyarakat yang ramah. Selain ramah, masyarakat Kaluppini juga umumnya berbicara dengan intonasi yang sangat lembut.


“Sa, ayah kamu kan berasal dari sini. Kok cara ngomong kamu beda sih? Ngegas muluk. Nggak kayak masyarakat di sini,” protes Pak Ayyas.


“Iya, bapak dari Kaluppini. Kalau ngomong merdu bet kek suara seruling. Tapi mama berasal dari desa Letta. Suaranya nyaring,” balas Nisa.


“Kamu kan bisa Sa jadi lembut kayak orang-orang sini,” lagi-lagi Pak Ayyas protes.


“Positif dikalikan negatif, hasilnya apa pak?” tanya Nisa.


“Ya negatif lah,” jawab Pak Ayyas cepat.


“Nah itu jawabannya,” ucap Nisa sembari mempercepat langkahnya.


Mereka kini memijakkan kaki pada satu per satu anak tangga rumah nenek Nisa. Rumah panggung yang mengarah ke kebun masyarakat setempat. Sepanjang mata memandang, yang nampak adalah pepohonan hijau. Tak kalah indahnya, pegunungan Enrekang yang eksotik.

__ADS_1


“Itu gunung apa Sa?” tunjuk Pak Ayyas pada jejeran gunung yang terlihat dari kejauhan.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2