
Hatinya berkata ia memang layak untuk mendampingi Pak Ayyas. Cara dia membantu Pak Ayyas memeriksa tugas. Cara dia menemani Pak Ayyas di saat sedih. Cara dia mengurusi semua kebutuhan Pak Ayyas di rumah. Baginya, ia adalah istri yang luar biasa untuk suaminya.
Tapi di sisi lain, pikirannya berkata ia hanya terlalu fanatik dalam menilai diri sendiri. Karena faktanya memang Bu Susan lah yang lebih layak untuk mendampingi Pak Ayyas.
Masakan Bu Susan jauh lebih enak. Fisiknya juga jauh lebih indah. Emosinya apa lagi, sudah pasti lebih stabil. Sikapnya juga lebih dewasa. Ditambah lagi dia sudah mapan. Dan yang terpenting adalah dia cinta pertama Pak Ayyas.
Menyerah, mundur, berhenti, silih berganti berujar di pikiran Nisa. Memiliki rumah tangga yang harmonis dengan Pak Ayyas serasa hanya ambisinya saja.
Waktu shalat magrib kini telah tiba, sementara Pak Ayyas dan Nisa belum juga tiba di Bone. Pak Ayyas lalu memberhentikan mobilnya di parkiran salah satu mesjid di pinggir jalan.
“Tidak ikut?” tanya Pak Ayyas pada Nisa yang tak jua turun dari mobil.
“Saya masih menstruasi pak. Apa boleh masuk mesjid?”
“Boleh, tapi kamu duduk di terasnya saja.” Nisa yang tadinya berniat untuk menunggu Pak Ayyas di dalam mobil, akhirnya ikut ke mesjid juga.
“Lelaki kalau habis wudhu gantengnya maksimal gitu ya. Maa Syaa Allah,” batin Nisa tatkala melihat Pak Ayyas melangkah masuk ke dalam mesjid setelah mengambil air wudhu.
Setelah shalat magrib, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka tiba di rumah nenek tepat saat adzan isya berkumandang.
__ADS_1
“Kamu masuk duluan saja Sa! Bawa makanan ini juga ya! Saya ke mesjid dulu.” Pak Ayyas lalu bergegas ke mesjid.
“Malah disuruh masuk duluan. Aduh, gimana dong? Saya kan malu,” batin Nisa.
Dengan perasaan canggung Nisa memasuki rumah. Tampak nenek sedang terbaring lemah. Ia tengah disuapi bubur oleh Kak Yuyun.
Nisa mengucapkan salam sembari menyalami nenek dan Kak Yuyun.
“Suami kamu mana nak?” tanya nenek pada Nisa. “Ke mesjid dulu nek, shalat isya.”
“Kenapa tidak ikut juga?” tanya nenek lagi. “Saya sedang menstruasi nek.”
“Menstruasi katanya. Berarti anak ini belum hamil dong. Padahal saya ingin sekali punya cucu dari Ayyas.” Nenek membatin sedih, mengingat umurnya sudah tua. Ia juga sudah mulai sakit-sakitan.
“Cucu tersayang nenek sudah datang. Sini, sini, nenek mau peluk.” Pak Ayyas langsung memeluk nenek.
“Pindah Yun, biar saya yang suapi nenek.” Dengan hati-hati Yuyun berdiri dari duduknya.
“Kamu jangan suruh dia cepat-cepat Yas! Dia itu sedang hamil,” ucap nenek.
__ADS_1
“Kak Yuyun hamil? Wah, selamat yah kak.” Nisa memberi ucapan selamat pada Kak Yuyun.
“Iya sayangku, cepat nyusul ya.” Suara Kak Yuyun begitu lembut, senyumnya juga begitu manis.
“Aamiin. Semoga kalian cepat punya anak ya. Nenek ingin cepat-cepat menimang cucu dari kalian juga.”
“Tidak bisa nek. Nisa kan masih sekolah. Nanti saja kalau dia sudah lulus,” balas Pak Ayyas.
“Kalaupun sudah lulus, saya tetap tidak mau punya anak dari Bear. Cukup saya yang tidak dicintai dengan sepenuh hati. Jangan sampai saya melahirkan anak yang ujung-ujungnya hanya akan mengalami hal serupa dengan saya,” batin Nisa.
Pak Ayyas membuka nasu lekku yang dibelinya tadi siang. Ia lalu mengambil bumbu lengkuasnya saja, karena nenek sudah tidak mampu mengunyah daging ayamnya.
“Si Bear perhatian juga ya,” batin Nisa.
Keakraban antara nenek dan Pak Ayyas berhasil membuatnya terkagum-kagum.
Setelah makan, nenek lalu tertidur. Pak Ayyas dan Nisa juga langsung ke kamar untuk tidur.
“Itu tadi alasan saya tidak mengizinkan kamu kuliah. Kalau kamu kuliah, kita akan LDR. Kalau kita LDR kamu tidak akan hamil. Percayalah Nisa, saya mau kamu cepat hamil bukan semata-mata karena nafsu. Tapi karena nenek yang sudah sangat ingin kita memiliki anak. Apalagi Yuyun hamil duluan. Padahal kita yang duluan menikah.”
__ADS_1
“Serumit inikah kehidupan berumah tangga? Awalnya semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Tapi makin ke sini rasanya malah makin ribet. Tidak boleh kuliah lah. Harus cepat-cepat punya anak lah. Hufttt, ” batin Nisa.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak