My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Setia Mendampingi Suami


__ADS_3

“Tahu aja kalau perempuan suka banget jajanan pinggir jalan gini. Pas banget ini mah. Nisa memang suka makanan yang asin-asin gini.”


Pak Ayyas dan Nisa juga telah tiba di rumah.


“Kenapa tidak dibuka?” tanya Pak Ayyas pada Nisa yang hanya diam membisu menatap bungkusan di atas meja makan itu.


“Boleh?” Nisa mengernyitkan dahi. “Tidak! Harus pakai password dulu,” canda Pak Ayyas.


“Apa password-nya?” tanya Nisa iseng. “Ayyas Tampan Sekali.”


“Rajin-rajin bercermin deh pak!” ucap Nisa kesal.


“Buka bungkusan gini aja harus debat dulu. Mana debat kusir lagi,” keluh Pak Ayyas. “Kusir itu yang temannya meja kan?”


“Kursi Nisa. Haahh, ini anak ada-ada saja kelakuannya.”


Nisa lalu membuka bungkusan dari Pak Ayyas.


“Kenapa sih harus perhatian gini? Kalau nggak ada rasa jangan bersikap baik gini terus pak. Susah move on nya,” Nisa membatin.


“Kamu tidak akan kenyang kalau cuma memandangi bakso bakarnya terus Sa,” ucap Pak Ayyas menyadarkan Nisa dari lamunannya.


“Kenapa tidak disinggahkan di kost Bu Susan? Atau bapak simpan saja untuk Bu Susan besok.”


“Apa-apa dikaitkan terus dengan Susan,” ucap Pak Ayyas sedikit kesal.


“Bapak sendiri kan yang menciptakan tokoh Bu Susan di cerita kita,” sindir Nisa.

__ADS_1


Nisa lalu mencicipi bakso bakar itu. Perpaduan antara rasa asin, manis, dan juga pedas benar-benar sempurna di lidah.


“Pedes parah. Lain kali sambelnya dipisah pak! Tapi jangan jauh-jauh nanti kangen.”


Nisa lalu berjalan ke kamar dengan membawa segelas air. Meninggalkan Pak Ayyas yang masih asyik mencicipi bakso bakar yang dibelinya tadi.


“Serumah dengan bocah rasanya seperti ini ya. Emosi diobok-obok terus.”


Pak Ayyas tersenyum kecil karena tingkah Nisa yang selalu di luar dugaan.


“Kukira cuma pelangi yang berwarna-warni. Ternyata hidup dengan Pak Ayyas juga membuat hidupku berwarna-warni.”


Nisa tersenyum lebar, duduk, lalu meminum segelas air yang digenggamnya sedari tadi.


Tindakan kecil Pak Ayyas tadi malam, berhasil mengembalikan mood Nisa. Aura kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.


“Cieee yang lagi kasmaran. Habis dibaperin tadi malam,” ledek Juliana. “Iiih kamu Jul,” ucap Nisa salah tingkah.


“Bukan Juliana kalau tidak penuh dengan rahasia,” keluh Aida.


Di jam istirahat, Nisa membuka WAnya. “Tumben si Bear buat story di WA.”


Nisa membuka story Pak Ayyas. “Dia pasti sedih sekali,” Nisa membatin.


“Jul, nanti kamu temani Widya wawancara ke Ridwan ya. I have something to do. Sekalian ajari kelompok saya dulu. Nanti saya chat Pak Anwar untuk minta izin.”


“In Syaa Allah Sa.” “Thank you so much yah Jul.”

__ADS_1


“Sama-sama bestieku.”


“Bukannya kamu belajar kelompok ya?” tanya Pak Ayyas keheranan saat melihat Nisa sudah berada di dalam mobil.


“Seorang istri harus apa saat suaminya bersedih?” tanya Nisa balik.


“Menghibur suaminya.” “Sudah bapak jawab sendiri,” ujar Nisa lalu menutup pintu mobil.


“Sekarang kita mau ngapain?” tanya Pak Ayyas setelah tiba di rumah.


“Kita buat design brosur nya dulu.” Nisa lalu mengambil gawai nya, lalu membuka aplikasi Canva.


“Nomor rekeningnya pak?”


“BRI 0563-01-011322-53-0 atas nama One Day One Juz Kutim.”


“Oh jadi bapak mondok nya di Kutim. Kok bisa?” tanya Nisa penasaran. “Dulu, ayah bekerja di sana.”


“Oohh, gitu.” Nisa masih begitu fokus membuat design.


“Tulis juga Sa kami menerima bantuan berupa beras, mie instan, sarden dll. Supaya masyarakat bagian Kutim tidak harus transfer uang jika ingin ikut menyumbang.”


“Ok, pak boss.”


“Ini pesantrennya kok bisa kebakar sih pak?” Nisa menyelidiki. “Katanya karena korsleting listrik.”


“Semoga pemerintah Kutim cepat tanggap yah pak.”

__ADS_1


“Aamiin.”


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2