My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Perempuan Pragmatik


__ADS_3

Intensitas bertemu yang ada, membuat Nisa dan pak Ayyas menjadi semakin akrab saja. Mereka sering menghabiskan waktu bersama setelah menikah. Bukan hanya karena mereka tinggal di atap yang sama, tapi karena pak Ayyas memang selalu membutuhkan bantuan Nisa. Ia selalu meminta tolong kepada Nisa saat kerjaannya menumpuk.


Pak Ayyas sering meminta Nisa untuk memeriksa tugas temannya, seperti yang dilakukannya dulu bersama Juliana dan Aida.


Untuk malam ini, Nisa membantu pak Ayyas menuliskan nilai Agama siswa di buku rapor. Ia pun menulis dengan telaten. Tiba-tiba saja Pak Ayyas memujinya.


“Ternyata tulisan kamu bagus banget ya."


Seketika Nisa tersentak kaget, diliriknya tulisannya. Ia tak menyangka mulut si Bear bakal melontarkan pujian untuknya.


Secara, selama latihan dulu ia selalu saja melukai hati Nisa dengan kata-kata pedasnya. Meski begitu, dengan sedikit kaku Nisa mengucapkan terima kasih.


“Yes, sudah selesai. Saya tidur duluan ya, ngantuk berat soalnya. Kamu sikat gigi dulu, jangan lupa wudhu. Matikan lampunya juga,” saran pak Ayyas kebapakan.


“Udah sana pak! Kayak ngajarin anak SD aja,” jawab Nisa ketus.


Setelah pak Ayyas memasuki kamar tidur, Nisa membuka kembali buku-buku rapor tadi. Dengan seksama ia memperhatikan kembali tulisannya. Nisa merasa sangat senang karena pujian pak Ayyas.


Setelahnya, Nisa melakukan semua arahan pak Ayyas. Mulai dari menyikat gigi, wudhu, dan tak lupa juga ia matikan lampunya.


Nisa memang pragmatik. Tipe orang yang kesulitan dalam menunjukkan respect-nya melalui kata-kata, melainkan dengan tindakan.


Hal seperti ini tentunya sangat sulit untuk dideteksi oleh para ekstrovert seperti pak Ayyas.


Bahkan karena sikap pragmatiknya itu, Nisa seringkali disalahpahami orang lain. Banyak yang menganggapnya keras kepala karena bersikap acuh saat dinasehati. Padahal, di belakang Nisa sebenarnya pendengar yang patuh.


Nisa melangkah ke kamar. Pak Ayyas sudah terlelap. Ia menaiki tempat tidur, lalu terlelap di samping suaminya itu.

__ADS_1


Keesokan harinya mereka ke sekolah. Di sekolah, anggota OSIS melakukan rapat untuk membahas pelaksanaan Kemah Bersama.


Kemah Bersama memang selalu dilakukan tiap semester di sekolah. Bukan hanya untuk anak pramuka, tapi semua anggota organisasi lain juga ikut berpartisipasi. Berbeda dengan anak pramuka yang tidur di tenda, di Kemah Bersama pesertanya tidur di dalam kelas.


Nisa sebagai wakil dari Juliana di organisasi New Generation English Club ( disingkat NGEC, dibaca En-Ji-I-Si) wajib ikut Kemah Bersama tersebut.


Dikumpulkannya anggota NGEC yang ingin ikut berpartisipasi di Acara Kemah Bersama. Dengan bantuan Nisa, Juliana menyusun semua kebutuhan anggota.


Hingga tibalah hari perkemahan, para anggota organisasi berkumpul di ruangan yang telah ditentukan. Nisa melihat ke sekitar, mencari-cari pak Ayyas tapi tak kunjung menemukannya.


“Si Bear kemana sih? Tadi katanya mau ikut mendampingi siswa. Sampai sekarang nggak muncul-muncul juga tuh batang hidungnya. Apa jangan-jangan lagi cari muka ya ke bu Susan? Dasar Bear. Sudah merangkak jadi buaya dia rupanya,” lamun Nisa.


Akhirnya, setelah beberapa jam acara berlangsung Pak Ayyas pun datang bersama beberapa guru lainnya. Termasuk si cantik, bu Susan.


Juliana datang paling terakhir. Ia sebagai ketua meminta maaf kepada Nisa atas keterlambatannya karena suatu urusan yang mendadak.


“Kamu mundur saja Jul! Pak Ayyas itu sudah cinta mati ke bu Susan.”


“Tau dari mana Sa? Sotoy ya?” tanya Juliana dibarengi tawa khasnya.


“Nebak aja he he,” Nisa cengengesan untuk menutupi kebohongannya.


Tiba-tiba dari arah kantor, terdengar ketupat menghimbau para peserta untuk berkumpul di aula. Rupanya makanan untuk peserta telah siap. Para ketua dan wakil ketua organisasi mulai mengangkat makanannya ke aula.


Juliana dan Nisa juga ke kantor untuk mengambilkan anggotanya makanan. Juliana merasa sangat senang karena di kantor ternyata ada pak Ayyas.


Saat ingin kembali ke aula, bu Hasna selaku pembina NGEC memanggil mereka.

__ADS_1


“Juliana, kamu saja yang bawa makanan ini ke aula. Ibu butuh bantuan Nisa di sini.”


Akhirnya Juliana kembali ke aula seorang diri.


Bu Hasna mengajak Nisa ke dapur sekolah, yang jaraknya tak jauh dari kantor.


“Nisa kamu goreng ubi ini dulu ya. Nanti akan dibagikan ke anggota NGEC. Ibu mau makan dulu. Tidak apa-apa kan?” tanya Bu Hasna.


“Ibu kayak ke siapa aja. Silakan bu, biar saya yang goreng ubinya.”


Di kantor, para guru menyantap makanan yang telah disajikan.


“Mie gorengnya enak sekali. Ini mie goreng terenak yang pernah saya makan,” kata pak Ayyas.


“Bu Susan memang wanita idaman. Sudah cantik jago masak pula,” ucap pak Bahar menambahkan.


Nisa yang mendengar suaminya memuji orang lain, mulai menggerutu.


“Jahat banget sih si Bear, bukannya muji masakan istri malah muji masakan orang lain. Di rumah kan juga sering dibuatkan mie goreng. Lihat saja nanti, gak bakal aku masakin lagi.”


Perpaduan antara marah dan sedih menguasai Nisa saat ini.


Setelah selesai makan bu Hasna langsung meminta Nisa untuk makan di kantor bersama guru yang lain. Nisa menolak dengan alasan mau makan di aula saja.


Dengan perasaan kesal, Nisa melangkah ke aula. Mengambil satu kotak makanan yang tersisa, lalu bergabung dengan peserta lain yang tengah asyik menyantap makanannya.


Setelah makan, para peserta kembali ke ruangan masing-masing. Mereka harus bersiap-siap untuk menampilkan bakatnya di pentas antar organisasi nanti.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2