Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Jadilah Pacarku


__ADS_3

Faris mengambil mobil dan melajukannya meninggalkan kampus Sunday.


Sunday benar-benar aneh. Kenapa dia melarikan diri begitu saja? Apa ada yang salah? Dasar anak ini. Faris tersenyum mengingat tingkah Sunday barusan yang seperti menghindarinya, itu membuat Faris penasaran dengan apa yang terjadi. Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi.


Apa karena DMku tadi? Faris mereka-reka sendiri.


Sunday memang gadis yang sangat lucu bagi Faris. Faris adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakak perempuannya sudah berumah tangga dan tinggal terpisah dengannya yang masih berada di rumah orang tuanya.


Itulah kenapa saat mengenal Sunday ia merasa seperti memiliki adik perempuan.


Faris terbiasa dimanjakan sebagai anak bungsu di rumahnya, tapi bersama Sunday dia merasa menjadi seorang kakak. Yang merasa harus menjaga dan bahkan melindungi. Sedangkan Sunday adalah adik perempuan yang lucu dan menggemaskan. Tingkah Sunday yang sering cuek tapi kadang kekanak-kanakan membuat Faris merasa senang bila di dekatnya.


Selama ini dia mengenal banyak gadis. Tentu saja karena wajah tampan, membuat tidak sulit baginya mendekati para gadis. Tapi setiap gadis yang ia dekati tidak ada yang seperti Sunday. Sunday adalah gadis yang berbeda menurutnya. Yang ketika bertemu dengannya dia bahkan bersikap biasa saja. Tidak menganggapnya istimewa seperti gadis lain kebanyakan.


Mungkin karena Sunday tidak menyukai sebagian dari dirinya yang seorang pelaut jadi dia tidak istimewa bagi Sunday. Sikap Sunday yang anti pelaut memang sudah sangat akut. Tapi bagaimanapun juga Sunday memiliki kisah tidak menyenangkan tentang pelaut. Dan Sunday tetap bisa menerimanya sebagai teman adalah langkah awal yang baik. Walaupun Faris sendiri juga belum bisa memberi citra yang baik sebagai pelaut.


Faris masih belum bisa menjauhkan dirinya dari dekat dengan para gadis. Menurut Faris, hanya dekat, apa salahnya? Hanya berteman dengan para gadis, kenapa tidak? Toh Faris tidak pernah mengajak mereka pacaran. Hanya saja orang-orang tidak percaya dengan apa yang dikatakannya dan selalu menganggap Faris yang sering jalan dengan gadis yang berbeda-beda dalam waktu yang hampir bersamaan itu kemudian dianggap playboy. Termasuk Sunday pun tidak lepas dari menilai dirinya sebagai pria berhati banyak.


Sebenarnya sebanyak apapun teman gadisnya, dia tetap punya teman pria tapi mereka lebih banyak sibuk bekerja dan juga tempat kerja Faris yang di luar negeri membuatnya jarang bertemu dengan mereka walau sekadar berkumpul. Ya walaupun setiap kepulangannya dia kadang masih bersama teman-teman pria alumni sekolah atau kuliahnya tapi hanya beberapa kali karena yang datang menawarkan jalan kepadanya memang kebanyakan adalah teman-teman gadisnya.


Sunday baru sampai di depan rumahnya saat Faris berhasil menyusul. Sunday hanya diam memaku di depan pintu pagar yang baru saja dibuka dan melihat mobil Faris yang kemudian menepi.


Apa? Dia sampai mengikutiku ke sini. Sebegitu penasarannya. Sunday membatin.


"Kenapa pergi begitu saja? Aku bahkan belum membicarakannya." Faris sudah turun dari mobilnya dengan senyum yang khas malaikat.


"Itu... aku hanya melihat tempat-tempat kamu singgah saja. Tempatnya bagus-bagus. Jadi aku penasaran apa ditempat lain juga sebagus itu. Dan ternyata tempatnya memang bagus semua. Itupun awalnya fotomu tampil diberanda instagramku jadi aku penasaran saja tempat-tempat lain yang sudah pernah kau datangi kira-kira dimana saja." Sunday langsung memberi penjelasan dan berharap Faris tidak salah faham.


Tapi reaksi Faris malah tersenyum dan hampir tertawa tapi ditahannya. Sunday bingung.

__ADS_1


Tuh kan, Faris pasti tidak percaya. Baiklah, aku siap menerima cemoohan apapun darinya. Aku pasrah...


"Jadi karena itu kamu menghindariku?" Sunday mengangguk. "Aku pikir kamu benar-benar pergi ke dokter THT." Faris sekarang tertawa.


Tertawa saja terus. Iya tertawakan saja ke-stalking-anku. Sunday mulai bersungut-sungut.


"Bukan karena itu aku menghampirimu, Sun." Ujar Faris kemudian tapi dengan masih ada sisa tawa di kalimatnya.


"Jadi..." Sekarang ekspresi Sunday seperti orang bodoh. Ya, dia bodoh sekali menjelaskan tentang apa yang sebenarnya bahkan Faris tidak penasaran terhadap hal itu. Mungkin sekarang wajah Sunday tampak merah karena menahan malu.


"Iya, bukan karena itu aku mencarimu. Aku tidak menganggap serius tentang love-mu yang mampir di fotoku beberapa bulan yang lalu itu. Karena memang foto-fotoku pantas untuk disukai dan bahkan sangat recomended untuk di-stalking-i. Selain background-background yang bagus, model di foto itu juga sangat tampan jadi koleksi foto di instagramku memang semua terlihat menakjubkan." Sunday memutar bola matanya, malas.


"Dan juga aku men-DM-mu dengan emoticon love karena aku hanya bersikap baik saja dengan memberimu love juga agar love-mu tidak bertepuk sebelah tangan." Faris cekikikan.


"Tuh kan... Males ahh. Aku masuk saja." Sunday bermaksud menaiki motornya dan membawanya masuk ke halaman rumahnya.


"Eits, tunggu dulu." Faris sudah meraih tangan Sunday dan mencegahnya menaiki motornya.


"Iya iya... baiklah... ayo kita masuk saja. Ada yang mau aku bicarakan" Ajak Faris sambil bersiap menuntun motor Sunday.


"Hei, yang punya rumah disini siapa? Seharusnya aku yang mengajakmu masuk." Sunday protes.


"Habisnya tuan rumah tidak juga mengajak masuk." Faris cengengesan.


Lalu Sunday berjalan lebih dulu dan diikuti Faris dibelakang yang membawa masuk juga motornya.


"Ada apa?" Sunday cuek.


"Setelah membawa masuk motormu aku jadi haus. Boleh minta minum?" Faris tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ya Tuhan, cuma menuntun selangkah saja bisa membuat haus? Keren sekali motorku." Sunday benar-benar hampir kehabisan kata untuk pria di depannya itu. Banyak sekali maunya. Tapi walaupun begitu dia masuk juga mengambil minum untuk Faris. Dan tanpa malu-malu juga Faris sempat meminta air dingin untuk minumnya.


Belum sampai Sunday keluar membawa minum, Mama Sunday keluar menyapa Faris.


"Masuk saja Ris, jangan di luar." Sapa Mama Sunday di depan pintu yang mendengar suara Faris di luar.


"Tidak usah tante. Disini saja." Tolak Faris dengan senyum mengembang.


Tepat setelah itu Sunday keluar dengan sebotol air dingin dan gelas.


"Kenapa tidak diajak masuk saja Faris?" Tegur Mamanya kemudian.


"Tidak usah ma, cuma sebentar saja. Iya kan, Ris?" Kode etik Sunday bahwa Faris tidak boleh berlama-lama di rumahnya.


"I-iya." Jawab Faris tidak yakin dengan masih memasang senyum lebarnya.


"Ya sudah kalau begitu tante ke dalam dulu ya."


"Iya tante."


Sunday duduk di kursi yang ada di terasnya, berhadapan dengan Faris yang duduk di kursi di depannya. Suasana sore ini terasa sejuk. Angin bertiup semilir menerpa rambut Sunday yang terurai membuat bagian depannya terlihat membelai wajah halusnya.


"Terus sekarang apa lagi?" Sunday menatap Faris menunggu apa yang akan dia bicarakan seperti katanya tadi. Faris sedikit terkesiap karena dia terlalu fokus menikmati wajah Sunday sore ini sehingga lupa pada niatnya datang ke sini.


"Begini, Sun... mmm..." Faris menggantungkan kalimatnya dan terlihat tidak yakin. "Aku mau menjadikanmu pacarku."


"Apa?!?!" Sunday terbelalak mendengar kalimat terakhir Faris.


"Jadilah pacarku, Sun."

__ADS_1


Pacar??? Aku yang benar-benar butuh ke dokter THT atau dia yang salah minum obat?


__ADS_2