Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Terpergok


__ADS_3

Sunday memasuki mobil Victor.


"Ada tamu di rumahmu?"


"Ya." Sunday mulai duduk di jok.


"Ini untukmu. Sunday menyodorkan sebuah paperbag.


"Apa ini?"


"Hadiah ulang tahunmu yang sangat terlambat." Sunday tersenyum.


"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot."


"Waktu itu kau bilang aku harus memberimu kado tapi sekarang kenapa ucapanmu jadi sungkan begitu."


"Ini hanya pencitraanku saja. Malu-malu tapi mau." Victor tertawa lalu menyimpan paperbag itu di jok belakang.


"Jadi, kita akan ke mana?"


"Hari ini ada pembukaan franchise baru Windy. Jadi, mari kita ke sana."


"Baiklah..." Dengan senang hati Victor melajukan mobilnya keluar dari area kompleks perumahan tempat tinggal Sunday yang baru.


Di sebuah restoran franchise tampak di tempat parkir ada beberapa mobil yang terparkir. Sunday keluar dari mobil dan berjalan beriringan dengan Victor memasuki restoran franchise Windy. Windy menyambut mereka. Suzan juga sudah tampak di sana dengan pacarnya.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" Bisik Windy di telinga Sunday.


"Apa?" Sunday heran.


"Kau dan Pak Victor?" Windy menggodanya.


"Tidak, kami masih berteman baik."


"Oh ya? Selama ini hanya berteman baik?" Kau betah juga jadi temannya."


"Kami hanya akan berteman, tidak akan lebih." Sunday memandang Victor yang sedang mengobrol dengan Suzan dan pacarnya di meja pojok ruangan diantara tamu lain.


"Kenapa? Masih belum bisa move on dari Faris? Bukankah sudah lama sekali kalian tidak saling berhubungan?" Sunday menarik nafas. Windy belum tahu bahwa Faris sekarang adalah atasannya di Font.


"Kita bertiga terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing sampai tidak sempat bercerita seperti dulu ya." Sunday tertawa kecil.


"Hei, apa aku benar-melewatkan sesuatu?" Windy memandang Sunday lurus.


"Faris adalah project sponsor di Font."


"Apa???" Windy sampai terbelalak mendengar penuturan Sunday.


"Ya, Font adalah sofrware house yang dikelola oleh keluarga Faris. Ia menggantikan papinya di sana."


"Lalu?" Windy penasaran bagaimana Sunday menjalani hari-harinya setelah satu tempat kerja dengan Faris.


"Begitulah..." Sunday menghembus nafas berat namun perlahan.


"Aku tahu sampai sekarang kau masih menyukainya." Windy menggenggam tangan Sunday. Ya, Windy dan Suzan adalah saksi ketika Sunday menangis karena dilemanya waktu itu. Ia menyukai Faris tapi Faris adalah seorang pelaut. Ia belum bisa menghilangkan traumanya. Setiap mendengar kata pelaut, Sunday seketika ingat bagaimana mamanya yang ditinggalkan oleh papanya. Bagaimana mamanya bertahun-tahun terjebak dalam kesedihan karena papanya yang lebih memilih wanita lain sebagai teman hidupnya.


"Kau ini sok tahu." Ujar Sunday sambil tersenyum kecut.


"Kalau kau sudah bisa melupakan Faris pasti tidak akan sulit bagimu menerima Pak Victor." Windy memandang Sunday lekat berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya difikirkan sahabatnya itu.


"Pak Victor cukup baik, dia tampan, dia tidak mudah menyerah dan yang jelas dia menyukaimu. Aku melihat dia juga sepertinya tulus terhadapmu. Lalu bagaimana mungkin seorang wanita normal bisa menolaknya seperti yang kau lakukan itu."


"Aku tidak tahu. Aku merasa aku bodoh. Aku tidak bisa membedakan yang baik dan yang buruk untuk diriku sendiri. Aku terlalu egois. Aku hanya mencari kenyamanan untuk diriku sendiri."


"Kau nyaman dengan kesendirianmu?"


"Ya..."


"Kau nyaman dengan kesendirian atau kau mau memastikan bahwa tanpa Faris kau baik-baik saja?"

__ADS_1


"Entahlah..." Sinar mata Sunday tiba-tiba meredup. Melihat itu, Windy tahu Sunday sedang merasa galau.


"Hei, ngomong-ngomong lalu bagaimana saat kau bertemu kembali dengan Oppa Faris. Ahh, dia masih mau apa tidak ya ku panggil Oppa?" Windy tertawa ringan.


"Biasa saja."


"Benarkah? Apa hatimu masih terasa seperti kesetrum saat melihatnya?" Goda Windy.


"Kesetrum? Memangnya Faris kabel listrik?" Wajah Sunday merona.


🌸🌸🌸


Setelah dari rumahnya, Sunday sempat mampir ke kosnya dulu meletakkan barang bawaan hasil pemaksaan mamanya. Abon, cemilan dan segala kebutuhan makan Sunday dikemas menjadi satu tas besar bekal persediannya. Mamanya berfikir Sunday tidak akan makan kalau tidak tersedia. Jadi dengan membekali makanan maka Sunday pasti akan makan. Mamanya tahu Sunday akan merasa sayang jika masakan Mamanya terlewatkan begitu saja. Akhirnya bawaan sebanyak itu setengahnya ia bagi untuk Bu Uni.


Pukul 8 pagi Sunday meninggalkan kosnya. Melewati rumah Faris ia berusaha untuk tidak menengok. Ia tidak mau kalau tiba-tiba ada Faris melihatnya. Jadi setiap melewati Rumah itu, Sunday akan bersikap sebiasa mungkin.


"Hei, kau tidak ingin mampir dulu?" Sunday berhenti dan memejamkan matanya sebelum menoleh ke sumber suara.


"Tidak, terima kasih. Aku buru-buru." Sunday memutar tubuhnya.


"Kalau begitu, pergilah bersamaku."


"Tidak usah, aku mau berjalan kaki agar lebih lama terkena sinar matahari."


"Oh tentu saja, sinar matahari pagi bagus untuk pertumbuhan tulangmu." Faris tertawa. Sunday memanyunkan bibirnya.


"Malas sekali denganmu." Sunday bergegas berbalik tanpa permisi. Ia menyusuri jalan seperti biasanya. Hingga sebuah klakson mobil berbunyi. Faris tersenyum dari dalam mobilnya dan berlalu mendahului Sunday.


"Dasar bos, jarak Font sedekat itu saja harus dengan mengendarai mobil. Tukang pamer." Gerutu Sunday memandang bagian belakang mobil Faris.


Tiba di lobi Font, seseorang menyamai langkah Sunday.


"I hate monday." Keluh Gina.


"Hari baru, bersemangatlah." Sunday menoleh ke arahnya dengan masih berjalan menuju lift.


"Aku masih ingin menikmati hari liburku. Ahh... aku benar-benar butuh liburan. Aku berharap bisa mengajukan cuti untuk berlibur." Gina sudah menggandeng lengan Sunday seperti biasanya. Di Font Gina memang tidak banyak mengenal akrab para pegawai. Ia agak pilih-pilih teman. Berteman dengan Sunday adalah tindakan tepat baginya karena ia adalah anak tiri Om Rudi yang sudah jelas latar belakangnya.


"Aku iri denganmu dengan baterai penuh begitu. Kau sepertinya selalu punya 100% energi untuk bekerja dengan keras." Gina meletakkan kepala dipundak rendah Sunday.


"Atau jangan-jangan itu karena kau memiliki seseorang yang kau suka disini?" Gina menyelidik.


"Tidak... tidak... aku tidak memiliki siapapun yang ku suka disini. Aku belum mau terlibat cinta lokasi." Sunday buru-buru menampik tuduhan Gina.


"Kadang aku berharap aku dan Faris benar-benar pacaran lalu kami akan mencuri-curi jam kerja untuk bersama. Ya walaupun hanya untuk saling menyapa atau saling memandang sambil mengerling mata. Ahh, alangkah romantisnya." Gina sekarang senyum-senyum sendiri. Sunday menyunggingkan senyum kecut mendengar imajinasi romantis di tempat kerja versi Gina.


"Beberapa waktu di sini apa tidak ada satupun pria yang menarik perhatianmu?" Sunday tersentak tapi lalu kembali bersikap biasa.


"Tidak ada."


"Benarkah?"


"Sudah ku bilang aku terlalu mencintai pekerjaanku jadi aku tidak sempat mencintai yang lain."


"Wah, ternyata kau sangat mengerikan. Berkencan dengan pekerjaan. Sungguh tipe wanita milenial." Gina berdecak. Sunday tersenyum lebar.


Pintu lift terbuka, Gina dan Sunday memasukinya. Gina turun di lantai tempatnya bekerja dan Sunday melanjutkan ke lantai 4. Tapi saat tiba di lantai 4 dan pintu lift terbuka, ia melihat Faris berdiri di depannya. Sunday hendak melangkahkan kaki keluar tapi dari arah luar Faris malah masuk sambil merentangkan tangan sehingga Sunday tidak bisa keluar hingga pintu lift tertutup kembali.


"Kemarin pulang jam berapa?" Tanya Faris tiba-tiba.


"Pulang dari mana?" Sunday tidak mengerti arah pembicaraan Faris.


"Saat bersama Victor."


"Oh itu. Kenapa memangnya?" Sunday menautkan kedua alisnya.


"Sudah pernah ku bilang jangan terlalu dekat dengannya. Kau tidak berpacaran dengannya kan?" Pintu lift terbuka,lalu Faris menarik tangan Sunday untuk membawanya masuk ke ruangannya.


"Ehh, apa-apaan ini? Ruanganku tidak disini. Aku mau turun." Faris seperti tidak menghiraukan Sunday dan membawanya masuk lalu mengajaknya duduk di sofa.

__ADS_1


"Jawab dulu pertanyaanku. Kau tidak sedang punya hubungan dengan Victor kan?"


"Aku mau punya hubungan dengan Victor pun itu tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Jadi, kenapa kau harus peduli?"


"Sudah ku katakan aku menyukaimu. Itu yang membuatku peduli dengan hal itu." Sunday menegang. Meskipun ini bukan pertama kali mendengar Faris mengatakan itu tapi setiap mendengarnya Sunday terkesiap dan berdebar diatas normal.


"Harus berapa kali ku katakan padamu kalau aku menyukaimu dan ingin sekali kau berkata jujur mengatakan hal yang sama." Sunday tersenyum sinis.


"Aku kehabisan kata terhadapmu. Aku tidak bisa bicara lagi. Aku jadi patung sekarang." Sunday duduk diam tanpa menguarkan kata-kata lagi. Faris sangat gemas. Disaat seperti ini Sunday masih saja sempat bercanda.


"Oke, kalau kau jadi patung itu artinya kau tidak bisa bergerak. Dan mumpung tidak bisa bergerak, aku akan..."


"Heh, akan apa?" Sunday memelototi Faris.


"Patung itu tidak bisa bicara. Jadi jangan bicara, biarkan aku yang melakukannya."


"Melakukan apa?" Sunday semakin ngeri dan menggeser duduknya.


"Patung itu tidak bisa bergerak. Kemarilah."


"Tidak mau." Sunday sudah berancang-ancang menuju pintu keluar.


"Cepat kemari. Sebelum aku memakanmu."


"Tidaaakkk..." Sunday berlari ke arah pintu tapi Faris bisa membaca fikirannya jadi sebelum Sunday sampai Faris sudah lebih dulu menghadang pintu.


"Ayolah, jangan bermain-main lagi. Aku harus segera turun."


Tiba-tiba ponsel Sunday berbunyi. Lita.


"Siapa yang meneleponmu?" Faris penuh curiga.


"Mau tahu saja." Lalu Sunday menerima telepon itu.


"Iya, aku sudah di Font. Hanya saja aku harus mengerjakan sesuatu hal terlebih dulu. Sebentar lagi aku kesitu." Setelah itu Sunday menutup telepon. Tapi ia terlonjak kaget saat tanpa ia sadari Faris ada disampingnya dan menguping pembicaraannya dengan Lita.


"Ahh, mengagetkan saja." Sunday memukul bahu Faris. Faris mengaduh dan terduduk. Sunday jadi panik karena itu memang pukulan paling keras yang ia lakukan.


"Auwww, sakit sekali." Keluh Faris.


"Yang mana? Apa sakit sekali?" Sunday mengelus bahu Faris.


"Bukan sebelah situ."


"Sebelah mana?" Sunday masih meraba bahu Faris.


"Sebelah sini." Faris meletakkan tangan Sunday tepat di dadanya. Dititik yang tepat dimana debaran Faris terasa sangat cepat. Sunday terkesiap dan tiba-tiba saja turut merasakan hal yang sama.


Mereka saling merasakan debaran masing-masing dengan pandangan mata yang saling berbicara. Ya, berbicara dari hati ke hati.


Tiba-tiba pintu terbuka.


"Faris..." Dengan suara khas cerianya Gina memanggil nama Faris saat muncul dipintu yang terbuka itu. Tapi lalu ia terpaku di tempatnya melihat Faris dan Sunday duduk sedekat itu dengan beradu pandang dan saling berpegangan tangan.


"Kalian sedang apa?"



🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


**Hai Kakak-kakak, beginilah ekspresi Gina saat memergoki Faris dan Sunday sedang berduaan.


Kalau Kakak-Kakak semua, kira-kira apa yang akan dilakukan jika melihat orang yang disukai berdekatan dengan orang lain?


Kalau aku pasti langsung beli es cendol sekolam terus nyebur di dalamnya biar tidak 'panas dalam' 😁


Btw, terima kasih sudah setia menunggu ceritaku terbit dan memberi semangat dengan πŸ‘ dan menjadikan NONA HARI MINGGU sebagai ❀


Itu semua sangat berharga buatku πŸ€—

__ADS_1


See you next episode... 😊**


__ADS_2