Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Halusinasi Visual


__ADS_3

"Siapa itu, Sun?" Tanya Mamanya saat Sunday menutup kembali pintu rumahnya. Rupanya Mamanya mengintip Sunday dari balik gorden cendela rumahnya saat ia mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.


"Oh itu Kak Victor."


"Penjaga laboratorium itu?" Sunday mengangguk.


"Awalnya ku pikir dia Faris. Tapi lama ku lihat sepertinya bukan."


"Ahh Mama, Faris terus yang diingat."


"Habisnya tidak banyak teman priamu dan yang paling sering main denganmu juga hanya dia." Goda mamanya.


"Apa sih Mama ini." Sunday mencoba menyembunyikan wajah gugupnya digoda seperti itu dengan menuju ke meja makan dan mengambil air minum.


"Kenapa tidak pacaran saja dengan Faris. Dia kelihatannya baik." Mamanya masih gencar menggoda. Sunday melotot.


"Mama... disaat ibu-ibu yang lain mati-matian melarang anaknya untuk pacaran dan mendukung anaknya lebih fokus sekolah, ini Mama malah dengan bahagianya menyuruh anaknya pacaran."


"Hei kau tahu, sebagai Mamamu tentu saja Mama khawatir denganmu. Kau terlalu sering bersama Suzan & Windy, Mama takut kalau kau mengalami semacam ketidaknormalan."


"Tenang Ma, aku 100% normal. Normal senormal normalnya. Saat aku melihat Robert Pattinson, aku masih naksir banget, Ma. Mungkin kalau ketemu Harry Styles juga akan histeris girang. Jadi itu tandanya naluri kewanitaanku masih berfungsi dengan sangat baik. Hanya saja untuk berpacaran dengan siapapun aku masih belum mau. Belum ada yang masuk di kriteriaku." Sunday menjelaskan.


"Oke baiklah, kalau Faris tidak masuk dalam kriteria calon pacar, kau bisa mencobanya dengan Victor. Mama lihat sepertinya dia cukup tampan." Mamanya tidak mau menyerah.


"Ya Tuhan, Mama... tidak ada hentinya ya. Kalau aku belum mau, itu artinya memang belum mau." Sunday meletakkan gelasnya di tempat cuci piring dan mencucinya sekalian.


"Mama tahu kan kalau untuk menyukai seseorang tidak semudah itu. Aku belum merasakan apa yang seharusnya aku rasakan pada pria manapun saat ini."


"Tuh kan..." Keluh Mama Sunday


"Tapi itu bukan berarti aku jadi lesbian, Ma. Mama jangan berimajinasi yang macam-macam."


"Sebenarnya Mama sangat khawatir terhadapmu. Sejak putus dengan Revan aku lihat kamu tidak pernah lagi pacaran."


Sunday memandang mamanya lekat. Ia jadi tahu apa yang terjadi sekarang. Mamanya mungkin mengkhawatirkannya. Mamanya memang sangat pandai dalam hal ini. Pandai sekali dalam mengkhawatirkan segala yang menyangkut dirinya. Mamanya khawatir Sunday tidak percaya lagi kepada pria manapun. Padahal tidak semua pria sama seperti Papanya atau seperti Revan.

__ADS_1


Mendengar nama Revan, Sunday jadi mengingat kembali kenangan dengan pacar pertamanya itu. Pacarnya saat SMA yang pergi meninggalkannya untuk bersama sahabatnya sendiri.


"Mama..." Sunday sekarang memeluk pundak mamanya yang duduk disebelahnya. "Akan ada saatnya seseorang mengalami yang namanya jatuh cinta. Dan saat itu pasti akan datang. Tapi entah kapan dan dengan siapa, kita tidak pernah tahu." Sunday berkata lembut.


"Lagipula daripada Mama sibuk menyuruhku untuk segera berpacaran, kenapa bukan Mama sendiri saja yang mencari pacar."


"Hei, Mama Sudah setua ini mana boleh berpacaran." Mata mamanya terbelalak memandang Sunday yang cengengesan.


Sebenarnya bukan kali ini saja Sunday menginginkan mamanya untuk memiliki hubungan baru. Sudah sangat lama sekali mamanya sendiri sejak ditinggal papanya. Dan selama itu pula mamanya tidak pernah terlihat dekat bahkan punya hubungan dengan seorang pria.


"Kenapa tidak, Ma. Mama tidak setua itu untuk menikah lagi. Aku juga tidak keberatan memiliki Papa baru. Asal Mama mencintainya dan bahagia bersamanya, aku tidak akan masalah."


"Sunday, bagi Mama cinta dan kebahagiaan itu adalah kamu. Tidak ada hal lain yang Mama harapkan lagi selain kebahagiaanmu. Mama sangat bahagia memilikimu. Mama tidak butuh pria manapun. Mama tidak akan memberikan Papa tiri kepadamu. Itu mungkin saja akan membagi perhatian Mama darimu. Mama sangat menyayangimu." Mamanya sekarang melingkarkan lengannya pada Sunday dan menyandarkan kepala dibahunya.


"Aku juga sangat menyayangi, Mama." Sunday memegang lengan mamanya dan merasakan sejenak kasih sayang antara ibu dan anak.


🌸🌸🌸


"Kenapa kau dorong-dorong itu motormu?" Tanya bang Joni yang sudah sejak tadi melihat Sunday dari kejauhan mendorong motor menuju bengkelnya.


"Sudah kau starter manual?"


"Sudah, Bang. Sampai gempor kakiku."


"Baiklah, biar ku lihat nanti. Aku mengerjakan yang ini dulu." Menunjuk motor seorang pelanggan yang menuggu di bangku tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Asisten Abang mana?" Sunday celingukan mencari rekan Bang Joni yang biasa bekerja dengannya.


"Tidak masuk dia hari ini. Sakit gigi katanya." Joni mengambil kunci mau membuka salah satu onderdil motor di depannya.


"Berarti motorku masih lama ya, Bang?"


"Setelah ini, Sun."


"Wah, tidak bisa ku bawa ke kampus dong."

__ADS_1


"Bawa saja." Kata Joni dengan senyum lebar. "Tapi doronglah." Lalu ia tergelak. Sunday manyun.


Bengkel Bang Joni adalah langganan Sunday. Meskipun hanya bengkel kecil tapi bang Joni cukup berpengalaman soal motor. Mulai dari ganti oli sampai perbaikan, Sunday biasa mempercayakannya pada Bang Joni. Rumah mereka juga tidak jauh. Masih satu RT. Jadi enaknya lagi, Sunday tidak harus nongkrong di bengkel sambil menunggu servis motor, tapi bisa ditinggal pulang dulu. Nanti setelah selesai tinggal diambil. Malah kalau ada pegawainya yang lain, bisa diantar ke rumah Sunday kalau motornya sudah selesai dibetulkan.


"Ya sudah, aku tinggal dulu saja, Bang."


"Iya, nanti kalau sudah selesai, ku kabari kau."


"Oke, bang." Sunday segera pulang karena harus bersiap ke kampus. Sunday tidak mau terlambat lagi mengikuti kelas seperti kemarin. Hari ini dia masih harus naik angkot lagi.


🌸🌸🌸


Baru pukul 10 pagi tapi cuaca sudah sangat panas. Sunday harus rela berdesakan dengan penumpang angkot lain. Badannya sudah merasa gerah. Masih setengah perjalanan lagi dan Sunday harus bersabar.


Rasanya sudah lama Sunday tidak menaiki angkot. Terakhir sepertinya waktu awal-awal duduk di bangku SMA saat dirinya belum memiliki motor.


Angkot berjalan santai dan membuat angin yang masuk juga tidak seberapa. Sunday melihat keluar cendela angkot. Ia benar-benar sangat merindukan motornya.


Sunday masih mencoba menikmati perjalanan ketika matanya menangkap pemandangan yang menarik perhatiannya di depan sebuah kafe yang ia dilewati. Faris keluar dari mobil dan diikuti seorang gadis yang keluar dari sisi pintu yang lain. Sunday mencoba memastikan siapa gadis itu tapi angkot yang ditumpanginya terus berlalu sehingga tidak terlihat wajah gadis itu.


Dadanya tiba-tiba sesak. Kepalanya seperti berdenyut. Ia sangat penasaran dengan gadis yang bersama Faris.


Kenapa aku penasaran? Bukankah bukan hal baru jika Faris bersama seorang gadis? Sudah menjadi hal biasa Faris bersama gadis manapun. Batin Sunday. Meskipun hatinya mencoba tidak peduli tapi kepalanya seolah tidak bisa berhenti berfikir tentang siapa gadis itu.


Tiba-tiba Sunday merasa sangat bodoh. Bagaimana dia mau mengakui dirinya sebagai pacar Faris kepada maminya sementara Faris bisa pergi dengan gadis manapun semaunya. Hah, bisanya hanya memanfaatkan orang lain. Ya, memanfaatkan status mahasiswa Sunday agar orang tuanya tidak memaksanya menikah dalam waktu dekat. Sunday menggelangkan kepalanya tanpa sadar. Hatinya masih sesak entah kenapa. Sepertinya udara panas membuatnya susah bernafas. Pikirnya.


Sementara saat Faris menoleh ke belakang ke arah jalan, ada sebuah angkot yang lewat. Seperti mengenal seseorang di dalam angkot itu Faris berusaha memastikan.


"Seperti Sunday?" Gumamnya perlahan masih mengikuti arah angkot itu pergi.


"Ahh, mana mungkin Sunday naik angkot." Dia lalu tersenyum sendiri menyadari kegilaannya.


"Faris, ayo." Ajak gadis yang bersamanya. Lalu Faris berjalan menghampiri. Membiarkan lengannya digandeng dan berjalan bersebelahan. Tapi pikiran Faris masih kemana-mana.


Aku benar-benar sudah gila. Aku mulai sering berhalusinasi tentangnya. Bahkan aku bisa melihatnya disemua tempat. Apa karena aku sangat merindukannya. Gadis itu benar-benar menyiksaku dengan membuatku terus merindukannya. Faris berfikir tentang kegilaannya.

__ADS_1


__ADS_2