
"Faris, tunggu..." Suara Gina dari arah cafetaria dan membuat Faris menghentikan langkah untuk menyusul Sunday. Akhirnya ia membiarkan Sunday terus berlalu dan menunggu Gina yang berlari menghampirinya.
"Ahh, baru berlari sejauh ini saja aku sudah sesak nafas. Entah aku bisa atau tidak nanti saat berkompetisi." Gina memegang lengan Faris menjadikannya sebagai tumpuan sementara ia mengatur nafasnya yang terengah-engah tidak beraturan.
"Kau pasti bisa. Tapi kalau merasa tidak mampu, lebih baik menepilah dan menjadi penyemangat saja. Kau boleh tidak ikut berpartisipasi langsung."
"Ahh, tidak. Ini adalah momen setahun sekali yang aku juga sangat suka mengikutinya. Bagiku segala kompetisi ini mengingatkanku pada masa kecilku saat mengikuti lomba 17an." Wajah Gina tampak antusias.
"Kau tahu lomba apa yang paling ku sukai?" Gina menatap ke arah Faris yang berjalan di sampingnya.
"Apa?" Faris juga menoleh kepada Gina.
"Lomba makan kerupuk."
"Kenapa?"
"Karena aku suka ngemil." Lalu Gina tertawa garing.
"Oh..." Faris hanya memberinya senyum sambil matanya masih mencari-cari ke arah mana Sunday pergi.
"Ayo kita ke sana." Gina mengajak Faris menuju ke tempat panitia berkumpul. Faris mengikuti Gina karena sudah menemukan Sunday yang sedang duduk di bangku di bawah pohon tepi tempat parkir.
Di tempat panitia sudah ada Pak Sasono, Om Rudi dan Kak Novi yang ikut meramaikan kompetisi kali ini. Mereka akan tergabung menjadi satu dalam tim eksklusif para petinggi Font.
Dari tempatnya berdiri, Faris bisa melihat Sunday berbincang dengan teman-teman satu timnya. Entah apa yang mereka rencanakan tapi Faris tahu sesekali Sunday melihat ke arahnya dengan pandangan tidak suka. Kemudian Faris sadar Gina berdiri di sebelahnya. Faris menyungging senyum simpul melihat ekspresi Sunday.
Terus saja keras kepala agar kita tetap backstreet. Kita lihat saja sampai kapan kau bisa bertahan. Faris masih dengan melempar senyum kepada Sunday di ujung pelataran parkir.
Ketua panitia memberikan toples berisi kertas pilihan tim yang akan dimasuki Faris. Setelah mengambil lalu Faris menyerahkan kembali kepada ketua panitia yang juga sebagai pembawa acara itu.
"Dan... akhirnya, tim yang beruntung mendapatkan dukungan penuh secara langsung dari yang mulia Project Sponsor kita adalah tim... Fedora." Pembawa acara berseru dan langsung disambut riuh oleh tim Sunday dan kawan-kawan. Lita bahkan sampai bersuit saking girangnya. Sunday tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Ia turut tersenyum gembira mendengar nama Fedora di sebut. Diseberang pelataran dibawah tenda panitia tampak Faris tersenyum jumawa memandang Sunday yang membalasnya dengan tawa lebar.
Melihat itu, sudah bisa dibayangkan bagaimana wajah Gina. Seperti ada mendung tebal yang memayunginya dengan kilat yang menyambar-nyambar. Bagaimana bisa Faris dan Sunday berada dalam satu tim. Itu membuatnya menjadi tidak punya kesempatan untuk dekat-dekat dan memanfaatkan situasi agar bisa menarik perhatian Faris.
"Baiklah, sudah ditentukan siapa yang akan mendapat dukungan penuh bos kita. Jadi mari segera kita mulai kompetisi demi kompetisi hari ini."
Faris berjalan meninggalkan tenda panitia dan menghampiri tim fedora. Tim fedora seperti mendapat kehormatan menerima kehadiran Faris ditengah-tengah mereka.
"Selamat datang di tim kami, Pak. Kami sangat senang akhirnya Pak Faris masuk ke dalam tim kami." Pak Dedi senang sekali melihat Faris berdiri dihadapannya.
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik dan menjadi tim yang solid." Balas Faris.
"Pasti Pak." Pak Dedi penuh semangat.
"Baiklah, silakan Pak Dedi atur peserta yang akan mengikuti kompetisi."
"Silakan Pak Faris saja."
"Tidak, saya disini sebagai anak buah. Dan Pak Dedi tetap adalah ketua tim."
"Ahh, jangan begitu. Mana bisa saya melakukannya."
"Pak Dedi bisa memimpin tim fedora dengan baik, jadi anggap saja saya adalah bawahan Anda hari ini."
"Benarkah, Pak?" Pak Dedi seperti tidak percaya hari ini ia diberikan kedudukan lebih tinggi daripada bosnya.
"Ya. Jadi silakan beri kami tugas."
__ADS_1
"Baiklah..." Pak Dedi mulai memperhitungkan jenis lomba dan menyesuaikan dengan kemampuan timnya.
"Ahh, Pak Faris aku padamu." Gumam Lita di dekat Sunday. Sunday seketika melirik tajam ke arah Lita yang kemudian salah tingkah.
"Aku hanyalah salah satu fans-nya, tidak lebih. Aku janji." Lita mengerjapkan matanya kepada Sunday.
"Berani macam-macam kepada pacarku, ku habisi kau." Sunday pura-pura mengancam.
"Wah, ini baru namanya pacar sadis. Aku suka gayamu yang ini. Kau harus tegas ketika pacarmu ada yang mendekati. Ku harap itu berlaku juga kepada Gina." Bisik Lita di telinga Sunday. Sunday memperhatikan Faris yang masih berbincang dengan Pak Dedi, Boby dan Mario tentang pembagian tugas kompetisi.
"Sunday, Lita, kemarilah... kalian bukan ibu-ibu PKK jadi jangan memojokkan diri saja." Pak Dedi melambaikan tangan menyuruh mereka mendekat. Faris menatap Sunday tapi kemudian Sunday memalingkan wajah. Takut jika pandangan mereka diartikan berbeda oleh orang-orang di dekat mereka.
Setelah melakukan perundingan kecil, akhirnya ditetapkan siapa saja yang akan mengikuti kompetisinya. Kali ini pertandingan pertama adalah lomba balap bakiak. Masing masing berisi 3 orang peserta. Tim fedora mengirim Sunday, Lita dan Boby.
Faris dan Sunday meski satu tim tapi mereka berpura-pura seperti dua orang asing yang tidak dekat. Lita yang melihat itu jadi menahan senyum. Menyaksikan dua orang pacaran dengan cara backstreet itu kadang saling mencuri pandang dan melempar senyum sembunyi-sembunyi.
"Apa-apaan ini, dasar dua orang aneh." Gumam Lita saat melihat Sunday tersenyum kepada Faris yang sedang melipat asal lengannya hingga siku lalu dibalas kerlingan oleh Faris. Melihat mereka berdua, Lita serasa ikut berbunga-bunga. Tapi itu tidak berlangsung lama karena akhirnya kompetisi balap bakiak segera di mulai. Sunday, Lita dan Boby sudah ada di posisi mereka. Di samping mereka tim divisi kepegawaian tampak Gina juga tampil unjuk kebolehan bersama timnya.
Gina sedikit menatap sinis ke arah Sunday saat Sunday melempar senyum kepadanya. Ia tahu Gina mungkin kecewa karena tidak bisa satu tim dengan Faris. Terlebih saat ini Faris berdiri di samping Sunday sambil membisikinya sesuatu.
"Jangan panik, jangan tergesa, jaga kekompakan langkah kaki kalian." Pesan Faris kepada tim bakiak fedora.
"Baik." Jawab tim bakiak fedora kompak.
Dan beberapa saat kemudian lomba di mulai. Tim fedora bersaing dengan tim lain melaju menyamakan langkah untuk mencapai garis finish. Pertandingan berlangsung sengit. Sunday dengan usaha maksimal memacu langkahnya secepat dan sekompak mungkin agar tiba di garis finish dengan cepat dan selamat. Dan benar, usaha tidak akan membohongi hasil. Tim fedora memenangkan balap bakiak.
Tim fedora bersorak girang. Semua bertoas termasuk Sunday dan Faris yang kemudian diam-diam keduanya tersipu saat tangan mereka saling bersentuhan. Melihat itu dari kejauhan Gina seperti terbakar. Ia menghentakkan kakinya kesal.
Setelah lomba ini akan dilanjutkan dengan perlombaan tarik tambang. Untuk kali ini setiap tim diisi oleh enam orang itu artinya semua peserta fedora boleh berpartisipasi. Giliran pertama adalah tim fedora melawan tim ubuntu.
Tim fedora sudah memposisikan diri dan begitu pula dengan tim ubuntu. Sunday sudah mengambil posisinya tapi ia sedikit terkesiap saat menyadari yang ada di belakangnya adalah Faris.
"Sudah ku bilang aku suka dibelakangmu. Aku akan menjagamu dari sini." Sunday tersipu dan menahan senyumnya. Tapi Faris tahu itu dan sama tersenyumnya.
Perlombaan dimulai. Saling tarik dari kedua tim benar-benar sangat alot. Sunday meskipun mungil tapi ia berusaha sekuat tenaga. Faris juga berusaha sangat keras dan didukung semua tim di belakangnya. Akhirnya tim lawan terseret oleh tim fedora. Kemberhasilan mereka ditandai dengan robohnya tim fedora yang berhasil menarik tambang ke arah mereka. Otomatis mereka ambruk dan Sunday jatuh tepat diatas Faris.
Untuk beberapa saat Sunday merasakan kepalanya tertahan oleh lengan Faris. Lalu Sunday berbalik dan mendapati wajah Faris yang berada sangat dekat dengannya. Sunday seketika memalingkan wajahnya kembali melihat senyum malaikat Faris sedekat itu.
Sadar pada kemenangan yang mereka dapatkan, Sunday bergegas bangun dari jatuhnya dan di susul Faris yang kemudian mengibaskan baju dan celananya yang kotor. Sunday berusaha seperti tidak terjadi apa-apa. Ia kembali bergabung dengan Lita dan teman-temannya yang lain.
Berikutnya adalah giliran tim lain yang berlomba yaitu tim Gina dan tim Red Hat. Semua orang menyoraki memberi semangat kepada kedua tim. Termasuk Sunday yang ikut bertepuk riuh bak suporter bola.
Perlombaan tarik menarik pun di mulai. Dan ternyata berlomba sendiri atau menonton ternyata itu sama-sama serunya. Sunday juga sangat menikmati tontonan di depannya. Dan akhirnya pemenangnya adalah tim divisi kepegawaian milik Gina. Gina bersorak gembira. Pandangan matanya tertuju pada Sunday karena mereka akan bertanding langsung setelah ini demi mengetahui pemenang yang sebenarnya. Sunday membalas pandangan menantang Gina.
Perlomban tarik tambang menghasilkan 4 tim menang yg akan diambil 1 tim yg bertahan hingga akhir. Kali ini tim fedora bertanding kembali dengan tim kepegawaian.
"Sudah siap, fedora?" Pak Dedi menyemangati timnya
"Siap." Jawab tim fedora termasuk Faris dengan posisi sama seperti tadi, di belakang Sunday. Melihat itu Gina muak. Mereka jadi sedekat itu sekarang. Hatinya panas menyaksikan Faris dan Sunday yang diam-diam saling curi pandang.
Perlombaan dimulai dan kali ini tim fedora menang lagi. Itu artinya kesempatan tim fedora semakin besar untuk jadi pemenang dengan bertanding sekali lagi dengan tim red hat. Tapi sayangnya saat melawan ubuntu, fedora harus tersisih.
"Tidak apa-apa, kita sudah berusaha keras." Ujar pak Dedi membesarkan hati timnya.
"Kerja bagus, anak-anak." Kata Pak Dedi sambil bertepuk tangan. Walaupun Boby agak kecewa juga menerima kekalahan mereka.
"Tidak apa-apa, Bob. Ini hanya permainan." Faris menepuk pundak Boby.
__ADS_1
"Iya Pak." Boby menanggapi dengan lesu.
Perlombaan terjeda di jam makan siang. Jadi semua peserta dipersilakan untuk beristirahat. Faris menghampiri Sunday dan Lita yang duduk di bawah pohon.
"Pacarmu, Sun." Lita menyenggol bahu Sunday yang meminum habis air mineralnya. Ketika Faris sudah dekat, Lita pamit untuk ke cafetaria lebih dulu.
"Mari Pak." Sapa Lita dan dibalas anggukan kepala Faris. Lalu kemudian Faris duduk di sebelah Sunday.
"Kau lelah?" Tanya Faris.
"Lumayan. Terakhir kali saat SMA aku berolah raga dengan serius jadi hari ini seperti mengulang kembali semua itu." Sunday tertawa kecil.
"Kerjamu hanya tidur sepanjang hari. Tidak pernah menyempatkan diri untuk olah raga."
"Biar saja." Sunday menoleh ke arah Faris yang sedang merapikan rambutnya. Tepat saat itu Sunday melihat punggung tangan Faris tampak lecet. Sunday lalu meraih tangannya.
"Kenapa ini?"
"Entahlah, mungkin itu hasil saat aku terjatuh tadi." Jawab Faris santai.
"Tunggulah di sini, kan ku ambilkan sesuatu." Sunday beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Teriak Faris kepada Sunday yang tidak menghiraukannya.
Sunday tergopoh menuju klinik Font untuk meminta sedikit perlengkapan P3K. Setelah itu Sunday langsung kembali. Tapi langkahnya melambat saat melihat Gina menghampiri Faris dan menyodorkan minuman dingin kepadanya. Hati Sunday mencelos.
Gina seperti selalu mencari celah diantara Sunday dan Faris. Baru saja Sunday beranjak sebentar, dia sudah mendekati Faris seperti itu. Benar-benar tukang pencari kesempatan. Dan sepertinya mulai kali ini Sunday harus lebih tegas mensikapi Gina yang sering mengabaikan bahwa Faris adalah pacar Sunday.
Baiklah... Perlahan Sunday mendekati Gina dan Faris.
Gina bisa mengesampingkan aku sebagai pacar Faris dan tetap mendekatinya seperti itu. Jadi, aku juga akan melupakan bahwa sudah merebut orang yang juga dia sukai dan berhenti merasa bersalah. Gina, mari kita lihat bagaimana aku bisa memperlakukanmu kali ini. Sunday berjalan membawa kotak P3K ke arah Faris.
Tanpa canggung Sunday kemudian duduk diantara Faris dan Gina yang sebelumnya Sunday sempat memindahkan minuman dingin Faris yang diletakkan diantara duduk mereka.
"Permisi, beri tempat pada perawat untuk melakukan tugasnya." Ujar Sunday dengan senyum dibuat semanis mungkin sambil membuka kotak P3K. Gina tampak terganggu dengan kehadiran Sunday dan menggeser duduknya.
"Kenapa Ris?" Tanya Gina melongok ke arah Faris yang lukanya dibersihkan menggunakan alkohol 70% oleh Sunday.
"Hanya luka kecil."
"Oohh..."
"Luka kecil pun kalau terinfeksi bisa membahayakan, kau tahu." Ujar Sunday seperti masih tidak menghiraukan keberadaan Gina di sana.
Setelah memasang plester pada luka Faris, lalu dengan sengaja Sunday meraih minuman dingin pemberian Gina dari tangan Faris yang lain. Membuka tutupnya yang masih tersegel dan meminum isinya hingga tinggal setengah.
"Wah, segar sekali." Ucap Sunday sarkas. Sunday melirik Gina dan mendapati wajahnya menjadi merah padam. Gina kesal karena minuman itu untuk Faris tapi malah diminum oleh Sunday.
"Baiklah, aku pergi dulu." Pamit Gina yang merasa kesal kepada Sunday.
"Oh iya, Gin." Jawab Faris dan Sunday bersamaan. Sunday malah menyertainya dengan tersenyum lebar sambil menatap Gina penuh kemenangan. Gina semakin kesal melihat itu dan berjalan terburu-buru meninggalkan mereka.
Sepeninggalan Gina, Sunday meminum kembali minuman dingin milik Faris.
"Kau ini haus atau suka?" Faris menatap heran Sunday yang masih meneguk minuman ditangannya hingga habis tak tersisa.
"Aku menyelamatkanmu dari minuman mengandung jampi-jampi yang Gina berikan padamu." Sunday meletakkan botol kosong itu ke tangan Faris lalu beranjak pergi. Faris tersenyum lucu melihat tingkah Sunday yang tak biasa itu.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" Faris menatap Sunday yang berjalan menjauhinya sambil tertawa kecil.