
Ruangan bercat putih itu tampak sepi. Ia letakkan kembali ponsel di meja kerjanya dengan kesal.
"Dia mulai mengingkari janji." Gumam Mery masih dengan jas putihnya setelah menerima telepon dari Faris.
Seorang perawat masuk memberitahukan bahwa seorang pasien akan segera masuk. Mery mempersilakan. Bagaimanapun juga meski suasana hatinya buruk, ia harus tetap bekerja. Berwajah manis dihadapan semua pasien yang datang menemuinya.
🌸🌸🌸
Siang ini panas sekali. Rasanya matahari hanya berada sejengkal saja diatas kepala. Sunday meminum es tehnya untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering. Windy masih asyik menekuni ponselnya. Entah sedang melakukan chatting dengan siapa. Wajahnya tampak serius.
"Sunday..." sapa seseorang yang begitu riuh menuju ke arahnya. Serta merta Sunday menoleh ke arah suara. Windy juga.
"Berisik sekali." Keluh Windy saat Suzan yang baru selesai melakukan bimbingan tugas dengan dosen dan sudah duduk disebelahnya.
"Kau ini sudah mirip seperti ibu menteri saja. Susah sekali bisa menemuimu apalagi untuk bisa duduk denganmu seperti ini." Suzan mulai hiperbola.
"Apa sih, Suz." Sunday terkekeh sendiri menyaksikan ulah temannya yang memeluknya erat.
"Pasti Victor sudah sangat kejam memberimu banyak tugas hingga kau tidak sempat bermain dengan kami."
"Begitulah... tapi sebenarnya dia tidak seburuk itu."
"Benarkah?" Suzan menyelidik, mencondongkan wajahnya ke dekat wajah Sunday.
"Yaa... Akhir-akhir ini dia tampak menjadi baik."
"Oh ya?"
"Itu sungguh mencurigakan." Suzan tampak berfikir.
"Mencurigakan kenapa?" Sunday melirik Suzan yang masih melingkarkan tangan ke tubuhnya.
"Entahlah... ahh, yang penting hari ini kau libur, itu sudah cukup bagi kita." Mempererat pelukannya. Sepertinya dia memang sangat merindukan Sunday. Berhari-hari Sunday tidak bisa bersama mereka. Mereka hanya bertemu saat di ruang kelas dan setelah kelas berakhir Sunday segera kembali ke laboratorium.
Sedang ada penggantian perangkat untuk laboratorium sehingga Sunday memiliki banyak tugas dalam instalasi software dan hardware. Dari 40 buah PC yang diganti, itu hanya dikerjakan oleh Sunday dan Victor. Sehingga Sunday sangat sibuk dan hampir tidak punya waktu santai di kampus.
"Oppa..." Windy yang sejak tadi hanya menonton adegan drama Sunday dan Suzan mendapati Faris duduk disebelahnya. Kedua temannya menoleh ke arah Windy yang duduk di samping mereka.
"Hai..." Faris menebar senyumnya. "Sun, hari ini kamu magang?" Lalu katanya kemudian.
"Hari ini libur." Jawab Sunday singkat.
"Pas sekali. Ayo kita pergi." Ajak Faris.
"Eits, kemana?" Suzan tampak panik.
"Jalan." Jawab Faris.
"Tidak, baru saja Sunday punya waktu luang bersamaku masa iya harus pergi begitu saja." Suzan yang sudah melepas pelukannya kini kembali memeluk erat Sunday lagi. Sunday gelagapan karena tindakan Suzan yang tiba-tiba. Faris menautkan alisnya heran. Windy menahan tawa.
"Kau tahu, Oppa. Akhir-akhir ini Sunday sibuk sekali. Bahkan dia tidak punya waktu bersantai, jadi biarlah dia menikmati waktunya."
"Kau pikir cuma dirimu yang ingin menghabiskan waktu bersama Sunday. Pacarnya juga."
"Pacar?" Suzan & Windy serempak lalu memandang Sunday.
"Itu tidak seperti yang kalian fikirkan. Bukan begitu." Sunday gugup dan bingung harus bagaimana menjelaskan pada teman-temannya.
__ADS_1
"Faris, kau ini apa-apaan sih." Sambil sedikit mengecilkan suaranya. Tapi Faris malah cengengesan.
"Sebentar... aku proses datanya dulu ya." Windy mulai tertarik pada pembicaraan itu.
"Pertama Oppa datang kemari mengajak Sunday jalan. Lalu Oppa mengatakan kalau juga butuh menghabiskan waktu dengan pacarnya. Sedangkan data yang ada, aku bukan pacar Oppa. Apa kau pacar Oppa, Suz?" Suzan menggeleng. "Jadi satu-satunya data paling akurat sebagai pacar oppa adalah kau." Windy menunjuk Sunday yang sedikit panik.
"Tidak... bukan begitu. Begini... emm... bagaimana aku harus memulai..." Sunday bingung bagaimana harus menceritakan yang sebenarnya.
"Sudahlah katakan saja pada mereka kalau kita memang berpacaran sekarang. Biar cepat selesai urusannya dan kita bisa segera pergi." Faris semakin melebarkan senyumnya melihat wajah Sunday yang panik.
"Hei, bisa diam tidak." Suara Sunday meninggi sambil memelototi Faris.
"Sudahlah, aku tidak mau menunggu lebih lama lagi." Faris menarik tangan Sunday agar bangun dari tempat duduknya. "Baiklah... aku pinjam Sunday dulu." Faris masih menggandeng tangan Sunday meninggalkan kedua temannya yang belum bisa berkata apa-apa pada fenomena yang baru saja terjadi.
"Hei, apa-apaan ini." Sunday mencoba melepas genggaman tangan Faris yang tidak juga merenggangkannya. Beberapa mahasiswa melihat itu. Sunday jadi malu meronta berusaha melepaskan diri. Akhirnya dia pasrah tangannya digandeng tapi kemudian menutupinya dengan tas slempangnya. Terlalu memalukan baginya bergandengan tangan di kampus seperti itu.
Akhirnya Faris melepas tangannya saat mereka sampai di tempat parkir. Membukakan pintu mobilnya untuk Sunday.
"Hei, ngomong-ngomong aku belum mengatakan setuju pergi denganmu."
"Aku tidak butuh persetujuanmu. Aku kan pacarmu masa iya kau tidak setuju pergi denganku."
"Mulai lagi..." Sunday memutar bola matanya malas. Faris tersenyum.
"Kita mau kemana?"
"Aku mau kau ikut denganku ke suatu tempat." Faris mulai menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir.
"Kamu tidak sedang ingin menculikku kan?"
"Mana ada penculik setampan ini. Yang ada mereka yang ku culik pasti akan dengan rela menyerahkan jiwa raganya padaku."
"Hei, kita akan kemana?" Sunday mengulang lagi pertanyaannya.
"Ke suatu tempat"
"Dimana?"
"Nanti kau akan tahu."
Mobil Faris berbelok pada distro di sebuah ruko.
"Ayo turun." Sunday menurut. Faris memasuki distro dan langsung menuju tempat dimana deretan baju wanita berjajar warna-warni segala bentuk dan rupa. Faris tampak memilih satu per satu lalu.
"Ehh, mau apa?" Sunday mengelak saat Faris mencoba menempelkan salah satu dress ke badannya.
"Kau kecil sekali, mungkin size S cukup untukmu." Gumam Faris mencoba menerka ukuran baju yang ia pasangkan di badan Sunday.
"Aku bukannya kecil, tapi aku itu imut." Gerutu Sunday. Faris hanya tersenyum. Hari ini Faris tampak sering sekali tersenyum.
"Lagipula kenapa ke tempat ini? Ini tempat yang kau bilang tadi?" Sunday masih membuntuti Faris yang masih sibuk memilih pakaian wanita di depannya.
"Bukan." Jawab Faris singkat seolah ia sedang sangat berkonsentrasi dengan aktifitasnya.
"Lalu?"
"Kalau harus mengantarmu pulang dulu, berganti baju dulu, itu akan memakan waktu lama, jadi kau ganti baju disini saja dan langsung ke tempat temanku."
__ADS_1
"Aku tidak membawa baju ganti." Wajah Sunday polos. Faris memandangnya sejenak.
"Kau pikir apa yang sedang kulakukan sekarang? Aku sedang memilih baju untukmu."
"Untuk apa? Memangnya kenapa kalau aku pergi dengan penampilan seperti ini? Kalau memang tidak suka dengan penampilanku, kau tidak perlu mengajakku. Aku nyaman dan sangat menyukai penampilanku." Faris memandang Sunday yang menggunakan kemeja oversize dan midi skirt serta sneakers.
"Aku sangat menyukai penampilanmu yang apa adanya. Kau juga selalu percaya diri dengan semua yang kau pakai. Itu membuatmu terlihat cantik." Faris memegang kedua pundak Sunday dan memberinya senyum malaikat ala dirinya.
"Tapi kali ini kau harus terlihat jauh lebih cantik." Sunday merasakan pipinya menghangat. Pujian Faris membuatnya merona.
Faris seperti tidak memperhatikan itu, ia kembali memilih dress yang kira-kira cocok untuk Sunday. Akhirnya, sebuah dress berhasil menyita perhatian Faris. Melihat sizenya dan menanyakan kepada penjaga distro untuk ukuran S.
Beberapa saat kemudian seorang penjaga toko datang mengantarkan permintaan Faris.
"Ini cobalah." Faris menyodorkan dress itu. Ragu-ragu Sunday menerimanya. Tapi tak urung Sunday mencobanya juga di kamar ganti.
Sunday keluar dari kamar ganti dengan dress berwarna dusty pink, dengan potongan kerah sabrina dan bagian bawah berlaser cut membentuk aksen bunga. Sangat cantik dan pas sekali di tubuh Sunday.
Faris mengembangkan senyumnya lagi dan masih dengan khas malaikatnya.
"Cantik..." Kata itu keluar begitu saja dari bibir Faris. Sunday tampak sedikit salah tingkah mendengar pujian itu.
"Dressnya." Faris meralat. Sunday manyun. Kemudian Faris tergelak.
"Suka sekali mempermainkan perasaan orang lain. Aku sudah terlanjur suka dibilang cantik. Ehh, ternyata buka untukku pujian itu, tapi untuk baju ini." Gerutu Sunday berjalan ke arah Faris.
"Tidak... kau benar-benar cantik. Aku serius." Faris sudah menghilangkan tawanya dan menggantinya dengan tatapan lembut tanpa melepas senyumnya. Pandangannya seolah belum ingin beralih dari Sunday.
"Pakai juga ini." Tunjuk Faris pada sebuah sepatu berhak tahu dengan tali kecil di bagian atasnya berwarna hitam yang tidak kalah cantiknya. Sunday menurut dan sempurnalah sekarang penampilannya.
"Aku merasa menjadi Cinderella. Tiba-tiba menjelma menjadi putri semalam. Ehh, putri sesore." Sunday terkekeh sendiri memandang dirinya di depan cermin di salah satu sisi distro.
Ia teringat beberapa film yang didalam ceritanya juga hampir sama dengan yang ia alami. Seorang pria tampan membawa seorang wanita ke sebuah tempat belanja dan membelikannya semua yang bisa membuat wanita itu terlihat cantik. Dan kini dia benar-benar mengalami itu.
"Sudah, jangan terlalu lama memandang cermin. Bisa pecah nanti." Goda Faris. Sunday tersadar dan menoleh dengan malu karena tertangkap berlama-lama berada di depan cermin.
"Aku terlalu cantik untuk melewatkan cermin manapun." Sunday lalu tersenyum mengejek.
"Kau bilang aku narsis tapi lihatlah dirimu tidak jauh berbeda." Faris menyindirnya dan Sundya hanya menjulurkan lidahnya.
Setelah membayar belanjaannya, kemudian Faris mengajak Sunday menuju ke mobil dan melanjutkan perjalanan.
"Jangan tidur." Suara Faris disela obrolan tidak penting mereka.
"Siapa yang tidur."
"Kau. Bukankah kebiasaanmu adalah tidur saat berada di mobilku."
"Ahh, itu hanya kebetulan saja." Kilah Sunday.
"Kebetulan katamu. Tapi kenapa sering sekali?"
"Kau melebih-lebihkan saja."
"Aku tidak melebih-lebihkan. Itu fakta."
"Sudah jelas kamu yang berlebihan, masih saja mengelak."
__ADS_1
"Ya sudah anggap saja begitu biar kau senang." Faris mengalah kemudian. Ia tidak mau merusak suasana hati Sunday karena itu bisa merusak pesonanya. Ya, pesona Sunday yang membuat Faris jatuh cinta.