Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Menuju Dies Natalis


__ADS_3

Sunday membuka tas, mengambil ponsel di dalamnya. Nama Mama tertulis di layarnya.


"Iya Ma."


"Hai anak bandel, kenapa kau tidak ingin tahu keadaan Mamamu sama sekali?" Terdengar suara cerewet mamanya di seberang.


"Aku tahu Mama sehat. Kata Om Rudi mama sekarang juga jadi punya waktu untuk berkumpul dengan ibu-ibu komplek untuk senam pagi pada hari minggu dan mengikuti pengajian pada Kamis malam. Setiap awal bulan Mama juga mengikuti kegiatan PKK di tempat Mama. Aku rasa Mama lebih sehat dan lebih bahagia sekarang."


"Jadi kau fikir karena Mama lebih sehat dan lebih bahagia lalu tidak butuh kau hubungi?"


"Iya iya, Mama. Maafkan anakmu yang durhaka ini." Sunday cekikikan saat mengatakan itu.


"Mama kutuk jadi donat nanti kau."


"Enak itu, Ma." Terbayang kue donat bertabur toping aneka rasa muncul di kepalanya.


"Ini Mama sedang memakan donat. Salah satu murid Mama sedang ulang tahun dan membawakan Mama satu lusin donat."


"Wah... itu sangat menggiurkan."


"Pulanglah, nanti ku sisakan beberapa untukmu."


"Mama... itu pilihan yang sulit. Aku harus mengerjakan banyak project jadi kalaupun aku pulang pasti itu hanya akan memindahkan pekerjaanku ke rumah."


"Baiklah, aku benar-benar harus membuat Om Rudi memindahkanmu ke divisi yang tidak pernah sibuk."


"Mana ada, Ma. Semua divisi di sini memegang tanggung jawab padatnya masing-masing. Sudahlah... Mama tenang saja, begitu ada waktu luang aku pasti pulang."


"Baiklah, kau sudah berjanji. Jadi, kalau sampai terlalu sibuk lagi, aku yang akan memecatmu dari Font." Sunday tergelak.


"Iya... iya... Mama. Mama tidak ada jam mengajar?"


"Sebentar lagi Mama ada kelas. Sekarang anak-anak sedang berganti pakaian setelah olah raga."


"Ya sudah Mama bersiap-siaplah dulu. Aku juga sudah sampai Font."


"Oke, bekerjalah dengan baik tapi jangan terlalu sibuk."


"Siap, Ma." Setelah itu mamanya menutup telepon.


Memasuki pintu lobi Font, Sunday melihat layar plasma menampilkan agenda perayaan dies natalis Font yang ke-10 dan akan dirayakan akhir pekan ini. Hatinya menciut. Niatnya untuk pulang ke rumah mamanya jadi tertunda lagi. Ia sudah membayangkan pasti mamanya akan mengomelinya habis-habisan nanti.


Sunday masih berdiri di depan layar plasma itu.


"Kau mau hadiah apa?" Seseorang berdiri disampingnya sekarang.


"Hadiah?" Sunday memandang Lita.


"Ya, akhir pekan dies natalis akan diisi dengan berbagai kompetisi. Kompetisi dilakukan oleh setiap divisi."


"Oh ya? Pasti itu seru sekali." Sunday tampak antusias.


"Ya. Dan tahun kemarin divisi Red Hat adalah pemenang dari banyak kompetisi. Itu pun berturut-turut sudah 3 tahun terakhir kemarin. Aku harap tahun ini kita bisa merebut posisi top score mereka. Lagipula Rima sedang cuti jadi ku rasa kekuatan mereka berkurang."


"Begitu ya?"


"Rima itu selain cerdas dia juga cerdik. Banyak perlombaan yang dimenangkan olehnya. Jadi, karena dia cuti melahirkan, aku yakin dia tidak akan bisa mengikuti kompetisi apapun. Mari kita bantai semua divisi dan maju menjadi pemenang banyak perlombaan." Lita optimis.


"Baiklah. Aku siap." Sunday juga terlihat sangat bersemangat.


"Memangnya lomba yang digelar apa saja? Pasti salah satunya adalah membuat program dan sejenisnya."


"Tidak juga. Kalau dulu saat masa pemerintahan Pak Sasono lombanya meliputi kegiatan fisik yang bersifat rekreasi dan menghibur. Ya, tidak jauh-jauh dari lomba saat kita memperingati hari kemerdekaan negara kita dulu saat kecil." Lita tertawa kecil mengingat lomba-lomba yang pernah ia ikuti.


"Oh begitu. Aku pikir lomba yang diadakan akan sangat serius dan berhubungan dengan pemrograman."


"Menurut Pak Sasono lomba itu hanya untuk menyenangkan dan menghibur para pegawai jadi harus yang ringan dan fun. Project para pegawai saja sudah cukup menyita waktu, tenaga dan fikiran jadi tidak efektif kalau melakukan kompetisi seserius itu."


"Wah, bagus sekali idenya."


"Pak Sasono memang baik. Semoga penerusnya juga sama baiknya. Baik, muda dan tampan." Lita berbinar-binar saat mengatakan itu. Sunday menyengir kepadanya.


"Oh iya, teringat dia aku masih penasaran dengan apa yang dia lakukan padamu waktu itu. Apa kau memang sedekat itu dengannya?" Lita menyelidik.


"Entahlah." Sunday meninggalkannya dan berjalan menuju lift.


"Hei, jangan membuatku berfikir yang iya-iya." Lita mengejar Sunday yang mempercepat langkah kakinya.


"Kali ini kau harus menjawabnya dengan benar." Lita menarik-narik lengan Sunday berharap Sunday akan memberinya pencerahan atas rasa penasarannya.


"Apa?"


"Bagaimana bisa kalian pergi bersama seperti itu dan tidak kembali sampai jam kerja berakhir."


"Baiklah, aku hanya akan mengatakannya kepadamu jadi kau harus berjanji untuk tidak membaginya dengan siapapun."

__ADS_1


"Jadi, memang ada apa-apa diantara kalian?" Lita menutup mulutnya dengan ekspresi kaget.


"Kau janji tidak akan bergosip kesana kemari?"


"Iya... aku janji." Sekarang Lita memberi isyarat mengunci mulutnya.


"Sebelum berada di Font, sebenarnya kami sudah saling kenal."


"Benarkah?" Pintu lift terbuka. Sunday melangkahkan kakinya keluar. Lita mengikuti.


"Jadi kau..."


"Aku masuk ke sini bukan karena koneksi. Aku mengikuti tes awal hingga akhir." Sunday memotong sebelum Lita berfikir tentang itu.


"Iya aku tahu. Tapi apa hubungan kalian diluar Font."


"Mmm... kami teman." Jawab Sunday singkat lalu memasuki ruang kerjanya dan segera duduk di mejanya.


"Hanya teman?" Lita masih menyelidik.


"Iya." Jawab Sunday singkat. Ia tahu Lita tidak akan mudah percaya dengan kata-katanya.


"Sudahlah, aku harus mengerjakan pekerjaanku. Kau, silakan ke mejamu sendiri." Sambil mendorong Lita yang sepertinya masih ingin mengobrol itu menuju mejanya sendiri.


Sunday mengaduk es tehnya yang tinggal setengah. Lita masih menikmati makanannya. Gina memasuki cafetaria.


"Hei, kalian sudah ada di sini." Gina menyapa dengan senyum manisnya.


"Ya, kami fikir kau makan siang di luar." Jawab Lita.


"Seharusnya begitu. Tapi Faris masih ada rapat jadi aku harus makan sendiri." Sunday menegang tapi lalu kembali mengaduk minumannya.


"Sun, kau masih baru di sini. Ini adalah pekan dies natalis pertama di Font. Kau akan terlibat kan?"


"Tentu saja. Aku sangat penasaran dengan itu." Jawab Sunday agak kaku karena sejak Gina tahu Faris dan dia berpacaran, ini adalah pertama kalinya mereka mengobrol lagi.


"Pastikan divisimu mendapatkan banyak hadiah ya."


"Tentu saja kami akan berusaha." Jawab Lita menyahut penuh semangat. Sunday masih diam belum ingin berbicara lagi.


"Kira-kira tim siapa yang akan mendapatkan bantuan dari project sponsor kita?" Kata Gina kemudian. Sunday yang baru pertama mengikuti pekan dies natalis hanya mengerutkan kening tak mengerti.


"Aku harap pak Faris akan memilih timku." Kata Lita percaya diri.


"Hanya teman baik?" Gina menatap Lita dan Sunday bergantian. Sunday memberi isyarat kepada Gina agar menutup mulut dan hanya mengiyakan apa yang dikatakan Lita.


"Wah, aku khawatir Faris akan memihak pada tim Fedora kalau begini." Kalimat Gina sarkas.


"Tapi ku rasa Faris bukan orang yang seperti itu. Jangankan hanya teman baik, dia mungkin bahkan akan mengesampingkan pacarnya sendiri dalam hal ini. Dia itu selalu menjaga sportifitas apalagi dalam hal pekerjaan. Siapapun yang ada bersamanya di dalam lingkup pekerjaan akan dipandang sama, tanpa terkecuali. Aku sudah cukup baik mengenalnya." Sunday masih diam pura-pura menyimak apa yang dikatakan Gina. Lita mengangguk mengerti.


Sunday tahu kata-kata Gina tentu saja tertuju padanya. Ia tahu Gina ingin memberitahu kepadanya bahwa dia akan tetap ada di sekitar Faris walaupun Faris sudah memilih Sunday sebagai pacarnya.


Fikirannya masih tertuju pada kata-kata Gina saat Sunday masih asyik memainkan kakinya di tepi kolam renang di belakang Font. Sore ini ia bisa pulang tepat waktu karena projectnya sudah selesai dan tinggal melakukan instalasi saja besok. Jadi ia ingin menikmati waktunya di Font dengan cara yang belum pernah dicobanya. Bermain ke kolam renang. Bukan untuk berenang karena ia tidak bisa berenang. Ia hanya ingin meringankan fikirannya.


Sunday tahu pasti tidak mudah bagi Gina menerima Faris yang sangat diharapkannya kini malah menjadi pacar Sunday. Pasti Gina juga membencinya saat ini. Tapi Sunday bisa apa? Ia memang menyukai Faris dan Faris juga menyukainya. Faris juga mengatakan tidak pernah memberi harapan kepada Gina. Yang ia lakukan hanya menjadi teman baik Gina. Walaupun pada akhirnya itu membuat Gina salah faham dan jadi menyukai Faris.


"Rasanya sangat tidak nyaman seperti ini." Keluh Sunday sambil menggerakkan kakinya di dalam air dan merasakan sensasi dingin itu. Pada sore begini kolam renang memang cenderung sepi apalagi di hari aktif begini. Jarang ada pegawai yang ke sana. Mereka terlalu sibuk untuk sekadar berenang disaat weekdays.


"Hei putri duyung. Apa yang kau lakukan di sana?" Suara Faris beberapa langkah dari tempatnya duduk.


"Apa kau sangat merindukan air?" Sunday melihat ke arah Faris lalu tersenyum kecut.


"Kenapa kau ada di sini, Bos?"


"Radarku menunjukkan ada putri duyung kesepian dan sedang merindukan pacarnya."


"Aku tidak kesepian dan aku juga tidak sempat merindukanmu. Hampir setiap hari kita bertemu. Bagaimana aku bisa merasakan apa yang namanya rindu." Gumam Sunday. Faris tersenyum sambil melepas sepatunya. Lalu ikut duduk disebelah Sunday.


"Jangan terlalu dekat." Sunday menggeser duduknya.


"Lagi pula kenapa kau di sini. Itu akan membuat siapapun yang melihat kita akan berfikiran yang tidak-tidak."


"Biarkan saja, itu lebih baik karena aku tidak harus memberi tahu mereka." Jawab Faris santai memainkan kakinya di dalam air dan menciptakan gelombang disekitarnya.


"Kau ini selalu memikirkan diri sendiri." Sunday mencipratkan air ke arah Faris. Faris yang tidak siap dengan tindakannya jadi terjingkat karena sebagian tubuhnya basah terkena percikan air.


"Kau mau main-main denganku ya. Rasakan ini." Faris tidak membalas dengan mencipratkan balik tapi malah menendang permukaan air kolam ke arah Sunday. Seketika ia menjadi basah kuyup. Tidak terima badannya jadi sebagian besar basah, Sunday mengambil selang di dekatnya dan menyemprotnya menggunakan nozzle. Seketika Faris juga menjadi basah.


Hal itu membuat Faris berusaha merebut nozzle dari tangan Sunday. Berputar putar dan meliuk-liuk, akhirnya nozzle berpindah ke tangan Faris. Sekarang Sunday menjadi sasaran semprotan nozzle. Sunday berusaha merebutnya lagi tapi tubuh Faris yang tinggi membuatnya jadi sulit menjangkau. Akhirnya Sunday tetap saja basah. Dan happ, dalam satu tarikan tangan Faris kini Sunday sudah ada di dalam dekapan dan membelakanginya.


"Lepaskan aku." Sunday meronta.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu."


"Kau sudah gila. Akan ada orang yang melihat kita nanti."

__ADS_1


"Biarkan saja. Aku tidak peduli." Faris masih memeluknya dengan erat. Ia sekarang bahkan membenamkan dagunya di pundak Sunday.


"Pekan dies natalis nanti apa kau ingin aku masuk ke dalam timmu?" Faris tiba-tiba membuka pembicaraan tentang itu. Hal yang sama dengan yang ia bicarakan dengan Gina dan Lita tadi siang.


"Kau tahu aturannya?"


"Hei, aku ini bos disini. Meskipun aku baru tapi aku sudah tahu even tahunan semacam ini."


"Apa kau bisa langsung masuk timku begitu saja?"


"Tentu saja. Itu adalah hak mutlak yang ada padaku."


"Ahh tidak, aku tidak mau satu tim denganmu."


"Kenapa?" Faris semakin mempererat pelukannya.


"Hei, kau membuatku sesak nafas." Sunday menepul lengan Faris yang menekannya.


"Jawab dulu kenapa kau tidak mau satu tim denganku? Padahal sebagai pacar aku akan dengan senang hati berada dalam satu tim denganmu."


"Rasanya itu akan jadi tidak adil bagi tim yang lain."


"Iya juga. Tapi aku mau satu tim denganmu dan tidak mau bersama tim yang lain."


"Dengarkan aku, kau bilang dirimu adalah bos yang baik tapi kau juga harus sportif dalam memimpin kan."


"Tapi aku juga sudah bilang tidak akan jadi bos yang baik itu termasuk aku tidak akan jadi bos yang sportif terhadapmu."


"Iya, tapi yang sedang kau hadapi sekarang bukan hanya aku. Tapi juga semua pegawaimu. Jadi, jangan jadi egois dan mementingkan perasaan kita yaa."


"Sebentar." Faris membalikkan tubuh Sunday menjadi berhadapan dengannya.


"Jangan katakan kau memang tidak ingin satu tim denganku." Faris memicingkan mata menyelidik.


"Bukan begitu, tapi Gina sudah tahu hubungan kita. Jadi akan sangat lucu kalau kau memutuskan untuk bergabung menjadi satu tim dalam timku. Ia akan jadi tahu kalau kau sengaja memihakku. Aku tidak mau terlihat memanfaatkan itu."


"Oh begitu..." Faris melepas jasnya.


"Baiklah, aku tidak memihak timmu secara langsung." Faris tersenyum jumawa.


"Maksudmu?"


"Akan ku pikirkan dulu caranya. Sekarang pakailah ini." Faris meletakkan jasnya di badan Sunday lalu memakaikan dan mengancingkannya juga.


"Apa ini? Aku jadi mirip orang-orangan sawah." Sunday mengangkat lengannya yang kedodoran oleh jas Faris.


"Aku tidak mau bagian lain dari diriku terbangun melihatmu seperti akuarium begitu."


"Apa?" Sunday seketika menangkupkan tanganan ke dadanya searah pandangan mata Faris kepadanya.


"Aku sudah terlanjur melihatnya. Bahkan aku tahu warna dan motifnya dengan sangat jelas sekali." Faris menahan tawa.


"Jadi kau..."


"Ya, aku sudah melihatnya. Jadi pakailah itu agar orang lain tidak melihatnya. Cukup aku saja yang tahu." Bisik Faris yang membuat wajah Sunday memerah malu.


"Dasar kau!" Sunday memukul lengan Faris. Faris tertawa.


"Ayo kita pulang." Faris menggandeng tangan Sunday.


"Kita?" Sunday bertanya maksud kata Faris.


"Kau mau pulang dengan penampilan basah kuyup dan jas kedodoran sambil berjalan kaki?" Sunday diam dan berfikir memang akan memalukan sekali jika ia melakukannya.


"Baiklah, tapi pastika seluruh cctv tidak bisa merekam kebersamaan kita."


"Kau ini. Susah sekali bisa pulang bersamamu. Terlalu banyak persyaratan. Kenapa tidak kau suruh aku membuat 1000 candi sekalian." Sunday tertawa cekikikan melihat Faris sewot seperti itu.


Mereka pun benar-benar pulang bersama. Sunday sempat celingukan memastikan tidak ada seorang pegawai pun yang melihat kebersamaan mereka. Faris tersenyum lucu melihat tingkah Sunday yang kekanakan seperti itu.


Setelah keluar dari Font Sunday mulai bisa bernafas dengan lega. Dengan mobil, mereka hanya butuh waktu 5 menit saja untuk sampai kos Sunday. Dan saat mobil Faris semakin mendekati kos Sunday, tampak ada mobil Victor terparkir di sana. Dan benar, Victor berdiri di sisi mobil dan menoleh ke arah mobil Faris yang semakin mendekat.


"Dia..." Nada suara Faris tidak suka.


"Kenapa dia ada di sini? Kau menyuruhnya datang?" Faris sedikit sinis.


"Tidak. Aku tidak tahu dia akan datang."


"Lalu kenapa dia menunggumu?"


"Entahlah." Sunday hendak turun tapi Faris mencegah dengan menarik lengannya. Sunday yang tidak siap dengan itu jadi terkesiap saat kecupan Faris mendarat di keningnya. Victor yang bisa melihat itu tidak kalah terkesiapnya.


"Kau... kenapa tiba-tiba..." Sunday gugup. Jantungnya tiba-tiba berdetak berisik diatas normal.


"Temui dia. Aku harap kau tidak akan pernah mengecewakanku." Faris tersenyum kepada Sunday. Sunday masih sedikit gugup saat membuka pintu dan keluar dari mobil Faris. Ketika Sunday berjalan mendekati Victor, Faris memundurkan mobil menuju rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2