
Sunday sudah bersiap di atas motornya. Mamanya mewanti-wanti jangan sampai ia terlambat. Tes dimulai pukul 8 pagi. Perjalan memakan waktu 1 jam. Ia butuh setidaknya waktu setengah jam untuk menenangkan diri agar tes berjalan lancar dengan fikiran jernihnya.
Pukul setengah 7 Sunday meninggalkan rumah. Sebenarnya akan lebih mudah jika Om Rudi yang mengantarnya tapi itu sama saja dengan memamerkan siapa sebenarnya dirinya. Jadi, Sunday memilih untuk berangkat sendiri.
Satu jam perjalanan ditempuh oleh Sunday dan sekarang ia memasuki sebuah gedung dengan enam lantai. Sunday terpukau melihat loby gedung yang bernuansa sejuk. Di beberapa dinding terpasang layar monitor plasma dengan lebar sekitar 2 meter dan panjang 3 meter menampilkan gambar hijaunya hutan. Memasuki loby seolah Sunday berada di sebuah hutan kota. Tidak hanya itu, pegawai di sini hampir semuanya tidak memakai busana kerja dan malah lebih mendekati busana santai serta berpenampilan casual. Belum berhenti kekagumannya pada tempat itu, seseorang memanggilnya untuk mendekat.
"Anda salah satu peserta tes?"
"Iya."
"Mari sebelah sini." Sunday dan beberapa orang berbaju rapi digiring untuk memasuki sebuah ruangan di lantai dasar itu. Saat tiba, akhirnya Sunday tahu sepertinya itu adalah sebuah aula. Terlihat ruangannya yang sangat luas denga kursi-kursi berderet tempat peserta tes mengerjakan soal tes nanti.
Sunday mencari kursi yang sesuai dengan nomor registrasinya sebelum memasuki ruangan. Ia mengurutkannya dari kursi paling dekat pintu. Ternyata ia menemukan kursinya di deretan nomor tiga dari pintu tapi terletak di kursi nomor dua dari depan. Kursi di ruangan itu terdiri dari 40 kursi. Sunday berfikir bahwa dia harus bersaing dengan 40 orang untuk mendapatkan satu peluang diterima untuk menduduki satu posisi pegawai disalah satu divisi.
Ruangan mulai penuh terisi peserta tes. Dan tepat pukul 8 seseorang masuk membawa setumpuk kertas. Orang itu memperkenalkan diri sebagai pengawas tes. Setelah memperkenalkan diri, ia lalu membagikan kertas soal kepada semua peserta.
Satu jam setengah adalah waktu yang diberikan. Soal tes seputar tentang pengetahuan umum, pengetahuan dasar informatika dan psikotes. Sunday menjawab soal dengan cukup serius. Dan tepat satu jam setengah ia menyelesaikan soal tesnya. Setelah itu ia kumpulkan dan meninggalkan ruangan. Ia sedikit lega karena tes awal sudah dilaluinya. Tinggal menunggu pengumuman untuk mengikuti tahap selanjutnya.
Sunday keluar dari gedung Font Software House dengan hati ringan. Sampai ditempat parkir Sunday mendapat sebuah telepon. Mamanya.
"Bagaimana, Sun? Bisa?"
"Bisa, Ma. Doakan aku lolos ya."
"Kalau mau pasti lolos biarkan Om Rudi yang meloloskanmu."
"Mama..." Sunday menjawab malas.
"Habisnya diberi jalan mudah kau malah maunya jalan yang sulit."
"Kalau terlalu mudah jadi tidak ada tantangan, Ma. Lagi pula aku tidak mau melalui jalan pintas yang dianggap pantas."
"Kau ini terlalu idealis." Gerutu mamanya.
"Ya sudah aku mau pulang, Ma. Nanti kita lanjut lagi ya."
"Iya, hati-hati bawa motormu."
"Siap Bos."
Lalu ponsel ditutup dan dimasukkan ke dalam tasnya. Baru Sunday akan melajukan motornya sebuah telepon masuk lagi.
"Siapa lagi yang telepon?" Gumama Sunday.
"Sun, bagaimana?"
"Sudah selesai, Kak. Ini aku mau pulang." Jawab Sunday pada Victor.
Kenapa semua orang jadi sepanik ini. Aku saja tidak sebegitunya. Apa menjadi pengangguran sangat menyedihkan bagi mereka? Batin Sunday.
🌸🌸🌸
"Mari Bu Sunday, saya mengajar dulu." Pamit seorang guru.
"Oh iya, Pak."
Sekarang tinggal Sunday sendirian di ruang guru. Hari ini sebenarnya bukan jadwal mengajar tapi karena tes yang dilakukannya kemarin, ia jadi menggantinya menjadi hari ini dan bertukar dengan guru mata pelajaran lain. Masih ada waktu 15 menit untuknya menuju ruang komputer. Sunday membuka sosial media miliknya. Rasanya sudah lama ia tidak bermain dengan itu. Membaca dan melihat satu persatu posting dari teman-temannya. Satu persatu tampil di beranda. Tiba ada sebuah saran pertemanan yang melintas dan itu adalah milik Faris. Beberapa saat pandangannya terpaku pada foto profil Faris yang berlatar belakang Colosseum di Roma, Italia. Sebuah foto selfie dengan garis senyum yang sama. Hatinya tiba-tiba berdesir lembut. Ada rindu yang perlahan menyusup. Dia tampak baik-baik saja.
"Kenapa kau suka sekali menjadi pelaut?" Tanya Sunday waktu itu.
"Karena aku melestarikan mata pencaharian nenek moyangku."
"Benarkah?"
"Ya... karena...
Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
__ADS_1
menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai..." Faris malah menyanyikan lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut yang bahkan Sunday sudah tidak ingat liriknya. Sunday tertawa menyaksikan Faris yang menyanyi diiringi gerakannya seperti seorang pelaut sungguhan. Kadang seperti mendayung, kadang seperti oleng digerakkan ombak, lucu sekali. Sunday tertawa hingga matanya berair. Faris benar-benar tidak jaim terhadapnya.
Banyak sekali kebersamaan Sunday dengan Faris yang berisi kelucuan. Mungkin ini yang membuatnya disukai para gadis, termasuk Sunday yang nyaman setiap bersamanya. Ia bisa menempatkan dirinya tepat dalam berbagai momen. Saat Sunday sedih Faris seperti memposisikan dirinya menjadi sandaran. Menenangkan Sunday dengan kata-kata bijaknya yang entah ia dapat dari membaca buku apa. Atau saat Sunday marah, Faris akan melucu hingga Sunday tidak tahan dan tertawa. Tapi sayangnya kemarahan terakhir Sunday terhadapnya ia anggap karena kesalahan Faris paling fatal jadi kelucuan apapun, bujuk rayu bagaimanapun tidak membuat Sunday luluh. Ia terlanjur merasa dipermainkan dan Sunday sulit menerima hal itu. Tapi dalam segala kemarahannya kepada Faris, Sunday masih sering memimpikan Faris. Lalu setelah bangun dia akan merasa sangat merindukannya. Rasanya seperti rindu yang tidak akan pernah saling bertemu. Rindu yang tersekat benci diantaranya.
"Teeeeettt..." Bel pergantian jam berbunyi. Sunday tersadar dari lamunannya. Ia tutup kembali sosial medianya. Sudah waktunya mengajar. Memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya dan meninggalkan ruang guru.
🌸🌸🌸
Sunday memakan siomaynya di rest area dekat sekolah tempatnya mengajar ketika Victor menghampiri. Melihat Sunday lahap, Victor jadi tergoda dan memesannya juga. Setelah mendapat sepiring siomay, Victor duduk di samping Sunday.
"Hei, makan juga? Bagaimana kalau mahasiswa Kakak tahu ini?"
"Kenapa memangnya?"
"Nanti mereka mentertawakanmu, Kak."
"Biar saja." Victor cuek dan terus menyuapkan siomaynya sampai habis.
Sunday sudah selesai sejak tadi. Victor meminum es tehnya lalu mengusap mulutnya dengan tisu.
"Ada apa mencariku, Kak?"
"Tidak ada, hanya butuh teman saja."
"Tidak mengajar?"
"Setelah ini ada jam." Victor meminum es tehnya lagi.
"Sudah hampir jam satu." Sunday melihat jam tangannya.
"Pergilah, nanti kau terlambat."
"Hhmm... jangan memulai lagi." Sunday seperti memberi peringatan agar Victor tidak melanjutkan aksi rayunya. Victor tahu itu mengganggu Sunday jadi ia tidak melanjutkan aksinya. Lalu ponselnya berbunyi oleh suara notifikasi pesan masuk. Sunday melihatnya.
"Yess!!!" Wajah Sunday sumringah melihat isi pesan di ponselnya.
"Ada apa?" Victor penasaran.
"Aku lolos tes tahap awal, Kak."
"Wah selamat." Victor ikut senang. "Apa perlu kita rayakan?"
"Tidak sekarang, ini baru tahap awal."
"Baiklah, kalau benar-benar diterima, kau harus mentraktirku makan."
"Beress..." Wajah Sunday sumringah.
"Minggu depan adalah interview. Dan juga... apa ini?" Sunday membaca kelanjutan pesannya.
"Harus menyertakan beberapa berkas." Sunday memeriksa satu per satu persyaratan tambahan.
"Surat keterangan kesehatan? Apa itu juga perlu?"
"Memang ada beberapa perusahaan yang membutuhkan persyaratan itu. Mungkin perusahaan seperti ini membutuhkan pegawai dengan kesehatan maksimal karena tingkat pekerjaan yang tinggi. Dan setauku bekerja di software house memiliki jam yang tinggi dan padat. Kau tau sendiri kan bagaimana mengarjakan tugas kuliah? Nah seperti itu juga bekerja sebagai pegawai di software house." Sunday mengangguk paham.
"Baiklah, kalau begitu besok aku harus ke rumah sakit."
"Aku antar saja."
"Tidak, aku bisa sendiri."
"Kau tahu, saat tes kesehatan kau harus benar-benar rileks. Tidak boleh berkeringat sedikitpun. Tidak boleh lelah sehingga tekanan darahmu akan tinggi. Tidak boleh berpanas-panas sehingga suhu badanmu meningkat. Jadi kalau mau hasil tes kesehatan yang bagus, biar aku yang mengantarmu. Kau hanya perlu mempersiapkan diri saja. Bagaimana?" Sunday tampak sedikit berfikir.
__ADS_1
"Baiklah..." Sunday setuju pada bujukan Victor. Victor tersenyum puas.
🌸🌸🌸
Rumah sakit paling dekat dengan rumah Sunday hari ini tidak begitu ramai. Sepertinya orang-orang sedang dalam kondisi baik akhir-akhir ini. Sunday mengantri untuk penggilan pelayanan dokter umum. Melihat di sekeliling rasanya sudah lama sekali ia tidak ke rumah sakit ini. Tentu saja karena selama ini ia tidak butuh layanan medis untuk sakitnya yang hanya sebatas flu atau sakit ringan lainnya. Terakhir datang ke sini saat bersama Faris dan itu sudah amat sangat lama sekali.
Sunday menghembuskan nafasnya berat. Faris melintas lagi difikirannya.
"Nona Sunday." Panggil seorang perawat. Sunday masuk ke dalam ruang pemeriksaan ditemani Victor dan melihat seseorang yang tidak asing baginya.
"Kak Mery..."
"Hey, Sunday. Aku pikir ada banyak nama Sunday tapi ternyata ini benar dirimu. Apa kabar?"
"Baik Kak." Victor yang melihat itu jadi heran. Sunday mengenal seorang dokter di rumah sakit ini.
"Dia?" Mery melirik Victor memberi kode pada Sunday siapa pria yang bersamanya.
"Oh, dia temanku."
"Teman?"
"Ya, teman. Hanya teman?"
"Iya kak." Sunday jadi salah tingkah mendapat pandangan seperti menggodanya dari Mery.
"Kak, kenalkan dia temanya Fa... Faris." Sunday agak terbata menyebut nama Faris.
"Kak Mery. Kak Mery, dia Victor."
Mery dan Victor kemudian saling berjabat tangan.
"Jadi, bagaimana kabar Faris sekarang?"
"Sepertinya baik, Kak." Jawab Sunday agak gugup karena sebenarnya ia juga tidak tahu pasti.
"Sepertinya? Kau kan berteman baik dengannya."
"Iya, aku rasa aku kehilangan kontak dengannya akhir-akhir ini."
"Oh... dasar dia itu suka sekali datang dan pergi seenaknya sendiri." Gerutu Mery seperti kesal.
"Ehh, jadi lupa. Jadi kamu mau cek kesehatan?"
"Iya Kak."
"Untuk?"
"Persyaratan bekerja, Kak."
"Oke, kalau begitu langsung saja kita mulai dengan cek darah yaa." Mery lalu mulai mengambil blood lancet untuk mengambil sample darah Sunday. Serangkaian tes pun dilakukan hingga selesai.
Sunday duduk di ruang tunggu dengan Victor yang ada di sebelahnya. Tinggal menunggu hasil dari laboratorium saja.
"Jadi, siapa sebenarnya Mery?"
"Kenapa? Naksir?" Goda Sunday. Victor tersenyum simpul.
"Dia cantik, jadi secara fisik sangat memenuhi syarat untuk ditaksir oleh pria normal. Dan aku salah satu pria normal itu."
"Dasar pria." Sunday mencibir.
"Kau cemburu?"
"Tidak..." Sunday menjawab cepat.
"Dia pacar Faris?"
"Entahlah, setahuku mereka pernah bersama. Tapi sebagai teman atau pacar aku tidak tahu."
"Faris benar-benar keren. Dia selalu berada selangkah di depan. Semua gadis cantik bisa ia taklukkan. Seperti kau."
__ADS_1
"Kenapa aku?"
"Hei, aku bukan orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa. Kau pikir waktu itu aku tuli? Dia bilang dia menyukaimu." Sunday diam mengenang kejadian yang sudah sangat lama itu. Dan ia terselamatkan dari pembicaraan tentang Faris saat seorang perawat memanggilnya memasuki ruangan Mery lagi tanda hasil laboratoriumnya sudah keluar.