
Perlahan Faris membuka matanya. Ia melihat ke sekeliling dan akhirnya menyadari kalau sedang berada di kamar inap Sunday. Ada yang terasa berat menimpa salah satu lengannya kemudian Faris menggeser kepala Sunday yang bertumpu pada lengannya. Terasa kebas, Faris lalu meluruskan lengannya sebentar. Lalu menengok kembali ke arah Sunday yang masih tertidur.
Faris mengulas senyum melihat wajah imut pacarnya dalam lelap. Menyelipkan beberapa rambut Sunday yang menutupi wajah ke belakang telinganya. Dengan begitu Faris bisa menikmati wajah Sunday dengan lebih baik. Kadang itu bukan karena Sunday tapi karena dirinya yang terlalu menyukai Sunday sehingga segala yang ada pada gadisnya tampak indah baginya. Faris mengakuinya sebagai sindrom cinta buta.
Bagaimana tidak, untuk mendapatkan hati Sunday ia bahkan harus menunggu sangat lama dan sempat menjadi orang 'terbuang' yang tidak ingin Sunday temui karena kebohongannya waktu itu. Tapi karena kegigihannya dan tidak mudah menyerah akhirnya berhasil meluluhkan hati Sunday yang selama ini membenci profesinya sebagai pelaut.
Dan memang sangat melegakan ketika mendapati Sunday akhirnya membalas cintanya. Memang sebahagia itu rasanya sehingga Faris memutuskan untuk tidak lagi mudah berteman dekat dengan para gadis karena bagaimana pun juga ia harus menjaga perasaan Sunday. Apalagi dengan adanya kejadian kemarin Faris semakin menyadari bahwa ia harus mengubah cara bertemannya terutama dengan para gadis. Ia harus bisa menjaga jarak dan tidak membuat mereka salah faham. Karena tanpa sadar dengan itu Faris bisa saja menyakiti mereka pada akhirnya. Ketika mereka terlanjur terbawa perasaan tapi Faris hanya menganggap mereka teman.
Dengan wajah tampan dan kekayaan tentu saja akan mudah membuat para gadis mudah terpikat apalagi ditambah sikapnya yang terlalu terbuka kepada mereka, tentu saja itu memudahkan para teman wanitanya untuk jatuh cinta dengan sempurna kepadanya. Tapi karena pertemanan yang dimaksud Faris hanya sekadar pertemanan, akhirnya mereka harus terpaksa patah hati menyadari maksud sikap Faris yang sebenarnya.
Lagi pula Faris juga pernah merasakan hatinya dipatahkan saat Sunday menolak cintanya dua tahun yang lalu dan itu membuatnya menyadari betapa menyakitnya perasaan yang tidak dibalas sama. Saat itu ia sangat menyukai Sunday dan seperti ingin bersamanya selalu, tapi karena kesalahan yang ia buat Sunday malah menolak cintanya dan membencinya sekaligus.
Tapi semua itu sudah berlalu dan sekarang Sunday sudah menjadi pacarnya dan membuatnya bahagia. Faris membelai wajah Sunday yang masih terlelap. Sunday sedikit terusik dan Faris harus menghentikan tindakannya. Alih-alih bangun, Sunday kembali tidur. Faris tersenyum melihatnya. Lalu ia bangun dari tidurnya meninggalkan tempat tidur dan duduk di sofa ruangan itu.
Faris menyandarkan kepala pada sandaran sofa yang lebih rendah dari tubuhnya. Fikirannya mulai teringat kembali tentang Desy. Padahal baru saja ia mulai sedikit tenang. Berkat Sunday ia bisa melupakan masalahnya. Ya, Sunday itu sering kali bisa menjadi morfin baginya. Yang bisa membuatnya lupa pada hal-hal menyedihkan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Faris menatap Sunday lekat dari tempat ia duduk tidak jauh dari sofa. Ia menyadari bahwa Sunday memiliki pengaruh besar dalam hidupnya. Kemudian ia tersenyum lagi sambil melihat Sunday yang masih terlelap. Entah apa yang sedang di mimpikannya, Faris sempat melihat Sunday tersenyum simpul dalam tidurnya.
Lalu seseorang masuk ke dalam kamar. Mama Sunday.
"Faris..." Mama Sunday agak kaget mendapati seseorang ada di dalam kamar yang ia masuki.
"Iya, tante." Faris berdiri menyambut mama Sunday. Mama Sunday tampak menatap Faris.
"Kau baik-baik saja?" Mama Sunday memandang teduh wajah Faris. Ia tahu apa maksud mama Sunday. Karena kejadian pembakaran gudang itu mama Sunday akhirnya tahu mereka sudah berpacaran sekarang.
"Ya, aku baik-baik saja, Tante."
"Saat ku lihat ada di tv wajahmu terlihat samgat tampan. Aku rasa kau pantas menjadi bintang film."
"Oh... sudah banyak yang mengatakan itu, Tante." Faris cengengesan.
"Berarti aku punya penglihatan yang bagus." Mama Sunday tertawa kecil menanggapi kenarsisan Faris.
"Atau sebaiknya aku terima saja tawaran produser untuk membintangi sebuah film? Atau minimal berdamai dengan biro iklan yang selalu ingin aku membintangi sebuah produk."
"Wah, sudah banyak yang mengharapkanmu jadi bintang di televisi ternyata." Mama Sunday pura-pura terkejut. Ternyata mereka kompak juga soal kelakar semacam itu.
"Begitulah tante." Balas Faris lagi dengan senyum lebarnya.
"Oh iya, aku harus ke tempat administrasi dulu. Mumpung masih ada kau di sini. Tolong temani Sunday sebentar ya." Mama Sunday mengulas senyum kepada Faris.
"Dengan senang hati, Tante. Aku akan menemaninya seumur hidupku." Kelakar Faris.
"Ahh, kau ini manis sekali. Aku jadi iri kepada Sunday. Beruntung sekali dia mempunyai pacar se so sweet dirimu." Mama Sunday ikut mengimbangi kelakarnya.
__ADS_1
Sunday terbatuk-batuk tapi masih dengan memejamkan mata. Bersamaan Faris dan mama Sunday melihat ke arahnya.
"Sudah lama dia tidur?" Bisik mama Sunday takut membangunkan putrinya yang sedang tidur.
"Lumayan, Tante. Sudah satu jam lebih."
"Apa paru-parunya masih penuh asap? Kenapa dia masih saja batuk-batuk." Pandangan mama Sunday seperti penuh iba.
"Mungkin dia sedang mimpi batuk, Tante." Faris menaha tawa karena tahu Sunday sekarang mungkin hanya sedang berpura-pura tidur saja. Tadi sekilas ia melihat Sunday memicingkan mata melihat ke arahnya. Faris menduga Sunday sengaja terbatuk-batuk karena menaggapi percakapannya dengan mamanya.
"Baiklah, karena kau masih ada di sini jadi bisa kan ku tinggal turun sebentar? Sebenarnya tadi aku berfikir akan mengurus administrasi Sunday tapi karena aku khawatir Sunday tidak ada yang menemani jadi aku mengurungkannya." Jelas mama Sunday.
"Iya silakan, Tante. Aku akan menjaga Sunday."
"Terima kasih ya." Mama Sunday menepuk bahu Faris lalu membuka pintu dan keluar.
Sepeninggal mama Sunday, Faris berjalan mendekati tempat tidurnya.
"Hei, aku tahu kau tidak sedang tidur. Kau sudah bangun dari tadi kan." Ujar Faris ditepi tempat tidur Sunday. Tapi Sunday diam dan tidak melakukan pergerakan apapun.
"Baiklah putri salju, pangeran berkudamu sudah datang dan siap memberikan ciuman penuh cinta untuk menghapus kutukan tidurmu." Faris mendekati wajah Sunday.
"Apa yang kau lakukan?" Sunday membuka mata dan mendorong tubuh Faris untuk menjauh darinya.
"Oh, rupanya putri salju sudah bisa bangun dengan sendirinya tanpa perlu dicium. Seharusnya di dalam dongeng pangeran tidak perlu menciumnya dan hanya butuh memberikan sedikit gertakan saja."
"Aku tidak bermaksud mengancam, aku memang benar-benar akan melakukannya seandainya kau tidak juga bangun."
"Sepertinya kau butuh ku panggilkan petugas sedot WC untuk membersihkan kotoran-kotoran yang ada di otakmu. Bagaimana bisa yang kau fikirkan hanya tentang hal-hal seperti itu."
"Siapa suruh mengajakku bermain-main. Lagipula aku adalah pacarmu jadi aku boleh saja melakukannya."
"Enak saja. Karena kau, sekarang keningku jadi sudah tidak perawan lagi." Sunday mengelus keningnya sambil mengenang saat-saat Faris menciumnya. Mendengar ucapan Sunday, Faris tergelak.
"Kau ini ada-ada saja. Memangnya kening memiliki keperawanan?"
"Tentu saja punya." Sunday meninggikan suaranya.
"Bagaimana?" Pandangan Faris meminta penjelasan.
"Kau tahu, ku pikir aku akan bisa menjaga diriku dari sentuhan-sentuhan pria sampai saatnya aku menikah nanti. Tapi kau malah menghancurkan segalanya dengan seenaknya saja kau mencium keningku. Dua kali lagi."
"Baru juga dua kali." Faris semakin ingin tertawa mendapati Sunday yang ternyata masih sepolos itu di zaman seperti ini.
"Hei, apa yang harus ku katakan pada suamiku nanti saat tahu keningku sudah dinodai olehmu." Mendengar itu seketika tawa Faris meledak.
__ADS_1
"Tenang saja, suamimu tidak akan marah padamu." Faris masih tertawa.
"Bagaimana kau tahu?" Sunday mengerutkan kening.
"Tidak ada yang akan menjadi suamimu kecuali aku." Ujar Faris sambil menatap Sunday lembut.
"Ya Tuhan, kau ini percaya diri sekali. Memangnya kau yakin aku yang akan menjadi istrimu?"
"Tentu saja."
"Benar-benar pria penuh ekspektasi tinggi."
"Kalaupun harus ada pria lain selain aku yang menjadi suamimu maka akan kubunuh semua pria yang ada di muka bumi ini hingga kau tidak akan pernah dinikahi oleh pria manapun."
"Aku merinding mendengarnya. Kau bisa seseram itu ya." Sunday bergidik menatap Faris.
"Jadi, jangan buat aku membunuh pria-pria tak berdosa itu dan menikahlah saja denganku. Hanya denganku. Bukan pria lain."
"Aku semakin ngeri melihatmu seperti ini." Sunday masih pura-pura takut melihat ke arah Faris.
"Mari kita menikah saja. Jadi aku tidak akan menodaimu sedikit demi sedikit. Saat ini aku sudah menodai keningmu, bisa jadi besok aku akan menodai bagian lain dari dirimu."
"Apa?" Sunday beringsut dari tempatnya dan menangkupkan kedua tangan menyilang di dadanya.
"Kau lebih menyeramkan dari para psikopat." Faris memandang Sunday lucu yang sedang melihatnya dengan pandangan ngeri begitu.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Faris melihat nomor baru lalu mengerutkan kening dan bertanya-tanya siapa yang menghubunginya dengan nomor baru. Jadi untuk menghapus rasa penasarannya, akhirnya Faris mengangkat telepon itu.
"Ya Hallo..." Faris menyimak dengan wajah serius dan bahkan ada guratan terkejut juga di sana. Sunday jadi ikut penasaran melihat ekspresi wajah Faris seperti itu.
Setelah menerima telepon itu Faris berpamitan kepada Sunday untuk keluar. Katanya dia harus bertemu seseorang. Saat Sunday bertanya siapa, Faris hanya menjawab dari seorang teman. Tapi Sunday seperti mencium sesuatu yang aneh di sana. Sunday berfikir siapa kira-kira penelepon itu sehingga sangat penting sekali baginya dan melewatkan kepulangan Sunday dari rumah sakit. Padahal awalnya Faris berencana untuk mengantar Sunday pulang ke rumahnya setelah mamanya menyelesaikan administrasi rumah sakit.
Jalan raya senja ini lumayan padat. Faris mengendarai mobilnya dengan fikiran tertuju pada seseorang yang meneleponnya tadi.
"Faris..." Sapa orang di seberang saat Faris mengangkat telepon yang mirip suara wanita.
"Siapa?" Lanjut Faris karena penasaran dengan penelepon yang menggunakan nomor baru itu.
"Mari bertemu."
"Untuk apa?"
"Aku akan membantumu terbebas dari tuduhan penyebab kematian Desy." Wajah Faris seketika terkejut mendengar nama Desy di sebut.
"Kau, siapa?"
__ADS_1
"Mari bertemu. Akan ku kirim alamatnya."