Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Tombol


__ADS_3

Laboratorium fakultas teknik tampak syahdu. Yang terdengar hanya suara dosen pengajar yang memberikan materi. Semua mahasiswa memperhatikan dengan saksama. Materi kuliah Sistem Basis Data tidak bisa dianggap enteng.


Tiba-tiba pesan dari Command promt atau CMD masuk di layar monitor Sunday. Sebuah pesan dari aplikasi bawaan windows yang menggunakan IP address sebagai alamat tujuannya.


MESSENGER


User : 191.168


Message : Sun


Sunday yang mendapat pesan CMD celingukan melihat urutan komputer berdasarkan nama usernya. Menghitung dan menemukan komputer di belakangnya yang memiliki urutan sama seperti yang ia cari. Suzan melongok dari balik monitornya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Ada apa?" Bisik Sunday. Suzan memberi isyarat untuk menghadap kembali ke monitornya.


Suzan : setelah ini mau ke mana?


Sunday : magang


Suzan : :(


Sunday : kenapa?


Suzan : nongkrong yukk


Sunday : langkahi dulu mayat victor


Suzan : dasar victor terminator


Sunday : :D :D :D


Sunday tersenyum sendiri melihat Suzan memanggil Victor dengan panggilan terminator di belakang namanya.


Chat mereka akhirnya berhenti saat dosen menginstruksikan untuk membuat sebuah tugas dari materi yang baru saja di sampaikan.


Sunday mulai membuka database management system yang ada di komputer. Ia menggunakan Sybase sebagai DBMS untuk sistem basis datanya kali ini.


Setelah dosen memeriksa basis data yang ia buat, Sunday pun meninggalkan meja komputernya dan menuju ke meja di paling belakang yang terdapat 2 perangkat komputer di sana. Perangkat komputer pengendali yang dikuasai oleh Victor sang laboran terminator.


Suzan masih berkutat dengan basis data rancangannya, sedangkan Windy sudah selesai dan keluar dari laboratorium tapi masih menunggu di depan.

__ADS_1


"Kak, setelah ini aku lanjutkan scan komputer ya." Kata Sunday kepada Victor yang tampak sibuk di depan monitornya. Mendengar kalimat Sunday, Victor mendongak.


"Jangan Sun, setelah ini masih ada kelas lain."


"Jadi apa tugasku kali ini, kak?"


"Tolong rapikan saja file di direktori D komputer itu. Instal ulang juga PDF dengan versi terbaru. Master programnya ada di CD case di atas CPU." Tunjuk Victor.


"Yang ini, kak?" Sunday memastikan. Karena di CD itu belum ada identitas isinya. Victor menoleh.


"Iya."


Sunday mulai memasukkan CD itu ke dalam CD room. Menunggu beberapa saat sampai CPU berhasil membaca perangkat dan muncul desktop dengan isi dalam CDnya. Tapi sebelum mulai menginstal, Sunday meng-uninstall software sebelumnya. Setelah program berhasil ter-uninstall kemudian Sunday membuka folder yang berisi software yang akan diinstalnya. Mengklik file master program dan mengikuti sesuai perintah program.


Sambil menunggu selesai menginstal ulang


Sunday memainkan ponselnya. Membuka salah satu sosmed. Instagram. Gambar pertama yang muncul adalah foto Faris yang membentuk siluet dirinya di tepi pantai saat senja. Sepertinya itu adalah foto latepost. Seting fotonya seperti suasana bukan di dalam negeri. Entah dimana. Pekerjaannya yang membuatnya keliling dunia memang sangat menguntungkan baginya. Bisa berkeliling dunia secara gratis dan mendapatkan gaji pula.


Tanpa sadar jari Sunday menelusuri instagram Faris, melihat setiap fotonya. Kota dan negara yang dikunjungi Faris memang sangat indah. Mulai dari Bangkok hingga Alaska. Faris pernah menyinggahinya.


Tunggu, tidak ada satupun foto pacarnya di sana. Sunday heran.


Tapi, tentu saja dia tidak akan sempat memposting foto pacar kalau mereka saja bahkan tidak pernah lama menjalin hubungan.


Sunday mendapati foto Faris saat berada di Paris. Dengan latar belakang menara Pisa, ia berdiri cuek memalingkan muka. Sehingga yang tertangkap kamera adalah hanya sebelah sisi wajahnya saja. Tampak jelas hidung mancung dan rambut lurus berkilau diterpa matahari. Tatapan matanya tajam. Rahang kokoh membuat kesan misterius pada wajahnya semakin menonjol. Benar-benar berbeda dengan Faris yang biasa ditemuinya.


"Sunday." Panggil Victor membuatnya menghentikan aksi stalkingnya di instagram Faris.


"Iya kak."


"Aku butuh pertolonganmu."


Duh, pertolongan apakah lagi ini? Membeli obat kutu lagi seperti waktu itu? Ahh, tidak kali ini aku harus bisa menolaknya. Aku terlalu malu membelinya. Aku tidak bisa menerima pandangan mata meyelidik para penjual obat kutu itu. Tidak. Tidak lagi. Sunday sedang memikirkan kemungkinan terburuk permintaan tolong Victor seperti tempo hari.


Demi membeli obat kutu itu, Sunday harus berdandan ala ninja. Menutup wajahnya dengan masker dan memakai kaca mata hitam agar penjual tidak bisa mengenali wajahnya yang mungkin bisa saja viral karena wajah cantiknya, ini menurut pendapat pribadi Sunday, sangat tidak cocok jika harus berkutu.


"A-apa itu, kak?"


"Tolong antar ini ke kantor Kajur Teknik Informatika." Victor menyodorkan amplop coklat kepada Sunday.

__ADS_1


"Baik kak." Sunday bernafas lega ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.


Baru Sunday melangkah dari mejanya, Victor memanggil.


"Mau ke mana, Sun?"


"Mengantar ini." Sambil mengangkat amplop itu.


"Nanti saja, setelah tugasmu selesai."


"Ohh...." Sunday kembali duduk ke kursinya. Membuka lagi hpnya dan... terpana pada tombol love merah di salah satu foto Faris yang terposting berbulan-bulan yang lalu itu.


Apa jadinya kalau aku ketahuan men-stalkinginya. Pasti nanti dia akan besar kepala karena tau aku melihat foto-fotonya yang sudah lama terposting. Sunday gusar.


Otakknya berputar mencari alasan. Kira-kira alasan apa yang tepat untuknya berdalih bila Faris menanyainya tentang perbuatan isengnya yang 'tertangkap basah' itu.


Ahh, jari... kenapa kau lancang sekali menombol love tanpa persetujuanku lebih dulu.


Disaat fikirannya masih kalut sebuah DM masuk. Dari Faris. Hati Sunday tambah kecut. Dengan enggan Sunday membukanya.


Sebuah emotikon hati. Itu tandanya dia tau foto yang di-love oleh Sunday. Sunday terbelalak. Tapi lalu tubuhnya lemas. Dirinya seolah tidak memiliki harga diri. Rasa malunya benar-benar diujung kepala. Otaknya semakin keras bekerja demi menemukan alasan dari pengalihannya nanti.


Victor yang melihat ekspresi Sunday yang berubah-ubah dalam waktu yang singkat itu pun tersenyum. Wajah Sunday sangat lucu.


🌸🌸🌸


"Sunday." Panggil seseorang yang sangat ia kenal saat Sunday ada di tempat parkir. Saking kenalnya dengan suara itu, Sunday sampai tidak kuasa menoleh. Akhirnya dia berpura-pura tidak mendengar dan tetap melanjutkan langkahnya. Tapi langkah kaki Faris yang lebar dengan cepat bisa menyusulnya.


"Hei, aku memanggilmu. Apa kau tidak dengar?" Faris ada disamping Sunday mensejajari langkahnya.


"Oh ya? Aku tidak dengar." Sunday salah tingkah dan mempercepat langkahnya.


"Benarkah? Apa telingamu bermasalah." Faris menggodanya.


"Iya mungkin, sepertinya aku harus ke dokter THT dulu. Dahh..." Sunday meninggalkan Faris dengan setengah berlari.


"Lucu sekali anak ini." Faris bergumam dan tertawa kecil menyaksikan tingkah Sunday.


Padahal jauh-jauh Faris menemuinya karena ada hal yang ingin ia bicarakan.

__ADS_1


"Kebodohan apa ini. Dia bahkan langsung mendatangiku hanya karena aku menyukai salah satu foto lamanya. Sungguh cepat tanggap. Tapi demi apa dia segera mencariku? Menanyakan kenapa aku men-stalkinginya? Atau menanyakan apakah aku penasaran terhadapnya?" Sunday bergumam sendiri di atas motornya yang menuju pulang sore ini.


"Oh, bagaimana kalau aku menjawab aku tertarik pada kota-kota yang didatanginya. Ya, itu adalah alasan yang tepat. Itu saja. Bukan ingin melihat gambar dirinya, hanya gambar tempat yang dia datangi. Yah, bagus. Ini alasan yang sangat bagus." Lalu Sunday tertawa saking senangnya mendapat alasan untuk tindakan bodohnya sehingga banyak sekali angin yang masuk ke mulutnya tapi Sunday tidak peduli.


__ADS_2