
Faris berdiri dan mulai menjadi pusat perhatian saat berjalan menuju podium memberikan kata-kata sambutan. Semua mata tertuju pada Faris.
"Saya Faris, saya senang hari ini berada di sini dan menjadi bagian dari Font. Saya sebagai junior sangat berharap bisa bekerja sama dengan Anda semua untuk membuat Font lebih berkembang dan menjadi tujuan pertama para klien. Terima kasih." Faris mengakhiri pidato singkatnya. Semua orang yang ada di aula bertepuk tangan.
Sunday menarik nafas berat entah yang keberapa kali. Debaran di dadanya seperti tidak mau reda. Hingga segelas air putih pun tidak mampu menenangkannya.
Apa begini rasanya bertemu kembali dengan seseorang yang dibenci.
Jamuan makan serah terima jabatan usai. Para pegawai meninggalkan kursi mereka masing-masing dan keluar dari aula. Di dalam kerumunan Sunday dengan pegawai lain beberapa pegawai wanita mengomentari bos baru mereka. Mereka sepakat berkomentar bahwa bos baru mereka sangat tampan. Sunday memutar bola matanya, malas mendengar komentar mereka.
"Sun, bagaimana menurutmu..." Lita berbisik disebelahnya dan baru sepenggal kalimatnya Sunday sudah bisa menebak arah pembicaraannya kemana.
"... bos baru kita tampan sekali bukan."
"Biasa saja." Jawab Sunday acuh.
"Apa? Yang seperti itu kau bilang biasa saja? Apa matamu sedang ada beleknya?" Lita mendekatkan wajahnya ke wajah Sunday. Mereka ada di lorong menuju ruang kerja.
"Hei, apa-apaan ini." Sunday mendorong tubuh Lita untuk menjauh darinya.
"Habisnya kau bilang pria setampan itu hanya biasa saja. Aku rasa pasti ada yang salah dengan matamu."
"Lagipula kalau dia tampan apa istimewanya?"
"Ahh, pantas saja kau tidak pernah punya pacar. Aku rasa kau butuh konsultasi dengan psikiater. Atau jangan-jangan..." Lita menutup bagian atas tubuh dengan kedua tangannya.
"Apa? Lesbian? Ya, aku memang lesbian dan aku menyukaimu. Ayo kita berkencan." Sunday melingkarkan tangan ke leher Lita. Seketika Lita bergidik dan meninggalkan Sunday yang berjalan di belakangnya. Melihat Lita seperti itu, Sunday jadi merasa lucu. Kalau tidak begitu Lita pasti akan menuntutnya untuk setuju dengan pendapatnya bahwa Faris berwajah tampan. Meskipun itu benar tapi Sunday malas sekali mengakuinya secara terang-terangan seperti itu.
🌸🌸🌸
Sunday berada di sebuah kafe bersama seorang klien.
"Saya ingin tampilan se-friendly mungkin. Karena saya ingin memudahkan pegawai saya saat bekerja. Dan juga agar para pegawai saya bisa melakukan proses pelayanan dengan baik dan cepat. Swalayan kami lumayan ramai pengunjung dan antrian bisa sangat memanjang. Sistem informasi kami yang lama sudah tidak bisa kami andalkan lagi." Jelas klien yang adalah pemilik sebuah minimarket itu. Bulan ini Sunday sudah bertemu 3 orang client yang menginginkan jasa pembuatan sistem informasi yang sama seperti ini.
Masyarakat mulai sadar akan kemudahan dengan menggunakan sistem informasi. Lebih cepat, lebih akurat dan lebih terjamin keamananya karena data transaksi akan disimpan dalam bentuk softfile ataupun dalam bentuk hardfile.
"Baiklah Bapak, kami akan menempatkan beberapa menu di sistem Bapak nanti." Sunday menununjukkan sebuah contoh tampilan aplikasi dari PC tablet-nya.
"Kira-kira akan seperti ini ya, Pak." Klien itu melihat layar yang ditunjukkan Sunday dan mendemonstrasikan penggunaan sistemnya.
"Silakan Bapak melihatnya secara terperinci." Sunday menyerahkan PC tablet kepada klien. Klien tampak mengutak atik sistem itu.
"Baik, saya rasa ini hampir memenuhi syarat." Klien itu menyerahkan kembali PC tablet Sunday.
"Kira-kira berapa lama saya akan menerima software ini?"
__ADS_1
"Kami akan mengusahakan selama 2 minggu untuk mengoptimalkan sistem yang kami buat. Saya harap Bapak bisa memaklumi." Suday mengulas senyumnya.
"Dan untuk rincian biaya akan kami kirim melalui pesan dan email Bapak."
"Baik, saya tunggu." Client seperti faham akan hal itu dan pamit setelahnya.
"Sampai jumpa 2 minggu lagi saat instalasi, Bapak." Sunday mengulas senyum
"Terima kasih."
"Terima kasih kembali." Setelah client meninggalkan meja, Sunday mengemasi beberapa hardfile dan memasukkannya ke dalam tas. Memanggil pramusaji dan meminta bill minuman yang ia dan kliennya pesan tadi.
Sudah pukul 5 sore, Sunday kembali ke Font untuk memberikan berkas hasil meeting dengan klien. Boby masih ada di Font, baru saja Sunday meneleponnya.
Dari kafe Sunday berjalan ke arah halte tidak jauh dari situ. 15 menit kemudian bus yang ditunggu datang juga. Sunday dan beberapa penumpang naik ke dalam bus. Lalu perlahan bus berjalan menuju tujuannya. Sunday duduk di kursi paling belakang dan memilih dekat cendela. Tempat paling nyaman dan aman dari pandangan penumpang lain.
Bus Sunday tiba tepat di depan Font. Sunday berjalan dipelataran Font lalu memasuki lobi. Font sudah sepi. Menuju lift dan menunggu pintu terbuka. Beberapa saat kemudian terlihat pintu terbuka.
"Sunday..." Sapa Gina dari dalam lift terbuka itu. Sunday terkesiap melihat seseorang disamping Gina. Ragu-ragu Sunday tersenyum dan mengangguk menyapa Faris. Faris membalas senyumnya sekilas. Sunday memberi jalan Gina dan Faris yang melangkahkan kaki keluar pintu lift.
"Ini dia Ris, salah satu icon keteladanan pegawai Font." Sunday mengangkat alis mendengar apa yang dikatakan Gina.
"Bagaimana tidak, jam segini dia masih harus bekerja."
"Apa aku harus memberikan reward kepadanya?" Ucap Faris tenang tanpa menatap Sunday sama sekali.
"Baiklah, aku harus ke atas." Pamit Sunday kepada Gina yang dibalasnya anggukan.
"Mari Pak." Tambah Sunday kepada Faris. Faris juga mengangguk tapi masih acuh.
Melihat Faris yang acuh kepadanya, Sunday memikirkan sebuah kemungkinan. Mungkin saja Faris memang konsisten dengan janjinya untuk menjauhi Sunday. Dan melihat itu ada sedikit kelegaan dihati Sunday. Ia tidak perlu berusaha menghindari Faris karena mereka benar-benar menjadi dua orang asing.
Sebelum Sunday memasuki lift, ia sempat melihat Gina menggandeng lengan Faris. Dekat sekali. Melihat itu kepalanya jadi berdenyut entah kenapa.
🌸🌸🌸
Malam ini seperti malam-malam sebelumnya dan rumah kos Sunday selalu sepi. Yang tinggal hanya dirinya dan Bu Uni. Ia seperti merasa kembali ke masa mamanya sebelum menikah. Berkutat saja berdua di rumah. Kadang-kadang Suzan dan Windy mengunjunginya, atau kalau Faris berlibur, akan sering sekali ia berkunjung. Teringat Faris, satu lagi yang Sunday sadari. Beberapa tahun berteman dengannya, Sunday tidak mengenal Faris dengan baik.
Sampai bekerja di Font Sunday tidak pernah tahu bahwa Faris adalah putra dari pemilik Font. Yang ia tahu hanya Faris adalah seorang pelaut. Dan playboy. Selebihnya ia tidak tahu dan tidak pernah mencari tahu. Buatnya latar belakang keluarga seorang teman tidaklah penting. Yang terpenting bagi Sunday adalah ia bersikap baik dan tidak menyakiti itu sudah cukup.
Dada Sunday menghangat. Ia meraba dengan tangan kanannya.
"Kenapa panyakit ini bisa kambuh lagi? Padahal sudah lama tidak pernah kambuh." Gumamnya
🌸🌸🌸
__ADS_1
Sunday membawa file yang sudah dikembalikan oleh Boby tadi untuk keperluan meeting pagi ini dengan timnya di meja sudut ruang kerja fedora. Setiap ruangan tim selalu dilengkapi dengan seperangkat meja sedang untuk meeting kecil mbahas project yang akan dikerjakan. Boby dan Mario sudah ada disana. Lita juga berjalan menuju meja. Hampir bersamaan Pak Dedi ada dibelakang Lita. Baru Pak Dedi membuka mulut, seseorang masuk ke ruangannya.
"Pak Faris?" Ujar Pak Dedi setelah memulai meeting. Semua anak buah Pak Dedi menoleh ke arah yang dilihatnya.
"Apa ada yang bisa kami bantu, Pak?" Tampak pak Dedi tergopoh mendekati Faris.
"Aku hanya ingin tau meeting hari ini dari tim fedora." Faris mengambil duduk tepat di sebelah Sunday. Sunday berdebar-debar lagi.
Pak Dedi hanya membuka agenda meeting, selanjutnya sebagai System Analyst Sunday menjelaskan sistem yang diinginkan klien. Mulai dari interface hingga menu yang dibutuhkan.
"Klien kita kali ini menginginkan tampilan yang sederhana agar pegawai mudah mengoperasikan."
"Letakkan button transaksi penjualan di bagian paling luar dengan form yang sesederhana mungkin tapi bisa mencakup semua informasi transaksi termasuk informasi produk."
"Baik Pak." Sunday mencatat poin itu. Programer juga menyimak dengan baik, begitu pula dengan Lita sebagai Software designer mulai membuat pola-pola di atas kertas untuk tampilan sistem.
"Beri juga menu alternatif jika barang tidak bisa ter-barcode sehingga user bisa melakukan transaksi secara manual."
"Baik Pak." Sunday mengangguk. Giliran Sunday selesai, sekarang giliran Lita dengan desain software-nya lalu Boby dengan bahasa pemrograman dan DBMS serta software report yang akan ia pakai.
Meeting berjalan baik. Faris cukup aktif dalam hal ini. Entah karena software klien yang sederhana atau memang ia benar-benar kompeten di bidang ini. Tapi sebagai lulusan salah satu institut teknologi terbaik di negeri ini tentu saja kemampuannya tidak bisa dianggap remeh. Itu pun baru Sunday tahu dari Lita. Entah tahu dari mana anak itu.
"Aku rasa dia memang terlahir sebagai pemilik Font. Lulusan Institut Teknologi dengan ipk tinggi tentu saja membuatnya seperti terbiasa dengan program-program dan sistem." Sunday hanya mengangguk-angguk saja.
"Dari mana kau tahu dia lulusan institut Teknologi?" Tanya Sunday sambil merapikan file-file seusai meeting. Faris sudah meninggalkan ruangan tim fedora.
"Hampir semua orang disini tahu."
Sunday berfikir lagi. Ya, dia memang tidak sebaik itu mengenal Faris. Ia bahkan tidak tahu Faris pernah kuliah di fakultaa teknik. Bahkan Lita saja tahu Faris menolak melanjutkan kuliah di luar negeri dan memilih bekerja di sana. Kali ini Lita tidak tahu pekerjaan apa yang dilakukan oleh Faris. Tapi Sunday tahu kalau pekerjaan itu adalah sebagai seorang sailor di kapal pesiar. Dia memang aneh. Sudah jelas dia bisa menjadi bos disini tapi malah memilih menjadi sailor yang hanya sebagai bawahan. Batin Sunday sambil menuju ruangan Faris.
Faris memang memintanya untuk mengantar salinan berkas hasil meeting hari ini. Tidak biasanya seorang project sponsor melakukan itu. Biasanya kontrol hanya sampai Pak Dedi sudah cukup. Tapi Faris membuat peraturan yang berbeda. Ia akan ikut bagian dalam setiap project yang ditangani oleh Font. Ya walaupun itu memang bagian dari tugasnya tapi Pak Sasono dulu mempercayakan itu kepada bawahannya.
Pintu lift lantai enam terbuka. Sunday menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
"Tenang saja, Sunday. Tidak apa-apa. Dia sudah bukan orang yang sama. Dia hanya atasanmu saja." Sunday meyakinkan dirinya sendiri dan berusaha menguasai dirinya dari kegugupan itu.
Sampai di depan pintu ruangan Faris sekali lagi Sunday menghela nafas lalu kemudian mengetuk pintu. Terdengar suara Faris menyuruhnya masuk.
"Permisi Pak, ini file meeting hari ini." Sunday berdiri didepan meja Faris. Ia sedang memeriksa berkas-berkas yang sepertinya adalah berkas dari tim lain.
"Letakkan di situ." Perintah Faris dan masih menekuni kertas-kertas yang ada di hadapannya. Merasa seperti tidak ada yang atasannya perlukan lagi, Sunday pamit keluar. Perlahan ia membuka pintu dan keluar ruangan Faris dengan menghembuskan nafas lega. Ruangan itu luas tapi berada di dalamnya terasa sesak bagi Sunday.
Tapi Sunday benar-benar merasa aneh. Faris seperti menjadi orang yang sangat asing. Tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka pernah saling mengenal sebelumnya. Apa Faris sesakit hati itu cintanya ditolak oleh Sunday.
Atau jangan-jangan ia tidak mengenaliku? Apa aku terlalu banyak berubah? Aku rasa tidak ada perubahan apapun pada diriku. Sunday melihat bayangannya sendiri dari pintu lift itu. Tiba-tiba pintu lift terbuka. Sunday yang sedang berlenggak-lenggok didepan lift jadi salah tingkah. Terlebih seseorang yang muncul dari baliknya adalah Om Rudi.
__ADS_1
"Sunday? Sedang apa di sini?"
"Mengantar file meeting ke ruangan Pak Faris, Om." Jika berdua saja begini Sunday akan memanggil Om kepada Om Rudi tapi jika ditempat ramai pegawai, Sunday akan memanggilnya Pak. Sebenarnya Om Rudi keberatan dengan perbedaan itu tapi Sunday bersikeras untuk melalukannya dan tidak mau menunjukkan identitas sebenarnya sebagai anak tiri Om Rudi.