
"Jadilah pacarku, Sun."
"Apa??? Pacar???" Sunday terbelalak tak percaya dengan kalimat Faris. Wajah Faris tampak serius, Sunday semakin bingung.
Apa yang terjadi padanya? Apakah ini lelucon? Atau semacam april mob? Tidak, ini bukan bulan April. Lalu apa?
"Ya, aku ingin kita pacaran." Faris masih serius. "Tepatnya pura-pura pacaran." Jelas Faris kemudian karena melihat Sunday yang sepertinya syok mendengar pernyataannya.
" Kamu sehat?" Sunday mulai tenang dan meletakkan punggung tangannya di kening Faris. Keningnya tidak panas. Dia juga terlihat sehat-sehat saja.
"Hei, aku tidak apa-apa." Sambil mengangkat tangan Sunday.
"Apa mungkin kejiwaanmu sedang terganggu?"
"Heh, aku sehat jasmani dan rohani, kau tahu."
"Lalu kenapa tiba-tiba mengajakku pura-pura pacaran? " Nada suara Sunday mulai meninggi.
"Aku sedang mengalami hal yang berat." Wajah Faris tampak sendu. Melihat itu, ada perasaan aneh di hati Sunday.
"Apa yang terjadi?" Sunday tampak melembut lagi. "Kamu tidak akan mati dalam waktu dekat kan? Maksudku, kamu tidak sedang mengidap penyakit mematikan dan harus menghabiskan banyak waktu dengan seseorang kan?" Ada nada khawatir dari kalimat Sunday.
"Lebih parah dari itu." Faris lesu.
"Apa??? Stadium berapa? Kanker ganas, hepatitis, diabetes, atau... AIDS?" Sunday bergidik sendiri dan menutup mulutnya dengan tangan setelah menyebut AIDS diakhir kalimatnya.
"Hei, aku sehat jiwa & raga. Apalagi AIDS, bagaimana aku bisa terkena AIDS. Aku pria baik-baik."
"Pria baik-baik apa. Kau sering sekali berganti pasangan. Itu benar-benar mencurigakan." Sunday menyelidik.
"Sudah ku katakan berkali-kali, aku tidak seperti yang kau fikirkan. Aku pria baik-baik, bukan pecandu narkoba apalagi pernah melakukan itu. Aku tidak pernah melakukan semua itu." Nada suara Faris meninggi.
"Benarkah?" Sunday mendekatkan wajahnya pada Faris dan menyipitkan matanya.
"Terserahlah." Faris tampak kesal sekarang. Sunday tersenyum karena akhirnya Faris bisa menunjukkan ekspresi kesal juga. Jarang-jarang dia bisa cemberut seperti itu.
"Baiklah... apa sebenarnya yang sudah terjadi?"
#Flashback :
Faris masuk kedalam rumahnya. Pukul 8 malam. Rumahnya tampak sepi. Tidak berbeda dari hari-hari biasanya. Rumah ini memang selalu sepi dan itulah yang membuat Faris lebih suka keluar rumah untuk mencari keramaian.
Bagaimana tidak sepi, rumah itu hanya dihuni, papi-mami, mbak laila asisten rumah tangganya dan dirinya. Pak harun, sopir papinya, karena tinggal tidak jauh dari tempat tinggal mereka akan datang pagi hari untuk mengantar papinya ke kantor dan akan pulang setelah mengantar papinya kembali ke rumah.
Faris hendak menaiki tangga menuju kamarnya ketika papinya tiba-tiba memanggil. Ketika masuk, Faris tidak menyadari papinya ada di ruang tengah.
"Iya, pi..." Faris mengurungkan langkahnya menaiki anak tangga dan berbalik arah mendekati papinya.
"Dari mana, Ris?" Papinya meletakkan ponselnya.
"Dari tempat teman, pi." Sekarang Faris sudah duduk di kursi lain disamping papinya.
"Kapan kamu tidak memperpanjang kontrak kerjamu lagi?"
"Entahlah, Pi. Aku masih sangat suka bekerja di sana."
"Sebaiknya cepatlah berhenti dari pekerjaanmu itu. Sudah waktunya kamu membantu Papi di kantor. Papi butuh pendamping. Tidak lama lagi Papi harus pensiun." Papinya serius.
__ADS_1
"Kan ada kak Novi, Pi. Kak Novi cukup baik membantu Papi."
"Kakakmu itu perempuan, akan lebih baik jika yang menggantikan Papi nanti adalah kamu. Anak laki-laki Papi satu-satunya."
"Tapi Pi, jangan sekarang. Aku belum siap." Faris menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Lalu kapan? Kau minta waktu sampai kapan lagi? Apa menunggu sampai Papi benar-benar tidak bisa bekerja lagi baru mau mengisi posisi di kantor?"
"Papi jangan berkata seperti itu. Papi kan pemimpin yang baik dan juga tidak akan ada yang bisa memecat Papi." Faris terkekeh. Tentu saja tidak akan ada yang berani memecat direktur yang adalah ownernya sendiri.
"Papi ingin kamu segera berhenti dari pekerjaanmu."
"Tenang Pi, pasti aku akan berhenti. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Tolong beri aku waktu, Pi."
"Kamu selalu saja menawar perintah Papi."
"Ayolah Pi. Papi tahu kan bagaimana serunya menjadi pelaut." Faris tersenyum lebar.
"Terserah kamu." Papinya sudah kehabisan cara untuk membuat anak laki-lakinya itu mau bekerja di kantornya, bukan malah asyik dengan hobi keliling dunianya.
"Oh iya satu lagi. Kalau kau tidak segera membawa calon istri, Papi akan menjodohkanmu dengan gadis pilihan Papi."
"Soal ini biarkan sepenuhnya aku yang menangani sendiri. Aku pasti membawa menantu yang baik untuk Papi dan Mami."
"Tidak, Papi dan Mami sudah sepakat akan menjodohkan kamu dengan Rima."
"Apa??? Rima???" Faris terkaget tidak tanggung-tanggung dan melompat dari duduknya. "Jangan Pi. Papi akan merusak hubungan persahabatanku dengan Rima."
"Iya, Papi akan merusaknya dan mengganti menjadi hubungan suami istri."
"Tidak Pi, ini tidak benar. Aku dan Rima tidak akan bisa saling mencintai sebagai suami istri. Kita sudah saling mengenal sejak kecil, mana mungkin aku bisa menganggapnya istri setelah ini. Sangat tidak masuk akal." Faris panik.
"Sempurna bagaimana. Aku tidak akan bisa bersama Rima. Aku punya calon sendiri, Pi."
"Gadis-gadis yang kau pacari itu? Yang Papi tidak tau siapa mereka, dari keluarga mana dan bagaimana. Menurut Papi, Rima adalah jodoh terbaik untukmu." Papi Faris masih ngotot. Faris harus meminta bantuan maminya untuk bisa memenangkan perdebatan dengan Papinya. Faris butuh sekutu.
"Mi... Mami..." Faris menuju kamar maminya, meninggalkan Papinya yang menggeleng kepala melihat tingkah laku putranya yang terlalu banyak ia manjakan itu.
"Oh, jadi begitu." Sunday manggut-manggut seolah faham dengan alasan Faris. "Eh tapi benar sih, kamu itu cocok sekali dengan Kak Rima."
"Kau ini." Faris hampir memukul Sunday tapi tidak dilakukannya karena memang dia hanya menggertak. Sunday tertawa.
Masih bisa tertawa juga anak ini. Semakin menggemaskan saja. Batin Faris.
"Kak Rima cantik. Dia juga terlihat baik. Akan sangat beruntung siapapun pria yang bisa mendapatkannya." Puji Sunday.
"Dia memang cantik dan baik. Sekali bertemu dengannya kaupun sudah tahu itu. Sangat tepat jika menjadikannya istri. Dia juga cerdas. Berkepribadian baik dan dia adalah orang yang penuh dengan energi positif. Selalu tampil percaya diri. Ya, karena dia memiliki segala kemampuan dan pengetahuan untuk bersikap dan menjalin komunikasi. Kau tahu, dia sangat disegani di tempatnya bekerja. Dia itu kesayangan bos karena dia sangat kompeten dalam pekerjaannya." Jelas Faris yang sepertinya sangat mengenal Rima.
"Tapi sejak kecil aku mengenalnya karena orang tua kami bersahabat, membuatku bahkan lebih menganggapnya sebagai saudara daripada sebagai sekadar teman. Aku juga tidak pernah memandangnya sebagai seorang gadis, tidak sama sekali. Dia hanya teman baikku. Teman terbaik. Jadi sangat mustahil jika tiba-tiba kami menikah karena aku tidak pernah mencintainya sebagai wanita." Faris merinding sendiri membayangkan hal itu.
"Apa kak Rima juga tau kalau kalian akan dijodohkan?"
"Ya..." Jawab Faris lirih.
"Lalu bagaimana dengannya?"
"Dia anak yang berbakti kepada orang tuanya dan melakukan apapun yang orang tuanya inginkan."
__ADS_1
"Benarkah? Wah, dia sebaik itu yaa."
"Ya... jadi, dia menerima perjodohan ini karena baginya tidak ada yang lebih mulia daripada berbakti kepada orang tua."
"Apa dia tidak punya pacar?"
"Dia bahkan bisa saja meninggalkan pacarnya jika orang tuanya ingin dia melakukan itu."
"Wah... sungguh menakjubkan. Kak Rima benar-benar keren. Bodoh sekali kau menolak perjodohan dengannya. Wanita sepertinya sangat jarang kau temukan dijaman sekarang."
"Sudah ku bilang, aku tidak mencintainya. Aku hanya menganggapnya sebagai temanku saja."
"Dasar bodoh." Gerutu Sunday.
"Lalu kenapa tiba-tiba mengajakku pacaran? Kenapa bukan salah satu dari pacar-pacarmu itu saja?" Sunday penasaran.
"Pacar yang mana? Aku tidak punya. Aku akui mereka semua ingin menjadi pacarku, tapi aku tidak ingin menjadi pacar salah satupun dari mereka." Masih dengan wajah cemberutnya.
"Sok laku." Sunday mencibir. "Kenapa bukan Mery saja yang kamu perkenalkan pada Papi Mamimu? Dia kan pacar terbarumu." Sunday penasaran. Bukankah mereka terlihat mesra waktu itu.
"Hei sudah ku bilang aku tidak punya pacar, jadi itu berarti Mery juga bukan pacarku."
"Bukan pacar, Teman Tapi Mesra?" Goda Sunday.
"Ahh, terserah katamu." Faris manyun. Sunday malah semakin ingin menggoda Faris melihatnya bersikap jutek begitu.
"Ayolah Sun, hanya berpura-pura menjadi pacarku. Itu saja. Mudah kan."
"Tidak, aku tidak mau berpura-pura menjadi pacarmu."
"Kalau begitu pacar betulan saja." Faris mengerling. Malas sekali Sunday melihat kerlingan Faris jadi secepatnya ia memalingkan muka.
"Tidak mau!" Tolak Sunday.
"Kalau begitu ayolah jadi pacar pura-puraku."
"Tidak, gadis lain saja." Sunday tegas.
"Kamu tau, kenapa aku memilihmu dan bukan memilih salah satu gadis yang biasa jalan denganku?" Sunday menggeleng.
"Itu karena kau masih kuliah, sedangkan gadis-gadis itu bahkan sudah bekerja.
"Oh ya? Mary?"
"Mary? Dia itu dokter muda kau tau."
Benar tebakan Sunday waktu itu.
"Lalu apa hubungannya kuliah dan bekerja?" Sunday benar-benar tidak faham kali ini.
"Tentu saja kalau aku memacari anak kuliah, aku tidak akan diburu-buru untuk cepat menikah. Aku bisa beralasan karena pacarku masih kuliah jadi kita tidak harus menikah dalam waktu dekat."
"Ooo..." Sunday akhirnya faham. Faris masih memandangnya.
"Sun, bantu aku." Faris memohon sambil memelas.
"Ini satu-satunya cara melawan Papi agar tidak jadi menjodohkanku dengan Rima ataupun memaksaku segera menikah."
__ADS_1
Sunday masih berfikir. Satu sisi dia kasihan kepada Faris yang terlihat sangat stres. Tapi di sisi yang lain dia juga enggan melakukan sandiwara itu.
Bagaimana ini? Haruskah aku membantunya? Atau aku abaikan saja ide konyolnya? Ahh, entahlah... Sunday menghembuskan nafasnya kasar.