Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Pergi


__ADS_3

"Dia. Victor. Dia pacarku sekarang. Jadi jangan datang dan mencariku lagi karena aku tidak bisa menjalin hubungan apapun denganmu." Victor yang mendengar kalimat itu secara tiba-tiba jadi terkesiap. Faris mengalihkan pandangannya kepada Victor. Tapi belum sempat Faris berkata lagi, Sunday sudah meraih lengan Victor, menggandengnya dan berjalan meninggalkan Faris. Sunday berjalan menuju ke tempat mobil Victor terparkir. Air mata Sunday tumpah juga saat memasuki mobil Victor. Victor menyodorkan tisu kepadanya. Tapi Sunday hanya menggenggam dan tidak menggunakannya. Sunday masih menangis ketika hujan mulai turun. Ia melihat ke arah luar mobil. Lalu menengok ke tempat Faris berdiri tadi. Ia sedikit lega karena Faris sudah tidak ada di sana. Itu berarti ia juga tidak kehujanan.


Sunday menyandarkan kepalanya pada headrest lalu setelah beberapa saat menangis, Sunday memandang Victor yang sedari tadi diam disampingnya. Tidak mengatakan apapun kepadanya dan hanya membiarkan Sunday puas menangis.


"Terima kasih." Sunday mengembalikan kotak tisu kepada Victor.


"Ku antar kau pulang." Ucap Victor.


"Tidak, aku akan pulang naik motor."


"Tapi ini hujan."


"Tidak apa-apa aku memiliki jas hujan." Sunday membuka pintu mobil Victor dan kemudian pergi menembus hujan lalu menghampiri motornya ditempat parkir. Victor memandang Sunday yang berlari menjauhi mobilnya.


Sunday membiarkan dirinya basah diguyur air hujan. Air mata yang meleleh dipipinya tersamarkan oleh air hujan yang menerpa wajahnya. Hujan masih turun dengan deras. Perasaannya campur aduk. Kekecewaanya kepada Faris menguasai dirinya.


Tapi entah kenapa justru ada rasa aneh saat ia mengatakan harus mengakhiri pertemanannya dengan Faris. Rasa yang sulit ia definisikan.


Hujan masih mengguyur. Sunday yang tidak memakai jas hujan tetap berkendara. Tidak peduli badannya basah kuyup, tidak peduli tubuhnya kedinginan. Ia hanya ingin terus berjalan dan menyamarkan genangan air matanya. Satu hal yang tidak ia fahami, kenapa mendapati kebohongan Faris rasanya sesakit itu.


🌸🌸🌸


Pagi hari mata Sunday terasa panas. Tenggorokannya kering. Ia berniat bangun dari tempat tidurnya tapi bertepatan dengan itu mamanya membuka pintu kamarnya.


"Kau mau kemana?" Mamanya terburu-buru meraih tubuh Sunday yang ingin meninggalkan tempatnya berbaring.


"Aku mau minum."


"Biar ku ambilkan, kau tidur saja." Sunday menurut dan kembali berbaring. Tidak lama kemudian mamanya masuk membawa segelas air minum. Memberikannya kepada Sunday. Setelah meminumnya lagi lalu ia kembali tidur. Mamanya memasang selimutnya kembali. Tidak membangunkannya meski hari ini bukan hari libur. Mamanya tahu setelah hujan-hujan kemarin Sunday jadi tidak enak badan.


Sunday merasa ada tangan dingin menyentuh keningnya. Matanya terbuka.


"Kau... aku membencimu. Kenapa kau masih berani menemuiku. Aku sangat membencimu. Aku kecewa padamu. Kau sejahat itu padaku. Kau bilang mencintaiku tapi kau tega mempermainkanku. Aku tidak ingin menemuimu lagi. Aku membencimu." Sunday memarahi Faris habis-habisan. Meski dengan tubuh yang lemah dan suara serak serta air mata yang meleleh disudut matanya, Sunday masih berusaha meluapkan kekecewaannya kepada Faris yang duduk ditepi tempat tidurnya. Faris hanya mengelus kening Sunday lalu mengusap air matanya, tidak mengucapkan apapun. Lalu yang Sunday rasakan hanya mata basahnya terasa berat sehingga ia pun tidur kembali. Efek samping obat yang dibeli mamanya di apotek memang membuat Sunday agar bisa beristirahat dengan baik.


Tapi rasanya baru sebentar saja memejamkan mata seperti masih ada pergerakan di tepi tempat tidurnya. Sunday membuka mata.


"Kak Victor?" Sunday mengernyitkan kening.


"Kenapa bisa hujan-hujanan. Katamu memiliki jas hujan, tapi kenapa tidak kau pakai?"


"Aku buru-buru, Kak." Jawab Sunday lirih.

__ADS_1


"Sekarang kau sakit jadinya." Victor menggerutu cemas.


"Kakak sudah lama di sini?"


"Lumayan."


Sebenarnya Sunday penasaran dengan apa yang dialaminya barusan. Ia merasa yang datang adalah Faris tapi kenapa kemudian yang dilihatnya adalah Victor?


Apa yang tadi itu mimpi? Atau aku hanya berhalusinasi? Apa yang kupandang Faris tadi tapi sebenarnya adalah Victor. Pikir Sunday.


"Hei, tambah bengong."


"Ah tidak, aku hanya merasa sedikit tidak enak badan."


"Sedikit? Mamamu bilang kau seharian ini tidak beranjak dari tempat tidurmu."


"Mamaku terlalu melebih-lebihkan."


"Sudah, istirahatlah."


Sunday malah bangun dan mengambil ponsel di meja belajarnya. Victor hanya bisa melihat itu. Sunday tampak mengutak atik ponsel setelah melihat jam di dinding kamarnya. Pukul 3 sore.


"Hallo Kak. Maaf hari ini aku tidak datang magang. Aku tidak enak badan. Iya terima kasih, Kak." Setelah menelepon Beni lalu Sunday melihat pesan di ponselnya yang kebanyakan isinya dari Suzan dan Windy. Bahkan mereka juga menelepon Sunday berkali-kali. Sunday pun membalas pesan mereka. Tapi baru juga pesan terkirim, dua temannya itu sudah muncul dari pintu kamarnya.


"Ada apa, Suz?" Tanya Windy. Suzan memberi tahu dengan isyaratnya.


"Maaf, tidak tahu ada pak Victor di sini." Sunday yang melihat kedua sahabatnya salah tingkah itu jadi tersenyum lucu.


"Ah, kalian. Baiklah, ku lihat Sunday juga sudah membaik jadi aku pulang dulu." Pamit Victor.


"Sun, aku pulang dulu."


"Iya pak. Ehh, maksudku Kak." Sunday meralat karena Victor memelototinya saat Sunday menyebut kata sapaan 'Pak'.


Setelah itu Victor keluar dari kamar Sunday. Kedua temannya tampak canggung menyapa Victor. Victor memaklumi itu karena hubungan mereka adalah dosen dan mahasiswa sekarang.


"Jadi, kau berpacaran dengan dosen sekarang?" Goda Windy.


"Kau ini." Sunday memukul bahu Windy.


"Aku yakin untuk kuliah Pemrograman Web 2 kau akan mendapatkan nilai A." Tambah Suzan.

__ADS_1


"Ini juga. Teman sedang sakit bukan dihibur dan didoakan cepat sembuh, ehh malah dibully." Suzan & Windy lalu cekikikan.


"Baiklah... jadi sakit apa kau ini? Perasaan kemarin masih baik-baik saja."


"Malarindu ya?" Tambah Suzan.


"Terus... goda terus..." Sunday memasang wajah cemberut.


"Oke oke... sakit apa sih?" Suzan berubah sok manis.


"Tidak apa-apa sih, hanya demam saja."


Lalu ketiga sahabat itu berbincang dan bercanda seperti biasa. Sunday juga merasa tubuhnya sudah membaik. Demamnya sudah turun tapi suaranya masih sedikit serak.


🌸🌸🌸


Sunday keluar dari dalam kelas dan tergesa menuju laboratorium. Hari ini ada praktikum dan dia harus mempersiapkan proyektor untuk menyampaikan materi kuliah. Beni sedang ada urusan di laboratorium hukum jadi hari ini meminta tolong Sunday untuk sementara menghandle laboratorium.


Tapi saat memasuki laboratorium ternyata semua perlengkapan sudah siap. Terlihat Victor sedang memasang proyektor.


"Maaf Pak, biar saya yang melanjutkan."


"Tidak usah, kau baru sembuh jadi istirahatlah."


"Saya tidak apa-apa, Pak."


"Sudah, duduklah di tempatmu."


"Tapi Pak..."


"Kau mau dapat nilai C?"


Sunday menciut, nilai C adalah bencana baginya. Jika ada nilai C, maka kesempatan magangnya akan diberhentikan oleh pihak kampus. Akhirnya Sunday menurut dan menuju meja server disudut ruangan.


Victor tersenyum karena ancamannya kepada Sunday berhasil.


🌸🌸🌸


Pukul 22.32, Sunday masih berkutat dengan tugasnya. Beberapa syntax ia bubuhkan di program yang ia buat. Dikeheningan malam disela konsentrasinya, tiba-tiba telepon bergetar. Sebuah pesan sampai di ponselnya.


Faris : Jika aku memang tidak pantas untuk dimaafkan, maka semoga hari-harimu menjadi lebih tenang mulai sekarang. Aku berangkat.

__ADS_1


Sunday mematung membaca pesan singkat dari Faris. Memang sejak pertemuannya di kampus waktu itu, Faris sudah tidak pernah menemuinya lagi ataupun menghubunginya. Faris benar-benar tidak ingin mengganggu kehidupan Sunday dengan menjauhi seperti apa yang diinginkannya.


Tanpa sadar Sunday menghela nafas berat. Tiba-tiba saja dadanya menjadi sedikit sesak. Ia baca kembali pesan singkat Faris lalu kemudian meletakkan ponsel di sebelah laptopnya dan menelungkupkan wajahnya pada meja belajar. Kebiasaan saat ia sedang berfikir keras.


__ADS_2