
Sunday memasukkan ponsel ke dalam tasnya setelah melihat jam ditangannya. Sudah waktunya pulang. Laboratorium teknik sudah sepi. Tinggal dirinya dan Victor yang tinggal.
"Sudah jam 4, Sun." Ujar Victor yang sempat memandangvSunday melihat jam tangannya. "Pulanglah."
"Iya Kak." Sunday segera mematikan seperangkat PC dihadapannya.
"Motormu sudah bisa?"
"Belum."
"Tunggu sebentar, pulanglah bersamaku."
"Tidak usah, Kak."
"Yakin mau menunggu angkot yang belum pasti datang seperti kemarin?"
"Aku akan memesan ojek online, Kak."
"Sudah, bareng aku saja." Victor sudah mematikan PCnya juga lalu menyambar tasnya dan berjalan keluar laboratorium yang diikuti Sunday.
"Takutnya akan merepotkanmu, Kak."
"Kau ini seperti bersama orang asing saja." Celetuk Victor sambil mengunci pintu laboratorium.
"Kita kan sudah lama saling mengenal."
"Iya sih." Sunday menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan sejajar dengan Victor.
"Tapi makan dulu yuk. Sejak siang aku belum makan."
"Baiklah."
"Ke arah rumahmu ada tempat makan yang enak?"
"Mmm..." Sunday tampak berfikir. "Kakak maunya makan apa?"
"Apa saja. Ehh, jam segini apa ada nasi goreng yang sudah buka?"
"Oh diujung gang rumahku ada nasi goreng yang menurutku enak. Jam segini sudah mulai buka biasanya, Kak."
"Bolehlah, kita makan di sana saja."
Tiba ditempat parkir mereka berpapasan dengan seseorang.
"Hai, kalian mau pulang?" Sapa Herman, Dosen wali Sunday.
__ADS_1
"Iya Pak." Jawab Sunday & Victor hampir bersamaan.
"Untung kalian belum pulang. Flashdisk-ku tertinggal di lab. Ada file yang harus ku kerjakan hari ini."
"Kalau begitu akan aku ambilkan." Jawab Victor.
"Baiklah, ayo." Ajak Herman, dosen muda dan tampan itu.
"Tunggulah disini, Sun." Sunday mengangguk. Victor dan Herman kembali ke laboratorium.
Angin sore ini bertiup perlahan. Matahari sudah mulai menenggelamkan diri. Kampus mulai terlihat redup. Ditambah pohon-pohon yang ada di beberapa tempat di dekat laboratorium, membuat suasana sore terlihat lebih gelap dari sebenarnya.
Ting!!! Sebuah pesan Whatsapp masuk. Sunday mengambil ponsel di saku tasnya.
Faris : sedang apa?
Sunday : mau pulang
Faris : dari?
Sunday : kampus
"Masih sempat mengirim pesan padaku. Padahal tadi siang dia bersama gadis itu." Gerutu Sunday. Ada sedikit rasa kesal dihatinya. Tapi kemudian ia perbaiki alur pikirannya. Bukankah Faris memang begitu. Jalan dengan gadis manapun yang ia mau adalah kebiasaannya. "Tapi siapa gadis itu? Rambutnya agak cepak. Rambut Rima panjang, rambut Merry juga tidak sependek itu. Siapa ya?" Sunday masih penasaran.
"Ahh, masa bodoh. Apa urusanku. Siapapun gadis itu, tidak ada urusannya sama sekali denganku. Sunday kembali berusaha tidak peduli.
Tanpa penunjuk arah, kali ini Victor langsung melarikan mobilnya ke arah rumah Sunday. Di sebuah belokan memang sudah berdiri sebuah warung tenda.
"Yang ini?" Tunjuk Victor.
"Iya. Hanya warung tenda memang, Kak." Sunday ragu Victor mau. Tadi dia juga lupa menjelaskan kalau tempatnya hanya sebuah warung tenda.
"Tidak masalah." Victor turun dari mobilnya dan diikuti Sunday.
Setelah masuk, Sunday memesan dua porsi nasi goreng kepada penjualnya.
"Baru pulang, mbak Sunday?" Sapa penjualnya ramah sambil menyiapkan pesanan Sunday. Mereka memang sudah saling mengenal karena Sunday sering makan nasi goreng di sini.
"Iya bang." Sunday tersenyum lalu duduk di meja tempat Victor duduk.
"Minumnya apa, mbak?" Si abang bertanya masih dengan menggoreng.
"Es jeruk, Bang." Jawab Sunday sedikit berteriak karena jarak duduk dan tempat abang nasi goreng berdiri itu ada beberapa langkah. Dan lagi, suara deru kendaraan yang berlalu lalang bisa membuat pendengaran sedikit terganggu. "Kamu minum apa, Kak?" Tanya Sunday pada Victor.
"Aku, teh hangat saja." Jawabnya sambil menatap Sunday sebentar lalu memalingkan pandangannya kembali ke jalan raya di depan tenda.
__ADS_1
"Sama teh hangat ya, Bang." Si abang mengacungkan jempol tanda pesanan segera disiapkan.
"Sun..." Ujar Victor. Sunday mendongak memandang Victor lurus menunggu kalimat Victor selanjutnya. Tapi Victor tidak juga bersuara lagi.
"Ada apa, Kak?"
"Mmm... aku mau pake acar yang banyak." Kata Victor kemudian. Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan kepada Sunday.
"Baiklah." Kali ini Sunday menghampiri abang tukang nasi goreng dan menyampaikan permintaan Victor. Lalu setelah itu Sunday kembali. Tak berapa lama kemudian nasi goreng mereka pun siap. Aroma harum khas nasi goreng pun tercium semakin kuat saat sudah berada dihadapan mereka masing-masing.
"Sepertinya memang enak." Gumam Victor. Sunday hanya mengulas senyum. Mereka makan dengan tidak banyak berbicara.
Tapi mereka memang seperti itu. Victor yang cenderung sering pendiam tidak begitu pandai mencari topik pembicaraan. Sunday juga selalu canggung jika bersama Victor. Tidak di lab, di tempat lain pun sama. Sunday tidak tahu harus bagaimana menghadapi seorang pendiam. Ternyata sikap Victor berubah-ubah. Kemarin saat mengantarnya sangat akrab dan banyak mengobrol. Tapi hari ini ia kembali jadi si pendiam. Benar-benar labil. Sangat berbeda jika bersama Faris.
Mengingat Faris, Sunday juga sering makan nasi goreng bersamanya di sini. Mereka pasti akan banyak mengobrol dan sering kali obrolan mereka berubah menjadi perdebatan. Tidak ada saat sepi jika bersama Faris. Selalu saja ada bahan obrolan yang tidak pernah membosankan. Itu mungkin yang membuat Sunday juga merasa nyaman setiap bersamanya.
Kok, jadi ingat Faris. Buat apa? Mungkin sekarang dia masih bersama gadis itu. Ingatan Sunday mulai kembali pada kejadian tadi siang saat melihat Faris bersama seorang gadis.
Victor sudah menyelesaikan makannya. Meminum teh hangatnya hingga hampir habis. Ia melihat Sunday masih menyuapkan makanannya dalam diam. Selama makan memang tidak ada perbincangan apapun diantara mereka. Dipandangi gadis itu lekat. Tanpa sadar senyumnya mengembang tipis.
Tak berapa lama Sunday juga sudah menghabiskan nasi gorengnya.
"Sudah?" Tanya Victor setelah Sunday meletakkan gelas yang sudah kosong kembali ke meja. Sunday mengangguk. Setelah membayar, Victor lalu mengantar Sunday pulang.
Sebenarnya Sunday menolak saat Victor mengantarnya sampai rumah karena dari tempat nasi goreng itu rumah Sunday bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Tapi Victor yang sudah berjanji mengantar merasa harus memastikan Sunday benar-benar selamat sampai rumahnya. Akhirnya Sunday pasrah juga.
Seolah baru duduk diatas jok mobil Victor, kini rumah Sunday sudah tampak. Tapi, ada mobil lain terparkir di depan rumah Sunday. Saat lebih dekat Sunday mengenali mobil itu. Seseorang bersandar di bagian depan mobil. Pemilik mobil. Walaupun hari sudah gelap sekarang, tapi Sunday sangat tahu siapa pemiik mobil itu.
Sunday turun dari mobil Victor yang sebelumnya sempat mengucapkan terima kasih dan dijawab anggukan dan senyuman. Mobil Victor berlalu, Sunday menghampiri Faris.
"Hei!" Sunday menepuk pundak Faris seolah ingin mengagetinya. Padahal Sunday tahu itu tidak akan terjadi karena ia tahu Faris sangat sadar akan kedatangannya. Faris menoleh ke arah Sunday dan berhenti memainkan ponselnya.
"Dari mana?" Tanya Faris dingin. Tidak ada senyum hangat yang biasanya ia pasang tiap bertemu Sunday.
"Dari kampus." Jawab Sunday santai.
"Sampai jam segini?"
"Oh, aku makan nasi goreng dulu di depan."
"Baiklah, aku pulang."
"Lho, langsung pulang?" Sunday yang mendapati sikap tak biasa dari Faris jadi heran. Biasanya Faris selalu bersikap hangat. Banyak berbicara dan juga tersenyum. Tapi kali ini Faris sangat berbeda. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Sunday lagi dan langsung menaiki mobilnya begitu ia berpamitan.
Ada apa dengannya? Kenapa dia aneh begitu? Batin Sunday saat masih melihat bayangan mobil Faris yang melaju sampai di ujung jalan.
__ADS_1
"Ahh, biarlah." Sunday berusaha mangabaikan. Setelah mobil Faris tak terlihat lagi, Sunday masuk ke dalam rumahnya.