Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Tetangga


__ADS_3

Sunday? Apa itu benar-benar dia? Faris memarkir motornya dan menghampiri gadis yang hampir ditabraknya itu.


"Kau terluka?" Sunday mendongak dan Faris yang berjongkok bisa dengan jelas melihat wajah itu adalah Sunday.


"Kau, kenapa ada di sini?" Wajah Sunday membentuk seperti siluet karena cahaya lampu jalan di belakangnya. Ada kerinduan yang seperti ingin meledak. Tapi Faris harus menahannya. Ia tidak mau membuat Sunday semakin membencinya jika dia melakukan sesuatu.


"Kau juga, apa yang kau lakukan di sini?"


"Ini rumahku." Dari jarak yang dekat dalam cahaya temaram Faris masih bisa melihat wajah Sunday. Manis dan menggemaskan. Tidak ada perubahan yang signifikan.


"Rumahmu?"


"Ya." Faris sudah menahan diri untuk rindunya yang selama ini menyiksa. Tapi berhadapan dengan Sunday sedekat ini membuat pertahanan yang sudah dibangunnya selama beberapa hari ini benar-benar terlepas dari kendalinya. Tangannya telah berada diwajah Sunday saat Faris menyadari tindakannya. Tapi lalu kemudian ia menariknya kembali dan berganti meraih tangan Sunday.


"Sini, ku bantu kau berdiri." Faris menarik tangan Sunday dan menopang tubuhnya agar bisa tetap seimbang.


"Apa kakimu sakit?"


"Tidak, tidak apa-apa." Sunday menggeleng berkali-kali.


"Maaf, aku tidak melihat kanan kiri, dan langsung keluar saja."


"Aku harap lain kali kau tidak seceroboh ini lagi. Kalau tadi aku tertabrak bagaimana?" Gerutu Sunday. Faris tersenyum. Semua yang diucapkan Sunday seperti sebuah lantunan hipnoterapi yang membuatnya merasa bahagia. Padahal yang dikatakan Sunday adalah kata-kata untuk memarahinya.


"Iya, maafkan aku."


"Ya sudah kalau begitu." Sunday agak sengak. Pikirnya ini sedang tidak di tempat kerja jadi dia bebas melakukan apa saja. Aksi bos dan bawahan tidak berlaku lagi jika berada di luar Font.


"Kau mau kemana?"


"Pulang." Jawab Sunday singkat lalu berbalik badan meninggalkan Faris.


"Pulang semalam ini?"


"Ya." Sunday sedikit berteriak karena langkahnya mulai menjauh. Faris mengambil motor lalu mengejarnya.


"Kau bercanda pulang ke rumahmu semalam ini? Biar ku antar."


"Tidak usah."


"Kalau nanti kau diculik bagaimana?"


"Tidak mungkin."


"Kalau kau bertemu hantu?"


"Kau hantunya." Sunday menghentikan langkahnya.


"Sudah jangan cerewet. Pergilah."


"Hei, kenapa dari tadi kurasa kau sangat tidak sopan terhadapku."


"Kenapa harus?"


"Karena aku adalah atasanmu."


"Di Font. Tidak di sini." Sunday melanjutkan langkahnya lagi. Faris yang mensejajari menggunakan motornya mulai gemas setiap Sunday mulai judes begini.


"Apa itu menurutmu berbeda?"


"Tentu saja, aku bukan pegawai Font jika sedang diluar."


"Tapi dimanapun kau berada dan kapanpun itu kau tercatat sebagai pegawai Font."


"Oh ya? Kalau itu benar-benar kau berlakukan lalu berapa gaji yang bisa kau bayar untukku? Saat dirumah sedang tidur, sedang makan, sedang pup, sedang... pokonya walaupun tidak sedang bekerja tapi aku tetap sebagai pegawai Font lalu kenapa tidak kau bayar juga waktu yang kugunakan itu?" Sunday menyerocos bagai kereta api lewat.


"Kau tahu, aku tidak menjadi pegawai Font selama 24 jam. Jadi jangan mengaturku seolah aku ini pegawaimu saat ini. Aku hanya pegawai Font saat jam kerja. Lebih dari itu, aku juga rakyat negeri ini sama sepertimu."

__ADS_1


Mendapat kuliah panjang dari Sunday ia hanya tersenyum.


"Aku senang bertemu denganmu. Meskipun kau sangat jutek jika diluar jam kerjamu tapi aku senang kau bekerja di Font." Sunday tidak menyangka Faris akan mengatakan itu padanya. Dan anehnya itu membuatnya salah tingkah. Tapi kemudian ia berusaha untuk bersikap biasa lagi.


Tentu saja kau senang karena disana aku adalah bawahanmu yang bebas kau perintah dan kau tindas. Batin Sunday.


Sunday masih berdiri di depan kosnya dan Faris juga masih bersikeras ingin mengantarnya pulang. Ia belum tahu jika Sunday tinggal di kos sekarang. Sebenarnya Sunday tidak ingin Faris tahu rumahnya bersebelahan dengan kos Sunday tapi Faris seperti tidak mau beranjak sebelum Sunday mau diantarnya. Akhirnya Sunday menyerah.


"Sudah, pulanglah. Aku mau masuk."


"Masuk ke mana?"


"Ke dalam." Sunday menunjuk pintu pagar di belakangnya. Faris melihat ke arah rumah didalamnya.


"Kau tinggal di sini?" Faris penasaran bagimana rumah itu menjadi tempat tinggal Sunday.


"Kos, aku kos di sini."


"Ooo, sejak kapan?"


"Kenapa kau ingin tahu?"


"Karena aku ingin." Jawab Faris cepat.


"Kau tidak wajib tahu, kau kan bukan ketua RT di sini."


"Tapi aku kan..."


"Sudah... sudah... pergilah. Aku mau masuk ini." Sunday mendorong bahu Faris.


"Baiklah baiklah... kalau begitu. Aku pergi." Faris menstarter motor besarnya. Sunday hanya mengangguk. Setelah Faris pergi setelah menyunggingkan senyum khas malaikatnya, Sunday kembali masuk ke dalam rumah kos.


Ini benar-benar lebih dari sekadar kutukan. Ini adalah ancaman yang sangat menakutkan. Bagaimana mungkin rumah Faris pindah ke situ. Kenapa aku tidak pernah tahu. Sunday lalu masuk ke kamar mandi. Ingin sekali ia menyegarkan badannya agar fikirannya juga bisa ikut segar.


Sementara itu Faris menghentikan motornya di salah satu kafe. Saat masuk ke dalamnya terlihat Gina melambaikan tangan padanya.


"Ada sedikit urusan yang harus ku kerjakan lebih dulu." Faris beralasan.


"Kau bilang tadi akan langsung menghampiriku."


"Ini urusan mendadak yang diluar dugaan."


"Baiklah." Gina mengerti.


"Aku sudah memesan, kau memesan apa?" Gina menyodorkan buku menu.


"Orange juice saja."


"Kau ini imut sekali. Dari dulu kebiasaanmu tidak berubah. Selalu menyukai orange juice."


"Terlanjur suka." Faris tersenyum. Gina semakin menyukai pria di hadapannya itu.


"Jadi, kenapa ingin aku ke sini?"


"Aku hanya ingin kau temani." Jawab Gina dengan suara lembutnya.


"Bosan kalau harus berada di rumah sesore ini."


"Sudah jam 10 malam. Sebaiknya anak gadis tidak ada di luar saat larut malam."


"Aturan apa itu? Itu hanya aturan untuk wanita zaman dahulu kala. Kita sekarang hidup di zaman milenial. Harus ada perbedaannya juga dong." Faris tersenyum kecut melihat Gina berbicara seperti itu.


Gina memang dibesarkan di keluarga berada yang serba kecukupan dimana kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Papa dan mamanya sama-sama mengelola perusahaan. Dan itu membuat Gina memiliki pergaulan yang bebas dan tidak ada aturan baku dalam keluarganya. Tidak harus menjadi wanita rumahan, tidak harus punya jam malam dan akhirnya Gina memiliki kehidupan yang bebas. Faris tahu gadis ini sering seolah terlihat kesepian. Seorang anak tunggal dan jarang sekali melakukan komunikasi aktif dengan keluarganya. Ada rasa iba sejak Faris mulai mengenalnya dulu. Oleh sebab itu ia selalu bersedia menemani Gina jika ia memintanya. Ia membayangkan jika saja Gina adalah adiknya mungkin ia akan memperlakukannya dengan baik dan tidak membiarkannya kesepian seperti ini.


"Aku lapar sekali." Gina memasukkan steak ke dalam mulutnya.


"Memangnya tidak ada makanan di rumahmu?"

__ADS_1


"Ada, tapi aku sedang tidak ingin makan sendirian." Menyuapkan lagi makanannya hingga mulutnya hampir penuh. Ia terlihat benar-benar seperti kelaparan.


"Pelan-pelan makanmu."


"Kau tahu kan, rumahku setiap hari seperti kuburan. Sampai-sampai sering aku membayangkan kalau saja aku mati di kamarku pasti tidak akan ada orang yang tahu."


"Masih ada asisten rumah tangga di rumahmu. Itu tidak mungkin terjadi."


"Mereka bukan orang tuaku jadi mereka tidak punya kewajiban untuk mengawasiku. Mereka hanya bisa mengurusku tapi tidak untuk memberi perhatian padaku." Gina mengunyah makanannya sambil menunduk menyembunyikan sesuatu yang hampir jatuh dari matanya.


"Tapi, aku kan bukan anak kecil. Kenapa aku harus peduli dengan itu. Aku bisa hidup sendiri. Aku bisa melakukan apapun sendiri. Aku bahkan bisa bekerja sendiri tanpa meminta uang dari mereka. Tidak perlu menikmati dari apa yang mereka miliki." Gina kembali menampakkan wajah cerianya. Detik itu Faris seperti tahu kenapa Gina bersikeras ingin bekerja di Font. Bukan malah bekerja di perusahaan Papanya.


"Ehh, kau tidak makan juga?" Tanya Gina baru menyadari kalau Faris tidak memesan makanan tadi.


"Tidak, aku sudah kenyang."


"Mau mencoba steak ini? Ini enak sekali. Kematangan dagingnya pas bagiku." Gina menyodorkan potongan steak dalam garpunya.


"Tidak, makanlah saja." Faris menampik halus tangan Gina.


"Baiklah." Gina melanjutkan makannya. Faris benar-benar kasihan kepadanya. Itulah kenapa Gina sering bersikap manja kepada orang-orang yang dikenalnya. Karena sejak kecil ia seperti tidak memiliki keluarga. Ia terbiasa melakukan apapun sendirian. Memang semua kebutuhannya selalu terpenuhi mengingat kekayaan orang tuanya yang berlimpah. Tapi sebenarnya yang Gina butuhkan bukan hanya itu. Ia juga butuh kasih sayang. Dan orang tuanya terlalu sibuk untuk memberikan itu padanya. Oleh karena itu Faris selalu berusaha menjadi keluarga baginya.


"Ahh, kenyang sekali." Gina sudah menghabiskan makanannya dan baru saja meminum segelas besar minumannya.


"Setelah ini ayo kita clubbing."


"Tidak, mari kita pulang saja. Besok kita harus bekerja."


"Tidak apa-apa. Hanya sampai tengah malam saja. Tidak sampai pagi."


"Jangan, ayo kita pulang."


"Ayolah, aku tidak akan macam-macam disana. Aku hanya butuh berkeringat setelah makan tadi." Gina terkekeh.


"Kau tahu, aku takut menjadi gemuk setelah memakan steak di jam malam begini."


"Kau bisa melakukan olah raga di rumahmu. Kau memiliki alat gym banyak disana."


"Ahh, sudah ku bilang rumahku seperti kuburan. Kalau aku olah raga disana itu sama saja dengan aku berolah raga di kuburan." Gina lalu tertawa.


"Tidak, pokonya kau harus pulang. Aku akan memaksamu."


"Oh ya? Bagaimana caranya?" Gina seperti menantang.


"Aku akan menyeretmu."


"Wah, kau sadis sekali." Gina jadi tergelak.


"Sudahlah, ayo kita pulang."


"Kau ini kenapa jadi pria baik-baik sekarang? Dulu kau selalu mau ku ajak pergi clubbing. Kau banyak berubah sekarang, Ris."


"Aku tidak berubah, aku hanya berganti kebiasaan."


"Oh ya? Kenapa tidak berganti kulit sekalian. Seperti bunglon." Gina tertawa lagi. Meski malam ini Gina sering sekali tertawa tapi Faris tahu ada sesuatu yang ia sembunyikan. Entah kesedihan macam apa yang coba disembunyikannya. Semua itu tampak dari sorot matanya yang hampir berkaca-kaca.


"Sudahlah, ayo kita ke rumahmu."


"Kita? Ke rumahku?"


"Ya, aku akan mengantarmu."


"Tidak, aku ingin kau menemaniku tidur." Jawab Gina asal. Faris terperanjat mendengar permintaan Gina. Lalu ia berusaha tenang kembali.


"Baiklah, aku akan menemanimu tidur."


"Benarkah?" Faris mengangguk. Gina tersenyum lebar. Tidak percaya dengan jawaban yang dilontarkan Faris. Hatinya bersorak girang. Seorang Faris akan menemaninya tidur malam ini. Pastilah besok pagi ia akan menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi.

__ADS_1


__ADS_2