Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Butterflies In The Stomach


__ADS_3

Akhirnya Faris sempat mendapatkan tidur malamnya dalam 2 jam dan setelah itu langsung mengajak Sunday pulang setelah mendengar pengakuannya bahwa ia benar-benar merasa baikan dari diarenya. Sebelum matahari terbit mereka mulai keluar dari hotel.


Selama perjalanan mereka tidak banyak bicara. Padahal seharusnya di saat seperti ini Sunday banyak mengajak Faris mengobrol agar kantuknya bisa sepenuhnya hilang. Tapi, hatinya masih terlalu sibuk. Masih mengingat-ingat apa yang sebenarnya ia alami. Penjelasan dari google tentang kupu-kupu di dalam perutnya itu cukup menguras isi pikirannya.


Kenapa ada sensasi kupu-kupu di dalam perutnya? Jawaban yang ia dapat, hampir semua artikel menjelaskan bahwa itu berhubungan erat dengan pikiran, perasaan dan pencernaan. Yaitu ketika otak, hormon dan segala bagian tubuh mendukung secara kompak untuk menciptakan sensasi itu. Sunday semakin panik ketika semua yang ia rasakan itu mengerucut pada sebuah kesimpulan pada gejala awal tentang rasa ketertarikan kepada lawan jenis. Yang intinya adalah sensasi yang lazim dirasakan oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta.


Jatuh cinta? Apa jatuh cinta memang begini rasanya. Kenapa rasanya ini begitu asing dan seperti baru pertama ia rasakan? Bukankah dia juga pernah menyatakan bahwa dirinya pun jatuh cinta kepada Revan. Tapi kenapa ia tidak merasakan yang seperti ini? Atau... jangan-jangan karena itu sudah lama berlalu sehingga Sunday lupa pada rasanya? Rasa jatuh cintanya kepada Revan?


Tanpa sadar Sunday menghembuskan nafasnya keras. Ia terlalu frustasi dengan fikirannya. Bagaimana mungkin dirinya yang sudah berikrar tidak akan menyukai seseorang dengan profesi pelaut ternyata diam-diam terdeteksi menunjukkan gejala jatuh cinta kepada Faris. Itu sungguh menjengkelkan. Sunday harus menolak itu terjadi karena ia harus konsisten dengan ikrarnya. Ia tidak boleh labil apalagi kalah hanya karena perasaan yang ia rasakan saat ini.


Tidak... tidak... mungkin ini hanya sebuah perasaan sesaat saja. Karena aku sedang menjalani peran sebagai pacarnya itu yang menyebabkan aku merasakan sensasi-sensasi seperti ini. Aku hanya sedang baper saja. Aku terlalu mendalami peranku. Ahh, aku ini memang selalu mengutamakan totalitas. Sunday lalu senyum-senyum sendiri mendapati kesadaran atas perasaan yang dirasakannya. Faris yang tahu hal itu jadi heran.


"Hei, kenapa kau tersenyum seperti itu?" Celetuk Faris.


"Ahh, tidak apa-apa." Sunday buru-buru menjawab sebelum Faris curiga terhadapnya.


"Benarkah? Apa diaremu naik ke otak sehingga menyebabkan sedikit gangguan dikepalamu?"


"Hei, maksudmu aku gila?" Sunday menatap Faris tajam.


"Aku tidak berkata begitu." Faris menahan tawa.


"Aku tahu, itulah yang kau maksudkan. Aku bahkan bisa membaca fikiranmu sekarang."


"Oh ya?"


"Iya, aku bisa membacanya dengan sangat jelas kalau kau sedang mengataiku gila."


"Aku tidak bermaksud begitu."


"Kau itu mudah sekali di tebak."


"Kau seyakin itu bisa menebakku?"


"Tentu saja. Aku sudah lama menjadi temanmu. Sedikit banyak aku mulai tahu sifatmu."


"Kalau begitu, tebak siapa gadis yang sedang ku sukai saat ini?" Sunday seketika tersentak karena tidak menyangka Faris akan memberi tebakan seperti itu. Kemudia ia tampak berfikir. Ia terlanjur mengatakan bisa membaca fikiran Faris, jadi ia harus sedikit melakukan analisa untuk tahu kira-kira siapa yang sedang Faris sukai. Secara, gadis yang dekat dengan Faris terlalu banyak dan semua mendapat perlakuan manis juga darinya.


"Siapa? Kau bilang bisa membaca isi kepalaku?"


"Ehhm... ehhmm..." Sunday berdehem untuk sedikit mengulur waktu agar ia lebih lama bisa menentukan kira-kira siapa gadis yang disukai Faris.

__ADS_1


"Siapa?" Desak Faris dengan senyum seringainya.


"Mery. Aku tahu kau menyukai Mery. Akan bodoh sekali jika kau tidak menyukai Mery. Dia cantik, kaya, seorang dokter jadi tidak ada alasan bagi pria manapun untuk tidak menyukainya. Hanya pria idiot yang tidak tertarik kepada Mery." Sunday mulai berargumen dengan sedikit penekanan dan 'ancaman'. Dengan itu seseorang yang Sunday maksud akan merasa terintimidasi bahwa dia bodoh jika tidak menyukai Mery. Jadi, paling tidak agar tidak dianggap idiot Faris akan mengakui bahwa dirinya memang menyukai Mery.


"Wow, tebakanmu tepat." Faris tersenyum. Tapi kali ini Sunday tidak menyukai senyum Faris. Entah kenapa.


"Hah, benar kan tebakanku." Sunday berusaha tersenyum juga.


"Tapi aku menyukai Mery hanya sebatas suka saja. Seperti apa yang kau katakan, tidak ada pria yang bisa menolak Mery. Aku pun sama. Hanya saja bukan itu maksud rasa sukaku."


"Bukan itu? Maksudmu?"


"Aku sedang menyukai seorang gadis tapi aku menyukainya bukan karena penampilan fisiknya. Bukan karena ia kaya atau tidak. Bukan apapun yang ada pada dirinya."


"Lalu, bagaimana kau bisa menyukai seseorang tanpa latar belakang apapun? Tanpa alasan yang jelas dan spesifik."


"Itulah yang aku rasakan. Aku menyukainya tapi aku sendiri bingung apa yang membuatku menyukainya. Yang jelas saat menatapnya aku tidak ingin dia pergi. Saat dia tersenyum aku benar-benar silau oleh pesonanya. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya walaupun itu tidak spesifik. Aku selalu bahagia setiap kali ada bersamanya dan terus ingin bersamanya. Aku sering sekali merindukannya. Dan bahkan saat memandangnya pun aku merindukannya."


"Kau ini aneh sekali. Sudah memandangnya pun kau masih merasa rindu." Sunday tertawa karena menurutnya apa yang dirasakan Faris benar-benar konyol.


"Ya, seperti itulah yang aku rasakan padanya. Dia itu benar-benar candu bagiku. Apalagi dia bukan gadis yang mudah ku dekati. Itu sering membuatku sedikit frustasi."


"Benarkah? Kau tidak bisa mendekati seorang gadis? Apa pesonamu memudar? Apa kau lupa mantra memggaet para gadis? Atau peletmu perlu di upgrade?" Sunday tertawa.


"Itu bagus untukmu." Jawab Sunday dengan nada agak kesal. Faris terlalu narsis.


"Kenapa itu justru baik?"


"Tentu saja, agar kau sedikit berusaha mendapatkannya."


"Menurutmu seperti itu?"


"Ya. Dengan begitu saat kau benar-benar mendapatkannya nanti, akan lebih berusaha mempertahankannya. Tidak seperti gadis-gadis lain yang dengan mudah kau ajak jalan itu."


"Oohh... cukup masuk akal." Faris mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terus melihat ke depan. Memperhatikan jalanan yang mulai ramai. Matahari mulai merambat naik perlahan namun pasti.


"Aku rasa dia sengaja mengujimu dengan melakukan playing hard to get. Dengan begitu dia akan tahu sejauh mana kau benar-benar menyukainya."


"Begitukah?"


"Mmm..."

__ADS_1


"Tidak ku sangka kali ini kau lumayan jenius. Apa obat diare itu memberi efek samping juga pada otakmu."


"Hei, berhenti membahas diare dan otak. Semua itu jelas sekali tidak berhubungan." Faris tertawa ditahan. Sunday cemberut.


Tapi Faris suka melihat Sunday cemberut. Entah kenapa. Memang semua yang ada pada Sunday adalah daya tarik untuknya. Apapun yang Sunday lakukan itu bisa membuatnya merasa senang. Tidak hanya senyum dan tawanya, bahkan marah dan cemberutnya pun membuat Faris lebih menyukainya.


"Ngomong-ngomong, siapa gadis itu? Siapa gadis malang yang kau sukai itu?"


"Gadis malang?" Faris memandang Sunday heran sambil memberi sinyal menuntun penjelasan.


"Ya, kasihan sekali gadis yang kau sukai itu. Dia disukai oleh seorang playboy sepertimu. Yang selain dirinya, kau juga menyukai gadis lain."


"Tidak, kau salah. Aku menyukainya dengan cara yang berbeda. Aku merasa aku benar-benar jatuh cinta kepadanya."


"Wah, aku hampir tidak percaya. Kau? Benar-benar jatuh cinta? Kau yakin?" Sunday memandangnya dengan senyum lebar disana.


"Kenapa? Apa salah saat seseorang jatuh cinta?"


"Tidak, tidak salah. Tapi mendengar pengakuanmu aku agak heran." Sunday masih memandang Faris.


"Aku pikir pria sepertimu hanya akan suka jalan dan berganti-ganti pacar meskipun tanpa melalui proses jatuh cinta terlebih dulu." Sunday cekikikan.


"Ahh, kau ini. Aku ini bukan robot. Aku juga punya perasaan dan bisa jatuh cinta juga." Faris cemberut oleh tuduhan Sunday.


"Lagipula sudah ku katakan berkali-kali aku tidak pernah berpacaran dan gadis-gadis itu. Aku hanya berteman dengan mereka."


"Berteman tapi bermesraan?" Cibir Sunday.


"Kontak fisik dengan teman itu kadang perlu agar pertemanan lebih erat."


"Omong kosong. Kau paling pintar membuat alasan." Sunday membuang muka ke arah luar cendela mobil. Faris terbahak.


"Hei, kau belum menjawabku tadi. Siapa gadis yang sudah membuatmu jatuh cinta itu?" Sunday sedikit penasaran. Apa benar Faris yang playboy itu benar-benar bisa jatuh cinta. Bukankah sudah jadi kebiasaannya jalan dengan para gadis dan itu tanpa label cinta.


"Kau benar-benar ingin tahu?"


"Hmm..."


"Kau bilang bisa membaca pikiranku."


"Ahh tidak. Aku menyerah saja. Terlalu banyak gadis disekitarmu. Aku juga tidak mengenal mereka satu per satu."

__ADS_1


"Begitu?" Faris tersenyum lebar.


"Dia... Dia adalah..."


__ADS_2