
Beberapa orang sudah masuk ke dalam ruangan untuk tahap interview hari ini. Sunday berdebar menantikan gilirannya. Hanya 10 orang yang lolos pada tahap ini. Selanjutnya akan diambil 5 orang untuk mengisi tiap posisi yang dibutuhkan. Yaitu Programer, System Analist, Desain Analist, Software Desainer dan Software Tester. Kelima orang yang lolos akan ditempatkan pada posisi-posisi tersebut.
Sunday menjawab saat namanya di panggil. Mencoba tenang Sunday melangkahkan kaki ke dalam ruang interview. Ada tiga orang yang duduk dibalik meja interview. Dua orang pria dan seorang wanita. Saat melihat wajah pewawancara wanita, Sunday terperanjat.
Ya Tuhan, itu Kak Novi. Batin Sunday mengenali wajah wanita satu-satunya di balik meja itu.
Batinnya berharap semoga Kak Novi tidak mengenalinya. Mereka sudah lama tidak berjumpa. Jadi kemungkinan ia mengenalinya pasti sangat kecil. Apalagi mereka hanya bertemu beberapa kali, jadi akan lebih kecil lagi kemungkinan Kak Novi masih mengingatnya. Sunday menjadi sedikit gugup oleh kejutan itu.
"Dengan nona Sunday Mariana Subagio?" Tanya seorang pria pewawancara di sisi kiri.
"Iya Pak."
"Apa yang anda tahu tentang software house?"
"Software house dalah perusahaan yang bergerak dalam bidang software development. Atau lebih jelasnya perusahaan yang produk utamanya adalah mengembangkan serta menciptakan sebuah software atau aplikasi."
"Apakah Anda memahami layanan yang disediakan oleh software house?"
"Sebagian besar software house akan menyediakan layanan pembuatan software entah berbasis desktop, berbasis web ataupun mobile serta memberikan layanan multimedia dan juga layanan desain grafis."
"Bisakan Anda jelaskan satu persatu tentang layanan yang Anda sebutkan itu." Pria pewawancara di sebelah kanan mulai ikut ambil bagian pada sesi wawancara itu.
"Layanan software berbasis desktop ini bisa berdiri sendiri dan tidak memerlukan jaringan. Sebuah software yang penggunaannya hanya cukup diinstal pada personal computer dan bisa berjalan tanpa bantuan internet. Sedangkan software berbasis web adalah software yang dihasilkan oleh pemrograman yang berhubungan dengan website." Sunday menarik nafas sebentar lalu melanjutkan penjelasannya.
"Untuk software berbasis mobile saat ini sedang sangat digemari masyarakat kita saat ini. Itulah sebabnya software ini sangat populer seperti game, toko online, aplikasi perbankan dan aplikasi-aplikasi lain yang dapat diakses menggunakan smartphone. Layanan multimedia jelas sekali mencakup tentang pembuatan produk multimedia seperti animasi. Dan layanan desain grafis umumnya melayani kebutuhan perusahaan atau usaha-usaha lain agar lebih di kenal, misalnya pembuatan logo dan segala yang berhubungan dengan itu." Sunday menarik nafas lagi. Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya walau jantungnya seperti sangat sibuk memompa karena kegugupan yang menguasainya. Tapi tentu saja semua itu ia sembunyikan hingga yang tampak adalah rasa percaya diri yang terpancar.
"Apakah Anda orang yang bisa bekerja bersama tim?" Kak Novi mulai bertanya.
"Saya berusaha menjadi bagian tim yang baik. Mengikuti aturan dan menghindari yang tidak seharusnya saya lakukan. Bekerja sesuai job description adalah kemampuan yang harus selalu saya kembangkan."
"Lalu, apakah Anda tipikal pegawai yang mengedepankan sikap profesional?" Kak Novi bertanya lagi. Sunday menghela nafas tipis lalu mulai menjawab.
"Saya akan berusaha seprofesional mungkin dalam bekerja. Kendala ataupun masalah di tempat kerja tidak akan mempengaruhi kinerja saya untuk menjadi pegawai andalan perusahaan."
"Jika menjadi pegawai Font, posisi apakah yang ingin anda isi?"
"Programer." Jawab Sunday mantab dan penuh percaya diri.
"Lalu sejauh mana Anda mengenal tentang bahasa pemrograman?"
"Secara singkat bahasa pemrograman adalah instruksi standar untuk memerintah komputer yang merupakan suatu himpunan dari sintaks dan semantiks yang dipakai untuk mendefinisikan program komputer.
Dan jawaban Sunday menutup sesi interview itu. Setelah menjabat tangan pewawancara satu persatu, Sunday dipersilakan meninggalkan ruangan.
Keluar dari ruangan itu Sunday benar-benar bisa bernafas dengan lega. Interview sudah ia lalui tinggal menunggu hasilnya beberapa hari lagi. Tapi ia jadi ingat tadi ada Kak Novi di sana. Itu artinya Kak Novi adalah pegawai di Font. Kalau ia diterima di sini, ia akan menjadi bawahan Kak Novi.
Ya sudahlah. Kak Novi kan, bukan Faris. Jadi, aku rasa itu bukan masalah serius. Tidak mau memikirkan banyak hal, Sunday meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Lalu kemudian ia meninggalkan loby dan mulai berjalan menghampiri motornya dan mengendarainya meninggalkan Font.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Hari ini Sunday pergi ke rumah om Rudi. Mamanya memintanya untuk sekali-kali menginap disana. Bagaimanapun juga rumah Om Rudi sekarang juga rumahnya juga. Om Rudi yang tidak memiliki keturunan menjadi sangat penyayang apalagi kepada Sunday. Sejak menjadi ayah tirinya om Rudi bahkan lebih over protective dibanding mamanya.
Rumah besar itu pasti sangat sepi jika dihuni oleh mama Sunday dan Om Rudi. Pantas saja mereka selalu membujuk Sunday untuk mau tinggal di sana. Mereka bahkan sudah mempersiapkan kamar khusus untuk Sunday.
Kamar yang indah yang memiliki balkoni menghadap ke arah depan rumah yang langsung menghadap jalan. Sunday suka kamar ini. Tapi kamar dirumahnya sendiri meskipun kecil cukup nyaman dan hangat. Kamar sejak ia remaja hingga saat ini.
"Mbak Sunday, waktunya makan malam. Bapak sama ibuk menunggu di bawah." Seorang asisten rumah tangga muncul dibalik pintu setelah Sunday membukanya.
"Iya Bi, aku segera turun." Sunday mengulas senyum.
Tak lama kemudian Sunday menuruni tangga dan menuju meha makan. Disana sudah ada Om Rudi yang duduk di mej paling ujung. Mamanya tampak sedang membantu asisten rumah tangga menata meja dengan hidangan makan malam.
"Bagaimana, Sun. Kau suka kamarnya?" Om Rudi menyambut begitu melihat kehadirannya.
"Iya suka, Om."
"Mamamu bilang kau suka warna kuning jadi aku pikir sentuhan kuning di kamarmu membuatmu betah tinggal di sini." Sunday mengucap terima kasih dan mengulaskan senyum. Mamanya sudah duduk kursi sisi lain berhadapan dengan Sunday dan mereka mulai makan malam.
Malam ini adalah malam pertama Sunday tidur di rumah Om Rudi. Ia tidak bisa tidur. Bukan karena kamarnya tidak nyaman, justru kamar itu sangat memenuhi standar sebagai kamar ternyaman yang Sunday tempati. Ia tidak bisa tidur karena ingatannya pada kak Novi yang juga bekerja di Font. Sunday ingin menanyakannya kepada Om Rudi tapi tidak tahu dengan alasan apa ia ingin tahu jabatan Kak Novi. Apa kak Novi tahu tentang hubungannya dengan Faris waktu itu. Tentang sandiwaranya dengan Faris.
"Aku juga belum tentu diterima di sana. Tapi kenapa aku segelisah ini? Aku ini terlalu bersemangat." Sunday tertawa, menertawakan dirinya sendiri. Lalu ia mencoba memejamkan matanya untuk mulai tidur.
🌸🌸🌸
Sarapan pagi dengan nasi goreng telur adalah favorit Sunday. Terbukti pagi ini Sunday mendapatkannya juga di rumah Om Rudi. Masakan mamanya paling juara bagi Sunday. Dan meskipun memiliki asisten rumah tangga setiap hari mamanya masih selalu memasak untuk Om Rudi. Bagi mamanya keluarga harus makan dari masakan seorang istri yang juga seorang ibu, bukan dari masakan asisten rumah tangga.
"Sunday, berangkatlah dengan mamamu."
"Tidak Om, aku naik motor saja."
"Agar kau bisa pulang kesana?" Tebak Om Rudi. Sunday tersipu karena niatnya terbaca oleh ayah tirinya itu.
"Disinilah sampai beberapa hari agar mamamu juga senang."
"Baiklah Om."
Tink! Suara notifikasi pesan ponsel Sunday.
Sunday mendadak sumringah.
"Om, aku diterima." Sunday girang sekali setelah melihat pesan yang berisi pemberitahuan bahwa dirinya diterima menjadi salah satu System Analist di Font Software House.
"Wah, selamat yaa." Om Rudi turut senang mendengarnya.
"Tapi... ini benar-benar bukan karena Om kan." Sunday menyelidik.
"Tentu saja. Om sudah berjanji kepadamu untuk tidak membantumu dalam hal ini. Jadi Om benar-benar berpura-pura tidak mengenalmu."
"Baiklah Om, aku harus memberi tahu mama." Sunday lalu berlari ke kamar mamanya yang sedang bersiap.
__ADS_1
"Mamaaaaa..." Sunday menghambur dan memeluk mamanya yang baru saja menutup pintu kamar.
"Ada apa ini?" Mama Sunday tampak heran.
"Aku di terima di Font, Ma." Sunday sangat bersemangat.
"Oh ya? Syukurlah." Mama Sunday memeluk erat putrinya. Mereka berdua tampak bahagia. Mama Sunday bahagia akhirnya Sunday bisa bekerja sesuai dengan keinginannya.
Hingga siang hari rona bahagia masih tergambar jelas diwajah Sunday. Pekerjaan yang ia impikan benar-benar menjadi miliknya. Victor yang melihat itu pun tersenyum.
"Jadi sekarang kau bukan laboran lagi?"
"Hei sudah ku katakan aku bukan laboran tapi guru TIK." Sunday selalu protes setiap Victor menggodanya seperti itu.
"Makan dimana kita?" Lanjut Victor.
"Terserah Kakak saja. Aku ikut."
"Baiklah. Aku mau makan makanan mahal."
"Memang ada makanan M-A-H-A-L. Makanan khas mana?" Sunday memplesetkan kalimat Victor.
"Makanan mahal itu yang harganya mahal." Jelas Victor dengan cemberut karena dikerjai Sunday begitu. Sunday cekikikan.
Akhirnya siang ini Sunday harus mentraktir Victor seperti janjinya waktu itu karena telah menjadi pegawai di Font.
🌸🌸🌸
Port Savona, Italia pagi hari tampak padat seperti biasanya. Seseorang dengan hodie warna abu-abu, celana jeans warna gelap dan sepatu sneakers tampak memasuki swalayan. Membeli beberapa kebutuhan sehari-hari.
"Sampo habis, pasta gigi tinggal sedikit, sikat gigi sudah waktunya ganti, lalu apa lagi?" Pria itu bergumam pada dirinya sendiri.
"Ris, sudah?" Tanya teman di sebelahnya yang juga membawa keranjang berisi barang belanjaan.
"Sebentar..." Faris menuju rak makanan ringan. Melihat apa yang ingin ia beli. Dia suka sekali ngemil. Didalam kabin kamarnya cemilan tidak pernah sampai kehabisan. Selalu ada stok sebelum habis.
Lalu Faris mengambil sebungkus kacang pistachios dan tidak lupa keripik kentang. Keripik kentang selalu wajib bagi Faris karena memang rasanya yang enak. Tapi lebih dari itu ia suka ngemil kentang setiap sedang merindukan seseorang.
"Banyak sekali belanjaanmu. Bisa-bisa kapal kita miring karena muatan yang kau bawa." Celetuk teman Faris yang melihat keranjang Faris hampir penuh.
"Biar saja. Awas kalau nanti kau ke kamarku minta cemilan. Jangan harap kubukakan pintu."
"Mengancam ini ceritanya." Teman Faris lalu memeluk pundaknya.
Selesai berbelanja kebutuhan, mereka berlima termasuk Faris menuju kafe. Kafe di sini memiliki suasana yang tenang dan nyaman. Ada fasilitas free wifi juga sehingga sangat cocok untuk pengunjung yang ingin menikmati wifi gratis. Teman-teman Faris banyak yang menggunakannya untuk menghubungi keluarga, teman atau pacar melalui media sosial. Faris lebih suka menggunakannya untuk men-download film-film yang akan di tontonnya di kamar jika sedang bosan dan butuh hiburan. Menghubungi orang-orang dekatnya itu pasti, tapi tidak harus menunggu free wifi. Kapan saja ia ingin pasti melalukan video call dengan mamanya atau orang-orang di tanah air yang ingin ia hubungi.
Sudah beberapa film berhasil ia download hingga tanpa terasa hari menjelang sore. Kapal akan berangkat pada malam hari jadi kru yang ada di darat harus segera kembali.
Melewati toko bernama Happy Bee, Faris menyempatkan diri untuk mampir sebentar. Di toko ini menyediakan produk-produk dari Asia mulai dari mi ramen hingga mie buatan indonesia. Mie ini juga mie kesukaan seseorang dan Faris selalu memakannya saat sedang rindu.
__ADS_1