
"Sudah sarapan?" Tanya mamanya melalui sambungan telepon.
"Sudah, Ma."
"Jangan lupa makan sehari tiga kali."
"Iya, Ma." Sunday memakai kemeja dengan headset yang ada ditelinganya.
"Jangan tidur terlalu malam."
"Soal itu aku tidak bisa berjanji. Ada banyak project jadi mungkin aku akan sering tidur terlambat."
"Sepertinya mama harus membuat Om Rudi memindahkanmu ke tim atau divisi lain." Sunday tersenyum mendengar penuturan Mamanya.
Sunday keluar dari sebuah rumah kos. Sebenarnya ini bukan rumah kos. Tidak ada tempat kos dilingkungan ini. Ini hanya sebuah rumah yang dihuni oleh seorang wanita paruh baya. Bu Uni. Semua anaknya sudah berumah tangga dan tinggal di luar kota. Bukannya tidak mau ikut anak-anaknya untuk pindah tapi Bu Uni yang terlalu sayang untuk meninggalkan rumahnya. Lalu anaknya tentu tidak bisa apa-apa dan memberi kesempatan Bu Uni untuk tetap tinggal disana.
Suatu ketika saat Sunday hunting makan siang bersama Lita, ia menemukan sebuah papan bertuliskan menerima kos putri, Sunday langsung terinspirasi untuk tinggal di kos dekat Font. Setiap hari berangkat pagi dan pulang malam membuatnya sedikit kerepotan. Walaupun sudah 3 bulan bekerja di Font, Sunday juga masih menolak untuk berangkat bersama Om Rudi dengan alasan tidak mau menunjukkan identitas sebenarnya. Jadilah mamanya yang harus mengalah untuk mengizinkan Sunday tinggal di kos. Lagipula sama saja walau tidak hidup di kos Sunday juga lebih suka tinggal di rumah lamanya, bukan di rumah Om Rudi. Jadi sekarang rumah lama Sunday dikontrak oleh pasangan muda selama 2 tahun. Dengan begitu, mau tidak mau ketika Sunday pulang ia akan pulang ke rumah Om Rudi.
Hanya berjarak 2 blok untuk sampai di Font. Sunday bisa menempuhnya dengan berjalan kaki. Midi skirt bunga-bunga, kaos yang dilapisi kemeja flanel bagian luarnya membuatnya merasa sedikit hangat. Udara pagi bulan Mei terasa dingin. Itu karena hujan semalam yang turun tanpa aba-aba. Iklim sudah tidak teratur lagi. Bulan Mei pun masih sering hujan di negara ini.
Lobby Font sudah dipadati beberapa pegawai. Seorang security tersenyum menyapa Sunday yang memasuki lobi. Beberapa orang juga terlihat mengantri di dua pintu lift. Sunday bergabung di kerumunan salah satu pintu. Seseorang menepuk pundaknya. Lita.
"Hei." Sunday menoleh.
"Oh kau."
"Sekarang aku selalu kalah darimu. Kau selalu datang lebih pagi dariku."
"Pindahkan rumahmu di belakang Font. Kau bisa berangkat lebih pagi dariku."
"Atau, kupindahkan saha kamarku ke ruang kerjaku? Aku akan jadi orang pertama yang datang dan orang terakhir yang tinggal."
"Ide bagus. Lakukanlah." Lalu mereka berdua tertawa.
"Kau tahu kabar terbaru tentang Font?" Sunday dan Lita sudah keluar pintu lift dan sudah ada di lantai 4 sekarang.
"Tidak." Jawab Sunday.
"Akan ada peralihan kekuasaan."
"Peralihan kekuasaan?"
"Ya, Pak Sasono akan mengalihkan jabatan kepada anaknya."
"Berarti Bu Novi akan naik jabatan." Kesimpulan Sunday.
"Bukan, tapi anaknya yang ada di luar negeri yang akan menggantikannya."
Sunday berfikir sejenak. Anak Pak Sasono yang ada di luar negeri adalah Kak Nova dan Faris. Apa mungkin Faris akan menggantikan Papinya? Apakah si hobi keliling dunia itu akan belajar menetap disini saja? Aku rasa tidak mungkin. Pria seperti dia hanya suka traveling saja. Mana mungkin dia bisa menjadi pemimpin di Font. Apa dia cukup kompeten menggantikan Om Sasono? Aku rasa itu tidak mungkin. Seorang pelaut tetaplah seorang pelaut yang menyukai kebebasan.
"Hei, kau malah melamun. Kau dengar aku bicara?"
"Iya iya... aku dengar." Sunday kembali sadar dari lamunannya.
πΈπΈπΈ
Sunday melewati lorong lantai 3 setelah menyerahkan beberapa berkas kepada tim Project Management Administration saat berpapasan dengan Kak Novi. Sunday menundukkan kepala menyapa dengan hormat. Selama ini Sunday hanya beberapa kali bertemu dengan Kak Novi karena memang tempat kerja mereka ada di lantai yang berbeda.
"Bagaimana pekerjaanmu?" Tiba-tiba Kak Novi mengajaknya berbicara. Sunday seketika memandang ke arahnya.
"Oh, baik Bu. Saya suka pekerjaan saya."
"Aku tidak salah memilihmu. Kau cukup kompeten dalam bidangmu."
"Iya, saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Font."
__ADS_1
"Bagus. Teruslah bekeja dengan baik." Kak Novi tersenyum lalu berjalan meninggalkan Sunday. Hingga saat ini ia masih belum tau apa Kak Novi masih mengingatnya sebagai pacar Faris atau hanya sebatas pegawai yang mendapat interview darinya waktu itu.
Beberapa langkah berjalan, seseorang keluar dari sebuah ruangan. Gina membawa sebuah file.
"Kebetulan kau ada di sini. Ini file project milik fedora. Ada sedikit revisi jadi tolong bawalah." Gina menyerakan itu. Sunday memeriksanya sebentar dan menutupnya kembali.
"Terima kasih." Sunday tersenyum dan bermaksud meninggalkan Gina.
"Kau mau ke mana?" Gina meraih lengan Sunday.
"Merevisi ini." Menunjuk file yang dibawanya.
"10 menit lagi jam istirahat, tanggung. Kemarilah dulu." Gina menarik tangan Sunday untuk masuk ke ruangannya. Mengajaknya duduk di sofa panjang di ruangan yang memiliki beberapa meja dan deretan lemari berisi file itu.
"Aku sedang bahagia, Sunday." Gina tampak girang sekali. Matanya berbinar dan senyumnya terkembang.
"Apa hari ini ulang tahunmu?" Sunday mengerutkan kening heran dengan tingkah Gina yang lebih ceria dari biasanya.
"Lebih membahagiakan dari sekedar hari ulang tahun. Faris akan pulang." Seketika Sunday menegang. Perasaanya mulai gelisah. Tapi beberapa detik kemudian ia mengubah sikapnya.
"Wah, saat yang kau tunggu." Gina mengangguk dengan senangnya. Pria yang selama ini dinantinya akan segera datang.
Selama ini sejak menjadi akrab dengan Gina, Sunday sering mendengar nama Faris. Faris yang tampan, Faris yang suaranya dirindukan, Faris yang foto-foto di sosial medianya selalu terlihat artistik dan fotogenik, segala tentang Faris adalah sumber kebahagiaan Gina. Ya, pria yang disukai Gina selama ini adalah Faris.
"Pertama kali bertemu dengannya saat aku masih SMP dan dia dua tingkat diatasku. Kau tahu, saat itu dia sudah SMA dan membuatku tidak bisa berpaling kepada pria lain selain dia. Pesonanya membuat masa puberku sangat berwarna." Ujar Gina suatu ketika saat menceritakan tentang Faris. Entah itu sudah episode ke berapa ia bercerita tentang pujaannya. Sunday hanya menanggapinya dengan senyum.
Sejujurnya Sunday juga tidak mengelak jika pesona Faris bisa membuat para gadis tergila-gila. Tapi setelah tahu siapa sebenarnya Faris apa mungkin mereka masih akan menggilainya. Sunday membatin.
"Dan... kabar baiknya lagi, dia akan menggantikan Om Sasono di Font."
"Apa???" Tanpa sadar Suday seperti histeris hingga keripik kentang yang disodorkan Gina jadi tumpah karena gerakan refleksnya.
"Sunday... keripik kentang kesukaanku... " Gina mengambil bungkus keripik kentangnya yang jatuh ke lantai dan sebagian isinya berserakan.
"Kau bilang suka keripik kentang, tapi kenapa malah kau banting."
"Aku tidak sengaja, Gin. Maaf yaa." Sunday tersenyum merayu.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau jadi histeris?" Gina sedikit heran dengan tindakan Sunday yang berlebihan.
"Bukan begitu. Aku merasa Pak Sasono adalah pimpinan yang baik. Dia cukup berpengalaman dalam hal ini. Dia juga sangat berwibawa dan sangat peduli pada kesejahteraan para pegawainya. Kalau harus diganti, aku takut tidak akan sama dengan saat kepemimpinan Pak Sasono."
"Hei, jangan mudah meng-underestimate orang lain. Faris tidak akan menjadi pimpinan yang kejam. Ku lihat dari karakternya yang ramah dan lembut, aku yakin dia tidak akan jauh berbeda dengan ayahnya."
"Kau sudah dibutakan oleh cinta. Jadi yang terlihat hanya yang baik-baik saja tentangnya."
"Pada kenyataannya dia memang baik." Gina membantah.
"Lagipula kau kan belum mengenalnya, jadi bagaimana kau bisa tahu dia orang yang tidak baik." Mendapati kalimat Gina, Sunday gelagapan.
"Oh... itu karena... ini hanya tebakanku saja. Aku hanya mengira-ira." Sunday jadi cengengesan untuk menutupi kegugupannya. Ia takut Gina curiga terhadap sikapnya.
πΈπΈπΈ
Hari ini Sunday benar-benar malas untuk pergi bekerja. Ia masih menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut. Ingin sekali ia membolos. Tapi hari ini ia juga memiliki jadwal meeting dengan timnya. Tidak mungkin ia bisa membolos begitu saja.
"Rasanya aku mau keluar saja dari Font." Sunday menendang selimutnya dan beranjak ke kamar mandi.
Di teras rumah kos Sunday bertemu Bu Uni yang sedang menyiram bunga-bunga di halaman rumahnya.
"Selamat pagi, Bu."
"Selamat pagi." Bu Uni tersenyum kepada Sunday.
"Tumis udang ibu memang juara. Saya sangat menyukainya." Puji Sunday pada sarapan buatan Bu Uni pagi ini.
__ADS_1
"Benarkah? Kapan-kapan akan ku buatkan lagi."
"Ahh, tidak usah, Bu. Itu akan merepotkan Ibu."
"Tidak, hanya tumis. Itu tidak repot sama sekali."
"Terima kasih, Bu."
Sunday kembali mengunci pagar dan berjalan meninggalkan kosnya. Tidak ada langkah paling berat dibanding langkahnya hari ini. Baru begini saja sudah berat menjalani hari. Bagaimana ia harus menjalani hari esok.
Sunday masih berjalan gontai dengan menundukkan kepala. Menekuri midi skirt bunga-bunga yang ia pasangkan dengan kemeja polos berlengan lonceng miliknya.
Suasa Font tampak sedikit berbeda. Di atas pintu masuk terpampang spanduk ucapan selamat datang untuk Project Sponsor yang baru. Hati Sunday bertambah kecut. Ia hela nafas berat dan dengan segenap jiwa raga ia bawa tubuhnya memasuki loby.
Didalam masih tampak aktifitas seperti biasa karena acara serah terima jabatan akan diadakan bersamaan dengan makan siang.
"Sunday..." Sunday menoleh ke sumber suara. Rima menghampirinya.
"Kau sudah tahu kan hari ini Faris akan menggantikan Om Sasono?" Sunday mengangguk lemah. Rima tersenyum melihat itu. Ia seperti tahu apa yang dirasakan Sunday. Rima berjalan sambil memeluk pundak Sunday menuju lift.
"Hai... " Gina sudah ada disamping Sunday. Menyapa dengan senyum cemerlang yang menyilaukan. Sekarang Sunday dan Rima tidak perlu menjaga jarak seperti saat pertama terpergok dalam kedekatan mereka.
"Kalian sedekat ini?" Suara Gina tiba-tiba saat Rima dan Sunday tertawa bersama di depan pintu lift lantai dasar. Entah apa yang mereka bicarakan saat itu. Sunday dan Rima seketika diam dan tak bergeming. Gina bertambah merasa aneh.
"Iya, kami sudah saling mengenal sebelumnya. Suami Kak Rima adalah dosenku saat kuliah jadi kami sudah kenal baik sejak lama." Sunday menjelaskan cepat sebelum Rima mengatakan kepada Gina bahwa ia adalah orang yang pernah disukai Faris. Sunday takut akan jadi rumit jika Gina tahu tentang hal itu. Akhirnya Kak Rima pun mengiyakan penjelasan dari Sunday yang sebelumnya memberi kode kepadanya. Sehingga sekarang melihat kedekatan Sunday dan Rima seperti itu, Gina sudah tidak merasa heran.
"Kalian sudah sarapan?" Tanya Gina riang.
"Sudah." Jawab Sunday dan Rima hampir bersamaan.
"Ini coklat untuk kalian." Gina menyodorkan dua batang coklat. Sunday dan Rima menerimanya. Lalu Gina memakan coklatnya sendiri. Sunday dan Rima hanya saling pandang mendapati tingkah Gina yang terlihat sangat senang hari ini.
πΈπΈπΈ
Hati Sunday bertambah gelisah melihat jarum jam menunjukkan pukul 11.55. Sejak pagi bahkan saat meeting tadi fikirannya seperti tidak ada ditempatnya berada. Ia benar-benar ingin membolos hari ini.
"Sun, ayo." Ajak Lita.
"Makan siang bersama." Teriak Boby dari balik mejanya sambil mengeliatkan tubuhnya.
"Kau ini, yang yang kau ingat hanya makan saja." Celetuk Mario.
"Makan-makan kantor selalu adalah acara yang menyenangkan. Hidangan lezat dan makan sepuasnya. Ayo kita berangkat." Boby sudah berjalan ke arah pintu sekarang.
Melihat Sunday yang masih duduk di tempatnya, Lita menarik tangan Sunday.
"Ayo... apa yang kau tunggu. Jangan sampai semua hidangan diangkut oleh Boby." Akhirnya dengan malas Sunday mengikuti. Hatinya semakin kecut.
Aula Font sudah dipenuhi oleh para pegawai. Meja-meja berjajar rapi dengan kursi-kursi yang mengelilinginya. Perasaan Sunday seperti diaduk-aduk. Ia tidak tahu bagaimana kalau Faris melihatnya di sini.
Pintu utama aula terbuka lebar saat beberapa orang masuk ke dalamnya. Yang pertama terlihat melangkah masuk adalah Om Rudi yang disebelahnya adalah asisten pribadinya lalu diikuti oleh Om Sasono yang disampingnya ada Kak Novi, dan dibelakangnya ada... Faris. Jantung Sunday berdebar hebat saat matanya menangkap wajah seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya itu. Wajah yang sama sekali tidak mengalami perubahan. Masih berkulit putih, berhidung mancung, bermata tajam dan beralis tebal. Bibirnya masih terkatup tanpa senyum dan tanpa kata membuatnya terlihat berwibawa. Setelan jas warna nude membuat kulit bersihnya seolah semakin dimanjakan dan semakin mempertegas ketampanannya.
Faris duduk di meja dekat podium yang sudah disiapkan khusus untuk para petinggi Font. Om Rudi, Om Sasono, Kak Novi, Kak Rima dan Gina ada dalam satu meja bundar itu. Dari tempatnya duduk, Sunday bisa melihat dengan jelas Gina duduk di sisi Faris.
Sunday menghela nafas berat. Hatinya tiba-tiba mencelos.
Kakak-kakak semua, maaf kalau visual Faris tidak sesuai dengan apa yang kalian bayangkan. Ini hanya gambaranku tentang Faris π
Dan lagi, maaf jika alur yang ku buat kadang terlalu cepat atau bahkan terlalu lambat dan sering berputar-putar. Sebenarnya semua itu sudah melalui usahaku yang keras untuk membuat cerita ini lebih bagus. Jadi, jika malah menjadi kurang menarik, tolong dimaklumi yaa π
*T**er**ima kasih juga sudah setia menyimak sampai episode ini. Jangan lupa tinggalkan* π dan jadikan β€
See you next part π
__ADS_1