
Sunday berjalan beriringan dengan Lita mencari menu makan siang.
"Sun, project yang mini market kapan instalasi?"
"Besok, kenapa?" Sunday berjalan mengiringi langkah Lita.
"Tidak apa-apa. Pastikan semua tersimpan dalam flashdisk-mu. Oh iya bawa back up-nya di flashdisk yang lain juga."
"Siap." Lita selalu mengingatkan Sunday untuk mem-back up file-file software berbasis desktop pada saat instalasi agar proses instalasi tidak terkendala yang bisa membuat kepercayaan klien berkurang.
"Ehh, lihat Sun." Lita menunjuk dengan dagunya ke arah Toyota Camry 2.5 V warna attitude black yang melintas disebelahnya memasuki pelataran Font. Meski kaca mobil yang gelap, tapi di tempat terang sesiang ini terlihat dua orang di dalamnya. Faris dan Gina. Hati Sunday mencelos seketika.
"Aku rasa mereka punya hubungan. Mereka kemana-mana sering bersama. Dan dari kabar yang beredar, mereka berdua adalah sepasang kekasih." Lita bergosip seperti biasanya. Melihat Sunday yang tidak menanggapi omongannya, Lita menoleh ke arah Sunday yang masih mengikuti dengan pandangannya kemana mobil itu berjalan.
"Hei, Sun." Lita menepuk bahu Sunday.
"Ehh, apa?"
"Kau dengar omonganku tidak?"
"Omongan apa?"
"Aku tidak percaya ini, kau sungguh keterlaluan. Aku sudah berbicara panjang kali lebar kali tinggi tapi kau tidak menyimaknya. Kau benar-benar terlalu."
"Iya... iya... ulanglah. Aku kekenyangan sampai tidak fokus ini." Sunday terkekeh.
"Ahh, kau. Bisa-bisanya."
"Memangnya apa yang kau bicarakan?"
"Ada kabar burung..."
"Gosip maksudnya?" Goda Sunday dengan mengganti kata kabar burung itu menjadi gosip. Lalu Sunday tersenyum.
"Ya, anggaplah seperti itu."
"Gosip tentang apa?"
"Pak Faris dan Gina berpacaran."
"Oh..."
"Pantas saja Gina seperti sangat dekat dengan Pak Sasono. Ternyata dia adalah calon menantunya."
"Aku rasa begitu."
"Tapi mereka memang pasangan yang serasi." Mata Lita berbinar.
"Pak Faris tampan dan Gina yang cantik. Kadang aku merasa tidak adil, kenapa pria tampan selalu untuk wanita cantik. Lalu bagaimana nasib wanita yang kurang cantik seperti kita? Bukankah kita juga butuh memperbaiki keturunan?"
"Entahlah Ta, aku merasa pria baik lebih tepat buatku daripada sekadar pria tampan." Lalu Sunday menghela nafas berat.
"Dasar wanita. Lebih penting kenyamanan daripada ketampanan." Lita terkekeh.
🌸🌸🌸
Jam kerja berakhir. Sunday mengemasi beberapa barangnya dan memasukkan ke dalam tas. Lita sudah pulang lebih dulu. Boby dan Mario juga baru saja meninggalkan ruangan. Pak Dedi masih ada meeting pimpinan tim. Jadilah tinggal Sunday menjadi penghuni terakhir.
Setelah yakin semua barangnya terkemasi, Sunday melangkahkan kaki keluar ruangan menuju lift. Menunggu sebentar pintu lift terbuka. Sunday masuk kedalamnya. Ia bersandar pada dinding lift. Di lantai berikutnya pintu lift terbuka lagi. Dua orang tampak di depan pintu lift.
__ADS_1
"Sunday, kau mau pulang juga?" Sapa Gina.
"Iya." Sunday mengulas senyum. Sekilas ia melirik Faris dan melihatnya masih acuh.
"Kita juga mau pulang. Mau pulang bersama? Agar aku juga tahu dimana rumahmu." Gina menawarkan.
"Tidak, tidak usah. Lain kali saja." Sunday seketika menolak.
"Tidak apa-apa koq."
"Tidak, terima kasih." Kali ini Sunday memamerkan senyum lebarnya.
"Baiklah." Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Sunday pamit untuk berjalan lebih dulu. Ia akan merasa menjadi abang tukang becak kalau harus berada di belakang Gina yang selalu memeluk lengan Faris begitu. Sehingga lebih baik Sunday mendahului mereka.
Di pelataran Font, Sunday melihat Victor sudah berdiri disamping mobilnya. Seingat Sunday ia tidak punya janji dengannya tapi kenapa dia bisa tiba-tiba ada di sini. Sunday pun mendekatinya.
"Kau disini?"
"Ya, aku menunggumu."
"Sudah lama? Kenapa tidak meneleponku kalau kau disini."
"Kenapa? Apa memberimu kejutan saja tidak boleh? Seharusnya kau yang memberiku kejutan."
"Memberimu kejutan? Kenapa harus?"
"Karena hari ini ulang tahunku."
"Ya Tuhan, aku lupa. Maafkan aku." Sunday lalu menepuk jidatnya sendiri. Victor tampak cemberut.
"Ya, maafkan aku ya. Aku benar-benar lupa." Sunday menggoyang-goyangkan lengan Victor berusaha agar ia tidak jadi marah. Sebuah mobil melintas disamping mereka. Sunday menundukkan kepala menyapa kepada mobil yang ditumpangi Faris dan Gina itu.
"Ahh, jangan begitu. Aku benar-benar lupa. Aku bahkan lupa hari ini tanggal berapa."
"Dasar workaholic." Cibir Victor. Sunday terkekeh.
"Kalau begitu ayo kita makan."
"Kau traktir?"
"Tentu saja."
"Ayooo..." Sunday girang. Victor merasa Sunday lucu sekali segirang itu.
"Tapi kau harus memberikanku kado besok."
"Iya baiklah." Sunday menyanggupi. Lalu mereka menaiki mobil dan mulai melintasi jalan raya.
"Temanku bilang ada kafe yang bagus di sekitar sini." Kata Victor setelah mereka berjalan beberapa ratus meter dari Font.
"Oh, kafe di sebelah sana mungkin. Yang puding coklatnya enak sekali."
"Kau tahu itu?"
"Kalau yang kau maksud kafe itu, aku sering ke sana saat bertemu klien."
"Mari kita lihat apa itu kafe yang sama dengan yang ku maksud." Victor mengendarai mobilnya dan mulai menepi saat hampir sampai di kafe yang ia maksud.
"Iya benar disini." Kata Sunday.
__ADS_1
"Oh jadi ini. Kata temanku menu andalannya adalah nasi goreng seafood."
"Aku belum pernah mencobanya. Biasanya aku hanya datang untuk bertemu klien dan memesan minuman. Tapi waktu itu aku memesan puding coklat dan rasanya enak sekali."
"Kalau begitu ayo kita coba." Victor yang diikuti Sunday turun dari mobil dan memasuki kafe yang lampunya mulai menyala temaram.
"Kapan kau pulang ke rumah mamamu?" Tanya Victor setelah memesan makanan mereka.
"Entahlah, mungkin minggu depan. Kenapa?"
"Tidak apa-apa." Victor lalu memandang sekeliling.
"Kafe yang romantis. Aku rasa ini tempat yang tepat untuk mengungkapkan cinta pada seseorang." Sunday menyunggingkan senyum kecut.
"Ajaklah orang yang kau suka dan katakan cintamu."
"Aku mencintaimu. Sudah." Kalimat Victor cepat. Tapi itu bisa didengar jelas oleh Sunday dan membuatnya menegang seketika.
"Kau ini apa-apaan. Berhentilah untuk seperti itu." Sunday menjadi salah tingkah mendengar ucapan Victor yang tiba-tiba itu.
"Aku ingin berhenti tapi belum bisa." Victor tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya sejak tadi. Entah berapa kali Sunday menolaknya tapi ia bahkan tidak bisa berhenti untuk menyukai. Lalu suasana menjadi sunyi diantara mereka. Sampai saat itu jadi terselamatkan dengan kedatangan pramusaji membawa pesanan mereka termasuk dua potong puding coklat sebagai dessert.
Mobil Victor berhenti di depan rumah kos Sunday. Sunday turun.
"Kau tidak menawariku mampir?"
"Tidak, ini sudah malam. Tidak enak dengan ibu kos kalau membawa teman malam-malam."
"Baiklah kalu begitu. Aku pulang."
"Hati-hatilah." Victor mengangguk dan perlahan mulai melarikan mobilnya melewati jalan yang tidak begitu lebar itu.
Sunday menghela nafas. Bagaimana mungkin ia tidak bisa merasakan apapun pada pria itu. Victor cukup baik, dia juga tampan. Tapi hatinya tetap tidak bisa ia kendalikan. Semua yang ada pada Victor tidak pernah bisa menggetarkan hatinya. Ia masih saja tidak merasakan apapun kepada Victor.
Begitu mobil Victor tidak tampak lagi, Sunday memasuki rumah kosnya. Ibu kosnya masih berada di ruang tengah. Melihatnya seperti itu, Sunday seperti sedang melihat mamanya. Bu Uni juga suka melihat sinetron. Kadang Sunday berfikir jika sudah menjadi ibu-ibu nanti apa dia juga akan menyukai sinetron. Mungkinkah ia akan melupakan film-film action kesukaannya.
Setelah menyapa Bu Uni lalu ia masuk ke kamarnya. Meletakkan tasnya lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur untuk melepas lelah sejenak. Sambil memandangi atap kamar, Sunday masih memikirkan Victor. Entah sudah berapa kali ia menolaknya tapi Victor tidak pernah menjauh darinya. Kadang Sunday merasa tidak nyaman terhadap Victor tapi menjauhinya bahkan akan menjadi sebuah diskriminasi karena bagaimanapun juga ia tidak bisa melarang Victor untuk menjadi sahabatnya.
Setelah merasa cukup menghilangkan lelahnya, Sunday memasuki kamar mandi dan teringat sesuatu.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa lupa." Sunday keluar lagi dari kamar mandi. Perlengkapan mandinya habis. Sabun dan sampo habis bersamaan. Sebenarnya Sunday sudah merencanakan berbelanja sepulang ia kerja. Tapi karena Victor menjemputnya, ia jadi lupa untuk berbelanja. Jadilah semalam ini ia harus ke minimarket untuk berbelanja kebutuhan kamar mandi karena ia tidak akan pernah bisa tidur tanpa mandi dulu sebelumnya.
Jalanan depan kosnya lumayan sepi. Padahal baru jam 9 malam. Tapi kawasan perumahan ini memang selalu sepi. Sejak tinggal di sini Sunday jarang bertemu para penghuninya.
Minimarket yang Sunday datangi ada dikawasan ruko depan gang perumahan. Itu adalah sebuah minimarket waralaba yang buka 24 jam. Sampai disana Sunday mengambil beberapa kebutuhannya dan tidak lupa cemilan, keripik kentang. Setelah membawa ke kasir dan membayarnya, Sunday bergegas pulang. Badannya yang sudah terasa lengket itu ingin sekali buru-buru ia basuh dengan air.
Melihat sekeliling yang sepi Sunday jadi berinisiatif untuk membuka keripik kentangnya sebagai teman perjalanan pulangnya. Sunday memang tidak membawa motornya ke sini karena kos dan Font bisa ia tempuh dengan bejalan kaki. Lagipula ia juga jarang kemana-mana. Sepulang kerja ia selalu di kos, entah menonton film-film secara streaming atau yang lebih sering langsung tidur karena terlalu lelah, apalagi jika ada meeting diluar dengan klien di tempat-tempat yang lumayan jauh dari Font.
Masih menikmati kripik kentangnya dengan berjalan santai, tiba-tiba sebuah motor keluar dari sebuah rumah. Sunday yang berada tepat di depan rumah itu jadi melonjak kaget hingga tersandung dan jatuh. Seseorang turun dari motor dan menghampirinya. Sunday duduk dan mengelus lututnya yang ngilu menghantam jalanan keras.
"Kau terluka?" Tanya orang itu panik. Sunday menengadahkan wajah ke arah seseorang yang berjongkok tepat di depannya dan merasa mengenal suara itu.
"Kau... kenapa ada di sini?" Faris membuka helmnya.
"Kau juga." Sunday mengerjapkan mata berusaha memastikan kalau penglihatannya tidak salah.
"Ini rumahku." Faris menunjuk sebuah rumah berdesain modern kontemporer dibelakangnya.
"Rumahmu?" Sunday mengernyitkan kening heran. Sekali lagi Sunday menoleh ke arah rumah itu. Meskipun lama tidak ke rumah Faris tapi ia ingat sekali bahwa rumah Faris bukan disini. Bukan dikomplek perumahan rumah kos Sunday.
__ADS_1
"Ya." Faris memandang Sunday lembut. Mereka masih bersitatap dalam posisi rendah mereka. Jalanan malam sepi dari ujung hingga ujung. Belum bisa bangun dari tempat jatuhnya, Sunday merasa badannya semakin lemas saat Faris menyentuh pipinya.