
Mobil Faris sampai di depan pagar sebuah rumah megah. Tampak seorang security keluar dari dalam posnya dan tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang saat mengenali mobil majikannya itu.
"Terima kasih, Pak Din." Faris tersenyum pada pria paruh baya berseragam security itu yang dibalas anggukan kepala dan senyum sopan.
Faris membawa mobilnya masuk ke halaman lalu setelah memarkir mobilnya dengan segera mengajak Sunday memasuki rumah.
"Ingat ya, kalau mama tanya mulai kapan kita pacaran, kau bilang saja sudah lama." Faris mengulang skenario yang mereka buat tadi selama di perjalanan.
"Oke." Sunday mengacungkan jempolnya.
"Ya sudah ayo kita masuk." Faris meraih jemari Sunday bermaksud menggandengnya.
"Eits, apa ini?" Sunday protes pada perlakuan Faris lalu melepas genggaman tangannya.
"Ini demi totalitas. Kita harus terlihat benar-benar seperti orang pacaran agar Mama percaya." Jelas Faris.
"Apa harus dengan begitu?" Sunday menyelidik.
"Sudahlah, ikuti saja setiap instruksiku."
"Kau tidak sedang mengambil kesempatan kan?" Sunday menyipitkan matanya menyelidik.
"Kesempatan apa?"
"Menggandeng tanganku." Jawab Sunday cepat.
"Hah, cuma menggandeng. Sedikit pun tidak akan mengurangi panjang jarimu."
"Enak saja." Sunday ketus.
"Jangan-jangan kamu tidak pernah bergandengan dengan pria ya?"
"Tentu saja aku pernah."
"Oh ya? Dengan siapa?"
"Tentu saja dengan pacarku".
"Memangnya kau pernah punya pacar?" Faris pura-pura tidak tahu. Padahal waktu itu ia sudah tahu dari teman-teman Sunday kalau Sunday pernah punya pacar.
"Jangan menghina. Tentu saja gadis secantik diriku banyak sekali yang ingin memacari."
"Benarkah? Cantik yang sebelah mana." Faris mendekatkan wajahnya ke wajah Sunday. Sunday yang mendapat reaksi tiba-tiba dari Faris yang menundukkan wajah sejajar dengannya itu reflek mundur satu langkah.
"Apa-apaan." Wajah Sunday tampak memerah malu setelah wajah mereka sedekat itu tadi. "Aku pulang saja." Sunday hampir berbalik tapi lagi-lagi Faris meraih tangannya.
"Hei, aku hanya bercanda. Jangan seserius ini." Faris memasang senyum manisnya.
"Habisnya, kau selalu mendebatku." Sunday cemberut.
"Oke, aku minta maaf."
"Baiklah..."
"Kita masuk sekarang." Masih dengan menggandeng tangan Sunday. "Mari kita buat Mama percaya kalau kita pacaran. Kita harus semanis mungkin." Bisik Faris kepada Sunday. Sunday hanya mengangguk dengan mata yang tertuju pada rumah besar Faris dengan penuh kekaguman.
Rumah tampak sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Kemana semua orang? Batin Faris mulai bimbang, berfikir kalau mamanya keluar. Tapi sepertinya tidak mungkin, karena setiap dia ada di rumah mamanya pasti memintanya mengantar karena memang sudah jarang menyetir sendiri.
Lalu Faris membawa Sunday ke samping rumahnya. Benar seperti tebakannya, Mamanya sedang duduk-duduk di teras samping sambil memainkan ponselnya. Entah apa yang dilakukan Mamanya dengan ponsel itu.
"Ma..." Sapa Faris. Mamanya menoleh ke sumber suara.
"Wah, anakku yang paling tampan." Mamanya selalu seperti itu. Selalu manis memperlakukan Faris.
"Ahh Mami ini lucu sekali." Faris mengibas tangannya karena malu disambut seperti anak-anak di depan Sunday.
Pantas saja senarsis dan sepercaya diri itu, Maminya saja memperlakukannya begini. Sunday membatin.
"Ini siapa?" Mami Faris memandang Sunday. Faris memberi isyarat pada Sunday untuk memperkenalkan diri.
"Oh Sunday, tante." Sunday mengulas senyum.
"Kalau Tante, Monday." Mami Faris berkelakar memperkenalkan dirinya juga. Sunday mengerutkan kening.
"Kalau Mami Monday, aku Saturday saja biar bisa berdekatan terus dengannya." Faris menunjuk Sunday, ikut berkelakar juga. Sunday tambah merasa konyol.
"Dasar, maunya." Mami Faris mencibir.
Memang namanya sangat unik jadi hampir setiap orang yang berkenalan dengannya selalu melakukan hal itu. Memperkenalkan balik diri mereka dengan nama hari yang lain. Sehingga Sunday merasa terbiasa. Tapi kali ini yang melakukan itu adalah pasangan ibu dan anak. Sunday jadi berfikir bahwa kekonyolan Faris pastilah diturunkan dari Mamanya.
"Pacarku, Mi." Tambah Faris kemudian. Sunday menatap Faris yang sangat terbuka kepada Maminya.
__ADS_1
"Oh ya? Wah... sudah berapa lama pacaran dengan Faris?" Tepat seperti prediksi mereka, Mami Faris akan menanyakan hal itu tanpa basa basi. Seperti kebiasaan maminya yang ceplas ceplos.
Mami Faris mengajak Sunday duduk dikursi dekatnya berdiri. Faris mengikuti duduk disebelah Sunday.
"Sudah lumayan lama, tante."
"Berapa lama?"
"Setahunan ya?" Sunday menoleh kepada Faris mencoba meminta persetujuan karena pertanyaan Mami Faris belum sempat ada di skrip tadi.
"Iya Mi." Jawab Faris berusaha tegas seolah jawaban Sunday benar.
"Ris, tolong buatkan minum untuk Sunday."
"Kok aku, Mi?"
"Laila belum pulang dari pasar. Mami kan harus menemui tamu." Sambil tersenyum kepada Sunday dan Sunday membalas lagi.
"Ahh, mami ini."
"Sudah, cepetan." Mamy Faris sedikit memaksa. "Oh iya, kamu mau minum apa?" Tanya Mami Faris lembut.
"Apa saja, tante." Sunday malu-malu.
"Air putih saja kalau begitu." Faris menyeletuk.
"Jangan, dia kan pacarmu. Bagaimana mungkin hanya air putih." Maminya nyolot. Faris menahan tawa. "Sudah buatkan yang manis-manis pokonya."
"Iya Mi." Faris menjawab malas sambil masuk ke dalam.
"Oh iya, camilan di toples bawa juga ya. Ada buah di kulkas sekalian dikupas dan bawa ke sini." Teriak Mami Faris agar Faris yang sedang menuju ke dapur mendengarnya.
"Iya Miiiii..." Sayup terdengar suara Faris dari dalam.
"Seharusnya tidak usah repot-repot, tante." Sunday tampak sungkan.
"Ahh tidak apa-apa. Itu tidak merepotkan." Sunday hanya tersenyum mendengar penuturan Mami Faris.
"Oh iya, bagaimana kamu mengenal Faris?"
Sunday bingung harus menjawab apa. "Itu, sebenarnya waktu itu Faris mengantar titipan Papa. Papa saya dan Faris teman kerja, tante." Sunday menjawab jujur pertemuan pertama mereka karena bingung kalau harus mengarang cerita baru.
"Oh, jadi Papa kamu dan Faris ada dalam satu kapal?" Sunday mengangguk.
"Ternyata kamu putri pelaut juga?"
"Iya tante."
"Ya memang begitu, tante." Sunday menimpali dengan senyum.
"Hayo... ngomong apa saja?" Faris datang dengan minuman dan camilan serta buah yang dipesan mamanya.
"Cepat sekali?" Maminya heran Faris bisa menyiapkan semua itu dengan cepat. Padahal prediksi maminya untuk mengupas buah semangka pasti butuh waktu yang lama untuk Faris.
"Iya lah, Mi." Faris jumawa.
"Halah, pasti Laila sudah datang." Cibir maminya.
"Iya..." Faris tersenyum malu karena tebakan Maminya tepat sasaran.
"Ayo diminum, Sun." Mami Faris mempersilahkan.
"Iya tante." Sunday meminum minuman yang disuguhkan Faris di depannya.
Lalu mereka tampak mengobrol tentang banyak hal. Termasuk tentang Faris dan papa Sunday yang bekerja di satu kapal. Hari ini juga Sunday baru tahu bahwa Papi Faris yang sekarang ada di luar kota juga dulu seorang pelaut.
Ternyata tidak banyak yang Sunday tahu tentang Faris. Selama ini dia terlanjur menganggap Faris adalah pelaut dan sebagian besar pelaut adalah playboy. Informasi lain Sunday anggap tidak perlu.
Lama-lama dia merasa menjadi teman yang jahat karena tidak peduli tentang siapa sebenarnya Faris. Ternyata Faris juga adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang semua kakaknya perempuan. Dan itupun Sunday baru tahu walau sudah bertahun-tahun mereka berteman.
Sekarang mereka sudah ada di ruang tengah. Ada LED TV 60 inch dan seperangkat home theatre disana. Ada sofa dan karpet serta bantal-bantal besar untuk bersantai. Bisa menonton tv dengan duduk di sofa atau duduk di katpet bulu yang lembut dan nyaman. Mereka tadi akhirnya masuk ke dalam rumah karena Mami Faris harus pergi ke luar. Karena Faris sedang bersama Sunday jadi Maminya meminta sopir untuk mengantar.
Banyak sekali koleksi film yang Faris punya dan kebanyakan adalah film action. Setelah masuk tadi Faris lalu menawarkan kepada Sunday untuk menonton film saja.
"Sudahlah, antar aku pulang saja. Mamimu juga kan akan pergi."
"Cuaca masih panas. Malas sekali kalau harus keluar rumah sekarang." Alasan Faris.
"Itu hanya alasanmu saja." Sunday cemberut.
"Kenapa memangnya? Kamu takut ada di rumahku?" Goda Faris.
"Takut kenapa?" Sunday mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Takut aku apa-apakan." Faris terkekeh.
"Berani macam-macam, ku banting kau." Sunday melotot. Faris tertawa.
"Tunggulah di sini, ku ambilkan koleksi film di kamarku. Atau kau ingin menontonnya di kamarku saja?"
"Bermimpilah sesukamu." Faris tertawa lagi lalu beranjak ke kamarnya di lantai atas.
Sunday duduk di karpet ruang tengah. Duduk berselonjor. Tak berapa lama kemudian Faris datang membawa setumpuk koleksi DVD film yang akan mereka tonton.
"Ini, pilihlah." Faris menyodorkan keranjang berisi koleksi DVD. Sunday tampak memilih dan melihat-lihat. Sedangkan Faris mulai menyalakan TV dan DVD player.
"Yang ini saja." Sunday menyodorkan sebuah film Jack Ryan : Shadow Recruit. Faris menerimanya.
"Kenapa film ini? Bukankah banyak film yang lebih baru."
"Itu saja, aku sedang merindukan seseorang." Sunday tersenyum penuh arti.
"Oh ya? Siapa?" Faris penasaran.
"Pacarku."
"Dari tadi kau bilang pacar-pacar terus. Memangnya siapa pacamu?" Ada sedikit nada kesal di suara Faris.
"Yang ada di film itu." Sunday tersenyum lebar sekarang.
"Chris Pine?" Faris ganti mengerutkan kening.
"Hmm."
"Mimpi kali yeee." Faris mencibir. Sunday ngakak.
"Lebih baik berpacaran denganku tapi nyata daripada dengan Chris Pine tapi mustahil." Gumam Faris kemudian.
"Hei, aku mendengarnya." Sunday nyolot.
"Oh, ku pikir suaraku sudah sangat pelan. Kau memang punya pendengaran infrasonik seperti kelelawar."
"Hei, jaga bicaramu. Mentang-mentang ada di rumahmu sendiri lalu seenaknya saja mengataiku kelelawar."
"Siapa yang mengataimu kelelawar? Aku hanya bilang pendengaranmu tajam seperti kelelawar."
"Itu sama saja." Sunday memukul pundak Faris yang sudah duduk di sampingnya sambil bersandar di tepi sofa.
"Tentu tidak sama." Faris mengelak
"Itu sama." Sunday tidak mau kalah.
"Sudah... sudah... mari kita tonton saja filmnya." Faris mengalihkan perhatian. Sunday masih cemberut. Faris jadi gemas.
Wajah cemberut Sunday memang terlihat menggemaskan. Atau... memang semua yang ada pada Sunday terlihat seolah menggemaskan. Tanpa sadar Faris tersenyum sendiri melihat Sunday yang ada di sampingnya sekarang.
Film berlangsung. Sunday sesekali tegang oleh adegan action yang diperagakan oleh Chris Pine tapi juga kadang senyum-senyum sendiri melihat beberapa adegan Jack Ryan yang diperankan oleh Chris Pine bersama Keira Knightley sebagai Cathy Muller yang adalah sepasang kekasih. Film ini memang adalah film action yang didalamnya pun diselingi kisah roman.
Durasi film sudah habis, Sunday mengeliat menarik tangannya ke atas mengusir pegal dipunggungnya yang sedari tadi duduk sambil melihat film. Ditengoknya ke samping ternyata Faris sudah tertidur.
Bisa-bisanya dia tertidur. Sunday tersenyum melihat Faris yang tertidur dengan pulas. Wajahnya tampak tenang. Senyum nakal yang biasa ia tampakkan seolah menghilang oleh garis wajah kalemnya. Benar, wajahnya memang setampan itu, jadi wajar sekali banyak gadis yang menyukainya.
"Jangan melihatku seperti itu, nanti kau bisa jatuh cinta kepadaku." Faris tiba-tiba bergumam dan perlahan membuka matanya. Ternyata Faris tidak benar-benar tidur. Sunday gelagapan dan buru-buru mengalihkan pandangan.
"Ehh, siapa yang melihatmu? Aku hanya memastikan bahwa kau masih bernafas. Aku khawatir kau tiba-tiba mati tanpa ku sadari." Sunday gugup. Tiba-tiba saja jantung Sunday berdetak dengan sangat berisik. Sunday jadi heran dengannya. Kenapa akhir-akhir ini jantungnya sering aneh begitu. Kadang berdetak sangat cepat seolah habis lari maraton padahal jelas-jelas dirinya hanya sedang duduk santai.
Kenapa aku ini? Apa aku sakit? Sakit jantung? Ohh, tidak. Mana mungkin aku punya penyakit jantung diusia semuda ini. Ini pasti karena aku kaget saja tiba-tiba dia bangun.
"Hei, malah bengong." Faris menarik rambutnya
"Aduh, sakit tahu." Sunday melempar Faris dengan bantal.
"Aku lapar, ayo kita makan." Faris bangun dan menuju ruang makan tanpa meminta pendapat Sunday. Tapi Sunday tetap mengikutinya dari belakang. Sebenarnya dia tidak begitu lapar karena cemilan yang dimakannya selama menonton film tadi lumayan mengganjal perutnya.
"Tidak ada menu bakso disini. Kalau kau mau bakso akan ku pesankan online." Faris seperti menyindir Sunday yang adalah pecinta berat bakso.
"Tidak usah, ini saja."
"Kalau tidak suka jangan dimakan ya" Faris menarik kursi dan duduk. Sunday juga duduk di kursi hadapan Faris.
"Aku suka semua ini." Tunjuk Sunday.
"Dasar rakus."
"Hei, mau kulempar kau dengan ini?" Sunday mengangkat piring berisi sambal lalapan.
"Ampun Sun, itu pasti pedas sekali. Itu kesukaan mami jadi pasti sangat pedas."
__ADS_1
"Oh ya? Satu selera denganku." Sunday lalu menyendokkan nasi ke dalam piringnya dan mengambil sambal dengan banyak baru menaruh ayam goreng. Faris yang melihat itu hanya tersenyum.
Pantas saja sering kali ucapannya pedas sekali, hobi makan sambel dia.