Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Koma


__ADS_3

"Faris... Faris... " Faris hanya memejamkan mata dan tergolek lemas.


"Pak, panggilkan ambulan. Cepat." Teriak Sunday panik luar biasa.


Security mulai menelepon rumah sakit terdekat. Kemudian Sunday mengalihkan pandangan lagi ke arah Faris dan terlihat ada pergerakan darinya.


"Sunday..." Panggil Faris dengan suara lirih. Sunday menghapus air matanya.


"Jangan bicara." Sunday mendekatkan wajahnya pada Faris.


"Rasanya sakit sekali." Rintih Faris sambil menyandarkan kepalanya pada headrest.


"Iya, tapi setelah ini tidak akan sakit lagi. Sebentar lagi ambulan akan segera datang. Bersabarlah." Bujuk Sunday.


"Kalau aku mati, kau jangan sedih." Air mata Sunday tumpah lagi. Bagaimana bisa ia tidak bisa sedih ketika Faris mati. Tentu saja itu akan menjadi hal yang sangat menyedihkan baginya.


"Kau tidak boleh sedih." Ulang Faris sambil meringis menahan nyeri pada luka tembaknya.


"Sudahlah... jangan banyak bicara. Kau ini cerewet sekali."


"Tapi, kalau aku tidak mati, kau harus segera menikah denganku." Sunday menatap Faris lurus sambil mengerjapkan matanya.


Dia ini benar-benar. Disaat seperti ini masih bisa memikirkan hal itu. Batin Sunday.


"Ya..." Jawab Sunday kemudian agar Faris merasa lega dan berhenti berbicara terus menerus. Benar saja, Faris lalu menutup bibirnya dan tidak bersuara lagi. Tapi Sunday bertambah panik dan menepuk-nepuk wajah Faris pelan. Tangis Sunday semakin menjadi karena tidak ada pergerakan dari Faris setelah itu.


"Sudahlah, Sun. Mari kita tunggu saja mobil ambulan. Kamu yang tenang." Mama Sunday menariknya menjauhi Faris.


"Faris Ma..." Sunday meraung.


"Dia akan baik-baik saja." Mama Sunday memeluk putrinya sekarang. Putrinya yang histeris mendapati Faris diam di belakang kemudi dengan memejamkan mata lalu ia mencoba menenangkannya. Apapun yang terjadi pada Faris, Sunday harus bisa menerima. Kemungkin terburuk itu selalu ada begitu pula kemungkinan baik tidak akan pernah hilang jika sudah berada dalam takdirNya. Faris masih ditunggui oleh security saat sayup-sayup bunyi sirine mobil ambulan yang semakin lama semakin terdengar dengan jelas.


Tak lama kemudian ambulan benar-benar tiba dan petugas medis dengan cekatan menangani Faris serta memasukkannya ke dalam ambulan. Sunday ikut serta di dalam ambulan itu dengan tangis yang belum berhenti. Saat ambulan berangkat, mama Sunday mengikuti dari belakang dengan diantar oleh seorang sopir.


Sunday tidak bisa membendung air matanya. Doanya di dalam hati berbanding lurus dengan banyaknya air mata yang tumpah. Faris masih memejamkan matanya saat ambulan membawanya menuju rumah sakit. Sunday memandang Faris yang masih terbujur diam.

__ADS_1


Rumah sakit sudah ada di depan mata dan ambulan segera memasukinya. Segera setelah tiba, ambulan sudah disambut para petugas medis untuk dibawa ke ruang operasi yang sudah persiapkan sebelumnya saat ambulan berada dalam perjalan.


Sunday menunggu di depan pintu ruang operasi. Mama Sunday datang menyusul menggunakan mobip diantar oleh sopir.


"Bagaimana, Sun?" Wajah mama Sunday khawatir.


"Operasi sedang berlangsung, Ma."


Dari arah ujung lorong tampak papi dan mami Faris berjalan terburu-buru mendekati Sunday.


"Bagaimana keadaan Faris? Apa dia baik-baik saja?" Tanya mami Faris dengan air mata berderai-derai.


"Faris akan pasti baik-baik saja, Tante." Sunday berusaha menenangkan walau wajah sembab karena terlalu banyak menangis tidak bisa ia sembunyikan.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Mami Faris menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu sambil meratap.


"Mari kita berdoa saja untuk Faris, Tante." Sunday merangkul pundak mami Faris. Sedangkan papi Faris tampak menerima telepon dari seseorang. Sayup-sayup Sunday mendengar ia berbicara dengan lawan bicaranya dari telepon.


"Lakukan segera dengan cepat. Aku tidak bisa hanya mengandalkan pihak berwajib. Kita juga harus bergerak sendiri. Periksa CCTV di sekitar lokasi atau cari saksi lain yang bisa membantu proses pencarian pelaku." Ujar Pak Sasono tegas. Setelah itu ia menutup telepon dan mendekati putranya.


"Tenang, Mi. Faris pasti baik-baik saja." Ia ganti mendekati istrinya yang terisak.


Apa ini masih berhubungan dengan Roni? Batin Sunday yang duduk bersisian dengan mamanya.


Operasi berjalan terasa sangat panjang. Dengan doa-doa dan harapan yang dipanjatkan oleh semua orang di depan ruang operasi. Mami Faris terlihat agak tenang sekarang. Ia masih menyandarkan kepala di pundak suaminya dengan mata sembab. Sesekali suaminya meremas jemari istrinya. Tampak manis sekali.


Ya, papi Faris juga dulunya adalah pelaut tapi ia sangat baik memperlakukan istrinya. Ia sangat sabar dan terlihat sangat mencintai istrinya. Sunday bisa melihat dari bagaimana cara menenangkan istrinya saat panik dan khawatir. Tiba-tiba Sunday iri kepada mereka. Seandianya papanya juga sebaik papi Faris. Dengan memikirkan itu Sunday jadi menghela nafas berat.


Hubungannya dengan papanya akhir-akhir ini sudah mulai membaik. Ia mulai belajar mendekatkan dirinya kepada papanya lagi. Selama ini papanya tidak pernah berhenti perhatian padanya meski Sunday selalu menolak segala kebaikan papanya. Papanya tidak pernah menyerah. Sampai akhirnya ketika melihat mamanya bahagia dengan om Rudi akhirnya Sunday menyadari bahwa kebencian kepada papanya disebabkan karena ia sedih melihat mamanya sedih. Jadi akhir-akhir ini ia mulai kembali membuka hati untuk menerima kembali papanya.


Pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dari sana. Papi, mami, Sunday dan mamanya mendekati dokter itu.


"Bagaimana keadaan anak saya, dokter?" Tanya mami Faris penuh harap akan mendapat jawaban yang ia inginkan.


"Maaf nyonya..."

__ADS_1


"Tidak dokter, jangan katakan hal buruk." Mami Faris mulai histeris.


"Kami sudah berusaha dengan keras. Tapi pasien masih harus terus berada dalam pantauan kami. Peluru sudah kami keluarkan tapi itu belum berarti pasien berhasil melewati masa kritis. Mari kita berdoa untuk pasien agar bisa melewati masa kritisnya." Mendengar itu mami Faris berlinang air mata dengan papinya yang merangkul pundaknya. Menopang agar maminya tidak jatuh karena badannya seperti lemas mendengar kabar tentang keadaan putra mereka.


Sunday pun tidak kalah sedihnya dengan kabar yang dibawa oleh dokter. Tapi ia juga tidak bisa apa-apa selain mendoakan kesembuhan Faris. Mamanya menepuk punggung Sunday beberapa kali untuk menenangkannya. Sebelum dokter meninggalkan tempat itu, ia memperbolehkan keluarga menjenguk Faris di ruang ICU tapi dengan membatasi hanya untuk per satu orang. Akhirnya mami Faris yang sudah tidak sabar pun memasuki ruang ICU untuk melihat keadaan putranya secara langsung.


🌸🌸🌸


Hari berganti, waktu berlalu. Ini adalah hari ketiga Faris dirawat di ruang ICU tapi ia masih belum sadarkan diri. Saat ini Sunday ada di sampingnya. Setiap hari Sunday selalu datang untuk menjenguk Faris. Hari ini Sunday mulai masuk kerja lagi jadi sepulang kerja baru ia datang.


Saat masuk kerja tadi banyak pegawai yang mengucapkan simpati mereka kepada Sunday. Sekarang mereka tahu Sunday adalah pacar bos mereka jadi tentu saja Sunday adalah teman yang tepat untuk menyampaikan simpati mereka. Saat di Font pun Gina sempat bertanya pada Sunday tentang perkembangan kondisi Faris setelah kemarin ia juga datang untuk menjenguk."


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Gina saat bertemu di lobi.


"Belum ada perubahan signifikan tapi ia pasti akan bangun nanti."


"Ya, tentu saja." Jawab Gina lagi. Bagaimanapun juga hingga saat ini perasaannya untuk Faris masih sama. Belum berkurang, sehingga perhatian dan kekhawatiran Gina pun masih sebesar itu.


Sunday memandang wajah Faris yang masih terpejam.


"Apa kabarmu hari ini?" Sapa Sunday kemudian.


"Kau tahu, setiap hari aku berharap saat memasuki ruang ICU kau membuka matamu dan memanggil namaku. Lalu kita berbincang seperti biasanya. Membicarakan akan pergi kemana kencan kita selanjutnya. Atau hanya sekadar mengobrol hal yang tidak penting hingga berdebat sampai akhirnya kau yang mengalah." Sunday mengulas senyum teringat kebiasaan mereka setiap bersama.


"Kau tahu, baru beberapa hari tapi rasanya aku sudah sangat rindu. Aku rindu kau buat tertawa karena kekonyolanmu. Aku rinsu saat kau buat aku bahagia dengan rayuanmu." Kali ini Sunday merona mengatakan itu.


"Aku rindu berjalan denganmu sambil bergandengan tangan." Kali ini Sunday merapatkan jarinya diantara jemari Faris.


"Jadi cepat bangunlah. Apa kau tidak ingin kita bisa seperti sedia kala? Apa kau tidak merindukanku juga?" Tiba-tiba air mata Sunday menetes.


"Atau kau ini pangeran tidur yang hanya dengan ciuman bisa membuatmu terbangun? Aku tidak suka trikmu kali ini. Jadi jangan berpura-pura tidur hanya agar mendapat ciuman dariku. Kau ini seorang pria, bukan putri salju jadi jangan berharap banyak." Sunday terkekeh sendiri setelah mengatakan itu.


"Hei." Kata Sunday lagi. "Katamu kau ingin menikah denganku. Bagaimana kita bisa menikah kalau hanya untuk membuka mata saja kau tidak bisa. Cepatlah bangun agar kita bisa segera menikah. Kau bilang waktu itu ingin menikah denganku dan memiliki banyak anak. Lalu bagaimana itu bisa terjadi kalau kau hanya tidur begini. Aku mohon bangunlah, Ris." Sunday terisak dan menelungkupkan kepalanya di tempat tidur Faris.


Sunday meluapkan segala perasaannya dan membiarkan seprei putih itu basah oleh air matanya. Ia merasa sangat iba melihat Faris yang tidur dalam komanya.

__ADS_1


"Sun..." Sunday mengangkat wajahnya dan mendongakkan wajah kepada Faris. Dari situ terlihat Faris membuka matanya perlahan.


"Faris..." Ucap Sunday lirih. Dadanya bergemuruh.


__ADS_2