
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Gina memandang dua orang di depannya. Sunday seketika menarik tangannya dari genggaman Faris dan berdiri dari tempat duduknya.
"Ini tidak seperti yang kau lihat, Gina. Aku dan Faris hanya..." Sunday panik, dia bingung harus menjelaskan apa.
"Ya... ini seperti yang kau lihat." Ujar Faris santai.
"Hei, kau ini bicara apa." Sunday memukul pundak Faris.
"Kita memang seperti itu. Seperti yang kau fikirkan saat ini." Kalimat Faris santai. Sunday memelototinya.
"Sejak kapan kalian..." Gina terbata.
"Sejak lama." Faris memotong kalimat Gina seolah tahu arah pembicaraannya.
"Tidak, jangan hiraukan dia. Semua yang dikatakannya tidak benar. Aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun. Aku kemari karena ada hal yang harus ku kerjakan jadi karena pekerjaanku sudah selesai aku akan pergi sekarang."
"Kau tidak boleh kemana-mana." Faris menarik tangan Sunday sehingga ia tidak bisa beranjak.
"Hahaha... kalian ini lucu sekali." Gina malah tertawa. Sunday dan Faris heran dengan perubahan ekspresi Gina.
"Sudah besar tapi kelakuan kalian seperti anak kecil. Tidak usah panik begitu. Kau, Faris, jangan mengerjai Sunday seperti itu. Lihatlah wajahnya sudah pucat sekali." Gina berjalan menuju sofa lalu duduk diujung sofa.
"Aku percaya kepada Sunday. Dia teman baikku jadi aku rasa tidak mungkin dia membohongiku." Gina memandang Faris. Sunday bernafas lega.
"Baiklah, aku harus pergi." Sekuat tenaga tangan Sunday akhirnya terlepas dari genggaman Faris. Sunday meninggalkan ruangan itu dengan perasaannya yang masih ricuh. Gina tiba-tiba masuk saat ia dan Faris berpegangan tangan sedekat itu. Kalaupun Gina berfikiran aneh-aneh itu cukup wajar.
"Tapi Gina tampak baik-baik saja dan tidak terlihat seperti marah, aku rasa cukup untuk ini. Yang jelas aku hanya harus waspada terhadap Faris. Dia sangat berbahaya. Seenaknya saja menarikku ke ruangannya. Dia pikir bisa melakukan apapun karena dia bos disini. Menyebalkan." Gerutu Sunday saat berada di dalam lift menuju ruang kerjanya.
Gina menggeser duduknya mendekati Faris.
"Kau mau memesan sarapan melalui delivery order? Aku belum sarapan." Kata Gina manja sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Faris seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Kenapa tidak sarapan di rumah?" Tanya Faris datar.
"Sudah ku bilang itu bukan rumah tapi kuburan. Aku bosan tidur dikuburan, mandi di kuburan, makan juga di kuburan. Belum mati saja aku sudah di kuburan." Gina lalu terkekeh sendiri.
"Kalau kau adalah penghuni kuburan berarti kau ini apa?" Goda Faris.
"Hei, jangan bilang kau mau mengatakan kalau aku ini setan kuburan." Faris lalu tertawa. Gina cemeberut.
🌸🌸🌸
"Ta, aku ke bawah dulu mencari referensi."
"Oke." Lita kembali berkonsentrasi dengan desain sistem rancangannya.
__ADS_1
Font memang tempat yang nyaman untuk para pegawainya. Pemiliknya benar-benar seolah tahu apa yang dibutuhkan pegawai disini sehingga Font tidak hanya sebuah tempat kerja melainkan juga tempat nyaman untuk meningkatkan daya kreatifitas. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti cafetaria, perpustakaan, ruang multimedia yang menyediakan tontonan film-film box office atau sekadar bermain game diruangan itu, ada tempat gym hingga kolam renang di sisi belakang Font sehingga semua pegawai bisa melakukan relaksasi jika mengalami kejenuhan dalam bekerja.
Dan saat ini Sunday memasuki perpustakaan bermaksud mencari referensi untuk analisanya. Siang ini perpustakaan terlihat lengang. Biasanya akan ada beberapa pegawai yang tidak hanya mencari buku-buku terkait pemrograman tapi mereka juga bisa membaca komik atau novel sebagai hiburan dari kejenuhan. Begitulah Font yang menyediakan fasilitas sesuai hobi pegawainya.
Sunday menuju deretan rak dengan koleksi buku-buku yang sedang ia cari. Sekarang sudah ada dua buku di tangannya, ia bermaksud mencari buku lain dan akhirnya menemukan sebuah judul buku yang ia rasa tepat. Ia berusaha menjangkau buku di rak paling atas itu. Letaknya lumayan tinggi bagi dirinya yang memiliki tinggi badan minimalis. Sunday melompat berusaha mengambilnya tapi tidak berhasil. Ia celingukan mencari bangku kecil yang biasa digunakan untuk menjangkau buku-buku di rak paling tinggi tapi tidak ada juga. Terpaksa ia bersusah payah melompat, berjinjit dan melakukan segala cara agar bisa menjangkau buku itu. Tapi ditengah usahanya tiba-tiba badannya terangkat. Ia seketika berteriak kaget dan saat menyadari apa yang terjadi ia sudah berhadapan tepat dengan buku yang dimaksud dan langsung mengambilnya.
"Kau ini kurcaci atau apa? Segitu saja tidak bisa menjangkau." Faris yang mengangkat pinggangnya kini sudah menurunkannya kembali.
"Seenaknya saja mengangkat orang. Kau pikir dirimu bina raga?" Gerutu Sunday yang berjalan dan duduk di sebuah meja lalu meletakkan buku-bukunya disana.
"Tidak perlu menjadi bina raga untuk bisa mengangkat tubuhmu yang kecil itu." Faris menahan tawa.
"Ku lihat makanmu banyak tapi kenapa tubuhmu tidak bisa besar juga? Kau juga rajin berjemur dipagi hari tapi tinggi badanmu hanya seperti ini saja."
"Hei, siapa yang menyuruhmu boleh mengomentari tubuhku. Itu body shaming namanya."
"Iya iya baiklah..." Faris tertawa melihat Sunday yang mulai sewot seperti itu.
"Tapi walaupun kau kecil seperti ini aku tetap menyukaimu. Bagiku kau terlihat imut sekali." Faris tersemyum lembut. Kali ini Sunday tidak bisa menutupi kesalahtingkahannya lagi. Ia yakin wajahnya saat ini sudah merona mendapat kalimat itu dari Faris.
"Kenapa kau ada disini? Memangnya seorang project sponsor tidak ada pekerjaan?"
"Ada, tapi itu bisa menunggu. Baru saja radarku menyala karena ada seorang kurcaci yang membutuhkan bantuanku."
"Berhenti memanggilku kurcaci. Kau pikir karena tubuhmu yang tinggi lalu kau merasa menjadi manusia normal? Kau itu sama sekali tidak normal."
"Tubuhmu terlalu tinggi. Hidungmu terlalu mancung. Matamu terlalu tajam. Alismu sangat tebal. Rambutmu lurus. Kulitmu terlalu bersih dan bibirmu... bibirmu terlalu memble."
"Terlalu memble? Ini bibir tersensual versi majalah Playboy kau tahu." Faris lalu tertawa sendiri setelah mengatakan itu.
"Lagipula semua ciri yang kau sebutkan itu bukankah menunjukkan ciri bahwa wajahku sangat proporsional jika bersanding dengan pria-pria tampan di luar sana. Mau kau bandingkan dengan siapa? Lee Min Ho yang seorang superstar drama korea yang digilai hampir semua pecinta drakor wanita, Omar Borkan Al Ghala yang dideportasi oleh pemerintah Arab karena dianggap terlalu tampan sehingga dikhawatirkan wanita-wanita arab akan jatuh cinta kepadanya, atau Robert Pattinson yang berperan menjadi vampir tampan tapi semua wanita didunia bahkan rela jika digigit olehnya."Jelas Faris.
"Bersanding dengan mereka semua, aku tidak takut untuk bersaing."
"Malas sekali berdebat dengan orang sombong dan narsis sepertimu." Sunday membuka bukunya dan mulai membaca. Faris yang merasa tidak dihiraukan jadi kesal.
"Kau tidak sopan sekali mengabaikan aku, bosmu."
"Terserah kau, Bos. Kau satu-satunya bos yang aneh di muka bumi ini. Yang selalu mengganggu pegawainya saat bekerja dan tidak suka pegawainya bekerja dengan rajin."
"Tentu saja, khusus terhadapmu aku akan menjadi bos yang aneh itu." Sunday memandang Faris yang tersenyum dengan memamerkan seringainya.
"Benar-benar aneh." Sunday tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya dan kembali menekuni bukunya. Faris masih tersenyum memandangi Sunday yang berkonsentrasi ke arah buku di depannya. Tapi kali ini dengan senyumnya yang serupa malaikat. Wajah Sunday yang diterpa cahaya dari luar cendela seperti sebuah kilauan mutiara. Tidak transparan tapi sangat bersinar.
Sunday berusaha fokus terhadap bacaan-bacaan yang sedang dihadapinya. Faris masih belum juga beranjak dari kursi di depannya. Sangat tidak nyaman dipandang seperti itu dan lama-lama Sunday pun jengah.
__ADS_1
"Hei Bos, apa kerjamu hanya untuk memandangiku seperti itu?"
"Ya, ini adalah pekerjaan favoritku."
"Ya Tuhan, harus dengan apa aku mengusirmu. Apa perlu ku bawakan obat nyamuk atau cairan pengusir kecoa?"
"Enak saja, aku bukan serangga."
"Habisnya kau ini mengikutiku terus. Itu mengganggu konsentrasiku."
"Baguslah."
"Bagus, mengganggu pegawaimu kau bilang bagus?"
"Ya, itu artinya kau mulai menaruh perhatian padaku. Kalau konsentrasimu mulai terbagi begini itu pertanda aku mulai ada difikiranmu." Faris tersenyum senang.
"Dasar kau ini..." Sunday hampir memukul Faris tapi tidak jadi ia lakukan karena ia ingat ini tempat umum. Pasti akan aneh jika seorang pegawai memukul bosnya. Dan Faris masih tetap dengan posisi dan senyum yang sama, membuat jantung Sunday berdebar berisik. Senyum Faris yang serupawan malaikat membuatnya merona.
Bip... bip.. bip... ponsel Faris menyuara. Ia mengangkatnya. Sunday melanjutkan membaca bukunya dengan sisa tipis debaran diatas normal di dadanya.
"Iya, aku segera ke sana." Lalu Faris menutup teleponnya.
"Jangan jadi pegawai yang baik saat bersamaku." Faris menyentuh hidung Sunday. Ia terjingkat.
"Kau memang bos yang aneh sekali. Benar-benar aneh. Memangnya kapan aku pernah menjadi pegawai yang tidak baik tanpa gangguan darimu? Kau yang selalu membuat usahaku menjadi pegawai teladan selalu ternodai."
"Lagipula tidak banyak untungnya kau menjadi pegawai teladan. Toh akhirnya nanti aku akan memecatmu."
"Enak saja main pecat pegawai semaumu. Mentang mentang kau bosnya lalu seenaknya memecat." Sunday mulai terpancing emosi.
"Tentu saja. Kalau kau bekerja lalu siapa yang akan mengurusku dan anak-anakku?" Faris memandang serius Sunday saat mengatakan itu. Sunday mengerutkan kening.
"Mengurusmu dan anak-anakmu?" Sunday meninggikan nada suaranya hingga satu oktaf.
"Hei, siapa yang mau jadi asisten rumah tanggamu?"
"Lebih dari itu, bendahara, sekretaris, manager, semua jabatan itu akan kuberikan padamu."
"Berani menggaji berapa untuk semua posisi yang kau berikan padaku itu."
"Seluruh hidupku. Aku memberikan seluruh hidupku padamu." Kali ini Sunday menautkan kedua alisnya. Faris memandang Sunday lembut. Tatapan khas Faris yang selalu berhasil membuat Sunday meleleh.
"Karena saat itu kau adalah istriku." Seketika pipi Sunday menghangat dan terlihat bersemu merah.
"Baiklah, aku pergi dulu." Faris mengusap lembut puncak kepala Sunday sambil beranjak dari duduknya. Sunday tidak sempat menghindar dan akhirnya pasrah.
__ADS_1
"Ingat, jangan bekerja terlalu keras. Karena suatu saat aku pasti akan memecatmu." Faris tersenyum lebar lalu pergi meninggalkan Sunday yang mengerjap-ngerjapkan matanya.