
"Mari bertemu. Akan ku kirim alamatnya." Telepon ditutup. Faris memandang Sunday yang juga sejak tadi seperti ingin tahu telepon dari siapa yang ia terima hingga wajahnya seserius itu. Faris yang bisa membaca raut wajah Sunday kembali mendekati gadisnya.
"Aku akan bertemu seorang teman."
"Siapa?"
"Ada, ku rasa ini sangat penting jadi dengan sangat berat hati aku harus melewatkan momen mengantarkanmu pulang."
"Siapa?" Sunday mulai penasaran karena Faris seperti sedang menutupi sesuatu darinya.
"Apa dia Gina?" Sunday menyipitkan matanya.
"Bukan... Bukan... Bukan Gina. Ini orang lain."
"Lalu siapa?" Sunday mulai gemas karena Faris seolah ingin bermain tebak-tebakkan.
"Nanti, setelah urusan ini selesai aku akan menemuimu."
"Benarkah?"
"Ya."
"Baiklah..." Sunday terpaksa harus menuruti keinginan Faris.
"Aku suka kau mulai posesif."
"Siapa yang posesif?"
"Yang baru saja kau lakukan." Faris mengerling.
"Itu bukan posesif tapi lebih kepada karena aku penasaran saja." Sunday berlagak acuh.
"Baiklah, apapun itu aku suka sikap ingin tahumu." Faris mengusap rambut Sunday.
"Aku pergi dulu. Besok aku datang ke rumahmu. Pastikan kau ada di sana."
"Besok aku akan mulai bekerja."
"Tidak boleh." Jawab Faris cepat. "Kau harus beristirahat dengan cukup. Meskipun kata dokter luka di kepalamu tidak cukup serius dan paru-parumu sudah terbebas dari asap, kau harus meyakinkan tubuhmu untuk kembali bekerja."
"Ahh, ternyata kau lebih protective daripada mama."
"Tentu saja. Aku ini Bosmu. Aku tidak mau dituntut oleh Badan Ketenagakerjaan karena telah kejam mempekerjakan pegawai yang sedang sakit."
"Aku sudah merasa baikan."
"Tidak boleh. Sudah ku bilang tidak boleh ya tidak boleh."
"Kata Lita saat kemari tadi dia sangat merindukan bekerja denganku."
"Hei, pacarmu itu Lita atau aku?" Faris sampai melotot saat mengatakan itu.
"Baiklah... baiklah... aku pacarmu."
"Jadi menurutlah denganku kalau kau tidak ingin kupensiunkan dini."
"Ya Tuhan, kau otoriter sekali. Main pecat seenak jidatmu. Mentang-mentang kau bosnya." Sunday cemberut.
"Itulah kenapa kau perlu bersikap baik padaku." Faris tersenyum jumawa.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Semoga kau segera pulih." Sebelum berbalik badan dan menuju pintu, Faris mengulas senyum manis kepada Sunday.
Sunday merasa ada yang disembunyikan Faris tapi apa itu ia tidak tahu. Sunday hanya berharap semoga itu adalah hal baik. Sebagai pacar, Sunday memang sedikit memiliki rasa curiga. Tapi kemudian ingat bagaimana Faris berusaha meyakinkan padanya bahwa ia bukan Faris yang dulu dan Sunday sudah memberikan kepercayaan padanya jadi perasaanya sedikit tenang.
Sambil berkendara Faris masih memikirkan kira-kira siapa yang meneleponnya itu. Dan sepenting apa informasi yang ingin ia sampaikan hingga mengajaknya bertemu di tempat yang menurutnya sepi. Hingga akhirnya Faris sampai di tempat seperti yang tertulis di alamat yang orang itu kirim. Faris memarkir mobilnya di samping sebuah gedung kosong berpagar tinggi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Ia hanya seorang diri.
Faris keluar dari dalam mobilnya dan melihat ke sekeliling. Lalu ia melihat kembali alamat yang yang tertera dikotak pesan. Benar alamatnya di sini. Tapi dimana keberadaan orang yang mengajaknya bertemu? Kenapa ia belum juga menampakkan diri? Faris sedikit menyesal karena mempercayai begitu saja telepon orang itu. Kenapa baru terfikirkan sekarang kalau mungkin saja telepon itu dari orang iseng yang ingin memanfaatkan keadaan untuk mengerjainya.
Masih ada disitu Faris bertekad akan menunggunya hingga 15 menit lagi. Suasana gelap dan sepi membuat suasana disekitarnya tampak menyeramkan. Siapa yang ingin bertemu di tempat seperti itu pastilah ia sangat menjaga rahasia yang ingin ia sampaikan. Kalaupun ini hanya perbuatan orang iseng, pastinya dia orang yang memiliki tingkat kekejaman sangat tinggi karena terlewat jahil
Belum sampai 15 menit Faris menunggu, ada sebuah cahaya yang mendekat dan itu seperti sorot sebuah lampu mobil di jalanan berbatu tempat Faris memarkir mobilnya. Semakin dekat Faris melihat sebuah mobil berjalan ke arahnya lalu pengemudinya memarkir di belakang mobil Faris.
Lampu mobil padam tanda mesin dimatikan. Seseorang membuka pintu mobil dan terlihat seorang wanita bersepatu hak tinggi keluar dari sana. Suasana gelap membuat pernglihatan Faris terbatas dengan jarak diantara mereka.
__ADS_1
"Apa kabar, Ris?" Sapa wanita yang sudah ada di hadapan Faris sekarang.
"Kau???" Faris mengerutkan kening mencoba mengenali orang di depannya.
"Kau lupa padaku?" Wanita itu tersenyum.
"Tapi memang kita sudah sangat lama tidak bertemu jadi wajar saja kau tidak mengenaliku."
"Sebentar, biar ku ingat-ingat." Faris mencoba membuka memorinya lagi.
"Kelas IPA dipaling pojok." Ujar wanita itu berusaha memberi petunjuk.
"Kelas IPA 1?"
"Ya."
Kelaa IPA 1 adalah kelasnya saat duduk di bangku kelas 3 SMA. Kelas yang juga ditempati Desy.
"Kau... Ratna?" Faris teringat wajah yang mirip dengan yang ada di depannya.
"Ya, kau benar." Wanita yang bernama Ratna itu tersenyum senang.
"Ternyata ingatanmu tidak terlalu buruk."
"Ahh, bagaimana aku hampir melupakanmu. Sudah berapa lama kita tidak berjumpa?"
"Aku rasa sejak lulus SMA kita tidak pernah bertemu satu sama lain."
"Kurasa begitu."
Faris melihat sepertinya baru saja Ratna menarik nafas berat. Faris merasa ada yang aneh pada Ratna.
"Jadi, bagaimana? Apa ada yang kulewatkan di sekolah kita dulu?" Faris mulai penasaran informasi apa yang Ratna punya hingga mengajaknya bertemu.
"Oh itu... aku melihatmu di tv dan rasa bersalahku benar-benar harus ku akhiri sampai di sini." Ucap Ratna sendu.
"Apa maksudmu?" Faris menjadi heran.
"Waktu itu aku sedang mencari tempat nyaman untuk belajar karena setelah istirahat ada ulangan fisika kan?" Ratna seperti mengajak Faris untuk mengingat sebuah kejadian.
"Jadi, waktu itu aku berada di dekat tandon air diatas atap. Kemudian aku mendengar dua orang berbincang. Awalnya aku tidak menghiraukannya tapi perbincangan itu lama-lama menjadi sebuah perdebatan. Perdebatan antara Desy dan Gilang."
"Desy? Dan Gilang?" Faris lebih terkejut lagi saat mendengar nama Gilang. Nama yang dikenal sebagai mantan pacar Desy.
"Ya, jadi waktu itu..." Ratna mulai bercerita
"Sudah ku katakan padamu kalau kita tidak akan kembali bersama, Lang."
"Tapi kau tidak bisa melakukan itu padaku, Des."
"Aku tidak bisa, Lang."
"Apa karena Faris?" Gilang berapi-api.
"Tidak." Jawab Desy singkat.
"Pasti karena dia." Gilang tampak marah sekarang.
"Ya, pasti dia. Pasti karena dia kau tidak bisa menerimaku kembali."
"Gilang, kita sudah berakhir. Aku sudah tidak bisa lagi denganmu."
"Mustahil. Kau tidak bisa melupakanku begitu saja."
"Kita tidak cocok, Lang. Bukankah kita sudah sepakat untuk putus waktu itu."
"Tapi lalu ku pikir-pikir lagi aku masih menyukaimu."
"Tidak Lang, aku tidak mau mengulangnya lagi. Kita terlalu memaksakan diri untuk cocok walau sebenarnya kita sangat berbeda."
"Aku akan berubah, Des. Aku mau menjadi seperti yang kau mau."
"Tidak... Tidak... Tidak..." Gilang tiba-tiba menjadi histeris setelah mendapati Desy tidak juga bisa menerimanya kembali.
__ADS_1
"Kita harus kembali bersama dan menjadi pasangan sempurna." Kini Gilang malah menarik krah baju Desy.
"Jangan lakukan ini, Lang. Kau menyakitiku."
"Kau yang memilihnya. Aku menawarkan diri untuk mencintaimu tapi kau menolaknya. Jadi jangan salahkan aku jika sekarang berbalik menyakitimu." Gilang menyeringai.
"Lepaskan, Gilang." Desy berusaha menarik tangan Gilang yang masih mencengkramnya karena kini ia merasa seperti tercekik.
"Tidak, kau harus menerimaku lagi baru bisa ku lepaskan."
"Gilang... apa kau sudah gila." Desy mulai terbatuk-batuk karena kerongkongannya terasa tercekik.
"Ya, kau yang membuatku gila."
"Gi... lang... le... pas... kan..." Nafas Desy mulai tersengal-sengal. Akhirnya Gilang melepaskan cengkramannya dengan kasar sehingga Desy terhempas dan terhuyun. Tapi sialnya Desy berada terlalu dekat dengan tepi gedung sehingga tubuhnya yang sedang tidak seimbang itu menyebabkan kaki belakangnya menabrak tepian gedung yang tak berpagar dan Desy terjun bebas dari sana.
Ratna yang melihat itu spontan berteriak sama paniknya dengan Gilang yang berusaha menggapai Desy. Tapi kejadian itu terlalu cepat sehingga tangan Gilang tidak bisa meraih Desy dan akhirnya Desi jatuh dari gedung lantai 3 itu.
Gilang yang panik dan takut menghampiri Ratna yang gemetaran melihat kecelakaan tragis di hadapannya.
"Kau... harus tutup mulut." Ancam Gilang.
"Kalau sampai penyebab Desy jatuh diketahui, kaulah orang pertama yang kuhancurkan. Setelah itu keluargamu akan ku buat hancur juga." Gilang merasa bisa melakukan itu karena memang anak seorang yang berkuasa di kota itu. Kaya dan berpengaruh. Sehingga kalau hanya untuk menghancurkan keluarga Ratna yang ayahnya hanya seorang PNS pasti sangatlah mudah baginya.
Karena mengingat hal itu, akhirnya yang bisa dilakukan Ratna hanyalah mengangguk ketakutan dan menangis tertahan.
"Ingat ucapanku. Jangan sampai ada yang tahu." Tambah Gilang dengan sorot mata tajam mematikannya. Lalu setelah itu secepatnya Gilang turun dari atap gedung dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tinggalah Ratna yang masih gemetaran mengikuti dibelakangnya dengan isak tangis.
Saat sampai dilantai dasar tampak berkerumun para siswa yang histeris, ada yang panik dan ada yang takut melihat Desy terkapar di tengah lapangan.
Ratna bahkan tidak berani ke sana. Ia memilih lari ke kamar mandi dan menangis sejadinya di sana tapi dengan suara yang ditahannya. Ia takut dan merasa bersalah. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kata-kata Gilang karena tidak ingin keluarganya ikut menjadi korban.
"Tapi bukankah ku dengar kabar dari teman-teman kalau kau akhirnya menikah dengan Gilang?" Tanya Faris heran.
"Itu hanya pernikahan di atas kertas. Selama ini kami tidak pernah menjadi suami istri." Jawab Ratna getir.
"Apakah kau tidak merasa aneh tahu aku yang dari keluarga biasa menikah dengan Gilang yang keluarganya sangat terpandang?" Faris diam. Sebenarnya saat tahu kabar itu Faris sempat berfikir begitu tapi kemudian ia menepis pikiran itu karena berfikir bahwa cinta kadang tidak mengenal kasta.
"Dia menikahiku karena agar lebih leluasa mengawasiku. Bagaimanapun juga dia tidak akan memberiku kesempatan bergerak apalagi membocorkan rahasia itu." Lanjut Ratna.
"Kita sama sekali bukan suami istri. Dia bahkan sudah menikah dengan wanita lain dibelakangku. Aku berulang kali ingin bercerai darinya tapi bagaimana nasib orang tua dan adik-adikku yang masih bersekolah. Aku mengkhawatirkan mereka jika hanya karena aku lalu masa depan mereka terancam." Ratna terburai air mata. Faris mendekatinya.
"Ratna..." Panggil Faris berusaha menenangkan.
"Maafkan aku, Ris. Selama ini aku tidak bisa membelamu. Aku tahu semua orang menyalahkanmu dan aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ratna tersedu sekarang.
"Tapi sekarang aku tidak tahan lagi. Sepanjang hidupku aku bahkan tidak bisa tidur dengan tenang. Aku merasa Desy selalu datang dengan wajah murung kepadaku. Aku merasa Desy ingin aku mengatakan kebenarannya kepada seseorang. Dan melihatmu seperti menjadi kambing hitam atas kepergian Desy aku semakin yakin harus mengungkapkan kebenaran ini. Sekarang aku bahkan sudah siap untuk mati sekalipun." Ratna mengusap air matanya.
"Aku mohon, ungkaplah ini kepada yang berwajib." Ratna memandang Faris lekat.
"Tapi Ratna..." Faris tidak percaya Ratna mengatakan itu. Seorang istri dari Gilang memohon untuk mengungkapkan kesalahan suaminya.
🌸🌸🌸
Faris melihat Sunday yang terlelap di kamarnya. Duduk di tepi tempat tidur Sunday dan menyaksikan wajah damai kekasihnya itu. Siang ini ia sengaja keluar dari kantor untuk menemui Sunday di rumahnya.
Tak berapa lama Sunday mengeliat dan perlahan membuka matanya. Ia terjingkat ketika mendapati Faris duduk di tepi tempat tidur memandangnya dengan lembut. Sunday mengerjap-ngerjapkan matanya memastikan ia tidak sedang salah lihat.
"Kau di sini?" Tanya Sunday dengan suara bangun tidurnya.
"Hmmm..."
"Sudah berapa lama kau di sini?" Tanya Sunday lagi sambil mengambil posisi duduk.
"Baru saja."
Sunday melihat jam di dinding kamarnya yang menunjuk pukul 2 siang.
"Hei bos, kau membolos ya?"
"Ya, karena bos juga manusia. Yang kadang ingin membolos dan bisa lelah jika bekerja terus menerus." Faris mengeluh tapi lalu terkekeh.
"Kau benar-benar bukan bos teladan." Cibir Sunday dan Faris hanya membalasnya dengan tawa kecil.
__ADS_1
"Bagaimana urusanmu semalam?" Tanya Sunday tiba-tiba. Faris mangulas senyum kecut.