
Faris duduk bersandar pada bantal sambil memainkan ponselnya.
"Kau ini masih belum pulih, kenapa tidak istirahat saja?" Ujar maminya yang sedari tadi melihat kesibukan Faris menatap layar ponsel.
"Sangat membosankan disini, Mi."
"Makanya cepatlah pulih agar kau segera bisa segera pulang." Gumam Maminya sambil mengupas buah apel untuknya.
"Aku sudah baikan." Jawab Faris sambil menyandarkan kepala pada bantal dan meletakkan ponsel digenggamanya.
"Benarkah? Tapi kenapa dokter belum ingin memulangkanmu?"
"Entahlah... mungkin dokter-dokter suka aku tetap ada di sini."
"Jangan membual." Maminya menyuapi apel ke mulut Faris agar berhenti berbicara dan menarsiskan diri. Faris mengunyah apelnya dengan pandangan menerawang jauh. Fikirannya terbang melewati tembok rumah sakit. Kejadian demi kejadian yang tidak pernah ia bayangkan telah benar-benar terjadi dalam hidupnya. Walaupun badai sudah berlalu tapi Faris masih memikirkan kejadian itu.
Berhari-hari Faris berfikir tentang hal itu sejak peristiwa penembakan dirinya satu minggu yang lalu. Apa dia memang orang seperti itu? Diam-diam ternyata banyak orang yang membencinya. Karena sikap dan perbuatannya, orang-orang mendendam padanya. Walaupun pada akhirnya itu hanya sebuah salah faham.
Roni yang mengira Faris adalah penyebab kematian Desy menjadi dendam kepadanya. Dan Gilang akhirnya juga harus menjalani proses hukum karena terbukti menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Faris. Ia ditangkap di bandara saat berusaha melarikan diri ke luar negeri setelah orang yang menembak Faris tertangkap. Pihak berwajib yang bekerja sama dengan detektif swasta yang ditunjuk papi Faris dengan cepat berhasil menemukan pelaku penembakan itu dan memberi kesaksian bahwa ia dibayar oleh seseorang, yaitu Gilang.
Menurut keterangan detektif yang disewa papi Faris, setelah pertemuannya dengan Ratna waktu itu, Ratna tidak pernah terlihat lagi dan di laporkan menghilang oleh keluarganya. Mengetahui hal itu Faris berharap Ratna baik-baik saja dan sedang bersembunyi di suatu tempat agar tidak disakiti oleh Gilang. Kasian sekali wanita itu harus menjadi saksi kejahatan Gilang dan menjalani hidup bagai tawanan.
"Kau tahu, aku tidak lagi menjalani hidupku dengan normal sejak itu." Kata Ratna sendu waktu Faris bertemu dengannya waktu itu.
"Teror yang dilakukan Gilang benar-benar membuatku hampir putus asa. Sehingga akhirnya aku setuju menikah dengannya karena dia berjanji tidak akan menyakitiku jika aku selalu dekat dalam jangkauannya." Faris masih menyimak kalimat Ratna.
"Dan benar, selama aku ada disekitarnya dia tidak menyakitiku dan membiarkanku menjalani hari-hariku seperti biasa walaupun tidak pernah lepas dari pengawasannya. Tapi aku merasa sangat bersalah ketika kau mendapat tuduhan untuk sesuatu yang tidak kau lakukan. Semua orang bahkan menyalahkanmu atas kematian Desy. Aku merasa itu tidak adil untukmu sehingga kau harus tahu apa yang terjadi sebenarnya." Begitulah Ratna menjelaskan kenapa dirinya harus mengatakan rahasia itu pada Faris.
Faris menghela nafas panjang. Ia berharap setelah ini Ratna akan muncul menjadi saksi mata atas perbuatan Gilang kepada Desy.
"Sunday tadi menghubungiku menanyakan keadaanmu." Ujar mami Faris kemudian.
"Kalian tidak sedang bertengkar kan?" Selidiknya.
"Tidak." Faris menjawab singkat dan mami Faris hanya menganggukkan kepala.
Benar, kalau difikir-fikir Sunday memang agak aneh akhir-akhir ini. Dia sepertinya sangat sibuk di Font. Apa memang sebanyak itu pekerjaannya. Tapi bisa saja itu terjadi karena sebelum Faris tertembak, ia juga mengalami penculikan dan harus dirawat di rumah sakit. Lalu, belum kembali bekerja, ia harus menunggui Faris di rumah sakit. Beberapa hari ini ia baru mulai bekerja kembali dengan alasan ia tidak mau pegawai lain menganggap dirinya memanfaatkan hubungannya dengan bos untuk terus membolos sesuka hati.
"Ayolah, jangan bekerja besok." Rayu Faris pada Sunday yang duduk di tepi tempat tidur Faris saat ia mengatakan mulai besok ia hanya akan datang ke rumah sakit sepulang bekerja.
"Hei, aku harus kembali bekerja, Bos. Pekerjaanku pasti sudah menggunung sekarang."
"Akan ku perintahkan orang lain agar mengerjakan pekerjaanmu."
"Tidak bisa begitu. Bagaimana mungkin aku membebankan pekerjaan pada pegawai lain. Itu membuatku terlihat tidak kompeten sebagai pegawai Font."
"Tapi kau memiliki tugas yang lebih penting dari hanya sekadar menganalisa project-project. Merawat bosmu yang terluka ini." Faris mulai menyandarkan kepalanya kepada Sunday dengan manja.
"Apa ini, kau bukan anak kecil jadi jangan bersikap sok imut seperti ini. Ini benar-benar tidak cocok untukmu." Sunday tersenyum melihat tingkah Faris sambil menepis kepalanya tapi Faris bersikeras meletakkan kepala di pundak Sunday.
__ADS_1
"Tidak, aku akan terus seperti ini sampai kau mau menemaniku terus di sini." Sekarang Faris meraih tangan Sunday dan memainkan jari-jarinya.
"Kau ini kenapa? Sudahlah, berhenti bersikap manja. Itu menyebalkan."
"Biarkan saja." Jawab Faris cuek. Sunday tertawa kecil. Faris memang seperti itu terhadapnya. Sunday bahkan tertawa saat Faris mengatakan bahwa dia telah kecanduan terhadapnya. Sunday berfikir memangnya dia narkoba hingga bisa membuat kecanduan?
"Atau sebaiknya aku memecatmu saja agar bisa terus menemaniku di sini."
"Kau sudah gila ya. Seenaknya saja memecat. Kau mau ku laporkan kepada dinas ketenagakerjaan karena menjadi bos yang semena-mena?" Sunday memelototi Faris yang terkekeh melihat itu.
"Itu tidak akan menjadi semena-mena kalau aku melakukannya dengan alasan yang tepat."
"Memangnya alasan apa yang akan kau gunakan sehingga bisa memecatku dengan tepat?" Sunday memandang heran Faris.
"Karena di dalam perusahaan tidak boleh ada dua atau lebih pegawai yang terdaftar dalam satu kartu keluarga."
"Apa maksudmu?" Suday mengerutkan kening.
"Kita akan berada dalam satu kartu keluarga saat menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah." Faris tersenyum jenaka mengatakan itu. Sunday terkesiap setelah faham apa yang dimaksudkan Faris. Wajahnya jadi merona.
"Ehm... ehm... oh itu." Sunday berdehem untuk menutupi kegugupannya.
"Ngomong-ngomong perawat di sini baik dan cantik, aku rasa mereka bisa menanimu sementara waktu. Jadi biarkan aku mulai bekerja dengan tenang." Sunday mengalihkan pembicaraan Faris.
"Memang, mereka juga tampaknya menyukaiku." Jawab Faris dengan senyum lebarnya.
"Memang itu kenyataannya."
"Iya iya... terserah kau saja." Sunday cuek tapi memperhatikan jemarinya yang masih diutak atik oleh Faris.
"Tapi, benarkah aku boleh ditemani oleh mereka? Yang bernama Mita itu manis sekali. Apa aku boleh memintanya menjagaku selama kau tidak ada? Aku yakin dia pasti mau menemaniku. Dilihat dari caranya melihatku, sepertinya dia menyukaiku." Faris tersenyum licik kepada Sunday.
"Oh iya, lagipula memangnya ada wanita yang tidak menyukaiku? Bukankah aku ini magnet bagi mereka dan membuat mereka mudah sekali tertarik jadinya."
"Sudahlah, hentikan kenarsisanmu. Itu membuatku mual." Melihat respon kesal Sunday, Faris akhirnya tertawa.
"Tapi tadi kau bilang agar aku ditemani perawat saja saat kau bekerja. Kau serius kan mengatakan itu?"
"Tidak jadi. Melihat sifat playboymu yang masih akut seperti itu aku melarangmu ditemani siapapun."
"Jadi kalau begitu kau akan menemaniku terus kan?"
"Tidak juga."
"Lalu siapa yang akan menemaniku di rumah sakit yang membosankan ini?"
"Tidak ada, nikmati saja kebosananmu." Sunday menahan tawa melihat wajah memelas Faris.
"Kau tega aku mati bosan di sini?"
__ADS_1
"Salah sendiri kau mata keranjang. Kau harusnya dikarantina saja agar tidak terus menjadi playboy."
"Ahh, apa harus sampai begitu?" Faris memandang wajah Sunday yang masih menahan tawa.
"Atau, sebenarnya kau cemburu jika aku ditemani suster-suster cantik itu?"
"Tidak, biasa saja." Sunday memasang wajah tegas.
"Oh ya? Ku rasa kau memang akan cemburu kalau aku bersama suster-suster itu."
"Tidak, aku hanya khawatir penyakit playboymu akan menjadi lebih akut jika itu benar-benar terjadi."
"Benarkah? Tapi ku rasa matamu mengatakan hal lain."
"Apa memangnya?" Sunday memelototi Faris lagi.
"Ahh... benar, kau cemburu." Goda Faris semakin menjadi-jadi.
"Tidak. Sudah ku bilang tidak ya tidak."
"Iya, aku melihatnya."
"Tidak. Kau ini memang..."
"Awww..." Faris menjerit saat Sunday mencubit pinggangnya.
"Lukaku..." Mendengar itu Sunday terkaget
"Oh maaf... apa itu mengenai lukamu?"
"Iya, ku rasa syaraf yang ada di lukaku ikut sakit." Faris meringis kesakitan.
"Ya Tuhan, maafkan aku. Aku tidak tahu." Sunday tampak panik dan memeriksa luka Faris.
"Apakah sakit sekali?" Faris mengangguk.
"Akan ku panggilkan dokter." Sunday mulai beranjak dari duduknya. Tapi tangan Faris berhasil menahannya pergi.
"Tidak usah."
"Kau yakin?"
"Ya." Jawab Faris singkat.
"Aku tidak butuh dokter dan obat. Aku hanya butuh kau disini. Asalkan kau disini, semua yang menyakitkan akan seketika menghilang." Faris menatap Sunday dengan pandangan lembut. Detak jantung Sunday perlahan dipercepat. Terlebih saat Faris mendekatkan wajahnya ke wajah Sunday. Semakin dekat dan semakin dekat tiap detiknya.
"Aku menagih janjimu jika aku berhasil selamat. Jadi, menikahlah denganku." Bisik Faris di telinga Sunday. Sunday menarik dirinya dan memandang Faris.
Tidak ada wajah nakal yang suka menggodanya. Tidak ada senyum seringai yang membuatnya sebal. Yang ada hanya tatapan lembut penuh kesungguhan. Sunday belum bisa menghetikan debaran kuat di dadanya dan sekarang ditambah dengan pandangan lembut Faris kepadanya yang membuatnya seperti meleleh seketika.
__ADS_1