
Gina duduk di sebuah kafe dengan menghadapi segelas jus didepannya. Jari-jarinya tampak sibuk menyentuh layar smartphone membuka sebuah akun Instagram. Milik Faris. Beberapa foto menarik perhatiannya. Sebuah keripik kentang diatas meja di sebuah ruangan terposting dengan caption, "merindukanmu." Gina tahu Sunday menyukai keripik kentang dan yang dimaksud Faris pastilah dia. Melihat foto berikutnya sebuah jejak kaki di tepi pantai dengan caption "sejauh apapun aku berlayar, kau adalah tempatku pulang". Banyak postingan Faris yang berisi kode-kode dan menurut Gina tertuju pada Sunday.
"Sudah lama menungguku?" Victor menyapa Gina yang tampak seru menekuni poselnya. Mendengar suara seseorang, Gina menutup ponselnya dan tersenyum pada Victor.
"Akulah yang datang terlalu cepat."
"Wah, kau pasti siswa teladan di sekolah. Kau sangat bersemangat saat belajar."
"Tidak juga, tapi aku punya rasa ingin tahu yang tinggi. Jadi jika itu menarik perhatianku maka aku akan mencoba mencari tahu. Dan pemrograman sudah mulai membuatku penasaran sejauh ini."
"Bagus, itu akan membuatmu fokus dan serius mempelajarinya. Tetaplah bersemangat seperti ini." Victor tidak melepas senyumnya sama sekali. Senang mendapati seseorang yang memiliki minat belajar tinggi seperti Gina.
"Baiklah, pak Tutor."
"Aku mohon hilangkan kata Pak didepannya. Aku selalu merasa tua setiap mendengarnya." Victor terkekeh.
"Baiklah master." Kali ini Victor malah tertawa. Gina ikut tertawa juga.
"Baiklah, mari kita mulai saja kelas terbuka kita kali ini. Aku rasa kau sudah bisa memulai membuat project sederhana sekarang."
"Oh ya?" Wajah Gina tampak senang.
"Project apa yang harus ku buat?" Ia menjadi sangat antusias.
"Kita bisa membuat project program hitung dengan operasi tambah, kurang, kali, bagi."
"Baiklah." Gina membuka laptopnya lalu mengklik bahasa pemrograman yang akan ia pakai dan sudah terinstal di laptopnya.
🌸🌸🌸
"Kemarilah." Panggil Faris di dapur yang sepertinya sedang menggoreng sesuatu. Sunday yang memasuki ruang tengah itu langsung mendekati Faris.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku sedang menggoreng otak-otak bandeng. Dan ini adonan bakwan yang juga mau ku goreng."
"Kau melakukan semua ini sendiri?" Sunday berdiri di tepi meja dapur Faris yang minimalis itu.
"Aku membeli otak-otak ini di toko oleh-oleh dan adonan bakwan ini aku lihat resepnya di google."
"Wah, kenapa tiba-tiba kau memasak? Setan apa yang sedang merasukimu?"
"Kalau yang ku lakukan adalah hal baik ku rasa bukan setan yang sedang merasukiku tapi ini adalah hidayah dari Tuhan." Faris tersenyum lebar saat mengatakannya sambil membalik otak-otak diatas penggorengan yang minyaknya melompat kesembarang arah. Sunday ikut berjingkat menghindari letupan minyak goreng.
"Daripada kau hanya berdiri sambil memandang keseksianku menggoreng, lebih baik bantulah aku mengaduk kembali adonannya. Ku rasa bagian bawahnya belum sempurna merata." Protes Faris yang melirik Sunday hanya mematung di tempatnya.
"Seksi? Apanya yang seksi?" Gerutu Sunday sambil mulai mengaduk adonan bakwan dengan sendok kayu.
"Kemarilah." Faris merangkul leher Sunday untuk mendekat padanya. Sunday tersentak.
"Apa yang kau lakukan?" Sunday meronta tapi Faris menekannya sehingga tidak bisa terlepas begitu saja.
"Kenapa kau kemana-mana dengan rambut basah?" Satu tangan Faris masih memegang spatula.
"Karena memang aku baru saja keramas."
"Jangan sembarangan keluar dengan rambut basah."
"Kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Nanti harum rambutmu jadi tercium orang lain. Cukup aku saja yang bisa mencium harumnya." Faris menghirup aroma wangi rambut Sunday kuat-kuat.
"Lepaskan. Kau membuat rambutku bau otak-otak." Sunday melepas pelukan Faris di lehernya. Jantungnya berdebar berisik. Faris tersenyum melihat wajah merah Sunday.
"Kau membawa sambalmu kan?" Tanya Faris.
"Itu." Tunjuk Sunday dengan dagunya. Faris berjalan menuju paperbag berisi aneka sambal itu. Melihat ke dalamnya lalu mengeluarkan isinya.
"Kenapa disini tertulis ekstra pedas semua?"
"Karena aku suka pedas jadi Friday membawakannya yang itu. Sebenarnya ada beberapa level sambal yang dibuat. Tapi aku suka level yang pedasnya maksimal."
"Kau ini tidak takut diare lagi?"
"Kalau hanya pedasnya sambal itu, aku tidak akan diare saat makan sesuai porsi." Jawab Sunday santai sambil mengangkat otak-otak bandeng dari dalam penggorengan. Faris masih membaca tulisan-tulisan kecil di kemasan sambal itu. Sunday mulai memasukkan sendokan bakwan ke dalam minyak panas sedikit demi sedikit.
Semua sudah selesai di masak. Sunday menghidangkannya di atas meja makan. Faris duduk di salah satu kursi. Kemudian menyendokkan nasi ke dalam piring Faris, meletakkan sambal dan otak-otak serta lalapan ke dalam piringnya. Menuangkan air minum dan meletakkan di sebelah piring Faris juga. Faris menangkap setiap gerakan Sunday.
"Kau sudah mulai cekatan melayaniku di meja makan. Kenapa kita tidak menikah saja?" Faris mengerling.
"Kenapa kau tidak menikahi pelayan restoran jepang yang tempo hari kita datang ke sana? Dia malah lebih mahir lagi soal urusan meja makan." Faris seketika tertawa.
"Kau ini selalu punya cara untuk merayuku. Jadi tidak salah kalau aku menjulukimu Don Juan."
"Aku ini tidak menjadi Don Juan di depan sembarang wanita."
"Oh ya? Memangnya berapa wanita yang sudah mendapat perlakuan Don Juanmu?"
"Hanya kau." Faris menyendokkan nasinya lagi.
"Aku tidak mudah percaya dalam hal ini. Melihat sepak terjangmu yang sering berganti wanita pasti kau mudah sekali melakukannya."
"Tidak. Hanya denganmu aku seperti ini. Hanya denganmu juga aku sering sekali mengajukan lamaran yang akhirnya kau tolak mentah-mentah." Sunday menahan tawa mendengar kalimat Faris.
"Enak, tapi ya memang pedas sekali. Aku rasa lambungku hampir terbakar."
"Kau ini hiperbola sekali."
"Pantas saja Pak Bagio sering sekali membawa sambal saat di kapal. Ku kira dia pecinta sambal, ternyata memang punya usaha pembuatan sambal."
"Sebenarnya Papa memang suka makanan pedas."
"Sama sepertimu." Jawab Faris asal. Sunday diam. Dia juga diam tidak menyuapkan makanan lagi. Faris seperti sudah mengubah suasana hati Sunday. Lalu ia menyomot bakwan di atas meja.
"Wah, sepertinya aku bisa mengikuti kompetisi master chef di musim berikutnya." Faris berusaha memecah kebisuan.
"Bakwan yang ku buat enak sekali."
"Benarkah?" Sunday mulai bereaksi dan mengambil bakwan lalu mencicipinya.
"Iya, lumayan. Tapi kenapa kau jadi suka memasak?"
"Karena waktu itu kau bilang sangat menyukai chef Arnold, jadi aku akan bersaing dengannya."
"Apa? Kau menganggap serius omonganku?" Faris mengerjapkan matanya. Sunday tertawa.
"Jadi aku juga belajar memasak agar saat kita menikah nanti aku bisa menggantikanmu memasak saat kau ngidam dan jadi alergi pada bau-bau masakan."
"Kau tahu hal seperti itu?" Sunday menyelidik.
__ADS_1
"Ya tentu saja. Aku ini pria dewasa usia menikah jadi aku mulai mencari informasi tentang segala hal yang ada di dalam pernikahan. Termasuk harus menjadi suami siaga."
"Kau tahu dari mana?"
"Dari Rima."
"Ahh, aku jadi takut kepadamu."
"Kenapa?" Faris mencolekkan bakwan ke sambal diatas piring.
"Pantas saja kau selalu ingin menikahiku."
"Terimalah risiko berpacaran dengan pria dewasa."
"Apa kita putus saja. Aku jadi takut memiliki pacar beda usia."
"Tidak boleh. Kita sudah terlanjur berpacaran jadi tidak boleh seenaknya putus kalau tanpa persetujuanku."
"Kau ini benar-benar..." Sunday menggelengkan kepalanya lalu berdiri mengemasi piring-piring bekas makan mereka dan membawanya kembali ke dapur. Faris mengikuti di belakangnya.
Sunday terkesiap saat tiba-tiba Faris berada tepat dibelakangnya, menjulurkan kedua tangannya di bawah kran air untuk mencuci tangan membuat Sunday terpaksa menghentikan mencuci piringnya. Faris mengambil sabun, menggosok tangannya sesuai standar WHO lalu membilasnya kembali. Sunday masih tertegun dibawah kungkungan lengan Faris yang seperti tidak terjadi apa-apa dan terlihat biasa saja melakukan hal itu. Setelah selesai Faris beranjak dari situ dan berjalan keluar dapur.
Melirik Faris yang sudah menjauh darinya, Sunday menghela nafas lega.
"Dia benar-benar sang flamboyan. Bagaimana mungkin dia bisa santai saja membuat orang lain hampir terkena serangan jantung seperti ini. Oh jantungku, maafkan aku sering membuatmu bekerja keras akhir-akhir ini." Gumam Sunday dengan debaran yang masih mencoba diredakannya.
Faris menuju teras karena ia juga harus meredakan apa yang dirasakannya.
"Bagaimana bisa dia itu seperti magnet. Selalu menarikku untuk dekat-dekat terus dengannya. Kalau saja dia adalah squisy pasti sudah habis kugemas-gemasi." Faris memegangi dadanya yang juga berdebar tidak karuan saat berdekatan dengan Sunday seperti itu.
"Dia itu manis sekali. Sangat menggemaskan."
🌸🌸🌸
Victor mengendarai mobilnya segera setelah pertemuan dengan Gina berakhir. Hatinya seperti kacau. Apa yang dikatakan Gina membuat suasana hatinya menjadi buruk. Bagaimana pun juga Sunday adalah orang yang selama ini masih selalu ada di hatinya.
"Setelah ini kau ada acara?" Ujar Gina sambil memasukkan laptop ke dalam tasnya.
"Sepertinya tidak." Victor meminum moccachinonya lagi.
"Kemarin ku pikir kau berpacaran dengan Sunday."
"Tidak. Kami hanya berteman."
"Ya, akhirnya aku tahu itu saat Faris mengatakan dia sudah berpacaran dengan Sunday sekarang."
"Benarkah?" Victor terperanjat.
"Kau belum tahu? Ku pikir kau sangat dekat untuk mengetahui itu."
"Tidak, mungkin dia terlalu sibuk untuk menceritakannya padaku."
"Atau memang dia sengaja merahasiakannya darimu?" Ucap Gina hati-hati.
Masih terngiang kalimat Gina di telinga Victor. Akhirnya Sunday sudah berpacaran dengan Faris. Itulah yang selama ini ditakutkan Victor. Sejak tahu Faris adalah atasan Sunday di Font, Victor selalu membayangkan mereka akan kembali dekat seperti dulu. Dan ternyata benar, Gina menceritakan semua itu.
Hanya saja yang membuatnya bingung, kenapa Sunday seperti merahasiakan itu darinya? Kenapa diam-diam Sunday sudah bersama Faris. Victor benar-benar merasa tidak berarti bagi Sunday. Dia pikir dengan perlahan Sunday akan bisa menerimanya suatu saat nanti, tapi ternyata memang apa yang dulu dilihatnya adalah benar. Saat Sunday mengatakan kepada Faris bahwa dia berpacaran dengannya, Victor mulai menyadari bahwa yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Sunday menyukai Faris, bukan dirinya.
Dan setelah beberapa waktu yang lama Sunday tidak berhubungan dengan Faris, Victor berharap usahanya mendekati Sunday akan membuahkan hasil. Tapi sekarang harapannya memang hanya tinggal harapan saja. Hati Victor patah.
__ADS_1
Victor masih mengendarai mobilnya tanpa tahu arah. Ia ingin memastikan kepada Sunday tentang apa yang didengarnya tapi kemudian ia urungkan niatnya karena ia tidak mau terlihat terlalu ingin tahu urusan Sunday. Akhirnya ia harus menahan perasaan kecewanya sendirian karena ini pun bukan salah Sunday. Sunday sering menolaknya tapi Victor berfikir Sunday akan luluh suatu saat nanti. Tapi nyatanya keyakinan itu kini menguap seiring fakta yang ditemukannya. Hanya saja apa yang dikatakan Gina berikutnya juga menbuatnya terusik.
"Kau tidak ingin mengambil Sunday kembali? Kau akan membiarkan Sunday bersama Faris? Bukankah menyakitkan merelakan orang yang kita cintai harus bersama orang lain?" Ujar Gina yang sepertinya tahu bahwa ia menyukai Sunday dan sampai saat ini kalimat itu terus berputar di kepalanya.