
Sunday memasuki ruangannya ketika Lita baru keluar dari ruangan pak Dedi.
"Hai, Bu Bos." Sapa Lita menggodanya.
"Bu Bos apanya. Berhentilah memanggilku seperti itu." Sunday tersenyum kecut.
"Kau ini sudah menjalin hubungan backstreet dengan Bos masih saja sok kalem." Lita menowel pipi Sunday. Sunday mengelus pipinya pura-pura kesal.
"Sepertinya kami harus berterima kasih kepada Roni." Lita tertawa kecil seperti itu.
"Hei, apa maksudmu? Jadi, saat aku hampir menjadi barbeque kau bahkan tidak kasihan padaku? Kau benar-benar jahat, Ta."
"Bukan begitu, hanya saja berkat dia, kami jadi tahu hubungan kalian. Itu maksudku."
"Oh itu." Sunday mulai menyalakan laptopnya.
"Bagaimana keadaan Pak Faris sekarang?"
"Sudah jauh lebih baik."
"Aku lega saat mendengar berita tentang siapa penyebab kematian adik Roni yang sebenarnya." Lita menarik kursi untuk duduk di samping Sunday.
"Jujur, aku juga sempat meragukan Pak Faris dan hampir percaya dengan pernyataan Roni bahwa Pak Faris yang membuat adiknya bunuh diri. Saat itu aku merasa seperti patah hati untuk yang kedua kali terhadapnya."
"Patah hati kedua kali?" Sunday menautkan kedua alisnya.
"Ya, patah hati pertama kaliku adalah saat tahu ternyata pak Faris sudah memiliki pacar yang adalah kau. Impianku untuk menjadi pacarnya jadi pupus sudah."
"Kenapa tidak cerita kalau selama ini kau menaksirnya?" Goda Sunday yang tahu Lita hanya membual.
"Bagaimana bisa aku menceritakan sebuah impian muluk-mulukku kepada orang lain."
"Oh jadi begitu."
"Ya, ku pikir selera Pak Faris tidak akan jauh-jauh dari yang setipe Gina. Yang cantik, kaya, pandai dan juga modis sepertinya. Tapi ternyata..." Lita memandang Sunday dari ujung kepala hingga ujung kaki beberapa kali.
"Hei, apa maksudmu? Jadi menurutmu aku tidak pantas menjadi pacarnya?"
"Bukan begitu, hanya saja ternyata selera Pak Faris hanya begini saja."
"Apa? Begini saja kau bilang? Aku biasa saja?" Sunday berdiri dari duduknya.
"Tenang dulu, tenang." Lita menarik tangan Sunday untuk kembali duduk. Sunday menurut.
"Aku belum selesai bicara." Lita menahan tawa melihat ekspresi marah Sunday.
"Kau memang terlihat biasa saja tapi setelah ku pikir-pikir dia pantas mendapatkanmu. Kau sangat berprinsip. Aku yakin itu yang membuatnya menyukaimu. Kau juga tidak agresif seperti gadis-gadis lain jika didekatnya. Itu mungkin yang membuatmu berbeda baginya. Jadi, akhirnya hatiku bisa menerima kebersamaan kalian."
"Hahh, apa-apaan? Bisa menerima. Memangnya kau ini siapa?" Cibir Sunday lucu mendengar ungkapan Lita.
"Ya, sebagai bawahan dari seorang pria tampan pastinya aku berhak menilai pacar bosku. Apakah ia pantas dan layak atau tidak."
"Omong kosong apa ini? Sepertinya kau habis salah minum obat ya?" Sunday tertawa melihat tingkah Lita yang semakin melantur. Lita hanya menanggapi Sunday dengan cengengesan.
"Oh iya, lalu patah hati keduamu itu kenapa?" Tanya Sunday teringat omongan Lita tadi.
"Itu... ya, saat tahu dia menyebabkan kematian adik Roni. Aku pikir dia jahat sekali hingga membuat adik Roni patah hati hingga melakukan bunuh diri. Apa yang sudah dilakukannya coba sampai membuat orang lain mengakhiri hidupnya. Bukankah itu pastilah sesuatu yang sangat kejam. Ahh, mengingat hal itu aku jadi merinding sendiri. Ternyata menjadi orang tampan tidak selamanya menyenangkan. Terbukti Pak Faris harus menerima fitnah itu karena salah satu penyebabnya ia terlalu tampan dan disukai banyak wanita."
"Ahh, omonganmu semakin meracau tidak jelas." Potong Sunday sebelum Lita semakin memperlebar penjelasannya kemana-mana.
"Pergilah ke mejamu sendiri dan kerjakan pekerjaanmu. Kau tidak lihat Boby sudah memelototimu dari tadi karena menunggu projectmu." Sunday menunjuk Boby dengan dagunya. Tepat saat itu memang Boby sedang melihat ke arah mereka yang dari tadi mengobrol setengah berbisik. Lita ikut melihat ke arah Boby.
"Baiklah... pokoknya seperti itulah..."
"Iya iya... aku percaya. Sudah pergilah ke tempatmu." Sunday mendorong tubuh Lita yang mulai menarik kursinya untuk dibawa kembali ke mejanya.
Tepat saat itu ponsel Sunday berbunyi. Tertulis nama Faris. Sunday mengerutkan kening.
Ada apa Faris menghubungiku? Batin Sunday. Tapi akhirnya Sunday mengangkatnya juga.
"Iya ada apa?" Suara Sunday dibuat ketus.
"Dengan Sunday?" Sunday terkejut karena disana yang ia dengar adalah suara wanita. Tapi selanjutnya Sunday tampak menyimak telepon di seberang dan terbelalak seperti terkejut. Sejurus kemudian Sunday menyahut tasnya dan langsung meninggalkan meja lalu keluar dari ruang kerjanya. Lita yang melihat itu sempat menanyainya tapi Sunday tampak terlalu tergesa untuk menjawab Lita yang akhirnya hanya bisa bengong melihatnya seperti itu.
"Dia kenapa?" Tanya Boby kepada Lita.
__ADS_1
"Entahlah." Lita mengangkat pundak.
"Pacar Bos sih bebas." Kata Lita kemudian dan melanjutkan pekerjaannya.
Sunday menghentikan taksi dan langsung masuk ke dalamnya begitu taksi berhenti. Sopir segera melarikannya ke rumah sakit seperti instruksi Sunday.
"Pak Faris jatuh di kamar mandi, tidak sadarkan diri karena mengalami pendarahan hebat. Sekarang kondisinya kembali kritis. Saya harap Anda segera ke sini karena ini nomer terakhir yang ada di panggilan keluarnya." Jelas wanita yang mengaku sebagai perawat yang menemukan Faris pingsan di kamar mandi itu.
Air mata Sunday sudah tidak dapat ia kendalikan lagi. Saat taksi berhenti, Sunday memberikan sejumlah tarif dan meloncat keluar. Ia berlari memasuki lobi rumah sakit lalu memasuki lift menuju ke kamar Faris.
Pintu lift terbuka dan Sunday berlari sekuat tenaga menuju kamar Faris. Sunday membuka pintu dan menemukan Faris tergeletak lemah dengan berbagai peralatan medis di tubuhnya. Perlahan Sunday mendekati Faris.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Sunday kepada perawat di ruangan itu.
"Saya datang untuk mengantarkan resep obat tapi tidak menemukan Pak Faris. Jadi saya ketuk kamar mandi tapi tidak ada sahutan selama berkali-kali. Lalu saya coba beranikan diri membuka pintu, ternyata Pak Faris pingsan di sana. Lukanya kembali terbuka dan mengalami pendarahan. Saya tidak tahu sudah berapa lama ia di dalam sana." Jelas perawat itu. Sunday semakin terisak.
"Lalu bagaimana kata dokter?" Tanya Sunday memastikan keadaan Faris.
"Dia kembali mengalami koma. Benturan pada kepalanya di lantai kamar mandi membuat pak Faris mengalami gegar otak. Itu menyebabkan saraf motoriknya mengalami cedera dan akan butuh waktu lama untuknya bisa kembali seperti sedia kala kalaupun ia berhasil sadar kembali."
"Apa maksudnya, Suster?"
"Ya, kemungkinan pak Faris sadar kembali sangatlah kecil. Kemungkinan terburuknya ia tidak bisa bertahan." Suster itu lalu menundukkan kepala ikut bersimpati. Sunday mendekati Faris dan air matanya semakin menderas. Ada rasa sesal karena ia tidak berada di sisi Faris sehingga ia mengalami semua ini. Kalau saja dia menemani pasti itu tidak akan terjadi pada Faris.
"Kasian sekali dia. Masih muda, tampan dan mapan tapi harus berakhir seperti ini. Bagaimana bisa pria seperti dia mati begitu saja sebelum menikahi gadis yang dia cintai." Gumam suster itu sambil membenahi infus yang terpasang di tubuh Faris lalu menghela nafas berat. Sepertinya dia benar-benar serius bersimpati kepada Faris.
"Jika dalam 24 jam pak Faris tidak segera sadar maka kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi." Tambah suster itu.
Hati Sunday semakin menciut. Air matanya sampai menderas.
"Ris, bangun..." Sunday menggenggam tangan Faris.
"Kau bilang kita harus menikah saat kau sembuh. Kenapa sekarang seperti ini?" Sunday tersedu.
"Bagaimana bisa kau melewatkan rencana kita begitu saja." Sunday menghapus air matanya.
"Bangun, Ris..."
Tiba-tiba Sunday menyesali beberapa hal. Ia jarang sekali bersikap manis kepada Faris yang selalu memperlakukannya dengan baik. Ia selalu menuduhnya sebagai playboy meskipun ia tahu bukan itu maksud Faris. Ia bahkan selalu menghindar saat Faris membicarakan pernikahan dengannya. Tapi jika kemungkinan terburuknya sekarang adalah Faris harus pergi sebelum menikahinya, itu akan menjadi tragedi besar dalam hidupnya. Orang yang ia sayangi, ia cintai dan ingin ia nikahi akhirnya meninggalkan dunia ini. Bukankah itu akan menjadi kisah paling menyedihkan dalam hidupnya dan Sunday sangat menyesali hal itu.
"Ris, aku mau menikah denganmu. Bangunlah." Ratap Sunday lalu menelungkupkan wajahnya di atas tempat tidur Faris.
"Baiklah, mari kita menikah." Suara itu membuat Sunday buru-buru mengangkat wajahnya.
"Faris..." Sunday segera menghambur untuk memeluknya dengan air mata masih berderai-derai. Faris yang tidak siap dengan tindakan Sunday jadi gelagapan. Tapi kemudian ia memeluk tubuh Sunday yang ada di atas dadanya. Senyum Faris mengembang.
"Sebentar..." Sunday bangun dari pelukannya dan menatap Faris tajam.
"Kau... tidak benar-benar mengalami itu semua kan?" Sunday memicingkan mata memanfang Faris. Faris terkekeh.
"Dan suster..." Ia menoleh ke arah suster di belakangnya. Suster itu menahan tawa sambil menunjuk Faris dengan wajahnya.
"Jadi, ini hanya sandiwara kalian berdua?"
"Sudah, jangan di fikirkan. Yang jelas kita akan segera menikah." Bujuk Faris sambil menarik tangan Sunday untuk duduk di tepi tempat tidurnya.
"Tidak. Aku tidak mau menikah dengan seorang penipu sepertimu." Sunday memukul bahu Faris lalu pergi meninggalkannya di ruangan itu. Faris mencabut jarum infus di tangannya dan mengejar Sunday. Perawat itu sempat melarang tapi Faris tak menghiraukan.
Sunday menghapus air matanya menyusuri lorong rumah sakit. Malu sekaligus marah setelah ia tahu semua itu hanya sandiwara yang dibuat Faris.
"Kau mau kemana?" Faris mencegahnya pergi.
"Lepaskan aku." Sunday menghentakkan tangannya agar Faris melepaskan genggaman tangannya.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu." Sekarang ia malah memeluk Sunday. Sunday berusaha melepaskan diri. Tapi usahanya sia-sia saja. Faris terlalu kuat memeluknya. Beberapa orang yang melintas tampak melihat mereka.
"Lepaskan aku. Semua orang melihat kita." Sunday membenamkan wajahnya di dada Faris karena ia terlalu malu mendapat perhatian banyak orang.
"Biarkan saja kalau mereka mau. Kalau tidak mau melihat biar mereka merem saja." Jawab Faris cuek dan masih memeluk Sunday.
"Hei, kau melepas infusmu?" Sunday sadar Faris berlari sejauh ini mengejarnya.
"Ya, berlari sambil membawa infus pasti sangat merepotkan."
"Ayo kembali ke kamarmu."
__ADS_1
"Tidak mau. Kau harus berjanji tidak akan membuat alasan lagi dan membuatku menunggu terlalu lama."
"Ahh, kau memang obsesif sekali." Sunday mendongak mandang Faris yang jauh lebih tinggi darinya.
"Terserah kau. Yang jelas aku tidak mau kembali ke kamar kalau kau menghindar terus."
"Kau mengancamku?"
"Tidak."
"Lalu ini apa?"
"Apa?" Faris pura-pura cuek.
"Baiklah, risiko kau sendiri yang tanggung."
"Tidak apa-apa. Bahkan aku mati karena tetanus pun tidak masalah." Sunday memelototinya.
"Bagaimana bisa, hanya terlepas dari infus saja menyebabkan tetanus."
"Tentu saja karena infus itu juga mengandung anti tetanus."
"Benarkah?"
"Iya." Faris berlagak yakin saat mengatakan itu. Padahal itu hanya infus biasa.
"Baiklah, aku mau."
"Mau apa?"
"Mau itu."
"Itu?" Faris pura-pura tidak faham.
"Ituuuuu..." Sunday mulai kesal kepada Faris yang pura-pura bodoh begitu.
"Apa maksudmu."
"Hiiiiiiihh... menikah denganmu." Ucap Sunday akhirnya dengan gemas. Mendengar itu Faris tertawa senang.
"Baiklah... kalau begitu ayo kita kembali ke kamar sambil membicarakan rencana kita lebih lanjut." Faris dan Sunday kini berjalan menuju kamar inap Faris sambil ia memeluk pundah Sunday. Sunday memanyunkan bibirnya karena merasa telah diperdaya oleh Faris.
Tapi sebenarnya Sunday merasa tidak keberatan dengan tipu muslihat itu. Ia menyadari satu hal. Bahwa ia juga takut kehilangan Faris apapun yang terjadi. Ia bisa membayangkan pasti akan mengalami penyesalan yang besar jika saja tidak bisa menjadi milik Faris secepatnya. Tanpa sadar Sunday menyunggingkan senyum. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Ia mantap menjadikan seorang Faris sebagai calon suaminya sekarang.
πΈπΈπΈ
Ruangan itu dihiasi banyak bunga dengan harum yang menyebar ke mana-mana. Suasana sakral nan penuh haru memenuhinya. Faris menjabat tangan Pak Subagio demi ijab qobul yang akan dilantunkannya mantap, tanpa keraguan sedikitpun.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sunday Mariana Subagio binti Subagio dengan maskawin yang tersebut diatas dibayar tunai." Ucap Faris dengan sekali tarikan nafas.
"Bagaimana semua, sah?" Tanya pak penghulu pada semua yang hadir.
"Sah..." Jawab para undangan hampir serentak bersamaan.
Kemudian setelah itu terdengar doa dipanjatkan oleh penghulu dan diamini oleh segenap yang hadir di sana. Faris menoleh ke arah Sunday sambil mengamini segala doa baik itu. Berharap ini bukan hanya awal yang manis tapi selamanya hingga akhir usia mereka semua selalu mereka jalani dengan manis.
Sunday menyunggingkan senyum. Ada bahagia yang dirasakannya. Ia menemukan seseorang yang dengan sangat gigih ingin bersamanya. Yang mencintainya dengan tulus dan memperlakukannya dengan sangat baik. Ia merasa telah cukup dengan semua itu dan membuatnya yakin bahwa Faris adalah cinta sejati yang dianugerahkan Tuhan sebagai jodohnya.
Doa sudah ditutup, Sunday mencium tangan Faris dan dibalas oleh kecupan lembut di kening Sunday sambil Faris berbisik.
"Ini kecupanku yang ketiga. Tapi setelah ini jangan dihitung lagi karena aku bisa melakukan semuanya kepadamu."
"Apa?" Tanya Sunday dengan wajah merona tapi bukan berasal dari blus on make up-nya. Faris tidak menjawab dan hanya membalasnya dengan senyum dan kerlingan. Kemudian Sunday memelototinya karena faham dengan maksud Faris.
Selamat menempuh hidup baru, Sunday dan Faris...
πΈπΈπΈ
**Sampai di sini dulu tentang Sunday dan Faris, teman-teman. Mari kita doakan mereka menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Bahagua selalu sampai hanya maut yang memisahkan.
Terima kasih sudah menyukai dan membaca NONA HARI MINGGU hingga akhir. Aku sangat bahagia mempunyai pembaca seperti kalian semua yang tidak hanya menyukai tapi juga mendukung dan itu membuatku bersemangat untuk terus berkarya.
Sampai jumpa di karyaku berikutnya, teman-teman. Tapi entah kapan aku mulai menulis lagi. Nanti kalau ada karya baru lagi, jangan lupa mampir untuk sekadar mengintip ya. Atau kalau boleh meminta lebih, ikuti juga seperti NONA HARI MINGGU.
Sekali lagi terima kasih π€**
__ADS_1