Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Balas Budi


__ADS_3

Suzan memelototi tiap baris syntax yang baru saja di tulisnya. Terlihat sebuah warning 'debug error' dan baris syntax yang salah terlihat diblok oleh sistem. Suzan mengacak rambutnya. Entah sudah baris ke berapa yang mengalami hal serupa.


Sunday keluar dari dalam rumahnya membawa camilan lagi. Menyaksikan Suzan yang wajahnya suram membuat Sunday merasa lucu.


"Kenapa lagi, Suz?"


"Sudah hampir hangus ini otak, tapi syntaxnya salah terus."


"Mana?" Sunday melongok laptop Suzan. Suzan menunjukkan letak errornya.


"Sepertinya kamu harus membuat perintah dengan tepat. Kalau seperti ini bagaimana?" Sunday mengetikkan sesuatu lalu menekan tombol running pada menubar. Sekejap program Suzan tampak bisa tampil dan berjalan. Suzan mencoba menklik setiap button dan semua bisa berjalan sesuai perintah.


"Wah, langsung running." Sunday lega karena tugas refisinya telah selesai.


"Windy mana?" Sunday baru sadar Windy tidak ada di teras rumahnya. Hari ini mereka memang berkumpul di rumah Sunday demi mengerjakan tugas. Dengan berkumpul dan belajar kelompok begini mereka jadi bisa mendapatkan banyak manfaat. Bisa berkumpul, bermain dan belajar sekaligus. Bisa bertukar pikiran, berkonsultasi satu sama lain tentang tugas mereka masing-masing. Minggu ini tugas mereka semakin menggila jadi weekend pun masih harus bekerja keras menyelesaikan tugas.


"Itu." Tunjuk Suzan kepada Windy yang duduk berjongkok diantara bunga-bunga.


"Kenapa dia disitu?"


"Entahlah." Sayup-sayup Sunday mendengar Windy berbicara dengan ponselnya. Sunday membiarkan Windy melakukan aktifitasnya lalu mencomot keripik pisang hangat yang baru dibuat mamanya.


Sebentar kemudian Windy sudah selesai dan kembali bergabung dengan teman-temannya.


"Jadi, benar sekarang kau berpacaran dengan Oppa Faris?" Celetuk Windy sambil meminum es sirup di gelasnya.


"Siapa bilang aku berpacaran dengannya." Sunday membantah mentah-mentah.


"Suzan bilang..."


"Hei... jangan menebar fitnah ya." Sunday mendekatkan wajahnya kepada Suzan.


"Apa?" Suzan yang terlalu berkonsentrasi dengan pekerjaannya menatap Sunday dengan perasaan seolah tak bersalah.


"Apa yang kau katakan kepada Windy?"


"Aku mengatakan apa?" Suzan menanyakan kepada Windy.


"Katamu Sunday dan Oppa Faris sekarang berpacaran."


"Tidak, aku tidak bilang seperti itu. Kau salah dengar. Aku bilang mereka hanya


pura-pura berpacaran."


"Oh ya? Aku tidak mendengar bagian 'pura-pura' itu."


"Kau tidak benar-benar menyimak omonganku."


"Benarkah, jadi maksudmu aku tuli?"


"Siapa yang bilang kau tuli. Aku hanya bilang kau tidak menyimak dengan baik."

__ADS_1


"Tapi kau benar-benar mengatakan kalau Sunday dan Oppa Faris berpacaran."


"Tidak, kau salah faham."


"Tadi kau bilang salah dengar, sekarang salah faham..." Windy mulai meninggikan nada bicaranya 1 oktaf.


"Ehh, sudah... sudah..." Sunday melerai. "Sudah, yang jelas aku sedang tidak berpacaran dengan siapapun. Jelas?"


"Kalian berpacaran pun tidak apa-apa. Iya kan Suz?" Goda Windy.


"Iya, Oppa Faris sangat tampan, jika aku jadi kau pasti akan sulit sekali aku menolak pesonanya." Sunday ikut juga.


"Hei, kalian tahu kan aku orang yang seperti apa. Aku ini sangat konsisten dalam bersikap. Jadi jangan mengharap apapun dari hubungan sandiwara ini."


"Oh ya? Tapi aku khawatir nantinya kau akan menjadi labil dengan sikapmu." Windy masih gencar menggoda Sunday.


"Tidak mungkin. Itu tidak akan terjadi. Bagiku Faris tidak jauh berbeda dengan pelaut kebanyakan."


"Sayang sekali bukan aku yang menjadi partner sandiwara Oppa Faris." Suzan mendengus.


Sore semakin menurun, tiga gadis muda itu masih terlalu asyik menikmati waktu kebersamaan mereka. Hingga sebuah mobil berhenti di depan rumah Sunday.


Suzan yang pertama menyadari kedatangan mobil itu kemudian menyenggol lengan Sunday yang ada di atas meja lalu menunjuk ke arah luar dengan sagunya.


"Kamu punya janji?" Tanya Suzan.


"Tidak." Jawab Sunday singkat sambil melihat Faris yang tersenyum kepadanya di luar pagar. Memang... Faris memiliki wajah yang tampan. Hati kecil Sunday juga mengakui itu. Posturnya yang tinggi mendukung segala yang ada pada Faris jadi tampak sempurna. Senyumnya yang menawan seperti sebuah pesona yang tidak ada habisnya. Tiba-tiba perut Sunday terasa aneh melihatnya seperti itu. Seperti ada yang bergerak dan membuat menjadi hangat disana.


"Ini." Suzan menunjuk laptopnya.


"Tugas apa?"


"Biasa Oppa..." Jawab Suzan lagi sambil menyodorkan sebuah modul praktikum. Faris membacanya sekilas lalu meletakkannaya kembali.


"Ada apa?" Sunday akhirnya buka suara setelah mulai mengatasi debaran halus didadanya.


"Aku mau mengajakmu."


"Kemana?"


"Belajar bermalam minggu denganmu." Jawab Faris sangat terus terang. Seketika wajah Sunday memerah. Apalagi Faris mengatakan itu dengan semyum manis yang menghias bibirnya.


"Wah..." Jawab Suzan melihat adegan yang mendadak romantis dihadapannya.


"Ya sudah, kita pulang dulu ya, Sun. Sudah sore." Windy yang menyadari temannya akan ada acara berusaha mengerti dan memberi kesempatan. "Ayo Suz." Ajaknya juga kepada Suzan. Suzan pun mengerti dan mulai mengemasi laptop dan segala kertas miliknya. Sunday hanya bisa melongo melihat ulah teman-temannya.


"Kenapa kalian buru-buru. Ayo kita pergi bersama." Ajak Faris.


"Tidak Oppa, aku punya acara malam minggu sendiri." Tolak Windy.


"Aku juga." Suzan kompak.

__ADS_1


"Oh ya? Jomblo seperti kalian ada acara di malam minggu?" Sunday mencibir.


"Memangnya yang sudah punya pacar saja yang boleh menikmati malam minggu." Windy nyengir dalam sindirannya.


"Apaan kau ini." Sunday memukul lengan Windy yang lalu pura-pura mengaduh.


"Ya sudah, kami pulang dulu." Suzan berpamitan dan memberi kerlingan bermaksud menggoda Sunday. Windy cengengesan. Faris hanya tersenyum melihat kedua teman Sunday yang pengertian itu.


Kedua temannya itu benar-benar pulang dan meninggalkan Sunday dan Faris. Setelah mengantar Suzan Dan Windy ke depan, Sunday kembali ke teras yang ada Faris di sana.


"Bersiaplah. Aku akan menunggu." Ujar Faris saat Sunday duduk di depannya.


"Memangnya aku sudah bilang mau?"


"Aku tahu kamu mau."


"Percaya diri sekali kau."


"Sudahlah... aku ingin membalas kebaikanmu waktu itu."


"Kebaikan apa?" Sunday heran karena merasa tidak melakukan apa-apa untuk Faris.


"Membantu saat mobilku kehabisan bensin."


"Ya Tuhan. Hanya itu. Aku melakukannya karena rasa kemanusiaanku sangat tinggi."


"Ya terserahlah, karena kemanusiaan atau karena rasa setia kawan." Faris tersenyum lembut menatap Sunday. Sunday terkesiap melihat senyum Faris seperti terlihat berbeda dimatanya. Seperti ada efek gliter mengelilingin wajah Faris. Hati Sunday berdesir entah kenapa. Perutnya mulai berulah lagi. Seolah ada kupu-kupu yang terbang kesana kemari mengelilingi isi lambungnya. Dan itu membuat dirinya salah tingkah.


"Oh iya ini." Faris menyodorkan sejumlah uang."


"Kenapa banyak sekali?" Sunday menghitung uang yang diterimanya.


"Itu plus lalapannya."


"Ya Tuhan, aku ini bukan teman yang peritungan."


"Bukan teman yang peritungan apanya. Kau bilang aku harus mengganti uang bensinnya." Getutu Faris.


"Itu berbeda dengan saat aku membelikan makan untuk seorang teman." Sunday menjelaskan. "Ini ku kembalikan." Sunday mengembalikan uang lebihan harga bensin yang dibayar Sunday waktu itu di SPBU.


"Yakin?"


"Yakin lah. Sudah ku bilang aku tidak seperitungan itu terhadap teman."


"Baiklah... terima kasih." Sambil memasukkan kembali ke dalam dompetnya. Sunday jadi merasa tidak enak sendiri. Jarang sekali Sunday mentraktir Faris. Selama ini Farislah yang sering sekali mentraktirnya.


"Sudahlah... cepat mandi sana. Aku menunggumu."


"Kau ini benar-benar suka memaksakan kehendak." Gumam Sunday sambil beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah. Faris tersenyum melihat Sunday seperti itu.


Sunday merasa aneh. Yang Sunday katakan adalah Faris memaksakan kehendaknya tapi pada kenyataannya dengan senang hati ia menurut saja ajakan Faris.

__ADS_1


Memikirkan itu, kembali dada Sunday menghangat. Sunday mengelus dadanya dengan sedikit kuat menekan, mencoba mengurangi rasa hangat di sana.


__ADS_2